Modal Sosial Yng dimiliki Masyarakat Bali


            Modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat bali yaitu masyarakat bali selalu terbuka dengan dunia luar atau dengan modernisasi dan globalisasi dunia namun mereka selalu memperkuat dan memperketat kebudayaannya dengan mengikatkan suatu peraturan dimana peraturan tersebut dapat mengimbangkan kemajuan dan cara berfikir masyarakat bali yang meskipun masih mempertahankan tradisonalismenya namun mereka juga maju dengan terbukanya mereka terhadap dunia luar. Kemudian masyarakat bali cenderung lebih rajin dalam bekerja dan berdasarkan isu bahwa wanita bali cenderung lebih giat bekerja dari pada laki-lakinya namun hal ini dibantah oleh tour guide yang waktu itu membimbing selama melaksanakan praktikum di sana. Sebenarnya masyarakat bali baik wanita maupun laki-laki sama-sama giat dalam bekerja. Kemudian masyarakat bali disiplin dan mematuhi segala aturan dan larangan yang ada sehingga mereka terlihat tertib dan kompak terutama dalam kaitannya dengan keagamaan. Kreatifitas yang dimiliki oleh masyarakat bali merupakan potensi utama bagi mereka sehingga dunia seni adalah dunia yang sebagian mereka geluti sebagai profesi yang tentunya mendatangkan pundi-pundi uang dan keberhasilan dalam ekonominya seperti pembuatan seni patung, ukiran, lukisan dan pariwisata dengan ke ahlian sebagian besar masyarakat Bali yaitu bahasa inggris, Jepang dan Cina. Modal sosial ini sangat membantu dalam kehidupanya sehari hari.

 

  1. Mata Kuliah Studi Masyarakat Indonesia      : Identifikasi adat istiadat masyarakat bali yang masih dilestarikan, terutama larangan-larangan yang tabu ?

 

Pada masyarakat bali tidak akan terlepas dengan desa Adat selain sebagai pengembangan kebudayaan Bali dalam hal ini juga sebagai suatu tatacara pemerintah daerah maupun pusat untuk menjalankan program-program pembangunan pada masyarakat Bali baik itu kesehatan, Hukum, Kebudayaan, Perekonomian dll. Dalam desa adat ini dikenal istilah awig-awig atau hukum adat yaitu berisi patokan-patokantentang tingkah laku yang harus dijalankan oleh krama/warga desa adat. Awig- awig lahir dari kesepakatan bersama warga masyarakat dalam suatu komunitas hukum, dalam hal ini masyarakat hukum adat Bali. Sebagai suatu kesepakatan maka yang menjadi dasar pengikatnya adalah rasa malu dan rasa wirang dari warga masyarakat tersebut. Dengan dua rasa ini masyarakat akan berusaha mentaati awig-awig karena dorongan dari dalam diri sendiri bukan karena paksaan dari luar. Sedangkan Perarem merupakan hasil keputusan paruman (rapat) desa mengenai masalah-masalah yang berkembang di desa pekraman/desa adat, yang berisi pelaksanaan lebih lanjut dari awig-awig. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perarem adalah peraturan pelaksana atau sebagai pelengkap dari awig-awig. . Di dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali nomor 3 tahun 2001 disebutkan batasan desa pekraman yaitu kesatuan masyarakat hukum adat di Provinsi Bali yang satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga atau Kahyangan Desa yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.

Dengan adanya desa-desa adat yang banyak tersebar dalam masyarakat Bali maka hal ini sebagai kunci utama dalam mempertahankan kebudayaannya, seperti ada lagi dalam larangan dan peraturan dalam memasuki tempat-tempat yang mereka anggap sakral seperti puri, dan tempat-tempat bersejarah lainnya diterapkan juga peraturan dengan sangsi tegas hal ini berlaku baik bagi masyarakat Bali sendiri maupun para wisatawan yang berkunjung, kemudian aturan dalam berbicara dalam masyarakat bali juga harus berdasarkan tata krama dan status sosialnya kesalahan dalam berbicara maka seseorang tersebut akan mendapatkan sangsi dan denda.

 

  1. Mata Kuliah Kajian Kemskinan dan Kriminalitas    : stratifikasi masyarakat bali apa yang masih ada sampe sekarang? Apakah benar masyarakat sudra slalu miskin ?

 

Pada masyarakat Hindu di  Bali,terjadi  kesalahan dan kekaburan dalam pemahaman dan pemaknaan warna, kasta, dan wangsa yang berkepanjangan. Dalam agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta. Istilah yang termuat dalam kitab suci Veda adalah Warna. Apabila kita mengacu pada Kitab Bhagavadgita, maka yang dimaksud dengan Warna adalah Catur Warna, yakni pembagian masyarakat menurut Swadharma (profesi) masing-masing orang. Sementara itu, yang muncul dalam kehidupan masyarakat Bali adalah Wangsa, yaitu sistem kekeluargaan yang diatur menurut garis keturunan. Wangsa tidak menunjukkan stratifikasi sosial yang sifatnya vertikal (dalam arti ada satu Wangsa yang lebih tinggi dari Wangsa yang lain). Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada warga masyarakat yang memiliki pandangan bahwa ada suatu Wangsa yang dianggap lebih tinggi daripada Wangsa yang lain. Untuk merubah pandangan seperti ini memang perlu sosialisasi dan penyamaan persepsi.  Stratifikasi pada masyarakat bali masih dilaksanakan seperti halnya pengkastaan berdasarkan tiga kelompok yaitu kasta. kasta merupakan penggolongan status sosial masyarakat dengan mengadopsi konsep catur warna (brahmana, ksatria, wesyia, dan sudra) yang gelar dan atribut namanya diturunkan dan diwariskan ke generasi berikutnya. Artinya, walaupun keturunannya tidak lagi berprofesi sebagai pendeta atau pedanda tetapi masih menggunakan gelar dan nama yang dimiliki leluhurnya yang dulunya menjadi pendeta. Ini sangat tidak masuk akal. Sebagian besar masyarakatbali yangberagama hindumasih memberlakukan kasta, namun ada pula sebagian masyarakat bali yang menyamakan kedudukan seseorang dengan orang lainnamun tetap saja seseorang itu harus sopan dan tahu diri. Dengan tidak asal mengucapkan kata-kata serta sopan dan santun.

Namun dalam masyarakat bali pada zaman sekarang system kasta yang di anut ialah system kasta terbuka, jadi setiap masyarakat dapat berpindah kedudukan mulai dari lower class sampai upper class. Sebagai contoh, seorang anak petani yang yang awalnya dari lower class kemudian bersekolah hingga ke peguruan tinggi kedokteran lalu lulus dengan nilai sempurna dan ia pun sukses dalam bidangnya dan berubah tingkat menjadi upper class. Karena status seseorang tidak didapat semenjak lahir, maka statusnya dapat diubah. Hal tersebut terjadi jika seseorang tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagaimana status yang disandangnya. Seseorang yang lahir dalam keluarga Brāhmana dapat menjadi seorang Sudra jika orang tersebut tidak memiliki wawasan rohani yang luas, dan juga tidak layak sebagai seorang pendeta. Begitu pula seseorang yang lahir dalam golongan Sudra dapat menjadi seorang Brāhmana karena memiliki pengetahuan luas di bidang kerohanian dan layak untuk menjadi seorang pendeta. Sehingga tidak semua kasta sudra selalu mikin dan rendah karena pada masa sekarang semuanya tergantung usaha yang merka miliki.

 

  1. Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran IPS  :Pembelajaran apa yang bisa diterapkan dari masyarakat Bali ?

 

Pembelajaran yang dapat diambil dari masyarakat Bali yaitu dari bagaimana cara mereka mempertahankan kebudayaannya namun tidak juga tertinggal dengan dunia Global, bagaimana menyeimbangkan keharmonisan antar masyarakat Bali. Bagaimana cara mereka bersosialisasi dengan para wisatawan asing yang sehingga para wisatawan merasa nyaman dalam berkomunikasi yaitu sikap keterbukaann masyarakat Bali dalam memberi informasi mengenai kebudayaan dan adat istiadatnya. Masyarakat Bali juga termasuk masyarakat Hindu yang sangat taat dimana setiap saat selalu melakukan persembahan atau sembahyangdengan segala sesajennya setiap tiga kali sehari, entah itu mereka di jalan, dimobil, di toko, dirumah maupun ditempat kerja. Dan bagaimana masyarakat Bali tetap memegangteguh warisan yang diberikan oleh nenek moyangnya sejak dulu kala. Itu merupakan pembelajaran yang dapat kita ambil dari pembelajaran masyarakat Bali.

 

  1. Mata Kuliah Patologi Sosial      : masalah-masalah tentang masyarakat Bali?

 

a)    Ditinjau dari aspek hubungan manusia dengan hyang widhi

Penyalahgunaan simbol-simbol suci agama Hindu, desakralisasi ritual, penghancuran sistim kultur Hindu-Bali, dan komersialisasi aspek-aspek keagamaan dewasa ini sudah biasa dilihat pementasan tari-tarian sakral untuk konsumsi wisatawan, upacara ritual yang dikontrakkan hak siarnya pada perusahaan TV, dan pembangunan objek wisata di dekat pura yang suci, dan lain-lain lagi.

b)      Ditinjau dari aspek hubungan manusia dengan manusia

Umat Hindu di Bali makin jelas menonjolkan kepentingan-kepentingan yang bersifat inidivualistis baik bagi dirinya sendiri maupun bagi kelompoknya. Masyarakat bali juga kurang ramah terhadap para wisatawan lokal, apalagi mereka yang berlainan agama seperti halnya islam, contohnya mengejek dan ,menggoda dengan tatapan yang kurang bersahabat. Segala sesuatunya sudah berasaskan matrealistik.

c)      Ditinjau dari aspek hubungan manusia dengan alam

Dewasa ini Pemerintah dan umat Hindu di Bali makin tidak memperhatikan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Penebangan hutan, pemanfaatan bukit-gunung-lembah-laut untuk real estate, objek wisata, penambangan, dan pembuangan sampah sudah memporak-porandakan kelestarian alam, menimbulkan kekeringan di musim kemarau, banjir di musim hujan, dan penyebaran berbagai penyakit. Di samping itu pertambahan jumlah penduduk yang berjejal di pulau Bali yang sempit ini telah menyebabkan pengikisan area persawahan, perkebunan, hutan, danau, dan laut. Ironisnya pertambahan penduduk di Bali lebih banyak karena migrasi, bukan karena kelahiran. Banyaknya bangunan dik=sekitar tempat tujuan wisata menyebabkan kemacepat yang sangatparah apalagi di musim liburan karena jalanan utama disekitar tempat wisata contohnya kute yang hanya dua jalur, dan parkir-parkir liar disekitar jalan semakin memperparah kemacetan.

 

 

 

Referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Bali

http://kotakinformasi.wordpress.com/2011/06/06/1001-masalah-bali/

http://www.antaranews.com/berita/293473/praktisi-desa-budaya-dipromosikan-sebagai-objek-wisata

http://dewaarka.wordpress.com/2009/11/23/struktur-sosial-masyarakat-bali-dan-penerapannya-dalam-kehidupan-bermasyarakat/

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s