Metode Kombinasi


METODE KOMBINASI

  1. A.    Landasan Filsafat

Metode penelitian kombinasi adalah metode penelitian yang menggabungkan antara metode ekuantitatif dan metode kualitatif. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan penelitian dengan metode kombinasi (Met Kom), maka harus dipahami dahulu karakteristik kedua metode tersebut.

Penelitian kuantitatif memandang bahwa, suatu gejala dianggap relatif tetap, tidak berubah dalam waktu tertentu. Peneliti kuantitatif dalam memandang gejala adalah bebas nilai. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan kuesioner dan sampel yang diambil secara random, sehingga peneliti tidak ada kontak langsung dengan sumber data. Dengan demikian data yang diperoleh adalah yang objektif dan bebas nilai.

Metode kualitatif berlandasan pada filsafat pospositivisme atau enterpretive. Filsafat ini berpandangan bahwa suatu gejala bersifat holistik, belum tentu dapat diamati dan diukur, hubungan gejala bersifat reciprocal, data bersifat dinamis dan terikat nilai.

Penelitian kualitatif memandang tidak semua gejala dapat diamati dan diukur. Gejala yang mengandung makna tidak dapat diamati. Gejala dalam penelitian kualitatif tidak bersifat sebab-akibat (kausal), tetapi lebih bersifat reciprocal (saling mempengaruhi). Hasil penelitian kualitatif tidak akan bebas nilai, karena peneliti berinteraksi dengan sumber data.

Berdasarkan uraian dia atas, dapat sikemukakan disini bahwa, landasan filsafat kedua metode penelitian tersebut sangat berbeda bahkan bertentanga, sehingga secara teoritis kedua metode tersebut tidak dapat dikombinasikan untuk digunakan bersama-sama.

Sugiyono (2006) menyatakan bahwa, pertama, kedua metode tersebut dapat digabungkan tetapi digunakan secara bergantian. Pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif, sehingga ditemukan hipotesis tersebut diuji denganmetode kuantitatif. Kedua, metode penelitian tidak dapat digabungkan dalam waktu bersamaan, tetapi hanya teknik pengumpulan data yang dapat digabungkan.

Penggabungan antara filsafat metode kuantitatif (positivistik) dan metode kualitatif (pospositivistik/enterpretif) oleh Johnson dan Cristensen (2007) disebut filsafat pragmatik. Dalam hal ini dinyatakan, mulai tahun 1990an, beberapa peneliti menolak tesis yang menyatakan bahwa metode penelitian kualitatif dan kuantitatif tidak dapat digabungkan, dan mulai mengembangkan pemikiran prgmatis, bahwa penelitian kualitatif dan kuantitatif dapat dikombinasikan dalam satu kegiatan penelitian.

Metode kombinasi tidak harus di tengah-tengahnya, tetapi bisa lebih berat ke kuantitatif atau ke kualitatif. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut.

 

  1. B.     Pengertian Metode Kombinasi

Johnson dan Cristensen (2007) memberikan definisi tentang metode penelitian kombinasi (mixed recearch) sebagai berikut. Metode penelitian kombinasi merupakan pendekatan dalam penelitian yang mengkombinasikan atau menghubungkan antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Hal ini mencakup landasan filosofis, penggunaan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dan mengkombinasikan kedua pendekatan dalam penelitian.

Metode penelitian kombinasi adalah suatu metode penelitian kuantitatif dan kualitatifuntuk digunakan secara bersama-samadalam suatu kegiatan penelitian, sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel dan objektif.

Dengan menggunakan metode kombinasi maka realibilitas data akan dapat ditingkatkan, karena relibilitas data yang tidak dapat diuji dengan metode kualitatif atau sebaliknya.

  1. C.    Varian Metode Kombinasi

Dengan digabungkan metode kuantitatif dan kualitatif untuk penelitian, maka muncul variasi dalam metode kombinasi. Johnson dan Cristensen (2007) mengemukan bahwa, variasi metode kombinasi merupakan interaksi antara dua aspek, yaitu Time Order Decision (waktu mengkombinasikan) dan Paradigm Emphasis Decision (dominasi bobot kombinasi metode).  Pada Time Order Decision meliputi dua aspek yaitu Concurrent (kombinasi dicampur) dan Sequental (kombinasi berurutan), sedangkan pada aspek  Paradigm Emphasis Decision meliputi aspek Dominant Status (bobot tidak sama) dan Equal Status (bobot sama). Hal ini ditunjukkan pada gambar 19.2.

 

 

 

 

 

I

QUAL + QUAL

II

QUAL       QUAN

IV

QUAL + quan

QUAN + qual

III

QUAL       qual

Qual        QUAN

QUAN      qual

Quan       QUAL

 

  1. D.    Karakteristik Metode Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi

 

Berdasarkan tabel19.1 terlihat bahwa, karakteristik metode kombinasi secara umum adalah merupakan gabungan karakteristik metode kuantitatif dan metode kualitatif.

 

Karakteristik dalam hal Metode kuantitatif Metode kombinasi Metode kualitatif
Dasar teori Konfirmasi. Peneliti menguji teori dari hasil data yang diperoleh dari penelitian di lapangan

 

Konfirmasi dan eksplorasi Eksplorasi.  Peneliti menghasilkan hipotesis dan teori baru didasarkan dari data yang dikumpulkan selama penelitian di lapangan
Hal yang paling umum dari tujuan penelitian Untuk menunjukkan hubungan antar variabel, menguji teori, dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif. Beberapa tujuan Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif, menemukan teori baru, menggambarkan realitas yang kompleks, dan memperoleh pemahaman makna.
Fokus memandang melalui lensa kecil, melihat dan memilih serta memperhatikannya hanya beberapa buah variabel saja. Beberapa fokus menggunakan lensa besar dan menampak serta memperhatikan pola-pola saling berhubungan antara berbagai variabel yang sebelumnya belum pernah ditemukan
Desain desainnya harus terstruktur, baku, formal dan dirancang sematang mungkin sebelumnya. Beberapa desain desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah / berkembang sesuai dengan situasi di lapangan
Sifat pengamatan dihubungan dengan ilmu-ilmu alamiah sehingga metode ini dianggap metode ilmiah.

 

Mempelajari perilaku  lebih dari satu konteks. metode kualitatif yang tidak dihubungkan dengan ilmu-ilmu alamiah, tidak ilmiah.
Teknik pengumpulan data Melalui kuesioner, observasi dan wawancara terstruktur.

 

Beberapa teknik Melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, catatan lapangan, dan pertanyaan terbuka Penelitian kualitatif menjadikan peneliti sendiri sebagai instrumen penelitian
Sampel Jumlah sampel besar Kombinasi kualitatif dan kuantitatif Jumlah sampel kecil
Sifat data bersifat kuantitatif / angka-angka statistik ataupun koding-koding yang dapat dikuantifikasi. Campuran angka-angka dan data yang bersifat deskriptif data bersifat deskriptif dan bukan angka
Analisis data dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik Kombinasi kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru

 

  1. Model Metode Penelitian Kombinasi

Creswell (2009) mengklasifikasikan terdapat dua model utama metode kombinasi yaitu model sequential (kombinasi berurutan), dan model concurrent (kombinasi campuran). Model urutan (sequential) ada dua yaitu model urutan pembuktian (sequential explanatory) dan model urutan penemuan (sequential exploratory). Model concurrent (campuran) ada dua yaitu, model concurrent triangulation (campuran kuantitatif dan kualitatif secara berimbang) dan concurrent embedded (campuran penguatan/metode kedua memperkuat metode pertama).

  1. 1.      Model Sequential

Creswell (2009) mengemukakan tentang metode kombinasi model sequential adalah suatu prosedur penelitian dimana peneliti mengembangkan hasil penelitian dari satu metode dengan metode yang lain.

Metode ini dikatakan sequential, karena penggunaan metode dikombinasikan secara berurutan. Bila urutan pertama menggunakan metode kuantitatif, dan urutan kedua menggunakan kualitatif, maka metode tersebut dinamakan kombinasi sequential explanatory dan bila urutan pertama menggunakan metode kualitatif dan urutan kedua menggunakan metode kuantitatif, maka metode tersebut dinamakan metode penelitian kombinasi model sequential exploratory.

  1. a.      Sequential Explanatory Design

Metode penelitian kombinasi model sequential explanatory, dicirikan dengan pengumpulan data dan analisis data kuantitatif pada tahap pertama, dan diikuti dengan pengumpulan dan analisis data kualitataif pada tahap kedua, guna memperkuat hasil penelitian kuantitatif yang dilakukan pada tahap pertama.

  1. b.      Sequential Exploratory Design

Metode ini sama dengan metode sequential explanatory, hanya dibalik, dimana pada metode ini pada tahap awal menggunakan metode kualitatif dan tahap berikutnya menggunakan metode kuantitatif. Bobot metode lebih pada metode tahap pertama yaitu metode kualitatif dan selanjutnya dilengkapi dengan metode kuantitatif. Kombinasi data kedua metode bersifat connecting (menyambung) hasil penelitian tahap pertama (hasil penelitian kualitatif) dan tahap berikutnya (hasil penelitian kuantitatif). Kelemahan dari metode ini adalah bahwa penelitian memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang lebih besar.

Burke Johnson; Larry Christensen (2008) memberikan ilustrasi perbedaan antara desain sequential explanatory dan desain sequential exploratory seperti ditunjukan pada gambar 19.4 berikut. Berdasarkan gambar tersebut terlihat hubungan antara desain sequential explanatory dengan desain sequential exploratory dalam bentuk “roda penelitian” (research wheel).

                                                                                                                                                                                                            Confirmatory

Theory

Patterns,                                                          Hypotheses,

Description                                                      Prediction

 

 

Observations

Data

Exploratory

Gambar 19.4 Roda Penelitian

  1. c.       Sequential Transformative Strategy

Model ini dilakukan dalam dua tahap dengan dipadu oleh teori lensa (gender, ras, ilmu sosial) pada setiap prosedur penelitiannya. Tahap pertama bisa menggunakan metode kuantitatif atau kualitatif dan dilanjutkan pada tahap berikutnya dengan metode kualitatif atau kuantitatif. Teori lensa dikemukakan pada bagian pendahuluan proposal penelitian untuk memandu dirumuskannya pertanyaan penelitian untuk menggali masalah.

 

  1. 2.      Model Concurrent

Metode kombinasi model campuran, merupakan prosedur penelitian dimana peneliti menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif agar diperoleh analisis yang komprehensif guna menjawab masalah penelitian.

Kalau dalam tipe sequential, penggabungan metode dilakukan secara berurutan dalam waktu yang berbeda, sedangkan dalam tipe concurrent penggabungan dengan cara dicampur dalam waktu yang sama. Dalam hal ini metode kuantitatif/kombinasi digunakan untuk menjawab satu jenis rumusan masalah atau satu jenis pertanyaan penelitian. Terdapat tiga model yaitu: Concurrent Triangulation strategy; concurrent embedded strategy, dan concurrent rent transformative strategy.

  1. a.      Concurrent Triangulation strategy

Model atau strategi ini merupakan model yang paling familier diantara enam model dalam metode kuantitatif/kombinasi/mixed methods. Dalam model ini peneliti menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif secara bersama – sama, baik dalam pengumpulan data maupun analisisnya, kemudian dapat ditemukan mana data yang dapat digabungkan dan dibedakan.

  1. b.      Concurrent Embedded Strategy

Metode penelitian kombinasi model embedded, merupakan metode penelitian yang mengkombinasikan pengguanaan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif secara simultan/bersama – sama (atau sebaliknya), tetapi bobot metodenya berbeda. Pada model ini ada metode yang primer dan metode sekunder. Metode primer digunakan untuk memperoleh data yang utama, dan metode sekunder digunakan untuk memperoleh data guna mendukung data yang diperoleh dari metode primer.

  1. c.       Concurrent Transformatif Strategy

Metode concurrent transformative merupakan gabungan antara model triangulation dan embedded. Dua metode pengumpulan data dilakukan pada satu tahap/fase penelitian dan pada waktu yang sama. Bobot metode bisa sama dan bisa tidak sama. Penggabungan data dapat dilakukan dengan merging, connecting atau embedding (mencampur dengan bobot sama, menyambung, dan mencampur dengan bobot tidak sama).

 

METODE MODEL SEQUENTIAL EXPLANATORY

  1. A.    Pengertian

Metode penelitian model atau desain sequential explanatory adalah metode penelitian kombinasi yang menggabungkan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif secara berurutan, dimana pada tahap pertama penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dan pada tahap kedua dilakukan dengan metode kualitatif. Metode kuantitatif berperan untuk memperoleh data kuantitatif yang terukur dan dapat bersifat deskriptif, komparatif, dan asosiatif, sedangkan metode kualitatif berperan untuk membuktikan, memperdalam, memperluas, memperlemah, dan mengugurkan data kuantitatif yang telah diperoleh pada tahap awal.

  1. B.     Langkah-langkah Penelitian Desain sequential explanatory

Langkah-langkah penelitian kombinasi model sequential explanatory (urutan pembuktian) ditunjukkan pada diagram berikut.

 

Metode kuantitatif, menguji hipotesis

 

 

Metode kualitatif, untuk membuktikan,

memperdalam dan memperluas data kualitatif

 

 

 

Sesuai karakteristik metode kombinasi sequential explanatory, dimana pada tahap pertama penelitian menggunakan metode kuantitatif dan pada tahap kadua menggunakan metode kualitatif. Dengan demikian, penelitian kombinasi dilakukan untuk menjawab rumusan masalah penelitian kuantitatif dan rumusan masalah penelitian kualitatif, atau rumusan masalah yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

 

  1. 1.      Metode Kuantitatif

Berdasarkan gambar sebelumnya, terlihat bahwa langkah-langkah dalam metode kuantitatif adalah: menentukan masalah/potensi dan membuat rumusan masalah, melakukan kajian teori dan merumuskan hipotesis, mengumumpulkan dan analisis data untuk menguji hipotesis, dan selanjutnya dapat dibuat kesimpuan berdasarkan hasil pengujian hipotesis.

a.Masalah dan potensi

Penelitian kuantitatif berangkat dari masaah dan atau potensi yang sudah jelas. Masalah adalah penyimpangan dari apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi (das sein dan das solen). Misalnya, penyimpangan antara kebijakan dengan pelaksanaan atau penyimpangan antara perencanaan dan pelaksanaan di lapangan.

Suatu penelitian juga bisa diangkat dari potensi. Penelitian yang berangkat dari potensi cenderung lebih baik daripada penelitian yang berangkat dari masalah. Jika penelitian yang berangkat dari masalah, maka hasil penelitian lebih berguna untuk memecahakan masalah, sedangkan jika penelitian berangkat dari potensi, hasil penelitian berguna untu pengembangan, atau peningkatan kemajuan. Potensi adalah segala sesuatu yang bila dikembangkan akan dapat meningkatkan nilai tambah. Sebagai contoh,  potensi sumber daya pertanian di Indonesia yang dapat dijadikan sumber energi alternatif.

Setiap masalah harus ada yang melatarbelakangi, karena jika tidak ditemukan latar belakangnya, data yang sepertinya masalah menjadi bukan masalah lagi. Masalah yang dikemukakan juga harus disertai dengan fakta dari sumber yang dapat dipercaya.

Dari penelian kuantitatif, penyajian masalah berangkat dari variabel dependen (y). misalnya mengenai rendahnya minat belajar IPS di kelas. Dalam paparan rendahnya minat belajar IPS di kelas, perlu diberikan data hasil pengamatan di kelas beserta indikator-indikator yang menandakan kurangnya minat siswa untuk belajar IPS. Selanjutnya dicari variabel-variabel yang menyebabkan rendahnya minat siswa terhadap pelajaran IPS. Selanjutnya variabel-variabel yang telah ditemukan dianalisis lagi dan dipilih variabel mana yang paling mempengaruhi secara langsung terhadap minat siswa. Selanjutnya, variabel-variabel yang terpilih di deskripsikan menjadi identifikasi masalah.  Oleh karena itu, identifikasi masalah adalah deskripsi seluruh masalah pada setiap variabel independen yang diduga mempengaruhi variabel dependen. Identifikasi masalah dirumuskan dalam bentuk pernyataan, bukan pertanyaan.

Karena peneliti tidak ingin seluruh masalah yang telah diidentifikasikan diteliti, maka peneliti akan membatasi beberapa masalah atau beberapa variabel independen saja. Setelah variabel yang diteliti ditetapkan, maka selanjutnya dibuat rumusan masalah. Rumusan masalah merupakan pertanyaan penelitian yang memandu penelliti untuk menentukan teori yang digunakan, perumusan hipotesis, penyusunan instrumen, pengumpulan data, analisis data, dan membuat kesimpulan serta saran.

  1. b.   Landasan Teori dan Hipotesis

Setelah masalah dirumuskan, maka peneliti mencari dan memilih teori yang relevan sehingga dapat digunakan untuk memperjelas masalah, memberi definisi operasional, merumuskan hipotesis dan mengembangkan instrumen. Jumlah teori yang digunakan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Hipotesis yang dikemukakan dapat berbentuk hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiatif.

  1. c.    Pengumpulan Analisis Data Kuantitatif

Setelah hipotesis dirumuskan, maka hipotesis tersebut selanjutnya dibuktikan kebenarannya berdasarkan data. Untuk itu sebelum dikumpulkan, perlu ditetapkan populasi dan sampelnya beserta instrumen penelitiannya. Jumlah instrumen tergantung pada variabel yang diteliti. Sebelum digunakan, instrumen juga perlu teruji validitas dan reabilitasnya. Setelah data terkumpul, selanjutnya dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan.

  1. d.     Hasil Pengujian Hipotesis

Ini merupakan langkah akhir dari tahap metode kuantitatif. Data kuantitatif yang telah dianalisis dan hipotesis yang telah diuji selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel, grafik, gambar, dan narasi singkat. Penyajian data meliputi deskripsi data kuantitatif nilai setiap variabel, setiap indikator, bahkan setiap butir instrumen. Dengan demikian nilai setiap variabel, setiap indikator dan setiap butir instrumen dapat diketahui.

Penyajian berikutnya adalah penyajian data terhadap hasil pengujian hipotesis. Semua hipotesis yang telah dirumuskan dan diuji perlu disajikan.

  1. 2.      Metode kualitatif

Jika dalam penelitian kuantitatif, penelitian berakhir setelah hipotesis terbukti atau tidka terbukti. Dalam penelitian campuran model sequential explanatory, penelitian masih berlanjut dengan metode kualitatif, untuk membuktikan, memperkuat, memperdalam, memperluas, memperlemah, dan mengugurkan data kuantitatif yang telah diperoleh pada tahap awal.

a.Penentuan Sumber Data

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian kuantitatif pada tahap awal, selanjutnya peneliti kualitatif, menentukan sumber data yang diharapkan dapat memberi informasi yang dapat digunakan untuk melengkapi  data kuantitatif yang telah diperoleh  pada penelitian tahap I. sesuai dengan metodenya, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara kualitatif, misalnya melaui purposive (narasumber yang paling tahu tentang apa informasi yang dibutuhkan) dan bersifat snowball (jumlahnya berkembang semakin banyak).

  1. b.    Pengumpulan dan Analisis Data Kualitatif

Setelah sumber data ditetapkan, maka selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data dengan metode kualitatif seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dan pengujian kredibilitas data dapat dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data dan setelah selesai pengumpulan data. Dari hasil analisis kualitatif diharapkan diperoleh data kualitatif yang kredibel untuk melengkapi data kuantitatif.

  1. c.  Analisis Data Kuantitatif dan Kualitatif

Setelah kedua data (kuantitatif dan kualitatif) diperoleh, langkah selanjutnya adalah menganlisis kembali kedua kelompok data tersebut. Analisis data dapat dilakukan dengan menggabungkan kedua data yang sejenis sehingga data kuantitatif diperluas dan diperdalam dengan data kulitatif. Analisis juga dapat dilakukan dengan membandingkan kedua kelompok data, sehingga dapat ditemukan perbedaan dan kesamaan diantara 2 kelompok data tersebut.

  1. d.    Kesimpulan Hasil Penelitian

Langkah terakhir penelitian adalah membuat laporan penelitian yang didalamnya terdapat kesimpulan dan memberikan saran-saran. Kesimpulan yang diberikan adalah untuk menjawab secara singkat terhadap rumusan masalah penelitian berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan. Jumlah butir kesimpulan harus sama dengan jumlah rumusan masalah. Berdasarkan kesimpulan tersebut, selanjutnya dibuat saran untuk memperbaiki keadaan. Saran yang diberikan tentunya berdasarkan pada hasil penelitian. Jumlah butir saran tidak harus sama dengan jumlah butir kesimpulan.

  1. Contoh Judul Penelitian Kombinasi Desain sequential Explanatory

Berikut diberikan beberapa contoh judul penelitian kombinasi desain/ model squential explanatory, untuk pengembangan ilmu, pengembangan tindakan melalui action research atau penenlitian tindakan.

  1. 1.      Penelitian untuk ppengembangan Ilmu

Penelitian pengembangan ilmu dapat berupa penenlitian deskriptif, komparatif dan asosiatif.

  1. a.      Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bersifat menggambarkan suatu fenomena, peristiwa, gejala, baik menggunakan data kuantitatif maupun kualitatif. Berikut ini diberikan tiga contoh judul penelitian deskriptif.

1)      Profil pegawai negeri sipil di unit kerja tertentu

Penelitia pertama dilakukan untuk memperoleh data kuantitatif tentang profil Pegawai Negeri Sipil yang terkait ddengan tinggi badan, berat badan, derajat kesehatan, usia, jam masuk kerja, jam pulang kerja, jam efektif kerja, performa kerja (kinerja), dan produktivitas kerja. penelitian tahap kedua dilakukan dengan metode kualitatif untuk membuktikan (memperkuat, memperlemah atau menggugurkan), memperdalam dan memperluas data kuantitatif profil pegawai, khususnya pada aspek makna kerja, kinerja dan produktivitas kerja dengan data kualitatif.

2)      Profil rakyat miskin di kota

Penelitian tahap pertamadilakukan untuk memperoleh data kuantitatif tentang orang miskin di kota, yang terkait dengan tinggi badan, berat badan, derajat kesehatan, usia penghasilan rata-rata per bulan, jumlah keluarga, biaya hidup perbulan. Penelitian tahap kedua dilakukan dengan metode kualitatif untuk memperluas dan memperdalam data tentang profil kemiskinan, yaitu makna hidup bagi orang miskin, usaha mempertahankan hidup.

3)      Profil guru profesional

Penelitian tahap pertama dilakukan utuk memperoleh data kuantitatif tentang tinggi badan, nilai pencapaian kompetensi guru berdasarkan kompetensi kepribadian, pedagogi, professional dan sosial. Penelitian tahap ke dua dilakukan dengan metode kualitatif untuk memperluas dan memperdalam data tentang profil guru.

  1. b.      Penelitian Komparatif

Penelitan komparatif adalah penelitian yang bersifat membandingkan suatu fenomena, peristiea, gejala, pada satu populasi/sampel yang satu dengan sampel yang lain, atau waktu tertentu dengan waktu yang lain dengan menggunakan data kuantitatif maupun kualitatif. Berikut in i diberikan tiga contoh judul penelitian komparatif.

1)        Perbandingan profil pegawai negeri sipil di Pusat dan Daerah

Penelitian tahap pertamadilakukan untuk memperoleh data kuantitatif tentang perbandingan profil Pegawai Negeri Sipil pusat dan daerah yang baerkait dengan tinggi badan, berat badan, derajat kesehatan, usia, jam masuk dan pulang kerja, jam kerja efektif, performa kerja, dan produktivitas kerja. Penelitian tahap ke dua denganmenggunakan metode kualitatif untuk membuktikan (memperkuat atau menggugurkan), memperdalam danmemperluas data kuantitatif dengan kualitatif tentang perbandingan profil pegawai pusat dan daerah, khususnya pada apek kinerja, produktivitas kerja, penghayatan makna kerja, proses dalam melaksanakan pekerjaan dan lain sebagainya.

2)        Perbandingan profil rakyat miskin di kota dan desa

Penelitian tahap pertama dilakukan untuk memperoleh data kuantitatif tentang perbandingan orang miskin di kota dan desa terkait dengan tinggi badan, berat badan, derajat kesehatan, usia, penghasilan rata-rata perbulan, jumlah keluarga, biaya hidup perbulan. Penelitian tahap ke dua dilakukan dengan metode kualitatif untuk memperluasa dan memperdalam data perbandingan profil ornag miskin di kota dan desa, yaitu makna hidup bagi orang miskin, usaha untuk mempertahankan hidup dan sebagainya.

3)        Perbandingan profil guru SD dan SMP

Penelitian tahap pertama dilakukan untuk memperoleh data kuantitatif perbandingan antara guru SD dan SMP dalam hal tinggi badan, berat badan, usia, derajat kesehatan, nilai pencapaian kompetensi guru berdasarkan kompetensi kepribadian, pedagogi, profesional dan social. Penelitian tahap kedua dilakukan dengan metode kualitatif untuk memperluas dan memperdalam data tentang perbandingan profil guru SD dan SMP, yaitu perbandingan dalam penghayatan terhadap nilai-nilai kinerja guru, interaksi guru dengan murid di kelas, cara mendorong siswa belajar, gerak tubuh dalam mengajar tanggapan gueu terhadap pertnyaan murid, cara mengkoreksi soal-soal ujian, objektivitas dalam memberikan penilaian dan lain sebagainya.

  1. c.       Penelitian Asosiatif

Penelitian asosiatif adalah penelitian yang bersifat membuktikan, dan menemukan hubungan antara dua variabel atau lebih. Hubungan variabel dapat berbentuk hubungan simetris, kausal, dan reciprocal. Berikut diberikan contoh judul penelitiannya.

1)      Hubungan motivasi dan prestasi

Penelitian tahap pertama dilakukan dengan metode kuantitatif untuk memperolah data kuantitatif hubungan (korelasi) antara motovasi dan prestasi kerja pegawai di perusahaan X. Selanjutnya penelitian tahap ke dua dilakukan dengan metode kualitatif untuk memperoleh data kualitatif guna membuktikan kembali (memperkuat, memperlemeh, atau menolak), memperdalam dan memperluas data kuantitatif yang telah diperoleh melalui penelitian kuantitatif. Karakteristik motivasi dan prestasi kerja pegawai dapat diperdalam dan diperluas dengan data kualitatif. Korelasi antara motivasi dapat dikethaui apakah korelasi tersebut berbentuk simtris, kausal dan reciprocal.

2)      Pengaruh iklan dan profil pembelian terhadap nilai penjualan dan dampak selanjutnya terhadap kesejahteraan pegawai

Penelitian tahap pertama dilakukan dengan metode kuantitatif untuk memperoleh data kuantitatif pengaruh iklan dan profil pembeli terhadap nilai penjualan dan dampak selanjutnya terhadap kesejahteraan pegawai. Analisis menggunakan analisis jalur (path alaysis), sehingga dapat dibuktikan struktur hubungan variabel tersebut, pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel iklan dan profil pembeli terhadapat kesejahteraan pegawai, dan besranya pengaruh tiap variabel dalam penelitian. Seanjutnya penelitian thap ke dua dilakukan dengan metode kualitatif guna membuktikan kembali, memperdalam dan memperluas data kuantitatif yang telah diperoleh melalui penelitian kuantitatif. Karakteristik iklan, profil pembeli, nilai penjualan dan kesejahteraan pegawai dapat diperdalam dan diperluas dengan data kualitatif. Model hubungan antara variabel, pengaruh langsung dan tidak langsung, sertavariabel-variabel lain yang mempengaruhi kesejahteraan pegawai dapat diperdalam dan diperluas dengandata kualitatif.

 

  1. 2.      Penelitian Tindakan

Penelitian tindakan (action research) merupakan penelitian yang berfungsi untuk menemukan tindakan efektif, yaitu yang tindakan bila dilaksanakan akan dapat memeperbaiki kinerja. Untk dapat memperaiki tindakan secara efektif maka, diperlukan penelitian kombinasi, yang dalam hal ini adalah penelitian kombinasi desain sequential explnatory. Penenlitian tahap pertama dilakukan dengan metode kuantitatif dengantujuan untuk mendiagnosis, sehingga dapat ditemukan “penyakit” yang ada pada unit kerja tertentu dan selanjutnya berdasarkan penyakit tersebut ditemukan hipotesis tindakan. Selanjutnya penelitian pada tahap kedua adalah menguji apakah hipotesis tindakan tersebut efektif dalam menignkatkan kinerja atau tidak. Berikut ini diberikan contoh judul penelitiannya.

 

  1. a.      Peningkatan kinerja pegawai di PT Petan

Penelitian tahap pertama dilakukan dengan metode kuantitatif (mengedarkan kuesioner tertutup kepada para pegawai, mengapa kinerja pegawai rendah dan tindakan apakah yang efektif utuk meningkatkan kerja pegawai PT Petan. Misalnya hasil penelitian pada tahap pertama, memperoleh saran agar sistem kerja diperbarui. Berdasarkan hal tersebut peneliti merancang sistem kerja baru yang dipandang dapat meningkatkan kinerja pegawai. Jadi pada penelitian tahp pertama menghasilkan rancangan sistem kerja baru.

Selanjutnya penelitian pada tahap kedua adalah menguji rancangan kerja baru tersebut dengan metode kualitatif untuk mengetahui apakah terjadi perubahan positif dalam proses pelaksanaan kerja, interaksi antar pegawai, motivasi dan semangat kerja pegawai setelah dengan metode baru tersebut digunakan. Bila pengujian pada siklus pertama tersebut belum berhasil meningkatkan kinerja, maka diperluka refleksi, untuk untuk mengetahui mengapa sistem kerja baru tidak afektif. Untuk itu maka sistem tersebut perlu direvisi, setelah direvisi dicoba lagi dan diukur efektivitasnya. Bila pada siklus kedua sudah efektif, maka diperlukan pengujian satu siklus lagi untuk mengetahui konsistensi efektifitas sistem kerja baru tersebut.

  1. b.      Peningkatan kualitas pembelajran matematika siswa kelas II SMK Merapi

Penelitian tahap pertama dilakukan dengan metode kuantitatif untuk mengetahui kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran matematika pada SMK Merapi kelas II. Berdasarkan hasil penelitian pertama memperoleh saran dari banyak responden, supaya pembelajaran matematika menggunakan metode kontekstual (CTL: Contextual Teaching Learning). Berdasrakan saran responden tersebut, selanjutnya penelitian merancang model pembelajaran matematika dengan metode CTL. Selanjutnya rancangan metode CTL tersebut diuji dengan metode kualitatif untuk mengetahui proses pembelajrannya, perhatian murid terhadap pelajran, meningkatnya pengetahuan dan lain-lain.

METODE KOMBINASI MODEL/DESAIN SEQUENTIAL EXPLORATORY (URUTAN PENEMUAN)

  1. Pengertian

Metode kombinasi model atau desain sequential exploratory adalah metode penelitian kombinasi yang menggabungkan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif secara berurutan, dimana pada tahap pertama penelitian menggunakan metode kualitatif dan pada tahap ke dua metode kuantitatif. Metode berfungsi untuk menemukan hipotesis pada kasus tertentu atau sampel terbatas, dan metode kuantitatif berfungsi untuk menguji hipotesis pada populasi yang lebih luas. Jadi metode ini berguna untuk menemukan hipotesis dan sekaligus membuktikan validitas eksternal hipotesis tersebut.

  1. Langkah-langkah Penelitian dalam desain sequential exploratory

Langkah-langkah utama penelitian kombinasi desain/model sequential explatory (urutan penemuan) ditunjukan pada gambar berikut

Metode kuantitatif : menguji hipotesis

Pada tahap pertama penelitian menggunakan metode kualitatif, yang langkah-langkahnya adalah menetukan seting penelitian yang di situ ada masalah, atau potensi. Selanjutnya peneliti melakukan kajian teori perspektif yang berfungsi untuk memandu peneliti dalam mengumpulkan data dan analisis data. Setelah itu peneliti masuk ke setting penelitian dengan melakukan pengumpulan data dan analisis data kualitatif, dan akhirnya peneliti dapat menemukan gambaran yang utuh dari objek penelitian tersebut, mengkonstruksi makna dari hipotesis. Pada tahap ke dua peneliti menggunakan metode kuantitatif yang berfungsi untuk menguji hipotesis yang ditemukan pada penelitian tahap pertama. Langkah-langkah dalam penggunaan metode kuantitatif adalah menetukan populasi dan sampel sebagai tempat untuk menguji hipotesis, mengembangkan dan menguji instrumen untuk pengumpulan data, analisis data dan selanjutnya membuat laporan yang diakhiri dengan kesimpulan saran.

  1. 1.      Metode kualitatif

Langkah pertama dalam metode penelitian kombinasi model/desain seqential explatory adalah melakukan penelitian dengan metode kualitatif. Seperti telah dikemukakan langkahnya adalah menetukan seting penelitian yang di situ ada masalah, atau potensi. Selanjutnya peneliti melakukan kajian teori perspektif yang berfungsi untuk memandu peneliti dalam mengumpulkan data dan analisis data. Setelah itu peneliti masuk ke setting penelitian dengan melakukan pengumpulan data dan analisis data kualitatif, dan akhirnya peneliti dapat menemukan gambaran yang utuh dari objek penelitian tersebut, mengkonstruksi makna dari hipotesis.

  1. a.      Masalah dan judul penelitian

Setiap penelitian berangkat dari masalah tetentu. Masalah dalam penelitian kualitatif berbeda dengab masalaj dalam kuantitatif. Masalah dalam penelitian belum jelas, masih remang-remang bahkan masih gelap, sehingga masalah yang dibawa peneliti kualitatif masih bersifat semntara. Penelitian kualitatif juga tidak harus berangkat dari masalah, tetapi bisa dari dugaan adanya potensi, bahkan bisa berangkat dari rasa keingintahuan di suatu objek itu ada apa.

Setelah masalah, potensi atau keinginan untuk mengetahui sesuatu yang di situasi sosial/tempat/objek penelitian ditetapkan, maka selanjutnya dapat dibuat rumusan masalah yang bersifat sementara. Rumusan masalah dapat bersifat rumusan masalah deskriptif, komparatif, asosiatif.

Dalam penelitian kualitatif, akan terjadi tiga kemungkinan terhadap “masalah” yang dibawa oleh peneliti dalam penelitian. Yang pertama masalah yang dibawa oleh peneliti tetap, sehingga sejak awal sampai akhir penelitian masalahnya sama. Dengan demikian judul proposal dengan judul laporan penelitian sama. Yang kedua “masalah” yang dibawa peneliti setelah memasuki penelitian berkembang. Jadi masalah diperluas atau diperdalam. Dengan demikian tidak terlalu banyak perubahan, sehingga harus “ganti” masalah. Dengan demikian antara judul dalam proposal dengan judul laporan penelitian tidak sama sehingga judulnya diganti. Dalam institusi tertentu, judul yang diganti ini sering mengalami kesulitan administrasi. Oleh karena itu institusi yang menangani penelitian kualitatif, harus mau dan mampu menyesuaikan dengan karakteristik masalah kualitatif ini.

  1. Hasil Penelitian Kualitatif (Temuan Hipotesis)

Pola hubungan tersebut dapat dijelaskan bahwa:

1)             Produktifitas perusahaan di PT Sinar Pelangi tidak memenuhi target karena baru mencapai 70 persen.

2)             Tidak tercapainya target produktivitas tersebut disebabkan oleh dua hal utama, yaitu mesin-mesin yang tua, dan motivasi kerja pegawai yang semakin menurun. Menurunnya motivasi pegawai disebabkan oleh kepemimpinan atasan langsung yang kurang motivasi kerja, dan insetif yang semakin menurun. Insentif dan kepemimpinan semakin menurun disebabkan karena produktivitas lembaga menurun, sehingga keuntungan perusahaan menurun. Karena keuntungan perusahaan menurun, maka besarnya insentif yang diberikan kepada karyawan dan pim pinana atasan lanhsung karyawan menurun.

Temuan pola hubungan variabel seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas tersebut hanya berlaku di PT. Sinar Pelangi, sehingga temuan tersebut masih bersifat hipotesis bagi perusahaan yang lain. Oleh karena itu apakah temuan tersebut juga berlaku untuk perusahaan lain, maka diperlukan penelitian untuk membuktikan hipotesis tersebut pada populasi yang lebih luas. Untuk membuktikan hipotesis tersebut diperlukan metode penelitian kuantitatif. Jadi metode penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian yang dipakai pada tahap kedua yang digunakan untuk membuktikan hipotesis hasil temuan penelitian tahap pertama.

Langkah-langkah penelitian kuantitatif yaitu, penentuan populasi dan sampel, pengumpulan data, analisis data dan membuat laporan yang ada kesimpulan dan sarannya.

1)      Penentuan populasi dan sampel untuk menguji hipotesis

Dalam suatu penelitian perlu dijelaskan populasi dan sampel yang dapat digunakan sebagai sumber data.selainitu populasi dan sampel juga untuk menguji hipotesis yang telah ditemukan. Misalnya hipotesis mengenai perusahaan diatas, maka populasi yang diambil adalah seluruh perusahaan di Provinsi Kahuripan. Ada 3 perusahaan di provinsi tersebut dengan jumlah pegawai masing- masing 50 orang pegawai, jadi populasi keseluruhan adalah 150 orang pegawai. Penelitian menggunakan sampel pegawai yang diambil dari populasi dengan kesalahan 5 persen. Berdasarkan jumlah anggota populasi 150 pegawai dan kesalahan 5 persen, maka jumlah anggota populasi sampel 105. Pengambilan sampel dilakukan dengan proportiona random sampling. Dengan demikian, jumlah sampel untuk perusahaan A- (50: 150) x 105 – 35. Perusahaan B dan C juga memiliki sampel 35 pegawai.

2)   Pengumpulan Data dan Analisis Data Kuantitatif

Untuk mengumpulkan data dalam rangka pembuktian hipotesis di perlukan instrumen. Jumlah instrumen yang akan digunakan tergantung pada variabel yang diteliti.

Sebelum digunakan untuk pengumpulan data, instrumen tersebut perlu diuji validitas dan relibilitasnya lebih dulu. Setelah instrumen terbukti valid dan reliabel, maka instrumen tersebut selanjutnya digunakan untuk pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan instrumen  kepada 110 anggota sampel.

Setelah 110 anggota sampel megisi instrumen terkumpul, selanjutnya dilakukan tabulasi data untuk setiap variabel.

3)   Analisis Data Kuantitatif

Analisis data ditujukan untuk membuktikan hipotesis yang telah ditemukan dari penelitian kualitatif sebelumnya. Data yang telah terkumpul selanjutnya dihitung korelasi dan koefisien determinisnya (pengaruh). Hasil penghitungan tersebut dianalisis apakah hipotesis yang telah ditemukan itu dapat diterima atau ditolak.

4)      Kesimpulan dan saran.

a)         Kesimpulan

Setelah data di analisis dan membuktikan hipotesis, maka seorang peneliti dapat mengambil kesimpulan penelitian yang telah ia temukan.

b)        Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dibuat, peneliti memberikan saran kepada objek yang telah diteliti atau bagi peneliti lainnya untuk lebih baik lagi.

  1. C.    Contoh Judul-Judul Penelitian Kombinasi Desain Sequential Exploratory

Penelitian kombinasi desain sequintal exploratory dapat digunakan untuk pengembangan ilmu, pengembangan tindakan yang efektif melalui penelitian tindakan (Action Research) dan pengembangan produk melalui Research and Development (R&D). Berikut ini diberikan contoh-contoh judul penelitian kombinasi desain sequintial exploratory.

  1. 1.      Penelitian untuk Pengembangan Ilmu

Penelitian untuk pengembangan ilmu dapat berupa penelitian deskriptif, komparatif, dan asosiatif.

  1. a.      Penelitian Deskriptif

1)      Profil Pegawai Negeri Sipil di Unit Kerja Tertentu

Penelitian tahap perrtama dilakukan pada kasus tertentu dengan metode kualitatif untuk menemukan profil pegawai negeri sipil. Penelitian dilakukan secara mendalam dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian kualitatif misalnya menemukan profil pegawai negeri sebagai berikut. Kebiasaan masuk kantr sering terlambat, disiplin kerja pegawai rendah, produktivitas kerja kurang memuaskan, dan jam pulang kantor lebih awal.

Hasil penelitian dengan metode kualitatif pada sampel kecil ini selanjutnyua ingin dibuktikan pada sampel yang lebih luas dengan metode kuantitatif apakah terbukti di tempat lain pada populasi yang lebih luas atau tidak.

2)      Profil Rakyat Miskin Desa

Penelitian tahap pertama dilakukan dengan metode kualitatif untuk memperoleh data kualitatif tentang profil rakyat miskin di desa tertentu. Penelitian dilakukan secara mendalam dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi partisipan, pengamatan, dan dokumentasi. Hasil penelitian kualitatif misalnya menemukan pekerjaan, penghasilan, pola hidup, hubungan dengan masyarakat, cara mendidik anak-anaknya, cara mengatur keuangan, partisipasi politik.

Penelitian pada tahap kedua dilakukan pada sampel yang lebih luas untuk membuktikan apakah profil orang miskin tersebut berlaku pada sampel yang luas atau tidak.

  1. b.   Penelitian Komporatif

Penelitian komparatif dalam metode kombinasi ini diartikan sebagai penelitian yang pada tahap awalnya menggunakan metode kualitatif, sehingga dapat ditemukan perbandingan gejala antara dua sampel kecil atau lebih dan pada tahap berikutnya menguji perbandingan gejala tersebut pada populasi yang lebih luas dengan metode kuantitatif. Berikut ini diberikan dua contoh judul penelitian komparatif.

1)      Perbandingan Kinerja Pegawai Negeri Sipil di Pusat dan Daerah

Penelitian tahap pertama dilakukan dengan metode kualitatif melalui pengamatan dan wawancara mendalam kepada beberapa sampel kecil pusat dan daerah. Melalui wawancara misalnya diperoleh informasi bahwa, penampilan fisik pegawai pusat lebih baik daripada pegawai daerah, namun dari segi komitmen kerja, kedisiplinan kerja, produktivitas kerja pegawai daerah lebih baik daripada pegawai pusat. Hasil penelitian dengan metode kualitatif tersebut selanjutnya dibuktikan pada sampel lebih luas pada pegawai pusat dan daerah.

2)      Perbandingan Profil Rakyat Miskin di Kota dan Desa

Penelitian tahap pertama dilakukan dengan metode kualitatif pada sampel kecil orang miskin kota dan desa. Dari hasil penelitian kualitatif diperoleh data di mana berat badan, penghasilan, semangat kerja dan biaya hidup orang miskin kota lebih tinggi daripada orang miskin di desa. Selanjutnya hasil penelitian tersebut ingin dibuktikan pada sampel yang lebih luas. Untuk itu maka digunakan metode kuantitatif.

  1. c.       Penelitian Asosiatif

Dalam hal ini, penelitian asosiatif diartikan sebagai penelitian yang pada tahap awalnya menggunakan metode kualitatif sehingga dapat ditemukan pola hubungan antara dua variabel atau lebih, dan pada tahap berikutnya dibuktikan hubungan variabel  tersebut dengan populasi yang lebih luas dengan metode kuantitatif. Berikut ini diberikan contoh dua judul penelitian.

1)      Pengaruh Tunjangan Profesi Guru terhadap Kinerja Guru

Diadakan penelitian dengan metode kualitatif terhadap kinerja beberapa guru yang sudah mendapat tunjangan profesi guru. Berdasarkan pengamatan yang mendalam dapat disimpulkan bahwa kinerja guru masih sama dengan pada waktu sebelum memperoleh tunjangan profesi. Berdasarkan penelitian kualitatif tersebut dapat diajukan hipotesis bahwa, kinerja guru setelah mendapat tunjangan profesi tidak berebeda dengan kinerja sebelum mendapat tunjangan. Hipotesis tersebut dibuktikan dengan menggunakan metode kuantitatif pada sampel yang lebih luas.

2)      Pengaruh Anak terhadap Penghasilan

Dilakukan pengamatan terhadap beberapa pengemis yang membawa anak kecil. Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang mendalam diperoleh informasi bahwa, anak yang dibawa bukan anaknya, dan dengan membawa anak kecil penghasilan dari menegemis lebih banyak. Berdasarkan hal tersebut dirumuskan hipotesis bahwa pengemis  yang membawa anak penghasilannya lebih banyak daripada yang tidak membawa anak. Hipotesis tersebut selanjutnya dibuktikan melalui penelitian kuantitatif pada populasi yang lebih luas.

  1. 2.      Penelitian Tindakan

Penelitian tindakan adalah penelitian yang dilakukan untuk menemukan tindakan baru yang teruji secara efektif dapat memperbaiki situasi kerja. Penelitian tindakan (action research) yang baik menggunakan metode kombinasi, bisa kombinasi dengan desain sequential explanatory maupun exploratory. Pada penelitian tindakan dengan desain sequential exploratory, pada tahap pertama penelitian menggunakan metode kualitatif untuk menemukan atau mendiagnosis masalah secara diteliti, sehingga dapat ditemukan masalah atau penyakit yang ada dalam situasi kerja tersebut. Berdasarkan masalah atau penyakit yang ditemukan tersebut, selanjutnya dikaji dengan berbagai teori pengalaman sehingga ditemukan tindakan baru yang apabila diterapkan akan dapat memperbaiki situasi kerja. Untuk menguji efektivitas tindakan tersebut digunakan metode eksperimen (metode kuantitatif). Untuk mengetahui efektivitas tindakan, dapat diketahui dengan membandingkan situasi sebelum ada tindakan baru dan situasi setelah ada tindakan baru.

Berikut ini diberikan contoh judul penelitian tindakan yang diteliti dengan metode kombinasi desain sequential exploratory.

1)        Peningkatan Kinerja Perusahaan

Ada gejala nilai penjualan produk perusahaan menurun. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian kualitatif untuk menemukan sebab-sebab nilai penjualan menurun. Penelitian dilakukan ke beberapa toko. Dari toko diperoleh informasi bahwa para konsumen beralih ke merk lain karena toko sering kehabisan stok. Toko kehabisan stok karena pengiriman lewat pihak ketiga sering terlambat. Jadi hasil penelitian kualitatif menemukan “penyakit” bahwa nilai penjualan turun karena pengiriman barang terlambat. Pengiriman barang terlambat karena pengiriman lewat pihak ketiga. Berdasarkan hal tersebut, maka perusahaan mengambil tindakan baru dalam mengirimkan barang tidak lagi diusahakan oleh pihak ketiga, tetapi pengiriman dilakukan oleh perusahaan sendiri. Tindakan yang akan diuji adalah “tindakan mengirimkan barang dilakukan oleh diri sendiri”. Pengujian tindakan dengan metode eksperimen, yang merupakan metode kuantitatif melalui beberapa siklus. Efektivitas tindakan diukur dengan membandingkan nilai penjualan barang sebelum ada tindakan baru dan setelah ada tindakan baru.

 

 

2)      Peningkatan Prestasi Belajar Siswa

Berdasarkan hasil ujian nasional nilai matematika kelas 6 SD Baruna menurun. Untuk mencari sebab-sebab mengapa nilai matematika menurun digunakan metode kualitatif. Berdasarkan wawancara kepada siswa yang ikut ujian nasional diperoleh informasi bahwa, menurunnya nilai metematika Karena guru dalam mengajar selalu menggunakan metode ceramah. Setelah dilakukan analisis dengan berbagai teori dan wawancara mendalam kepada beberapa guru dan pengwas diperoleh alternatif tindakan baru, yaitu supaya dalam mengajar matematika menggunakan media pembelajaran yang realistik. Dengan demikian tindakan yang akan diuji adalah “tindakan mengajar yang menggunakan merdia pembelajaran yang realistik”. Pengujian dengan metode eksperimen (kuantitatif). Efektivitas tindakan diukur dengan membandingkan nilai siswa yang diajar dengan metode ceramah dengan nilai siswa yang diajar dengan menggunakan media yang realistik.

  1. 3.      Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/R&D).

Metode penelitian pengembangan digunakan untuk mengembangkan dan menguji produk tertentu. Penelitian dilakukan melalui dua tahap, tahap pertama dengan metode kualitatif sehingga dapat diperoleh rancangan produk penelitian tahap ke dua dengan metode kuantitaif (eksperimen). Metode eksperimen digunakan untuk menguji efektivitas produk tersebut. Berikut diberikan dua contoh judul penelitian pengmbangan yang menggunakan metode kombinasi desain sequential exploratory.

1)      Daun Salam untuk Pengobatan Sakit Gula

Beberapa teman saya yang kadar gula darahnya agak tinggi (180 mg setelah dua jam makan) mengonsumsi air daun salam yang direbus. Dengan mengonsumsi air tersebut kadar gula darahnya menjadi normal. Berdasarkan informasi tersebut peneliti melakukan penelitian dengan metode kualitatif melalui wawancara dan pengamatan terhadap orang yang sakit gula mengonsumsi air daun salam. Pengamatan dilakukan terhadap berat  daun salam yang direbus, usia daun, lama merebus, volume air untuk merebus dan volume air rebus yang diminum. Hasil penelitian kualitatif tersebut selanjutnya diujikan pada sampel yang lebih luas dengan metode eksperimen. Efektivitas diukur dengan cara membandingkan kadar gula darah orang sebelum minum air daun salam dan sesudah minum air daun salam. Pengujian dilakukan berulang-berulang pada sampel yang semakin luas. Kalau banyak orang yang minum air daun salam dan kadar gulanya normal, maka daun salam tersebut efektif dapat menurunkan gula darah. Produk yang diuji adalah efektivitas daun salam untuk penyembuhan orang sakit gula.

2)      Pengembangan Buku Ajar Fisika Kelas II SMP Berbasis Kontekstual

Murid-murid kelas II SMP sulit menerima pelajaran fisika, karena buku pelajaran fisika yang digunakan berisi contoh-contoh asing yang tidak familiar dengan kehidupan sehari-hari. Nilai rata-rata kelas 4,57. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian kualitatif untuk meyusun buku pelajaran fisika yang berisi dengan contoh-contoh yang familiar dengan kehidupan sehari-hari murid. Setelah buku tersusun maka selanjutnya diuji efektivitasnya dengan cara menggunakan buku tersebut sebagai referensi untuk pembelajaran fisika kelas II. Buku ajar tersebu dinyatakan efektif kalau hasil belajar fisika murid kelas II SMP setelah menggunakan buku tersebut lebih baik dari nilai sebelum menggunakan buku.

  1. D.    Proposal Penelitian

Seperti telah dikemukakan bahwa, proposal penelitian merupakan rancangan penelitian yang berisi langkah-langkah rasional dan sistematis yang akan dilakukan dalam penelitian. Proposal penelitian model/desain kombinasi sequential exploratory, berisi rencana dua kegiatan penelitian yang berkesinambungan, di mana kegiatan pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif dan tahap ke dua menggunakan metode kuantitatif. Garis besar sistematika proposal penelitian dengan metode kombinasi desain sequential exploratory ditunjukkan pada tabel 21.5 berikut.

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Fokus Penelitian
  3. Rumusan Masalah
  4. Tujuan Kegunaan Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI

  1. Teori A
  2. Teori B
  3. Teori C

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

  1. Langkah-langkah Penelitian (Kombinasi kualitatif dan kuantitatif)
  2. Metode Kualitatif
    1. Tempat Penelitian
    2. Sampel Sumber data
    3. Teknik Pengumpulan Data
    4. Analisis Data Kualitatif
    5. Pengujian Kredibilitas Data
    6. Temuan Hipotesis
    7. Metode Kuantitatif
      1. Populasi dan Sampel
      2. Teknik Pengumpulan Data
      3. Instrumen Penelitian
      4. Teknik Analisis Data

DAFTAR PUSTAKA

Gambar 21.5. Sistematika Proposal Penelitian Metode Kombinasi Desain Sequintial Exploratory

Penelitian kombinasi desain sequential exploratory adalah penelitian yang pada tahap awalnya menggunakan metode kualitatif dan tahap ke dua menggunakan metode kuantitatif. Dengan metode kualitatif diharapkan dapat ditemukan hipotesis, dan dengan metode kuantitatif digunakan untuk menguji hipotesis yang ditemukan dengan metode kualitatif. Karena penelitian pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif, maka proposal penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah di lapangan. Proposal penelitian hanya berisi garis-garis besar yang akan dilakukan dalam penelitian.

  1. E.     Laporan Penelitian

Judul laporan penelitian kombinasi desain sequential exploratory bisa berbeda dengan judul proposal penelitian. Hal ini disebabkan oleh karena pada tahap pertama dalam penelitian menggunakan metode kualitatif. Dalam metode kualitatif, proposal masih bersifat sementara dan judul penelitian dapat disusun berdasarkan temuan. Jadi judul penelitian dibuat setelah selesai penelitian kualitatif.

Garis besar sistematika laporan penelitian dengan metode kombinasi desain sequential explanatory ditunjukkan pada tabel 21.6 berikut. Berdasarkan gambar 21.6 tersebut, terlihat bahwa laporan penelitian terdiri atas lima bab, yaitu Bab Pendahuluan, Kajian Teori, Metode Penelitian, Hasil Penelitian, Kesimpulan dan Saran.

Penjelasan setiap bab isi proposal dan laporan penelitian dapat dilihat pada bab proposal dan laporan penelitian di Bagian III Metode Kualitatif dan bagian II Metode Kuantitatif. Laporan berisi hasil penelitian kualitatif yang bersifat temuan dan hasil penelitian kualitatif yang bersifat menguji temuan atau hipotesis.

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Fokus Penelitian
  3. Rumusan Masalah
  4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

 

BAB II KAJIAN TEORI

  1. Teori A
  2. Teori B
  3. Teori C

 

BAB III METODE PENELITIAN

  1. Metode Kuantitatif
  2. Tempat penelitian
  3. Sampel Sumber Data
  4. Teknik Pengumpulan Data
  5. Analisis Data Kualitatif
  6. Pengujian Kredibilitas Data
  7. Temuan Hipotesis
  8. Metode Kualitatif
  9. Populasi dan Sampel
  10. Teknik Pengumpulan Data
  11. Instrumen Penelitian
  12. Teknik Analisis Data

 

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
  2. Deskripsi Hasil Penelitian
  3. Temua Hipotesis
  4. Hasil Pengujian Hipotesis
  5. Pembahasan Hasil Penelitian

 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan
  2. Saran

 

DAFTAR PUSTAKA

 

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Gambar 21.6. Sistematika Laporan Penelitian Metode Kombinasi Desain Sequintial Exploratory

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..astrianiFuji………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

6. Hasil Penelitian

Hasil Penelitian kombinasi dengan model concurrent triangulation dikemukakan berikut, merupakan hasil penelitiandengan metode kombinasi, yang menggunakan teknik pengumpulan data dan analisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian yang dikemukakan meliputi: profil pekerjaan industri pemesinan modern yang dikerjakan dengan mesin – mesin perkakas berbasis computer (CNC), sistem evaluasi kerja, perbandingan kemampuan kerja karyawan lulusan SMA dan SMK, perbedaan perkembangan kemampuan kerja antara karyawan lulusan SMA dan SMK, serta perbedaan faktor – faktor yang mempengaruhi kemampuan kerja karyawan lulusan SMA dan SMK.

  1. Profil pekerjaan industry pemesinan yang dikerjakan dengan mesin frais berbasis komputer (CNC) adalah sebagai berikut:

1)      Pemotongan lurus dalam satu bidang, sebanyak 30%.

2)      Pemotongan kombinasi melingkar dan lurus dalam satu bidang, sebanyak 20%.

3)      Pemotongan berulang dalam satu bidang 15%.

4)      Pemotongan translasi berulang, sebanyak 12%.

5)      Pemotongan bidang miring, sebanyak 10%.

6)      Pemotongan permukaan parabola, sebanyak 6%.

7)      Pemotongan sculptured surface (konis), sebanyak 7%.

 

  1. Sistem evaluasi kinerja karyawan berdasarkan kualitas produk kerja yang dihasilkan dan kecepatan kerja. Kualitas produk kerja memiliki 4 tingkatan, yaitu produk ready for used, cacat tetapi ready for used, rework dan reject. Kecepatan kerja ada 3 tingkatan, yaitu lebih cepat dari standar, tepat dan lambat. Nilai tertinggi adalah kualitas produk ready for used dan dikerjakan dengan waktu yang lebih cepat dari standar.
  2. Berdasarkan data hasil ujian setelah mengikuti diklat, terdapat perbedaan kemampuan kerja antara kelompok karyawan lulusan SMA dan SMK. Lulusan SMA lebinh unggul dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Geometrid dan NC Programming dan lulusan SMK lebih unggul dalam mata pelajaran Menggambar Teknik, Ilmu Bahan dan Proses pemesinan. Nilai rata – rata secara keseluruhan kelompok SMA = 64,32 dan SMK = 64,88.
  3. Berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan dan yang reject, tidak terdapat perbedaan yang berarti antara karyawan lulusan SMA dan SMK. Namun bila dilihat dari produk yang perlu di rework, kemampuan kerja karyawan lulusan SMK lebih baik dari SMA. Jumlah produk yang perlu di rework lulusan SMA = 40,7% dan lulusan SMA = 27,08%. Sebelum dua tahun bekerja pengawasan dan bimbingan yang diberikan oleh supervisor lebih banyak kepada lulusan SMa daripada SMK.
  4. Terdapat perbedaan perkembangan kemampuan kerja antara karyawan lulusan SMA dan SMK. Sebelum 4 tahun sama – sama bekerja kemampuan lulusan SMK lebih baik daripada lulusan SMA, tetapi setelah sama – sama 4 tahun bekerja, kemampuan kedua kelompok karyawan sudah sama, dan perbedaan latarbelakang pendidikan tidak berpengaruh lagi terhadap kemampuan kerja. Yang lebih berpengaruh adalah karakteristik dari individunya masing – masing, dan peranan supervisor, pimpinan dan lingkungan kerja.
  5. Terdapat perbedaan urutan faktor/variable yang mempengaruhi kemampuan kerja antara karyawan lulusan SMA dan SMK. Urutan variable yang mempengeruhi kemampuan kerja karyawan lulusan SMA adalah: Hasil training dari IPTN, Intensif bagi yang berprestasi, Mesin CNC, Kejelasan tugas, Kesadaran bekerja, Pengawasan, Uang karyawan, Gaji bulanan, Ruang kerja, Hasil belajar, dari SMA. Sedangkan urutan variable yang mempengaruhi kemampuan kerja karyawan lulusan SMK adalah: Hasil belajar dari SMK dan hasil Training dari IPTM, Bakat seseorang, Intensif bagi yang berprestasi, Pegawasan, Kesadaran bekerja, Mesis CNC, Teladan Pimpinan, Kejelasan tugas. Gaji bulanan, Hubungan sesame karyawan, Uang lembur Ruang kerja.

7. Saran

Berdasarkan penelitian tersebut dapat diberikan saran untuk penyiapan tenaga kerja industri pemesinan modern sebagai berikut.

1)      Tenaga kerja industri pemesinan modern dapat disiapkan melalui jalur SMA dan SMK. Bila lewat Jalur SMA, maka lulusan SMA sebelum bekerja diberi pelatihan CNC selama 2 tahun, dan bila lewat jalur SMK, maka lulusan SMK sebelum bekerja diberi pelatihan CNC sebelum bekerja selama 6 bulan.

2)      Lembaga pendidikan kejuruan seperti SMK perlu dukembangkan karena mampu menghasilkan lulusan yang lebih siap pakai dan memiliki komitmen serta etos kerja yang tinggi.

3)      Pembelajaran praktik pada jurusan Mesin di SMK perlu dikembangkan dengan menggunakan mesin – mesin CNC sehingga lulusannya memiliki kompetensi untuk menghasilkan produk yang memiliki 7 tingkatan seperti pada kesimpulan no 1.

4)      Lulusan SMA yang akan bekerja pada industri pemesinan modern lebih diarahkan pada pembuatan program, sedangkan lulusan lebih diarahkan pada pengerjaan lapangan.

D.   Contoh Judul-Judul Penelitian Kombinasi Desain Concurrent Triangulation hal (525-531)

            Penelitian kombinasi model Concurrent Triangulation (campuran seimbang) adalah merupakan metode penelitian campuran yang seimbang antara metode kualitatif dan kuantitatif yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang sejenis. Jadi rumusan masalah yang sejenis dijawab dengan metode kuantitatif dan kualitatif secara bersama-sama. Campuran metode lebih difokuskan pada penggunaan teknik pengumpulan data dan analisis data.

Metode penelitian campuran dengan model Concurrent Triangulation juga dapat digunakan untuk penelitian pengembangan ilmu, penelitian tindakan (action research) dan pengembangan produk melalui Research and Development. Berikut contoh-contoh judul penelitian kombinasi desain/model Concurrent Triangulation.

  1. 1.    Penelitian untuk Pengembangan Ilmu

Penelitian pengembangan ilmu nerupa penelitian deskriptif, komparatif dan asosiatif dan komparatif asosiatif

  1. Penelitian Deskriptif

Judul : Profil SMK yang Berprestasi

Untuk mengetahui profil SMK yang berprestasi tersebut, pengumpulan data dengan metode kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan. Penggunaan metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui seberapa tinggi SMK tersebut telah mencapai setiap standar nasional pendidikan, dengan dikembangkan melalui instrumen penelitian, setelah instrument itu teruji validitas dan realibitasnya, selanjutnya digunakan untuk pengumpulan data. Pengumpulan data itu diberikan kepada kepala SMK untuk diisi, dan selanjutnya instrument itu dianalisi secara kuantitatif. Bersamaan dengan pengumpulan data dengan instrument tersebut dilakukan penelitian melalui metod kualitatif yaitu melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi.

Dengan menggunakan metode kombinasi data yang didapatkan pun lebih luas, lengkap dan pasti.

  1. Penelitian Komparatif

            Judul : Perbandingan Kualitas Pelayanan Rumah Sakit Negeri dan Swasta

Untuk membandingkan kualitas pelayanan antara dua rumah sakit secara lengkap dan akurat digunakan model kombinasi concurrent triangulation. Penelitian metode kuantitatif dan kualitatif ini secara seimbang, dilakukan dalam waktu yang sama untuk mengetahui perbandingan pelayanan rumah sakti negeri dan swasta. Metode kuantitatif ini dilakukan dengan cara mengedarkan instrumen kedua kelompok rumah sakit respondennya adalah sample pasien rawat inap maupn rawat jalan. Bersamaan dengan pengumpulan data melalui kuesioner, peneliti melakukan penelitian dengan metode kualitatif dengan wawancara ke sample responden yang telah mengisi kuesioner, dan observasi terhadap sarana dan prasarana rumah sakit dan yang terakhir studi dokumentasi.

Data yang diperoleh dari dua penelitian menggunakan metode berbeda selanjutnya dibanding-bandingkan sehingga dapat diperoleh data yang lebih luas, lengkap dan mendalam mengenai perbandingan kualitas pelayanan rumah sakit negeri dan swasta

  1. Penelitian Asosiatif

Judul : Pengaruh Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pegawai

Penelitian kombinasi model concurrent triangulation, penelitian dengan metode kuantitatif peniliti perlu mengembangkan instrumen kualitas kepemimpinan, budaya organisasi dan kinerja pegawai. Setelah uji validitas dan realibitasnya, maka selanjutnya digunakan untuk pengumpulan data. Instrument diberikan secara random. Data tersebut dianalisis secara kuantitatif sehingga dapat diketahui seberapa pengaruh kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap kinerja pegawai.

Bersamaan dengan mengedarkan intrumen, peneliti melakukan pengumpulan data secara kualitatif melalui wawancara, obeservasi dan studi dokumentasi yang terkait dengan kepemimpinan, budaya organisasi dan kinerja pegawai, serta pengaruh secara kualitatif antar dua variabel.

Hasil penelitian kombinasi itu akan menghasilkan data secara kuantitatif dan kualitatif tentang kepemimpinan, budara organanisasi dan kinerja pegawai, serta data kuantitatif dan kualitatif mengenai pengaruh kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kinerja pegawai

 

  1. 2.    Penelitian Tindakan (Action Research)

Metode penelitian tindakan dalam hali ini hanya digunakan untuk menguji efektifitas proses dan hasil dari suatu tindakan tertentu. Efektifitas proses diteliti dengan metode kualitatif dan efektifitas hasil diuji dengan eksperimen

Judul : Peningkatan Kualitas Hasil Lasan Posisi Vertical up Siswa SMK II dengan Metode Ayunan Segitiga bolak-balik.

Penelitian tindakan ini dapat dilakukan dengan metode kombinasi model concurrent triangulation. Untuk mengetahui apakah metode ayunan segitiga bolak-balik dapat meningkatkan kualitas hasil lasan atau tidak, maka diperlukan dengan metode eksperimen. Bersamaan dengan eksperimen, peneliti melakukan penelitian metode kualitatif dengan cara mengamati dan wawancara kepada siswa yang sedang melakukan pengelasan. Melalui wawancara ini akan dapat diketahui bagaimana siswa merasakan proses pengelasan dengan metode segitiga bolak-balik ini apakah lebih baik atau bahkan lebih sulit.

  1. 3.    Penelitian dan Pengembangan (Research and Development R&D)

Metode penelitian dan pengembangan dalam hal ini digunakan untuk menguji efektifitas proses dan hasil dari suatu produk tertentu. Efektifitas proses diteliti dengan metode kualitatif dan efektifitas hasil diuji dengan eksperimen.

Judul : Pengembangan Media Pembelajaran Praktik Pemesinan dengan Simulasi

Penelitian kuantitatif dilakukan dengan metode eksperimen, dimana media di uji cobakan pada pembelajaran tersebut. Efektifitas media diukur berdasarkan perubahan kompetensi lulusan sebelum dan setelah diajar dengan media pembelajaran tersebut. Bersamaan dengan eksperimen peneliti melakukan penelitian kualitatif dengan cara mewawancarai terhadap responden, terlihat dari semangat dalam melaksanakan pembelajaran dengan media ini , dan apakah setelah menggunakan media pembelajaran ini proses pembelajaran lebih efektif dan hasil belajar menjadi lebih baik.

 E.  Proposal Penelitian

Proposal penelitian merupakan rancangan penelitian yang berisi langkah-langkah rasional yang dilakukan dalam penelitian. Proposal penelitian model/desain kombinasi concurrent triangulation berisi dua kegiatan penelitian yang dilakukan bersama-sama, independen dan digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang sama atau sejenis. Rumusan masalah dapat berangkat dari rumusan kualitatif atau kuantitatif. Bila rumusan masalah penelitian  berisifat rumusan masalah kuantitatif, maka sistematikanya menggunakan pola fikir penelitian kuantitatif yang bersifat deduktif. Dan bila rumusan masalah nya kualitatif adalah rumusan masalah yang sudah jelas, terukur, dan dapat diamati. Rumusan masalah itu selanjutnya akan dicarikan jawabannya dengan teknik pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif. Yang membedakan dalam proposal penelitian model/desain kombinasi concurrent triangulation dengan proposal yang lainnya di dalam teknik pengumpulan data, instrument penelitian dan teknik analisis data dilakukan dengan penelitian secara kualitatif dan kuantitatif.

 METODE KOMBINASI MODEL CONCURRENT EMBEDDED(CAMPURAN TIDAK BERIMBANG)

A.    Pengertian

 

Metode kombinasi model atau desain concurrent embedded (campuran tidak berimbang) adalah metode penelitian yang mengandung gabungan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan cara mencampur kedua metode tersebut dengan cara tidak seimbang. Dalam satu kegiatan penelitian mungkin 70% menggunakan metode kualitatif dan 30% metode kuantitatif ataupun sebaliknya.

Metode penelitian ini lebih menarik, karena peneliti dapat mengumpulkan dua macam data (kuantitatif dan kualitatif atau sebaliknya) secara simultan, dalam satu tahap pengumpulan data. Dengan demikian data yang diperoleh menjadi lengkap dan lebih akurat. Sebagai contoh penelitian kuantitatif mengukur berat badan seseorang, dan sekaligus diamati perilaku masing-masing orang berdasarkan berat badannya dengan menggunakan metode kualitatif. Dalam metode ini bisa melakukan eksperimen atau survey sekaligus mengamati perilaku orang-orang yang sedang terlibat dalam eksperimen.

 

  1. B.     Langkah-Langkah Penelitian

 

Seperti dikemukakan terdapat dua model dalam penelitian concurrent embedded, yaitu metode kuantitatif yang menjadi metode primer dan atau metode kualitatif yang metode primer. Langkah-langkah penelitian metode kuantitatif sebagai metode primer seperti di bawah ini.

Penelitian berangkat dari masalah atau potensi. Potensi yang ingin diberdayakan, tetapi tidak bisa cara memberdayakan, juga akan menimbulkan masalah. Setelah masalah dan yang melatarbelakangi dikemukakan dengan fakta, selanjutnya dibuat rumusan masalah yang berbentuk pertanyaan penelitian. Rumusan masalah bisa berbentuk rumusan deskriptif, komparatif, asosiatif, dan komparatif asosiatif.

Setelah masalah dirumuskan maka, selanjutnya peneliti memilih teori yang dapat digunakan untuk memperjelas masalah, merumuskan hipotesis dan menyusun instrument penelitian. Setelah instrument disusun diuji validitas dan reliabilitasnya. Setelah instrument terbukti valid dan reliable, maka selanjutnya digunakan untuk mengumpulkan data guna menjawab rumusan masalah kuantitatif dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan pengumpulan data kualitatif. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan instrument dan pengumpulan data kualitatif dengan observasi, dan wawancara. Data kuantitatif diperoleh berdasarkan sample penelitian yang diambil secara random dan pengumpulan dan kualitatif dikumpulkan dengan sample purposive dan snowball. Data kuantitatif yang telah terkumpul dianalisis dengan statistic dan data kualitatif dianalisis secara kualitatif.

Data kuantitatif yang telah terkumpul dengan teknik pengumpulan data kuantitatif dan data kualitatif yang telah terkumpul dengan teknik pengumpulan data kualitatif, selanjutnya dianalisis untuk digabungkan dan dibandingkan, sehingga dapat ditemukan data kualitatif mana yang memperkuat, memperluas dan mengugurkan data kuantitatif. Data kuantitatif yang bersifat deskriptif atau hasil pengujian hipotesis berikut data kualitatif sebagai pelengkapnya, selanjutnya disajikan dalam bentuk table atau grafik dan dilengkapi dengan data kualitatif. Data tersebut selanjutnya diberikan pembahasan, sehingga hasil penelitian menjadi semakin jelas dan mantap. Langkah terakhir dari proses penelitian ini adalah membuat laporan penelitian, yang di bagian akhirnya ada kesimpulan dan saran. Kesimpulan berupa jawaban terhadap rumusan masalah berdasarkan data kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian selanjutnya diberikan saran. Bila kesimpulan memberikan informasi yang baik, maka tidak perlu diberikan saran, sehingga jumlah saran tidak harus sama dengan jumlah kesimpulan.

Langkah-langkah metode kualitatif sebagai metode primer sebagai berikut. Seperti telah banyak dikemukakan bahwa, metode penelitian kualitatif digunakan bisa berangkat dari potensi, keingintahuan di obyek ada apa, dan bisa dari masalah yang bersifat sementara. Masalah tersebut akan berkembang setelah peneliti memasuki lapangan. Setelah peneliti melakukan penjelajahan umum (grand tour observation) ke obyek yang diteliti, maka peneliti baru dapat menemukan fokus penelitian. Berdasarkan fokus penelitian tersebut, selanjutnya peneliti dapat membuat rumusan masalah yang berupa pertanyaan penelitian sebagai panduan untuk mengumpulkan data di lapangan.

Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan landasab teori sebagai bahan untuk perumusan hipotesis, tetapi melakukan kajian berbagai teori perspektif yang sesuai dengan konteks penelitian. Dengan kajian tersebut akan dapat memperkuat peneliti kualitatif sebagai “human instrument”, sehingga peneliti kualitatif mampu melakukan penjelajahan umum pada obyek yang diteliti, menetapkan fokus, menetapkan sumber data, mengumpulkan dan analisis data kualitatif.

Teori yang digunakan oleh peneliti kualitatif, juga bersifat sementara dan akan berkembang sesuai dengan fakta-fakta yang ditemukan peneliti di lapangan. Penelitian kualitatif lebih dipandu oleh fakta-fakta yang diperoleh dilapangan (bukan teori) untuk membangun hipotesis atau teori baru.

Berdasarkan fokus dan rumusan masalah penelitian yang ditetapkan, selanjutnya peneliti kualitatif mengumpulkan data di lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi yaitu dengan observasi partisipan, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Dan gabungan ketiganya. Penentuan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball (sumber data dipilih orang yang dianggap paling tahu tentang apa yang akan ditanyakan, dan jumlahnya semakin lama semakin banyak). Analisis data kualitatif lebih banyak dilakukan selama pengumpulan data, melalui proses data, reduction, data display dan verification (Miles & Huberman).

Berdasarkan dengan pengumpulan data dengan metode kualitatif (metode primer), peneliti juga melakukan pengumpulan data dengan metode kuantitatif (metode sekunder), untuk memperluas dan meningkatkan akurasi data kualitatif yang telah ditemukan.

Setelah pengumpulan dan analisis data kualitatif dan kuantitatif selesai, maka selanjutnya peneliti melakukan analisis berdasarkan data kualitatif dan kuantitatif tersebut untuk digabungkan, sehingga dapat diketahui data kuantitatif mana yang yang dapat memperluas dan meningkatkan akurasi data kualitatif.

Setelah data kualitatif dan kuantitatif dianalisis sehingga diperoleh data yang utuh, maka selanjutnya peneliti menyajikan seluruh data yang diperoleh dari penelitian kombinasi tersebut. Deskripsi penyajian data didasarkan pada fokus dan rumusan masalah penelitian. Setelah data disajikan maka selanjutnya diberikan pembahasan, sehingga hasil penelitian menjadi semakin jelas dan mantap.

Langkah terakhir setiap penelitian adalah membuat laporan. Laporan perlu disusun secara rasional sistematis, sehingga pembaca dapat memahami seluruh kegiatan penelitian yang telah dilakukan. Pada bab terakhir laporan berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan merupakan jawaban secara singkat terhadap rumusan masalah berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan. Berdasarkan kesimpulan tersebut selanjutnya di berikan saran.

D. Contoh judul penelitian Kombinasi Desain Concurrent Embedded

Penelitian kombinasi model Concurrred Embedded (campuran tidak seimbang) adalah metode penelitian campuran yang tidak seimbang  antara metode kualitatif dan kuantitatif. Maka akan ada metode yang utama/primer dan ada metode sekunder/pelengkap. Dari kedua metode tersebut (metode kualitatif, kuantitatif)  bisa menjadi salah satu metode primer. Metode penelitian primer digunakan untuk memperoleh data yang utama, dan metode sekunder digunakan untuk memperoleh data tambahan/pelengkap.

Metode penelitian kombinasi model Concurrent Embedded dapat digunakan untuk penelitian pengembangan ilmu, pengembangan tindakan yang efektif adalah melalui penelitian tindakan (Action Research) dan pengembangan produk melalui Research and Development (R&G).

Contoh-Contoh judul penelitian kombinasi desain/model Concurrent Embedded:

  1. 1.      Penelitian untuk pengembangan Ilmu

Berupa penelitian Deskriptif, Komparatif, Asosiatif dan Komparatif Asosiatif.

  1. a.      Penelitian Desktiptif

Judul : Profil petani sukses

Penelitian menggunakan metode Concurrent Embedded, metode primer yang digunakan adalah kualitatif. jadi pada awal pengumpulan data menggunakan metode kualitatif. Subjek yang diteliti adalah beberapa petani yang sukses. Metode kualitatif digunakan untuk mengetahui kegiatan sehari-sehari , uasaha yang dilakukan, semangat kerja, cara merencanakan kegiatan, mengelola dan memimpin pekerja, cara memasarkan hasil pertanian dan cara mengelola uangnya. Metode kuantitatif sebagai metode sekunder, digunakan untuk jumlah usaha, pengaturan waktu, dan keuntungan usahadalam pertanian.

  1. Penelitian komparatif

Judul : Kinerja Guru Sebelum dan Sesudah Memperoleh Tujangan Profesi

Penelitian menggunakan metode penelitian kombinasi model Concurrent Embedded, metode primer yang digunakan adalah metode kuantitatif. Hipotesis yang diajukan adalah “setelah mendapat tunjangan profesi kinerja guru lebih baik” untuk membuktikanya penelitian dilakukan pada populasi guru yang telah menerima tunjangan profesi, dari populasi yang banyak di ambil sampel secara random. Pengumpulan data menggunakan instrument kinerja guru, yang dikembangkan berdasarkan tugas pokok dan fungsi guru. Setelah instrumen teruji Validitas dan Reabilitasnya, selanjutnya instrumen diberikan kepada sampel guru yang terpilih, bersamaan dengan pengumpulan data dengan instrument tersebut, (untuk memperoleh data kualitatif), peneliti melakukan wawancara, dan observasi tentang kinerja guru sebelum dan sesudah mendapat tunjangan profesi (data kualitatif untuk melengkapi data kuantitatif), setelah instrument di isi oleh guru sampel maka selanjutnya dianalisis secara statistik,. Melaluai anasilis statistik dapat dihitung nilai kuantitatif kinerja guru sebelum dan sesudah mendapatkan tunjangan profesi, dan selanjutnya menguji signifikansi perbedaanya (uji hipotesis). Pengumpulan data kualitatif dengan wawancara dilakukan pada guru bersangkutan, kepala sekolah, pengawas dan guru yang belum mendapat tunjangan profesi.

Data dari hasil penelitian kuantitatif dan kualitatif selanutnya di analisis dengan menggabungkan dan membandingkan, sehingga dapat diperoleh data yang lebih luas, lengkap, dan mendalam.

c.       Penelitian Asosiatif

Judul : Pengaruh Pengunjung toko dan kulaitas pelayanan terhadap jumlah pembeli

Penelitian menggunakan metode penelitian kombinasi model Concurrent Embedded, metode primer yang digunakan adalah metode kuantitatif, dan metode sekunder yang digunakan adalah metode kualitatif, penelitian dilakukan pada populasi toko di kota tertentu, lalu mengambil sampel toko. Pengumpulan data kuantitatif  dilakukan untuk mengetahui jumlah pengunjung toko rata-rata tiap bulan (dengan pengamatan), kualitas pelayanan pramuniaga (dengan kuisioner) dan jumlah pembeli (data dokumentasi di kasir). Penelitian kualitatif digunakan untuk melengkapi data perilaku pengunjung toko, perilaku dan proses pelayanan yang dilakukan pramuniaga, dan jenis-jenis barang yang di beli, secara kualitatif juga dapat dianalisis adakah hubungan kualitatif antara perilaku dan bahasa tubuh pengunjung, perilaku dan bahasa tubuh pramuniaga terhadap jenis-jenis barang yang dibeli.

2.      Penelitian Tindakan (Action research)

Metode penelitian tindakan dapat dilakukan dengan menggunakan metode kombinasi model Concurrent Embedded, baik menggunakan metode kualitatif sebagai metode primer atau metode kualitatif sebagai metode sekunder.

Judul : Peningkatan Suasana Kerja dengan Metode kepemimpinan tanpa marah

Penelitian menggunakan metode kombinasi model Concurrent Embedded, metode kualitatif sebagai metode primer. Tahap awal penelitian menggunakan metode eksperimen (kuantitatif). Pimpinan unit kerja tertentu diminta tidak marah selama memimpin. Setelah 6 bulan menggunakan gaya kepemimpinan tidak marah, selanjutnya lihat perubahan suasana kerja organisasi, secara kuantitatif lebih baik atau tidak. Metode kualitatif sebagai metode sekunder digunakan untuk mengetahui bagaimana gaya dan proses kepemimpinan tidak marah itu, dan bagaimana komitmen pegawai dalam bentuk perasaan dan tindakan nyata.

  1. 3.      Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/ R&D)

Metode penelitian dan pengembangan digunakan untuk menguji efektivitas produk dengan menggunakan metode kuantitatif ssebagai metode primer dan meneliti kepuasan pengguna dengan metode kualitatif sebagai metode primer.

Judul : Pengembangan Sistem Presensi Pegawai dengan Wajah Berbasis Komputer

Dalam penelitian ini produk yang dihasilkan dan selanjutnya akan diuji efektivitasnya adalah berupa sistem presensi dengan wajah berbasis komputer. Presensi dengan sistem ini diharapkan, kehadiran pegawai meningkat, keterlambatan hadir dan jam pulang awal menurun. Dengan demikian kinerja pegawai akan meningkat. Metode primer yang digunakan untuk menguji sistem tersebut adalah metode kuantitatif diukur darijumlah kehadiran, keterlambatan hadir dan pulang awal setiap pegawai selama 3 bulan. Sedaqngkan kinerja pegawai (keberadaan selama jam kerja, keseriusan kerja dan kerjasama) diteliti dengan metode kualitatif.

E. Proposal penelitian

Sistematika proposal penelitian kombinasi model Concurrent Embedded, yaitu sistem matika metode kuantitatif sebagai metode primer dan metode kualitatif sebagai metode sekunder; dan sistemmatika kualitatif sebagai metode primer dan metode kuantitatif sebagai metode sekunder.

  1. 1.      Proposal Metode Kualitatif Sebagai Metode Primer

Sistematika metode kombinasi model Concurrent Embedded, dengan metode kuantitatif sebagai metode primer dan metode kualitatif sebagai metode sekunder. Dalam penelitian ini karena menggunakan metode kuantitatif sebagai mtode primer, maka penyusunan proposal lebih dominan menggunakan pola pikir metode kuantitatif.

 

BAB I      PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Identifikasi Masalah
  3. Batasan Masalah
  4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

BAB II     LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

  1. Deskripsi Teori
  2. Kerangka Berfikir
  3. Hipotesis

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

  1. Metode Penelitian desain Concurrent Embedded
  2. Langkah-langkah penelitian (kombinasi kuantitatif dan

kualitatif, desain Concurrent Embedded)

  1. Populasi dan Sampel, dan Informan Penelitian
  2. Teknik Pengumpulan Data (kuantitatif :bisa dengan tes,

kuesioner; kualitatif bisa dengan : observasi,wawancara,

dokumentasi dan trianggulasi)

  1. Instrumen Penelitian (Kuantitatif: tes, kuesioner dan

kualitatif :peneliti sebagai instrumen kunci)

  1. Analisis Data hasil Penelitian Kuantitatif dan Kualitaitf

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pola pikir metode kuantitatif adalah, masalah yang akan diteliti ditunjukan dengan data yang jelas, teori yang digunakan untuk memperjelas masalah, untuk merumuskan hipotesis dan penyusunan instrumen sudah jelas, populasi, teknik pengumpulan dan analisis data yang sudah jelas. Penggunaan metode kualitatif sebagai metode sekunder lebih ditekankan pada teknik pengumpulan data yang bersifat trianggulasi, sehingga dapat ditemukan data kualitatif yang kredibel dan dapat melengkapi data kuantitatif sebagai data primer.

 

  1. 2.      Metode Kualitatif sebagai Metode Primer 

 

BAB I      PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
    1. Fokus Penelitian
    2. Rumusan Maslah
    3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

BAB II     LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

  1. Teori A
  2. Teori B
  3. Teori C

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

  1. Metode Concurrent Embedded
    1. Langkah-langkah penelitian (Concurrent Embedded

dengan metode kualitatif sebagai metode primer)

  1. Tempat Penelitian
  2. Informasi dan Sampel
  3. Teknik Pengumpulan Data (kualitatif : observasi,

wawancara, dokumentasi,; kuantitatif : tes,

  1. Analisis Data Kualitaitf
  2. Pengujian Kredebilitas data
  3. Temuan Hipotesis
  4. Pengujian Hipotesis

DAFTAR PUSTAKA

 

Sistematika proposal metode kombinasi model Concurrent Embedded, dengan metode penelitian kualitatif sebagai metode primer dan metode kuantitatif sebagai metode sekunder. Karena dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif ssbagai metode primer, maka penyusunan proposal lebih dominan menggunakan pola pikir metode kualitatif. Pola pikir penelitian kualitatif adalah bahwa masalah, potensi, teori, teknik pengumpulan dan analisis data yang direncanakan masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti dilapangan. Dengan demikian proposal yang disusun masih bersifat sementara, yang berisi garis-garis besar apa yang akan dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian. Penelitian kualitatif belum berangkat dari maslah yang pasti, namun dalam proposal tetap dikemukakan masalah atau potensi sebagai titik awal untuk melakukan penelitian. Teori yang digunakan juga teori perspektif, yang berfungsi untuk memandu penelitian mengumpulkan data, menentukan fokus, dan analisis data. Sampel sumber data ditentukan secara purposive dan bersifat snowball sampling, bukan random sampling.

This entry was posted on 11 Februari 2013. 1 Komentar

Kejahatan Konsumen


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Manusia mempunyai kebutuhan yang beragam seiring dengan peningkatan kesejahteraanya. Beberapa kebutuhan manusia antara lain, kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder.

Namun, dalam memenuhi ini, masyarakat (konsumen) harus lebih berhati-hati dalam memilih produk yang aman. Apalagi pada era yang serba canggih ini, para produsen sering berlaku curang kepada konsumen demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya serta pelaku usaha seringkali mengenyampingkan hak-hak konsumen.

Konsumen mesti dilindungi karena acapkali konsumen terjepit dalam lalu lintas perdagangan sehari-hari tanpa suatu upaya hukum yang memadai. Undang-undang memberikan hak-hak tertentu kepada konsumen yang apabila hak tersebut dilanggar, berpotensial untuk terjadinya kejahatan konsumen. Seperti yang diatur Dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen diatur tentang Perbuatan yang Dilarang bagi Pelaku Usaha yakni “Pelaku Usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Adanya undang-undang yang mengatur perlindungan konsumen tidak dimaksudkan untuk mematikan usaha para pelaku usaha. Undang Undang Perlindungan Konsumen justru bisa mendorong iklim usaha yang sehat serta mendorong lahirnya perusahaan yang tangguh dalam menghadapi persaingan yang ada dengan menyediakan barang/jasa yang berkualitas.

Para produsen harus memperlakukan konsumen dengan baik dan tidak boleh berkolusi dengan produsen lain, bukan sebaliknya berupa the competitors are our friends and the customers are out enemies (Para pesaing kita adalah teman kita, sedangkan para pelanggan adalah musuh kita).

Realitas di atas menunjukkan bahwa masalah perlindungan konsumen adalah masalah yang sangat serius. Akan tetapi, masalah-masalah tersebut baru dipersoalkan ketika ramai dibahas dalam pemberitaan di berbagai media. Pada saat mulai sepi dari pemberitaan, masalah-masalah ini seakan luput dari perhatian masyarakat, pemerintah, dan pihak-pihak yang berhubungan dengan perlindungan konsumen.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan Kejahatan Konsumen?
    2. Apa yang dimaksud dengan Persaingan curang?
    3. Bagaimana cara untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kejahatan konsumen?
    4. Bagaimana peran serta pemerintah dalam menanggulangi kejahatan konsumen dan persaingan curang?
    5. C.    Tujuan
      1. Untuk mengetahui pengertian kejahatan konsumen.
      2. Untuk mengetahui pengertian persaingan curang.
      3. Untuk mengetahui cara bagaimana mencegah dan menanggulangi terjadinya kejahatan konsumen.
      4. Untuk mengetahui peran serta pemerintah dalam menanggulangi kejahatan konsumen dan persaingan curang.
      5. D.    Manfaat

Manfaat pembahasan tentang kejahatan konsumen dan persaingan curang yaitu untuk memberikan informasi kepada konsumen mengenai produk yang aman untuk dikonsumsi serta agar konsumen waspada dan terhindar dari kejahatan yang dilakukan produsen ini.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Kejahatan Konsumen

Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

Kejahatan konsumen adalah suatu jenis kejahatan, kebanyakannya merupakan white collar crime, yang dilakukan oleh seseorang atau badan hukum dengan sengaja atau tidak sengaja, tindakan dimana bertentangan dengan hukum pidana sehingga diancam dengan hukuman pidana, dan dapat merugikan materil dan immateril kepada para konsumen sebagai pemakai akhir dari suatu produk, yang melibatkan baik produk barang ataupun produk jasa, termasuk kerusakan dari produk itu sendiri maupun cara memproduksi, menjual, memasarkan, mengiklankan, atau menyusun kontrak terhadap produk tersebut, kejahatan mana dilakukan oleh pihak produsen, pemasok, distributor, agen, penjual eceran, atau pihak-pihak lain, dan sebagainya.

Menurut Hans W. Micklitz ( Celina tri siwi kristiyanti, 2009:34 ), seorang ahli hukum konsumen dari Jerman, dalam ceramah di jakarta, 26-30 oktober 1998 membedakan konsumen berdasarkan hak ini. Ia menyatakan :

“Sebelum melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dulu harus ada persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan. Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan dua tipe konsumen, yaitu:

  1. Konsumen yang terinformasi (well-informed). Ciri-ciri konsumen yang terinformasi yakni:
    1. Memiliki tingkat pendidikan tertentu;
    2. Mempunyai sumber daya ekonomi yang cukup; sehingga dapat berperan dalam ekonomi pasar, dan
    3. Lancar berkomunikasi.

Dengan memiliki tiga potensi ini, konsumen mampu bertanggung jawab dan relatif tidak memerlukan perlindungan.

  1. Konsumen yang tidak terinformasi. Ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasi, yaitu:
    1. Kurang pendidikan ;
    2. Termasuk kategori kelas menengah kebawah;
    3. Tidak lancar berkomunikasih

Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khususnya menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan perlindungan.”

  1. B.     Pengertian Persaingan Curang

Kejahatan persaingan curang adalah jenis kegiatan white collar crime dalam bidang bisnis dan perdagangan, yang dilakukan oleh seseorang atau badan hukum dengan sengaja atau tidak sengaja, tindakan mana bertentangan dengan hukum pidana sehingga diancam dengan hukuman pidana, dan dapat merugikan materil dan immateril kepada para pesaing bisnis dan atau masyarakat, perbuatan mana dilakukan oleh pelakunya untuk mencari keuntungan bisnis atau mendapatkan, meneruskan, atau memperluas bisnis dan atau perusahaan miliknya atau milik orang lain.

Menurut Undang – undang nomor 5 tahun 1999 yang dimaksud dengan persaingan tidak sehat adalah persaingan yang terjadi antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran yang dilakukan dengan cara – cara yang tidak jujur, merugikan pihak lain dan atau melanggar peraturan yang berlaku.

Undang–undang No.5 tahun 1999 tentang Praktik Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengartikan monopoli sebagai penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha. Dampak dari praktik monopoli ini adalah adanya praktik persaingan tidak sehat (unfair competition) yang merugikan kepentingan konsumen.

Jika monopoli itu diberikan kepada perusahaan yang tidak berorentasi pada kepentingan konsumen, akhirnya konsumen didikte, suka maupun tidak suka untuk mengkonsumsi barang atau jasa itu tanpa ada pilihan lain.

Dalam keadaan seperti itu pelaku usaha dapat secara sepihak mempermainkan mutu barang dan harga jual.

  1. C.    Cara untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kejahatan konsumen.

Untuk melindungi kepentingan konsumen di Indonesia, maka dibuatlah UU No 8 tahun 1998 tentang Perlindungan Konsumen. Peraturan ini diharapkan dapat meningkatkan harkat dan martabat konsumen yang pada gilirannya akan meningkatkan kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan, serta menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggung jawab.

Pasal 5 UU No 8 tahun 1998 tentang Perlindungan Konsumen , Kewajiban konsumen adalah:

  1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
  2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
  3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang telah disepakati;

Pasal 4 UU No 8 tahun 1998 tentang Perlindungan Konsumen, Hak konsumen adalah :

  1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

Barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha beresiko sangat tinggi terhadap keamanan konsumen, Konsumen berhak mendapatkan keamanan dari barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya. Produk barang dan/atau jasa itu tidak boleh membahayakan jika dikonsumsi sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani dan rohani. Pemerintah selayaknya mengadakan pengawasan secara ketat. Hal ini dapat memberikan salah satu jaminan keamanan bagi konsumen.

  1. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi sertaserta jaminan yang dijanjikan;

Dalam mengonsumsi suatu produk, konsumen berhak menentukan pilihannya. Ia tidak boleh mendapatkan tekanan dari pihak luar sehingga ia tidak bebas membeli. Hak untuk memilih ini erat kaitannya dengan situasi pasar. Jika seseorang atau suatu golongan diberi hak monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa, maka besar kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk memilih produk yang satu dengan produk yang lain.

  1. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar.Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat disampaikan dengan berbagai cara, seperti lisan kepada konsumen, melalui iklan di berbagai media, atau mencantumkan dalam kemasan produk kemasan ( barang ).

  1. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

Hak yang erat kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi adalah hak untuk didengar.Ini disebabkan karena informasi yang diberikan oleh pihak yang berkepentingan atau berkompeten sering tidak cukup memuaskan konsumen.Untuk itu konsumen berhak mengajukan permintaan informasi lebih lanjut.

  1. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

Dampak negatif dari peredaran barang dan jasa mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang. Keadaan tersebut menjadikan kedudukan pihak konsumen menjadi lemah dibandingkan pelaku usaha.Oleh karenanya pihak konsumen yang dipandang lebih lemah secara hukum perlu mendapatkan perlindungan lebih besar dibandingkan pelaku usaha.

  1. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen;

Masalah perlindungan konsumen di Indonesia termasuk masalah yang baru.Oleh karena itu wajar bila masih banyak konsumen yang belum menyadari hak-haknya. Kesadaran akan hak tidak dapat dipungkiri sejalan dengan kesadaran hukum. Makin tinggi tingkatan kesadaran hukum masyarakat, makin tinggi penghormatannya pada hak-hak dirinya dan orang lain. Upaya pendidikan konsumen tidak selalu melewati jenjang pendidikan formal, tetapi dapat melewati media massa dan kegiatan lembaga swadaya masyarakat.

  1. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

Dalam mendapatkan barang dan/atau jasa yang diinginkannya, konsumen berhak diperlakukan atau mendapatkan pelayanan secara benar dan jujur dari produsen tanpa adanya tindakan diskriminatif. Hal ini dimaksudkan agar konsumen memperoleh barang dan/atau jasa dengan harga yang wajar sehingga konsumen tidak merasa dirugikan.

  1. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian
  2.  atau tidak sebagaimana mestinya;

Jika konsumen merasakan, kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang diberikannya.Ia berhak mendapatkan ganti kerugian itu tentu saja harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak.

  1. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;

Untuk menjamin bahwa suatu barang dan/atau jasa dalam penggunaannya akan nyaman maupun tidak membahayakan konsumen penggunanya, maka konsumen diberikan hak untuk memilih barang dan atau/jasa yang dikehendakinya berdasarkan atas keterbukaan informasi yang benar, jujur. Jika terdapat penyimpangan yang merugikan, konsumen berhak untuk didengar, memperoleh advokasi, pembinaan, perlakuan adil, kompensasi sampai ganti rugi.

Salah satu cara untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kejahatan konsumen adalah dengan memberdayakan :

  1. Badan penyelesaian perselisihan konsumen.
  2. Badan perlindungan konsumen swadaya masyarakat.
  3. Lembaga perlindungan konsumen resmi dari pemerintah.
  4. Pembentukan ombudsman konsumen.
  5. Pemboikotan produk.
  1. D.    Peran serta pemerintah dalam menanggulangi kejahatan konsumen dan persaingan curang.

Upaya pemerintah untuk melindungi konsumen dari produk yang merugikan dapat dilaksanakan dengan cara mengatur, mengawasi, serta mengendalikan produksi, distribusi, dan peredaran produk sehingga konsumen tidak dirugikan, baik kesehatan maupun keuangannya.

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dan kebijaksanaan yang akan dilaksanakan, maka langkah-langkah yang dapat ditempuh pemerintah adalah:

  1. Registrasi dan penilaian.
  2. Pengawasan produksi.
  3. Pengawasan distribusi.
  4. Pembinaan dan pengembangan usaha.
  5. Peningkatan dan pengembangan prasarana dan tenaga.
  6. Pembinaan dan pengembangan usaha.
  7. Peningkatan dan pengembangan prasarana dan tenaga.

Peranan pemerintah dapat dikategorikan sebagai peranan yang berdampak jangka panjang sehingga perlu dilakukan secara kontinu memberikan penerangan, penyuluhan, dan pendidikan bagi semua pihak. Sehingga tercipta lingkungan berusaha yang sehat dan berkembangnya pengusaha yang bertanggung jawab. Dalam jangka pendek pemerintah dapat menyelesaikan secara langsung dan cepat masalah-masalah yang timbul.

Peran pemerintah sebagai pemegang kebijakan sangat penting. Tanggung jawab pemerintah dalam melakukan pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen dimaksudkan untuk memberdayakan konsumen agar mendapatkan hak-haknya. Dalam Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa: “Pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen yang menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha serta dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku usaha”.

Dalam hal ini pemerintah membentuk Badan Pengawas Obat dan Makanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan atau disingkat Badan POM adalah sebuah lembaga di Indonesia yang bertugas mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia. Fungsi dan tugas badan ini menyerupai fungsi dan tugas Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat.

Fungsi Badan POM berfungsi antara lain:

  1. Pengaturan, regulasi, dan standardisasi
  2. Lisensi dan sertifikasi industri di bidang farmasi berdasarkan Cara-cara Produksi yang Baik
  3. Evaluasi produk sebelum diizinkan beredar
  4. Post marketing vigilance termasuk sampling dan pengujian laboratorium, pemeriksaan sarana produksi dan distribusi, penyidikan dan penegakan hukum.
  5. Pre-audit dan pasca-audit iklan dan promosi produk
  6. Riset terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan obat dan makanan;
  7. Komunikasi, informasi dan edukasi publik termasuk peringatan publik.
  1. E.     CONTOH KASUS

BAGI sebagian orang, makan di kaki lima sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Selain harganya relatif murah, orang biasanya memilih makan di kaki lima karena lokasinya strategis dan mudah dijangkau. Namun, amankah makanan yang dijajakan di kaki lima?

Coba Anda tengok pada jam istirahat kerja. Warung-warung kaki lima yang berada tak jauh dari perkantoran selalu ramai diserbu pembeli. Di bangku atau kursi yang disediakan seadanya, para pekerja berdesak-desakan di bawah tenda yang panas. Pada malam hari, warung kaki lima juga ramai diserbu pembeli.

Namun, sayang, meski banyak peminat, kebersihan dan keamanan makanan yang dijual di kaki lima masih diragukan. Dosen pada Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Eddy Setyo Mudjajanto, mengatakan, faktor kebersihan dan keamanan makanan memang sering diabaikan pedagang makanan di kaki lima.

Menurut Eddy, hal ini disebabkan kurangnya edukasi kepada pedagang serta minimnya fasilitas kebersihan, seperti air bersih di lokasi berjualan.

Sebagai contoh, sebagian besar penjual makanan di kaki lima mencuci peralatan makan/minum dengan air seadanya. ”Piring gelas hanya dicelup-celup, disabuni, lalu dicelup lagi. Airnya saja jarang diganti,” kata Eddy. Ia menambahkan, idealnya, peralatan makan/minum dicuci dengan air mengalir agar kotoran dan kuman tidak menempel pada peralatan makan/minum.

Kondisi semacam ini menuntut ketelitian dan kehati-hatian pembeli bila tetap ingin makan di kaki lima. ”Cara paling mudah memilih makanan yang bersih di kaki lima adalah memerhatikan kebersihan warung dan lingkungannya,” kata Eddy.

Perhatikan apakah warung itu berdekatan dengan selokan, tempat sampah, atau WC umum. Perhatikan pula apakah ada kecoak atau tikus di sekitar warung kaki lima. ”Kalau ada, berarti warung itu jorok. Kedua hewan itu senang berada di tempat kotor,” katanya.

Menurut Eddy, tidak ada salahnya menengok pula ”dapur” yang digunakan untuk memasak. Dapur yang bersih menandakan bahwa pedagang peduli terhadap kebersihan saat mengolah makanan.

Hal lain yang kerap diabaikan penjual makanan kaki lima adalah kebersihan tangan saat melayani pembeli. Sering kali pedagang dengan santainya meracik makanan menggunakan tangan, padahal tangan mereka baru saja memegang uang. ”Pedagang harus dididik menggunakan sarung tangan atau alat penjepit makanan,” tutur Eddy.

Tiren

Kebersihan tempat memang mudah ditengarai karena kasatmata. Lalu, bagaimana soal keamanan makanan yang dijual di kaki lima?

Eddy mengatakan, makanan di kaki lima tidak semuanya aman. Salah satu yang harus diwaspadai adalah pemakaian bahan baku yang tidak segar.

Menurut Eddy, di lapangan sering ditemukan penggunaan ayam ”tiren” (mati kemarin). Ayam tiren ini sebenarnya adalah bangkai karena ayam sudah mati sebelum dipotong.

Bagi orang awam, sulit membedakan daging ayam tiren dari daging ayam segar bila sudah diolah menjadi masakan. Menurut Eddy, untuk membedakan, konsumen bisa melihat bekas sayatan pada leher ayam yang dipotong.

Kalau sayatannya lebar, itu berarti ayamnya masih segar sebelum dipotong. Namun, bila bekas sayatannya sedikit sekali, sudah pasti ayam itu ”tiren”. ”Pada ayam yang masih hidup, kulit dan dagingnya lentur. Jadi, kalau dipotong, bekas sayatannya akan melebar,” kata Eddy.

Ada baiknya konsumen juga memilih warung kaki lima yang baru mengolah makanan setelah ada pesanan. Terutama untuk masakan yang menggunakan produk hewani.

Menurut Eddy, produk hewani peka terhadap pencemaran. Kandungan protein dan lemak dalam produk hewani cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme, seperti salmonela. Karena itu, produk hewani sebaiknya diolah paling belakangan pada proses masak-memasak.

Cara ini dilakukan agar masakan dari produk hewani bisa langsung dimakan tanpa dibiarkan berlama-lama di udara terbuka. Setelah dimasak, produk hewani paling lama hanya awet selama empat jam. Selebihnya, produk itu berisiko tercemar mikroorganisme.

Bahan kimia berbahaya juga sering ditemukan pada makanan kaki lima, antara lain formalin, boraks, pewarna merah Rhodamin B, dan pewarna kuning Metanil Yellow. Namun, penggunaan bahan kimia ini tidak hanya dilakukan oleh pedagang makanan jadi, tetapi juga oleh pedagang bahan makanan.

Boraks sebagai pengenyal makanan, misalnya, sering ditemukan pada bakso dan empek-empek. Sementara Rhodamin B ditemukan pada kerupuk, sirup, atau terasi. Metanil Yellow antara lain ditemukan pada manisan buah atau tahu.

Formalin sebagai pengawet antara lain ditemukan pada produk daging ayam. Jadi, konsumen sebaiknya benar-benar teliti sebelum makan di kaki lima. (Lusiana Indriasari)

Sumber :

KOMPAS Minggu, 13 Juli 2008 | 07:05 WIB

BULAN PUASA, WASPADAI MAKANAN KADALUARSA

Penulis : Sabrina Asril | Senin, 23 Juli 2012 | 16:21 WIB

KOMPAS/LASTI KURNIAIlustrasi : Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan inspeksi mendadak (sidak) produk makanan impor yang tidak memiliki izin beredar yang ditemukan di gudang penyimpanan Supermarket Total Buah Segar, Kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Rabu (18/7/2012). Ijin produk impor yang tertulis dalam kemasan adalah produk izin rumah tangga (PIRT) sementara seharusnya tertulis izin produk makanan luar (P-IML).

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepolisian Daerah Metro Jaya bersama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mulai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah tempat perbelanjaan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi maraknya makanan yang sudah kadaluarsa dan tidak memiliki izin BPOM beredar menjelang lebaran. Demikian diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Senin (23/7/2012), di Mapolda Metro Jaya.

“Dalam menghadapi Lebaran, kami sudah melakukan kegiatan di lapangan bersama Kementerian Perdagangan dan BPOM melihat sejauh mana barang-barang yang dijual, apakah dipengaruhi oleh barang kadaluarsa atau banyak daging gelonggongan atau daging busuk masih dijual,” tutur Rikwanto.

Ia menjelaskan, tim dari Polda yang bergerak yakni unit Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Yang akan menjadi sasaran operasi ini, lanjutnya, adalah pasar-pasar dan mal, tempat menjual kebutuhan pokok.

Rikwanto menuturkan, pihak kepolisian bersama Kemendag dan BPOM sudah berhasil menyita barang-barang dan makanan impor dari luar negeri dan dalam negeri yang diketahui belum memiliki izin. “Ada merek-merek tertentu yang belum melalui Kemendag dan BPOM dan tidak ada label dari instansi tersebut dijual dan kami sita,” ucapnya.

Menurut Rikwanto, barang-barang yang tidak memiliki izin kebanyakan adalah hasil impor dari China. “Namun, kami juga memiliki negara-negara lain yang barangnya disita, tapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan China,” kata Rikwanto.

Editor :

Hertanto Soebijoto

Kronologi Kasus Prita Mulyasari

Kasus ini berawal dari tulisan Prita Mulyasari di internet tentang kualitas pelayanan RS Omni International yang dikirimkan lewat e-mail ke beberapa temannya. E-mail ini kemudian tersebar luas di internet sehingga menyebabkan RS Omni International merasa dirugikan, lalu melaporkan kasus ini ke pihak berwenang.

Selain didakwa secara pidana, Prita Mulyasari juga dituntut secara perdata oleh RS Omni International. Dalam kasus perdata, Prita Mulyasari sebagai pihak Tergugat, sedangkan untuk pihak Penggugat terdiri dari Penggugat I; pengelola RS Omni International, Penggugat II; Dokter yang merawat dan Penggugat III; Penanggung Jawab atas keluhan pelayanan Rumah Sakit.

Pokok materi dakwaan pidana dan gugatan perdata terkait atas tindakan Prita Mulyasari yang tidak cukup menyampaikan keluhan atas kualitas pelayanan RS Omni International dengan mengisi lembar ” Masukan dan Saran” yang telah disediakan oleh RS Omni International, tetapi juga mengirimkan e-mail tersebut ke customercare@banksinarmas.com dan teman-teman Prita Mulyasari. Akibatnya, para penggugat merasa tercemar nama baiknya dan merasa dirugikan.

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan
    1. Kejahatan konsumen adalah suatu jenis kejahatan, kebanyakannya merupakan white collar crime, yang dilakukan oleh seseorang atau badan hukum dengan sengaja atau tidak sengaja, tindakan dimana bertentangan dengan hukum pidana sehingga diancam dengan hukuman pidana, dan dapat merugikan materil dan immateril kepada para konsumen sebagai pemakai akhir dari suatu produk, yang melibatkan baik produk barang ataupun produk jasa, termasuk kerusakan dari produk itu sendiri maupun cara memproduksi, menjual, memasarkan, mengiklankan, atau menyusun kontrak terhadap produk tersebut, kejahatan mana dilakukan oleh pihak produsen, pemasok, distributor, agen, penjual eceran, atau pihak-pihak lain, dan sebagainya.
    2. Kejahatan persaingan curang adalah jenis kegiatan white collar crime dalam bidang bisnis dan perdagangan, yang dilakukan oleh seseorang atau badan hukum dengan sengaja atau tidak sengaja, tindakan mana bertentangan dengan hukum pidana sehingga diancam dengan hukuman pidana, dan dapat merugikan materil dan immateril kepada para pesaing bisnis dan atau masyarakat, perbuatan mana dilakukan oleh pelakunya untuk mencari keuntungan bisnis atau mendapatkan, meneruskan, atau memperluas bisnis dan atau perusahaan miliknya atau milik orang lain.
    3. Salah satu cara untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kejahatan konsumen adalah dengan memberdayakan :
      1. Badan penyelesaian perselisihan konsumen.
      2. Badan perlindungan konsumen swadaya masyarakat.
      3. Lembaga perlindungan konsumen resmi dari pemerintah.
      4. Pembentukan ombudsman konsumen.
      5. Pemboikotan produk.
  2. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dan kebijaksanaan yang akan dilaksanakan, maka langkah-langkah yang dapat ditempuh pemerintah adalah:
    1. Registrasi dan penilaian.
    2. Pengawasan produksi.
    3. Pengawasan distribusi.
    4. Pembinaan dan pengembangan usaha.
    5. Peningkatan dan pengembangan prasarana dan tenaga.
    6. Pembinaan dan pengembangan usaha.
    7. Peningkatan dan pengembangan prasarana dan tenaga.
  1. B.     Saran
    1. Hukum yang mengatur Perlindungan Konsumen harus lebih ditegakkan lagi.
    2. Sebagai konsumen harus menjadi konsumen yang cerdas.
    3. Hukum yang mengatur etika berdagang harus lebih ditegakkan lagi.
    4. Sebagai pedagang harus memenuhi kriteria pedagang yang baik.

perangkat Keras Komputer


BAB II
PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Hardware

Pengertian dari hardware atau dalam bahasa indonesia-nya disebut juga dengan nama “perangkat keras” adalah salah satu komponen dari sebuah komputer yang sifat alat nya bisa dilihat dan diraba secara langsung atau yang berbentuk nyata, yang berfungsi untuk mendukung proses komputerisasi. Hardware dapat bekerja berdasarkan perintah yang telah ditentukan ada padanya, atau yang juga disebut dengan dengan istilah instruction set. Dengan adanya perintah yang dapat dimengerti oleh hardware tersebut, maka hardware tersebut dapat melakukan berbagai kegiatan yang telah ditentukan oleh pemberi perintah.

 

  1. B.     Kategori elemen Hardware

Secara fisik, Komputer terdiri dari beberapa komponen yang merupakan suatu sistem. Sistem adalah komponen-komponen yang saling bekerja sama membentuk suatu kesatuan. Apabila salah satu komponen tidak berfungsi, akan mengakibatkan tidak berfungsinya proses-proses yang ada komputer dengan baik. Komponen komputer ini termasuk dalam kategori elemen perangkat keras (hardware). Berdasarkan fungsinya, perangkat keras komputer dibagi menjadi :

  1. input divice (unit masukan)

Input device terdiri dari keyboard dan mouse

  1. Process device (unit Pemrosesan)

Process device adalah microprocessor (ALU, Internal Communication, Registers dan control section)

  1. Output device (unit keluaran)

Output device terdiri dari monitor dan printer

  1. Backing Storage ( unit penyimpanan)

Storage external memory terdiri dari harddisk, Floppy drive, CD ROM, Magnetic tape. Storage internal memory terdiri dari RAM dan ROM.

 

 

 

  1. Periferal ( unit tambahan)

Sedangkan komponen Periferal Device merupakan komponen tambahan atau sebagai komponen yang belum ada atau tidak ada sebelumnya. Komponen Periferal ini contohnya : TV Tuner Card, Modem, Capture Card

 

  1. C.    Unit Masukan ( Input Device )

Unit ini berfungsi sebagai media untuk memasukkan data dari luar ke dalam suatu memori dan processor untuk diolah guna menghasilkan informasi yang diperlukan. Input devices atau unit masukan yang umumnya digunakan personal computer (PC) adalah keyboard dan mouse, keyboard dan mouse adalah unit yang menghubungkan user (pengguna) dengan komputer.

  1. a.      Keyboard

Keyboard merupakan unit input yang paling penting dalam suatu pengolahan data dengan komputer. Keyboard dapat berfungsi memasukkan huruf, angka, karakter khusus serta sebagai media bagi user (pengguna) untuk melakukan perintah-perintah lainnya yang diperlukan, seperti menyimpan file dan membuka file.

  1. b.      Mouse

Mouse adalah salah unit masukan (input device). Fungsi alat ini adalah untuk perpindahan pointer atau kursor secara cepat. Selain itu, dapat sebagai perintah praktis dan cepat dibanding dengan keyboard. Mouse mulai digunakan secara maksimal sejak sistem operasi telah berbasiskan GUI (Graphical User Interface). sinyal-sinyal listrik sebagai input device mouse ini dihasilkan oleh bola kecil di dalam mouse, sesuai dengan pergeseran atau pergerakannya.

 

 

 

 

 

 

  1. D.    Unit Pemrosesan (Process device)

Yang termasuk ke dalam Unit pemrosesan adalah,

a)      Power Supplay

Lower supplay menyediakan arus listrik untuk berbagai peralatan CPU power supplay mengkonversi listrik dan menyediakan aliran listrik tetap untuk digunakan komputer. Kualitas power supplay menentukan kwalitas kinerja komputer. Daya sebesar 300-400 wat yang disalurkan power supplay biasanya cukup bagi komputer yang digunakan untuk pengetikan ataupun grafik. Sementara, daya 400-500 watt dibutuhkan jika komputer bekerja menggunakan banyak menggunakan Periferal ( unit tambahan).

b)      Register

Register adalah memori berukuran sangat kecil dengan kecepatan akses sangat tinggi. Register digunakan untuk menyimpan data dan instruksi yang sedang diproses, sementara data dan instruksi lainnya menunggu giliran diproses akan disimpan dalam main memory. Register dalam CPU terdiri adri:

  1. Instruction Regi  digunakan untuk menyimpan instruksi yang sedang diproses.
  2. Program Counter adalah register yang digunakan untuk menyimpan alamat lokasi main memory yang berisi instruksi yang sedang diproses.
  3. General purpose regis teryaitu register yang mempunyai berbagai macam fungsi yang berhubungan dengan data yang diproses
  4. Memory data register, yaitu register yang digunakan untuk menampung data atau insturksi yang dikirim dari main memeory ke CPU
  5. Memory address register digunakan untuk menamnpung alamat data atau instruksi pada main memory yang akan diambil atau yang akan diletakkan.

 

 

 

 

 

c)      Cacha memory

Cache memory merupakan memori sekunder berkecepatan tinggi yang digunakan untuk meningkatkan kinerja computer, yaitu meningkatkan efisiensi kerja CPU dan mengurangi waktu yang terbuang. Cache Memory terdiri atas:

  1. Internal, digunakan untuk komputasi berkecepatan tinggi.
  2. External, digunakan sebagai buffer untuk menyimpan program dan data.

 

d)     Random Access Memory

Data dan program yang dimasukan melalui alat masukan akan disimpan terlebih dahulu di dalam RAM yang ada di dalam main memory  Data dan program tersebut dapat ditulis, diambil, atau dihapus isinya oleh pembuat program secara acak. Struktur RAM terdiri atas:

  1. Input Storage, yaitu bagian RAM yang digunakan untuk menampung input yang dimasukan melalui alat masukan.
  2. Program storage, yaitu bagian RAM yang digunakan untuk menyimpan semua instruksi program yang akan diakses.
  3. Working Storage, yaitu bagian RAM yang digunakan untuk menyimpan data yang akan diolah dan hasil olahan
  4. Output storage, yaitu bagian RAM yang digunakan untuk menampung hasil akhir olhana data yang akan ditampilkan kea lat keluaran

 

e)      Read Only Memory

Isi ROM hanya dapat dibaca saja, tidak dapat diubah/ditulisi, Pengisiin ROM ini dilakukan oleh Pabrik pembuatnya. Di dalam ROM, hardware dan software dijadikan satu oleh pbarik pembuatnya. ROM berisi system operasi yang memuat program penting yang diperlukan oleh system computer.

 

 

 

  1. E.     Output device (unit keluaran)
  2. Printer

Printer adalah alat keluaran yang termasuk jenis hardcopy device. Macam, bentuk ukuran serta ketajaman hasil cetakan printer dapat berbeda-beda. Ukuran kertas yang dapat digunakan pada printer juga beragam.  Printer digunakan sebagai media pencetak teks, grafik, karakter, gambar dan lainnya. jenis printer adalah :

  1. Dot-Matrix, printer  jenis ini masih banyak digunakan karena biaya operasional yang cukup murah dibanding jenis lain. tinta printer ini menggunakan pita dengan catridge yang bisa diisi ulang. Cara kerja printer ini pada saat mencetak karakter pada media kertas adalah menggabungkan titik-titik karena ujung head-nya berbentuk jarum, dan biasanya pada saat terjadi pencetakan printer ini mengeluarkan bunyi yang cukup keras yang disebabkan oleh pergerakan jarum pada saat mencetak karakter dikertas. contohnya printer dot-Matrix diantaranya Epson LX-800, LX-300, LQ-2170; Panasonic dan lain-lain.
  2. Ink-Jet, teknik pencetakan pada printer ink-Jet dilakukan dengan menyemburkan tinta cair ke head dan  head membentuk karakter-karakternya dengan suara yang relatif lirih. Tinta ink-jet pada umumnya disediakan bersama catridge, dan pada umumnya mendukung penggunaan warna.
  3. Laser-Jet, teknologi laser-jet ini mempunyai tingkat kehalusan karakter yang sangat tinggi dan menyerupai teknologi mesin fotocopy.

 

  1. Monitor

Monitor termasuk salah satu jenis softcopy device. Tampilan dilayar monitor dapat berupa data masukan ataupun informasi hasil pengolahan. Ukuran layar dan merk monitor dapat berbeda-beda seperti layaknya layar televisi. layar monitor ada yangmenggunakan layar cembung dan ada pula yang menggunakan layar datar (flat). monitor dibedakan berdasarkan warna dan resolusinya. Resolusi menentukan ketajaman gambar yang dapat ditampilkan pada layar monitor.

Berikut ini adalah jenis monitor berdasarkan warna dan resolusinya.

  1. Monitor monochrome, monitor jenis ini hanya memiliki 1 jenis warna, biasanya putih, jingga, atau hijau. Monitor ini banyak digunakan pada komputer XT kecuali monochrome jenis VGA.
  2. Monitor CGA (Color Graphic Adapter) jenis ini merupakan monitor warna pertama dengan resolusi 640×480 dan dapat menampilkan hingga 64 warna, menggunakan konektor jenis D9 pin dalam 2 baris.
  3. Monitor EGA (Enhanced Grapichs Adapter)
  4. Monitor VGA (Video Graphics Array), monitor jenis ini mempunyai resolusi maksimal 640×480 dan dapat menampilkan hingga 256 macam warna, dengan konektor jenis D 15 pin dalam 3 baris.
  5. Monitor SVGA (super VGS), monitor ini mampu menampilkan gambar dengan resolusi tinggi sampai 1024×768 dan dapat menampilkan hingga 16.536 macam warna (16 bit) dan apabila didukung oleh VGA Card yang bagus mampu menampilkan hingga 65.536 macam warna (24 bit).

Gambar monitor.

 

  1. c.       LCD Infokus

Fungsi infocus hampir sama dengan monitor, yaitu untuk menampilkan data masukan ataupun informasi hasil pengolahan data. perbedaannya, infocus memerlukan objek lain sebagai media penerima pancaran signal yang dipancarkannya. Media penerima tersebut sebaiknya memiliki permukaan datar dan berwarna terang, misal dinding puting, whiteboard, ataupun layar putih. gambar LCD monitor/infocus.

 

 

 

 

  1. F.     Backing Storage

a)      Memori Sekunder

Memori sekunder dipergunakan untuk menyimpan data, informasi, dan program secara permanen sebagai berkasdi/file. Contoh memori sekunder adalah floppy disk, hard disk, zip drive, cd/dvd Room dan lain-lain.

Memori sekunder memiliki alat untuk membaca dan menulis. Alat untuk membaca dan menulis pada hardisk disebut head sedangkan pada floppy disk disebut side.

Berdasarkan medianya, memori sekunder ini terdiri tas:

  1. Optical disk
  • Ebggubajab prinsip optis, yaitu berdasarkan pantulan cahaya
  • Pembeacaan data tidak melibatkan kontak fisik antara head dan disk.
  • Proses penulisan datanya lebih lambat
  • Lebih awet
  • Contohnya: CD Room
  1. Magentic Storage
  • Dapat berbentuk disk/ tape
  • Media penyimpanan ini menggunakan bahan serbuk magent
  • Akses data menggunakan prinsip induksi magnetis
  • Jenis ini terdiri atas magnetic tape dan magnetic disk

 

Beberapa tipe penyimpanan data tersebut antara lain,

  1. Magnetic tape

Magnetic tape berbentuk pita panjang dan terbuat dari bahan plastic film yang dapat dimagnetisasi. Metode penympnan yang digunakan bisa dngan metode blockingatau tanpa blocking. Resiko yang dihadapi pada media jenis ini adalah sensitive terhadap distorsi, debu, kelembababn, magnet dan suhu tinggi.

 

  1. Hard Disk

Hardisk dibuat dari bahan berupa alogam yang dilapisi ferro oxide dan bahan yang mudah termagnetisasi, Struktur hardisk tersusun atas ejumlah disk dengan jumlah track bisa mencapai 200 track. Hardisk ini merupakan salah satu media penyimpanan sekunder yang mempunyai kapasistas yang relative besar. Program-program aplikasi berukuran besar yang banyak beredar, mutalk memerlukan hard disk sebagai media penyimpnannya.

 

  1. Removable Hard disk

Pada prinsipnya removable hardisk ini sama dengan hradisk. Hanya saja dapat bipsang dan dilepas dengan mudah. Biasanya berbentuk cartridge. Dalam perkembangannya removable hard disk ini berkembang dan sekarang mungkin lebih familiar dengan isitilah flash disk.

 

  1. Floppy disk/ disket

Floppy disk terbuat dari bahan plastic film yang dilapisi bahan magnetic lentur. Susunan data dalam floppy disk diatur serial dalam track dan sector.

 

  1. CD Room

CD ROM bukanlah alat penyimpananyang paling cepat, naum CD ROM merupakan media pendistribusian paling murah untuk data/informasi berukuran besar. CD-ROM buakn saja digunakan untuk menyimpan data teks, tetapi jugamenyimpan gambar, suara, dan animasi sehingga media ini cocok untuk aplkiasi multimedia.

 

  1. DVD

DVD merupakan kelanjutan teknologi memori sekunder menggunakan media optical disk. DVD memiliki kapasitas hingga mencapai 9 GB. Teknologi DVD sekarang banyak dimanfaatkan oleh perusahaan music dan film, sehingga menjadikannya sebagai produk elektronik yang  paling diminati sejaka dipekenalkan pertama kali.

 

  1. Mechnical Storage

Mechnical Storage mempunyai karakteristik sebagai berikut.

  • Terbuat dari bahan semikonduktor dan unsur mekanis.
  • Pembacaan dan penulisan data melibatkan unsur mekanis.
  • Contoh : disket.
  • Unsur mekanis yang terlibat: meliputi rotasi, translasi, dan gesekan.

Unsur mekanis ini mengakibatkan kecepatan transfer datanya jauh lebih rendah dari pada IC-RAM.

 

  1. G.    Cara kerja system komputer

Komputer bekerja dengan menerima data masukan melalui alat masukan. Selanjutnya CPU momrosesnya dan menghasilkan keluaran hasil pengolahan. Prinsip cara kerja sistem komputer ini dapat ditunjukan oleh Gambar berikut ini :

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                             

 

 

 

                        Sistem komputer sekalipun merupakan hasil teknoligi tingkat tinggi yang canggih, pada dasarnya merupakan benda mati yang tersusun atas rangkaian komponen elektronik yang hanya akan mampu menerima masukan, memproses, dan menghasilkan keluaran berdasarkan instruksi-instruksi dalam bentuk kode biner 0 (nol) dan 1 (satu). Berdasarkan kombinasi digit 0 dan 1 itulah komputer melalui piranti masukan berupa papan ketik atau piranti masukan yang lain harus diubah menjadi kode biner. Sungguh sangat sulit dibayangkan seandainya kita harus menuliskan instruksi-instruksi dalam kode biner 0 dan 1 tersebut. Untuk menghilangkan kesan yang rumit tersebut, para ahli berusaha mengembangkan berbagai macam perangkat lunak (software) komputer, salah satunya adalah bahasa pemograman (programming language). Perangkat lunak bahasa pemograman dikembangkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan program aplikasi sesuai dengan kebutuhan pemakai.

Komputer bisa mengerti tentang program yang ditulis dengan menggunakan perangkat lunak bahasa pemograman karena masing-masing perangkat lunak bahasa pemograman dilengkapi dengan suatu penerjemah (compiler) . Compiler digunakan untuk menerjemahkan program yang dibuat dengan suatu bahasa pemograman tertentu kedalam bahasa mesin dalam kode biner. Dengan bantuan penerjemah tersebut, maka perintah-perintah dalam program yang dibuat dengan bahasa pemograman dapat dimengerti dan dilaksanakan oleh komputer. Proses penerjemahan program dalam salah satu bahasa pemograman disebut sebagi proses kompilasi (compilation).

Penerjemah dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu interpreter dan Compiler. Fungsi dan tugas kedua jenis penerjemah tersebut adalah sama, yaitu mengubah program yang ditulis dalam bahasa pemograman komputer kedalam bahasa mesin. Tetapi secara prinsip kedua jenis penerjemah tersebut mempunyai berbeda. Interpreter akan mengubah program sumber (source program) yang ditulis dalam bahasa pemograman kedalam bahasa mesin selangkah demi selangkah dimulai pada baris paling awal hingga baris paling akhir. Oleh karena itu dengan menggunakan interpreter program yang hendak diubah bahasanya tidak harus selese dibuat secara keseluruhan terlebih dahulu. Basic merupakan contoh merupakan bahasa pemograman yang menggunakan penerjemah jenis interpreter . Sedangkan compiler akan mengubah bahasa dalam program sumber (source program) yang ditulis dalam bahasa pemograman ke dalam bahasa mesin sekaligus secara keseluruhan mulai pada baris paling awal hingga baris paling akhir. Oleh karena itu dengan menggunakan compiler program yang hendak diterjemahkan harus selese dibuat secara keseluruhan terlebih dahulu sebelum dikompilasi. Pascal merupakan salah satu contoh bahasa pemograman yang menggunakan compiler.

Secara umum, proses menjalankan suatu program yang ditulis dengan bahasa pemograman hingga menghasilkan keluaran sesuai dengan diprogramkan harus melalui tiga tahapan utama yaitu :

 

  1. Tahap Kompilasi (compilasi)

Tahap kolpilasi merupakan proses menerjemahkan program aplikasi yang ditulis dalam bahasa pemograman menjadi program dalam bahasa mesin yang disebut Object Program. Program dalam bahasa mesin yang tersebut masih belum dijalankan / dieksekusi.

  1. Tahap Penggabungan (link)

Tahap penggabungan merupakan proses menggabungkan program bahasa mesin yang dihasilkan pada tahap 1 dengan beberapa komponen lain yang diperlukan sehingga menjadi program exe (executable machine)yang siap untuk dieksekusi.

 

 

  1. Tahap eksekusi (execution)

tahap eksekusi merupakan proses pelaksanaan instruksi dalam program aplikasi yang sesungguhnya. dalam tahap ini data-data masukan dibaca untuk kemudian diproses dan akan memberikan hasil sesuai yang diinginkan sebagaimana tertulis dalam programnya.

Sekalipun proses pengubahan bahasa ntersebut harus melalui tiga tahapan, namun karena semua itu dilakukan oleh mesin komputer yang memiliki kecepatan sangat tinggi, maka dalam kenyataannya justru jauh lebih. gambar dibawah ini menunjukan langkah penerjemah dalam mengubah program dalam bahasa pemograman ke dalam bentuk bahasa mesin.

 

       
   
   

waktu proses

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setiap bahasa pemograman dilengkapi dengan penerjemah yang berbeda, bahkan untuk setiap versi yangberbeda juga mempunyai compiler khusus yang berbeda dengan versi yang lain. Semakin baru versi bahasa pemograman akan semakin banyak variasi perintah yang dimiliki, namun tetap mempertahankan perintahdalam versi sebelumnya. Akibatnya, suatu program aplikasi yang ditulis dalam versi yang awal akan dapat diproses oleh kompiler dalam versi yanglebih baru, namun tidak demikian sebaliknya. Hal ini dapat dimengerti karena terdapat perintah-perintah dalam versi baru yangtidak dimiliki dan tidak diketahui oleh compiler versi sebelumnya. Tetapi sebaliknya, umumnya perintah-perintah dalam versi yang lebih awal tetap dipertahankan dalam versi yang lebih baru.

Intruksi yang dapat diproses oleh CPU hanyalah instruksi dalam bentuk bahasa mesin/biner. Instruksi dan data yang akan diproses oleh CPU diletakkan terlebih dahulu di main memory. Proses ini bisa dilakukan dengan mengetikkan nama program pada prompt DOS, atau meng-klik icon pada tampilan Windows.

Tahap pertama pemrosesan suatu instruksi oleh CPU adalah pengambilan instruksi dari main memory ke CPU dan akan diletakan didalam register IR. Tahap ini disebut instruction fetch. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tahap ini disebut waktu instruksi (instruction time).

Selanjutnya tahap kedua adalah melaksanakan instruksi yang dalam IR register.Tahap ini disebut instruction execute. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tahap kedua ini disebut waktu eksekusi (execution time). Sedangkan total waktu yang dibutuhkan untuk tahap pertama dan kedua disebut waktu siklus (cycle time).

Kecepatan CPU diukur berdasarkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan satu sklus mesin yang diukur dengan satuan Megahertz (Mhz). Ukuran 1 Mhz dimaksudkan bahwa komputer dapat menyelesaikan 1 juta siklus per detik. Alat pengukur waktu dalam CPU disebut clock. Clock akan berdetak pada setiap siklus yang dilakukan. Untuk CPU dengan kecepatan 16 Mhz berarti clock akan berdetakk sebanyak 16 juta kali pada setiap detiknya. Teknologi yang lebih baru akan memiliki kecepatan proses dan clock yang semakin tinggi.

 

  1. H.    Perkembangan Hardware

Perkembangan perangkat keras

Jauh sebelum kemunculan sistem komputer, manusia telah mengembangkan beberapa alat itung sebagai berikut.

  1. Alat manual : tulang(300.000 SM), petroglyps(300.00 – 14.000 SM), lempengan tanah liat(9.000)
  2. Alat mekanik : mesin hitung I(1623), mesin hitung otomatis I(1642), mesin penggali (1666)/
  3. Alat mekanik elektronik : mesin tabulasi kartu plong mekanik – elektronik I (1890), mesin penghitung otomatis (1920).

Perkembangan perangkat sistem komputer :

  1. Komputer digital elektronik I(1942)
  2. Komputer generasi I, tahun 1946 – 1959.
  3. Komputer generasi 91960)
  4. GPSSII, tahun 1959 – 1965
  5. Komputer generasi III, tahun 1965 – 1970.
  6. Komputer generasi IV, tahun 1970.
  7. Komputer mendatang, mengarah pda tekhnologi komputer elektronik yang mempunyai kemampuan menyerupai manusia.

 

 

Pengaruh Perkembangan Pasar Modern


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.       Latar Belakang

Proses perekonomian masyarakat sebagian besar ditopang dalam sebuah proses jual beli dan hal ini terjadi dalam suatu pasar-pasar tradisional. namun pada masa sekarang ini pasar tradisional seringkali dalam proses jual beli lebih cenderung berkurang jika dibandingkan pada masa dimana belum dibukanya pasar-pasar modern atau supermarket dan minimarket yang cenderung mematikan proses perekonomian pasar tradisional. Tentunya perbandingan ini dipengaruhi karena fasilitas pelayanan dan tempat lebih nyaman dan dijamin ketertibannya jika dibandingkan berbelanja di pasar tradisional yang cenderung panas, berdesak-desakan dan tempat atau lokasi yang kurang memadai.

Namun perubahan ini terjadi ditambah semakin berkembangnya pembangunan minimarket dan pasar modern yang ada yang memberikan fasilitas kenyamanan dalam diri masyarakat maka hal ini berdampak negatif pula terhadap perekonomian masyarakat khususnya masyarakat yang ekonomi rendah yang mendapat penghidupan dari penjualan hasil dagangnya yang tidak terlalu banyak. hal ini dapat terlihat jelas bagaimana proses pembangunan yang memang memberikan suatu kenyamanan dan fasilitas yang memadai cenderung merugikan banyak pihak. persoalan ini harus terdapat penyelesaian yang akan menguntungkan banyak pihak.

Dalam menghadapi persaingan pasar-pasar modern dalam era globalisasi saat ini setiap pasar-pasar tradisional dituntut untuk dapat bersaing dengan pasar-pasar modern yang berkembang bak jamur di musim hujan. Pada prinsipnya, perusahaan retail tidak akan terlepas dengan permasalahan seberapa besar kemampuan perusahaan retail dalam memenuhi kebutuhan dana yang akan digunakan untuk beroperasi dan mengembangkan usahanya. Sumber dana perusahaan retail dapat diperoleh dari sumber dana internal dan eksternal perusahaan. Sumber dana internal artinya dana yang diperoleh dari hasil kegiatan operasi perusahaan, yang terdiri atas laba. Sedangkan sumber dana eksternal merupakan sumber dana yang berasal dari luar perusahaan, yang terdiri dari hutang (pinjaman) dan modal sendiri. Berbeda dengan pasar tradisional yang masih morat-marit dalam pengelolaan dana. maka dari itu kebijakan-kebijakan pemerintah haruslah saling menguntungkan anatara berbagai pihak terkait. dan juga dapat menjadi solusi terbaik dalam perkembangan dan penyejeteraan dalam masyarakat.

  1. B.            Rumusan Masalah
    1. Apakah definisi dan pengertian pasar ?
    2. Bagaimana eksistensi pasar tradisional dan pasar modern?
    3. Bagaimana dampak pembangunan minimarket atau pasar modern terhadap perekonomian dan gaya hidup masyarakat?
    4. Bagaimana pengaruh faktor politik terhadap pasar tradisional dengan adanya pasar modern?
    5. Apakah kebijakan-kebijakan dalam mengatasi problematika pembangunan minimarket atau pasar-pasar modern dalam menstabilkan perekonomian masyarakat?

 

  1. C.           Tujuan Penulisan
    1. Mendeskripsikan definisi dan pengertian pasar
    2. Mendeskripsikan eksistensi pasar tradisional dan pasar modern
    3. Menjelaskan dampak pembangunan minimarket atau pasar modern terhadap perekonomian dan gaya hidup masyarakat
    4. Menjelaskan pengaruh faktor politik terhadap pasar tradisional dengan adanya pasar modern
    5. Menjelaskan kebijakan-kebijakan dalam mengatasi problematika pembangunan minimarket atau pasar-pasar modern dalam menstabilkan perekonomian masyarakat

 

  1. D.           Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah analisis deskriptif serta observasi dan pengambilan data-data dari berbagai sumber di internet.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.       Definisi dan pengertian pasar

Pasar adalah tempat dimana terjadi  interaksi antara penjual dan pembeli (Chourmain, 1994 : 231). Pasar merupakan  pusat dan ciri pokok dari jalinan tukar-menukar yang menyatukan seluruh kehidupan ekonomi (Belshaw, 1981:98).  Pasar di dalamnya terdapat tiga unsur, yaitu: penjual, pembeli dan barang atau jasa yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Pertemuan antara penjual dan pembeli menimbulkan transaksi jual-beli, akan tetapi bukan berarti bahwa setiap orang yang masuk  ke pasar akan membeli barang, ada yang datang ke pasar hanya sekedar main saja atau ingin berjumpa dengan seseorang guna mendapatkan informasi tentang sesuatu (Majid, 1988: 308). Pada dasarnya pasar dibagi dalam beberapa golongan yaitu sebagai berikut :

  1. Berdasarkan Wujudnya

Menurut wujudnya pasar dibedakan menjadi pasar konkret dan pasar abstrak

  1. Pasar Konkret (pasar nyata) merupakan pasar yang menunjukkan suatu tempat terjadinya hubungan secar langsung (tatap muka) antara pembeli dan penjual. Barang yang diperjualbelikan pun berada di tempat tersebut. Misalnya pasar-pasar tradisional dan swalayan
  2. Pasar Abstrak (tidak nyata) merupakan pasar yang menunjukkan hubungan antara penjual dan pembeli, baik secara langsung maupun tidak langsung, barangnya tidak secara langsung dapat diperoleh pembeli. Misalnya, pasar modal di Bursa Efek Indonesia.
  3. Berdasarkan Waktu Terjadinya

Menurut waktu terjadinya pasar dibedakan menjadi pasar harian, pasar mingguan, pasar bulanan, pasar tahunan, dan pasar temporer.

  1. Pasar Harian merupakan pasar yang melakukan aktivitas setiap hari. Misalnya pasar pagi, toserba, dan warung-warung
  2. Pasar mingguan merupakan pasar yang melakukan aktivitas setiap satu minggu sekali. Misalnya pasar senin atau pasar minggu yang ada di daerah pedesaan
  3. Pasar bulanan merupakan pasar yang melakukan aktivitas setiap satu bulan sekali. Misalnya, pasar yang biasa terjadi di depan kantor-kantor tempat pensiunan atau purnawirawan yang mengambil uang tunjangan pensiunannya tiap awal bulan.
  4. Pasar tahunan merupakan pasar yang melakukan aktivitas setiap satu tahun sekali. Kejadian pasar ini biasanya lebih dari satu hari, bahkan bisa mencapai lebih dari satu bulan. Misalnya Pekan Raya Jakarta, pasar malam, dan pameran pembangunan.
  5. Pasar temporer merupakan pasar yang dapat terjadi sewaktu-waktu dalam waktu yang tidak tentu (tidak rutin) pasar ini biasanya terjadi pada peristiwa tertentu. Misalnya pasar murah, bazar, dan pasar karena ada perayaan kemerdekaan RI.
  6. Berdasarkan Luas Jangkauannya

Menurut luas jangkauannya pasar dibedakan menjadi :

  1. Pasar lokal merupakan pasar yang mempertemukan penjual dan pembeli dari berbagai daerah atau wilayah tertentu saja.
  2. Pasar nasional merupakan pasar yang mempertemukan penjual dan pembeli dari berbagai daerah atau wilayah dalam suatu negara. Misalnya, pasar kayu putih di Ambon dan pasar tembakau di Deli.
  3. Pasar internasional penjual dan pembeli dari berbagai negara. Misalnya pasar tembakau di Bremen Jerman.
  4. 4.  Berdasarkan Hubungannya Dengan Proses Produksi

Menurut hubungannya dengan proses produksi pasar dibedakan menjadi pasar output dan pasar input.

  1. Pasar output (pasar produk) merupakan pasar yang memperjualbelikan barang-barang hasil produksi (biasanya dalam bentuk jadi).
  2. Pasar input (pasar faktor produksi) merupakan interaksi antara permintaan dan penawaran terhadap barang dan jasa sebagai masukan pada suatu proses produksi (sumber daya alam, berupa bahan tambang, hasil pertanian, tanah, tenaga kerja, dan barang modal).

5. Berdasarkan Strukturnya (Jumlah Penjual Dan Pembeli)

Berdasarkan strukturnya, pasar dibedakan menjadi sebagai berikut.

  1. Pasar persaingan sempurna merupakan sebuah jenis pasar dengan jumlah penjual dan pembeli yang sangat banyak dan produk yang dijual bersifat homogen. Harga terbentuk melalui mekanisme pasar dan hasil interaksi antara penawaran dan permintaan sehingga penjual dan pembeli di pasar ini tidak dapat mempengaruhi harga dan hanya berperan sebagai penerima harga (price-taker). Barang dan jasa yang dijual di pasar ini bersifat homogen dan tidak dapat dibedakan.
  2. Pasar persaingan tidak sempurna, yang terdiri atas

1)      Pasar monopoli (dari bahasa Yunani: monos, satu + polein, menjual) adalah suatu bentuk pasar di mana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar. Penentu harga pada pasar ini adalah seorang penjual atau sering disebut sebagai “monopolis”. Sebagai penentu harga (price-maker), seorang monopolis dapat menaikan atau mengurangi harga dengan cara menentukan jumlah barang yang akan diproduksi; semakin sedikit barang yang diproduksi, semakin mahal harga barang tersebut, begitu pula sebaliknya. Walaupun demikian, penjual juga memiliki suatu keterbatasan dalam penetapan harga. Apabila penetapan harga terlalu mahal, maka orang akan menunda pembelian atau berusaha mencari atau membuat barang subtitusi (pengganti) produk tersebut atau —lebih buruk lagi— mencarinya di pasar gelap (black market).

2)      Pasar oligopoli adalah adalah pasar di mana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh. Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka. Misalnya industri semen, industri mobil, dan industri kertas.

3) Pasar persaingan monopolistik adalah salah satu bentuk pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang serupa tetapi memiliki perbedaan dalam beberapa aspek. Penjual pada pasar monopolistik tidak terbatas, namun setiap produk yang dihasilkan pasti memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dengan produk lainnya. Contohnya adalah : shampoo, pasta gigi, dll. Perusahaan yang berada dalam pasar monopolistik harus aktif mempromosikan produk sekaligus menjaga citra perusahaannya.

4)  Pasar monopsoni bentuk pasar ini merupakan bentuk pasar yang dilihat dari segi permintaan atau pembelinya. Dalam hal ini pembeli memiliki kekuatan dalam menentukan harga. Contoh yang ada di Indonesia seperti PT. Kereta Api Indonesia yang merupakan satu-satunya pembeli alat-alat kereta api.

5) Pasar ologopsoni adalah bentuk pasar dimana barang yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan dan banyak perusahaan yang bertindak sebagai konsumen. Contoh Telkom, indosat, Mobile-8, excelcomindo adalah beberapa perusahaan pembeli infrastruktur telekomunikasi seluler.

a)    Pasar modern

Pasar Modern adalah pasar yang dikelola dengan manajemen modern, umumnya terdapat diperkotaan, sebagai penyedia barang dan jasa dengan mutu dan pelayanan yang baik kepada konsumen yang pada umumnya anggota masyarakat kelas menengah keatas. Pasar modern antara lain mall, supermarket, department store, shopping centre, waralaba, toko mini swalayan, pasar serba ada, toko serba ada dan sebagainya (Sinaga, 2008).

Barang yang dijual disini memiliki variasi jenis yang beragam. Selain menyediakan barang lokal, pasar modern juga menyediakan barang impor. Barang yang dijual mempunyai kualitas yang relatif lebih terjamin karena melalui penyeleksian yang ketat sehingga barang yang tidak memenuhi persyaratan klasifikasi akan di tolak. Dari segi kuantitas, pasar modern umumnya mempunyai persediaan barang di gudang yang terukur. Dari segi harga, pasar modern memiliki label harga yang pasti. Pasar modern juga mmberikan pelayanan yang baik dengan adanya pendingin udara yang sejuk, suasana nyaman dan bersih, display barang perkategori mudah dicapai dan relatif lengkap, informasi produk tersedia melalui mesin pembaca, adanya keranjang belanja atau keranjang dorong serta ditunjang adanya kasir dan pramuniaga yang bekerja secara profesional. Rantai distribusi pada pasar ini adalah produsen – distributor – pengecer/konsumen.

Dalam pasar modern penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung. Pembeli melihat label harga yang tercantum dalam bar code, berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang- barang yang dijual, selain bahan makanan seperti: buah, sayuran, daging, sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama. Contoh dari pasar modern adalah pasar swalayan, Hypermart, Supermarket, dan Minimarket (Wikipedia, 2007.

b)      Pasar tradisional

 Pasar tradisonal adalah pasar yang dikelola secara sederhana dengan bentuk fisik tradisional yang menerapkan system transaksi tawar menawar secara langsung dimana fungsi utamanya adalah untuk melayani kebutuhan masyarakat baik di desa, kecamatan, dan lainnya (Sinaga,2008).

Harga dipasar tradisional ini mempunyai sifat yang tidak pasti , oleh karena itu bisa dilakukan tawar menawar. Bila dilihat dari tingkat kenyamanan, pasar tradisional selama ini cenderung kumuh dengan lokasi yang tidak tertata rapi. Pembeli di Pasar tradisional (biasanya kaum ibu) mempunyai perilaku yang senang bertransaksi dengan berkomunikasi /berdialog dalam hal penetapan harga, mencari kualitas barang, memesan barang yang diinginkan, dan perkembangan harga-harga lainnya.

Barang yang dijual dipasar tradisional umumnya barang-barang lokal dan ditinjau dari segi kualitas dan kuantitas, barang yang dijual di pasar tradisional dapat terjadi tanpa melalui penyortiran yang kurang ketat. Dari segi kuantitas, jumlah barang yang disediakan tidak terlalu banyak sehingga apabila ada barang yang dicari tidak ditemukan di satu kios tertentu, maka dapat dicari ke kios lain. Rantai distribusi pada pasar tradisional terdiri dari produsen, distributor, sub distributor, pengecer, konsumen. Kendala yang dihadapi pada pasar tradisional antara lain system pembayaran ke distributor atau sub   distributor dilakukan dengan tunai, penjual tidak dapat melakukan promosi atau memberikan discount komoditas. Mereka hanya bisa menurunkan harga barang yang kurang diminati konsumen. Selain itu, dapat mengalami kesulitan  dalam memenuhi kontinyuitas barang, lemah dalam penguasaan teknologi dan menejemen sehingga melemahkan daya saing.

Sebagian konsumen pasar tradisional adalah masyarakat kelas menengah kebawah yang memiliki karakteristik sangat sensitive terhadap harga. Ketika faktor harga rendah yang sebelumnya menjadi keunggulan pasar tradisional mampu diruntuhkan oleh pasar modern, secara relative tidak ada alasan konsumen dari kalangan menengah kebawah untuk tidak turut berbelanja ke pasar modern dan meninggalkan pasar tradisional (Wildan, 2007).

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung. Dalam pasar tradisional terjadi proses tawar menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-sehari seperti bahan – bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian, barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu ada juga yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak di temukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar (Wikipedia, 2007)

 

  1. B.            Eksistensi pasar tradisional dan pasar modern

Tahun

Pasar Tradisional (%)

Pasar Modern (%)

Permintaan Pasar

2000

     

2001

     

2002

     

2003

     

2004

     

   Di Indonesia pangsa pasar dan kinerja usaha pasar tradisional menurun, sementara pada saat yang sama pasar modern mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kontribusi pasar tradisional sekitar 69,9% pada tahun 2004, menurun dari tahun sebelumnya (2003) sekitar 73,7%. Kondisi sebaliknya terjadi pada Supermarket dan Hypermarket, kontribusi mereka kian hari kian besar. Pada tahun 2003 kontribusi pasar modern sebesar 26,3 % mengalami kenaikan pada tahun berikutnya, 2004 menjadi 30,1% (Anonimous, 2007).

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel: Kontribusi pasar tradisional dan pasar modern dalam memenuhi kebutuhan pasar:

Sumber: Penelitian Lembaga AC.Nielsen (2007)

Menurunnya kinerja pasar tradisional selain disebabkan oleh adanya pasar modern, penurunannya justru lebih disebabkan oleh lemahnya daya saing para peritel tradisional (Harmanto, 2007). Kondisi pasar tradisional pada umumnya memprihatinkan. Banyak pasar tradisional yang tidak terawat sehingga dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh pasar modern kini pasar tradisional terancam oleh keberadaan pasar modern. Ekapribadi (2007) menambahkan bahwa mengenai kelemahan yang dimiliki pasar tradisional. Kelemahan tersebut telah menjadi karakter dasar yang sangat sulit di ubah. Faktor desain dan tampilan pasar, atmosfir, tata ruang, tata letak, keragaman dan kualitas barang, promosi pengeluaran, jam operasional  pasar yang terbatas, serta optimalisasi pemanfaatan ruang jual merupakan kelemahan terbesar pasar tradisional dalam menghadapi persaingan dengan pasar modern.

Faktor lain yang juga menjadi penyebab kurang berkembangnya pasar tradisional adalah minimnya daya dukung karakteristik pedagang tradisional, yakni strategi perencanaan yang kurang baik, terbatasnya akses permodalan yang disebabkan jaminan (collateral) yang tidak mencukupi, tidak adanya skala ekonomi (economies of scale), tidak ada jalinan kerja sama dengan pemasok besar, buruknya manajemen pengadaan, dan ketidakmampuan untuk menyesuaikan dengan keinginan konsumen (Wiboonpongse dan Sriboonchitta 2006). Hal ini diperkuat dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Paesoro (2007) menunjukkan bahwa penyebab utama kalah bersaingnya pasar tradisional dengan supermarket adalah lemahnya manajemen dan buruknya infrastruktur pasar tradisional, bukan semata-mata karena keberadaan supermarket. Supermarket sebenarnya mengambil keuntungan dari kondisi buruk yang ada di pasar tradisional.

Diantara berbagai kelemahan yang telah disebutkaan diatas, pasar tradisional juga memiliki beberapa potensi kekuatan, terutama kekuatan sosio emosional yang tidak dimiliki oleh pasar Modern. Kekuatan pasar tradisional dapat dilihat dari beberapa aspek . Aspek-aspek tersebut diantaranya harganya yang relatif lebih murah dan bisa ditawar, dekat dengan pemukiman, dan memberikan banyak pilihan produk segar. Kelebihan lainnya adalah pengalaman berbelanja memegang langsung produk yang umumnya masih sangat segar. Akan tetapi dengan adanya hal tersebut bukan berarti pasar tradisional bukan tanpa kelemahan. Selama ini justru pasar tradisional lebih dikenal memiliki banyak kelemahan, antara lain kesan bahwa pasar terlihat becek, kotor, bau, dan terlalu padat lalu lintas pembelinya. Ditambah lagi ancaman bahwa keadaan sosial masyarakat yang berubah, dimana wanita diperkotaan umumnya berkarier sehingga hampir tidak mempunyai waktu untuk berbelanja ke pasar tradisional (Esther dan Dikdik, 2003).

Perubahan gaya hidup konsumen dalam perilaku membeli barang ritel diantaranya dipengaruhi oleh  kemudahan dan penjaminan mutu dari pasar modern, diantaranya: Pertama melalui skala ekonominya, pasar modern dapat menjual lebih banyak produk yang lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah. Kedua, informasi daftar harga setiap barang tersedia dan dengan mudah diakses publik. Ketiga, pasar modern menyediakan lingkungan berbelanja yang lebih nyaman dan bersih, dengan jam buka yang lebih panjang, dan menawarkan aneka pilihan pembayaran seperti kartu kredit untuk peralatan rumah tangga berukuran besar. Keempat, produk yang di jual dipasar modern, seperti bahan pangan, telah melalui pengawasan mutu dan tidak akan dijual bila telah kadaluwarsa (Setiadi N, 2003).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh SMERU (Suryadarma et al, 2007), mereka melakukan berbagai strategi harga seperti strategi limit harga, strategi pemangsaan lewat pemangkasan harga (predatory pricing), dan diskriminasi harga antar waktu (inter-temporal price discrimination). Misalnya memberikan diskon harga pada akhir minggu dan pada waktu tertentu. Sedangkan strategi nonharga antara lain dalam bentuk iklan, membuka gerai lebih lama, khususnya pada akhir minggu, bundling/tying (pembelian secara gabungan), dan parkir gratis.

Survei yang dilakukan AC Nielsen (Agustus 2004) menunjukan. meski jumlah pasar tradisonal di Indonesia mencapai 1,7 juta unit atau mengambil porsi 73 persen dari keseluruhan pasar yang ada, namun laju pertumbuhan pasar modern ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasar tradisonal. Yang tergolong ke dalam pasar modern ini adalah hipermarket, supermarket, minimarket, dan departemen store. Pertumbuhan pasar tradisional hanya mencapai 5 persen per tahun. Sedangkan pasar modern mencapai 16 persen. Secara lebih rinci disebutkan bahwa mini market mempunyai pangsa pasar sebesar 5 persen dengan laju pertumbuhan sebesar 15 persen. Pangsa pasar supermarket mencapai 17 persen dengan tingkat pertumbuhan 7 persen. Adapun hipermarket, dengan pangsa pasar 5 persen laju pertumbuhaannya mampu melejit hingga 25 persen per tahun. Jadi tingkat pertumbuhan pasar modern rata-rata adalah 16 persen setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan, pertumbuhan pasar modern di Indonesia, Lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa sulitnya pasar tradisional bersaing menghadapi pasar modern disebabkan oleh beberapa hal, antara lain, Pertama, kondisi fisik pasar tradisional secara umum tertinggal dibandingkan pasar modern yang bersih dan nyaman, sehingga konsumen lebih tertarik untuk berbelanja di pasar modern. Kedua, pasar modern berlokasi tidak jauh (kurang dari 10 km) dari lokasi pasar tradisional, mengakibatkan semakin banyak konsumen yang beralih ke pasar modern. Ketiga, dengan kekuatan modal, anak perusahaan atau cabang-cabang hypermarket atau supermarket kini mudah diakses warga hingga tingkat kelurahan atau permukiman, sedangkan para pedagang di pasar tradisional adalah pengusaha mikro. Di samping itu, pendirian cabang-cabang itu berbasis waralaba atau sistem sewa, sehingga orang bebas membeli lisensinya ataupun menyewa tempat. Keempat, belum adanya peraturan pemerintah yang spesifik mengatur mengenai pendirian pasar modern.

 

  1. C.           Dampak pembangunan minimarket atau pasar modern terhadap perekonomian dan gaya hidup masyarakat

Di Indonesia, supermarket lokal telah ada sejak 1970-an, meskipun masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Supermarket bermerek asing mulai masuk ke Indonesia pada akhir 1990-an semenjak kebijakan investasi asing langsung dalam sektor usaha ritel dibuka pada 1998. Meningkatnya persaingan telah mendorong kemunculan supermarket di kota-kota  kecil dalam rangka  mencari pelanggan baru dan terjadi perang harga. Akibatnya, bila supermarket Indonesia hanya melayani masyarakat kelas menengah-atas pada era 1980-an sampai  awal 1990-an (CPIS 1994), penjamuran supermarket hingga ke kota-kota kecil dan adanya praktik pemangsaan melalui strategi pemangkasan harga memungkinkan konsumen kelas menengah-bawah untuk mengakses supermarket (Suryadarma, 2007).

Kehadiran peritel modern pada awalnya tidak mengancam pasar tradisonal. Kehadiran para peritel modern yang menyasar konsumen dari kalangan menengah keatas, saat itu lebih menjadi alternatif dari pasar tradisional yang identik dengan kondisi pasar yang kumuh, dengan tampilan dan kualitas yang buruk, serta harga jual rendah dan sistem tawar menawar konvensional. Namun sekarang ini kondisinya telah banyak berubah. Supermarket dan Hypermarket tumbuh bak cendawan dimusim hujan. Kondisi ini muncul sebagai  kosekuensi dari berbagai perubahan dimasyarakat. Sebagai konsumen, masyarakat menuntut hal yang berbeda di dalam aktifitas berbelanja. Kondisi ini masih ditambah semakin meningkatnya pengetahuan, pendapatan, dan jumlah keluarga berpendapatan ganda (suami istri bekerja) dengan waktu berbelanja yang terbatas. Konsumen menuntut peritel untuk memberikan nilai lebih dari setiap sen uang yang dibelanjakan. Peritel harus mampu mengakomodasi tuntutan tersebut jika tak ingin ditinggalkan para pelanggannya (Ekapribadi, 2007).

Pengaruh datangnya pasar modern terhadap pasar tradisional sangat kuat sehingga selalu terjadi pro-kontra antara para pelaku bisnis retail modern. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika masuknya pasar modern dalam suatu wilayah atau kota diharapkan akan mampu bisa menyerap banyak tenaga kerja dalam hal ini adalah pemuda dan remaja yang baru lulus sekolah tingkat atas yaitu SMA atau yang setara.

Di dalam berbagai penelitian singkat di berbagai daerah industri menunjukkan bahwa penggangguran memerlukan penanganan segera . Dalam hal ini diharapkan bahwa masuknya pasar modern adalah dapat mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak akan tetapi di dalam bisnis-bisnis retail bahwa manajemen lebih mementingkan tenaga kerja angkatan baru yakni adalah para remaja yang baru lulus Sekolah Menengah Atas atau SMA yang setara. Pada awalnya pusat perbelanjaan atau pasar modern ini berasal dari pasar-pasar tradisional yang semakin berkembang. Ada kalanya gedung yang digunakan sebagai pusat perbelanjaan ini dibangun di atas pasar-pasar tradisional . Hal ini menimbulkan fenomena lain yaitu semakin tersisihnya pedagang-pedagang yang berada di pasar tradisional.

Hal ini juga menyangkut individu bagi calon customer/pembeli itu sendiri akan kemanakah mereka dalam membeli kebutuhan sehari-hari. Pada prinsip-prinsip dasar yang dipakai setiap masyarakat untuk memutuskan bagaimana cara terbaik untuk membelanjakannya, termasuk gabungan antara kebutuhan publik dan pribadi, seharusnya berjalan dengan baik asalkan keputusan tersebut hanya atau terutama mempengaruhi anggota-anggota masyarakat yang berlaku. Namun diharapkan masuknya pasar modern atau yang sejenisnya tidak mengganggu pasar tradisional yang sudah dulu berdiri sejak belum masuknya pasar modern.

Dibukanya tempat-tempat perbelanjaan modern menimbulkan kegamangan akan nasib pasar tradisional skala kecil dan menengah di wilayah perkotaan. Hilangnya pasar yang telah berpuluh tahun menjadi penghubung perekonomian pedesaan dengan perkotaan dikhawatirkan akan akan mengakibatkan hilangnya lapangan pekerjaan. Dengan hadirnya pasar-pasar modern pemerintah harus tanggap dan membuat peraturan-peraturan perundangan dan berharap mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi pasar tradisional. Akan tetapi juga tidak mematikan hadirnya pasar-pasar modern. Keberadaan pasar tradisional dari satu sisi memang banyak memiliki kekurangan seperti lokasinya yang kadang mengganggu lalu lintas, kumuh, kurang tertata, dan lain-lain. Akan tetapi perlu diingat bahwa pasar tradisional memegang peran yang cukup penting dalam perekonomian, mengingat bahwa sebagian besar masyarakat masih mengandalkan perdagangan melalui pasar tradisional. Sehingga sudah selayaknya pemerintah kota memperhatikan eksistensi pasar tersebut.

 

  1. D.      Pengaruh Faktor Politik Terhadap Pasar Tradisional dengan adanya Pasar Modern

 Ketika pasar modern akan dibangun dalam suatu kota atau wilayah tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan dan harus mendapatkan ijin dari pejabat yang terkait. Tentunya juga harus menimbang dengan masyarakat disekitar. Karena mereka adalah calon pembeli. Namun, ketika perusahaan retail dalam pemenuhan kebutuhan modalnya semakin meningkat sedangkan dana yang dimiliki telah digunakan semua, maka perusahaan tidak ada pilihan lain selain menggunakan dana dana yang berasal dari luar yaitu dalam bentuk hutang. Jika saja bisnis retail semakin berkembang dari tahun ketahun tanpa adanya peraturan-peraturan yang berlaku maka ini sangat berpengaruh dengan pasar tradisional yang juga akan mengurangi pendapatan dari pasar tradisional itu sendiri, karena tentulah dari segi kenyaman pasar modern tentu akan lebih mementingkan tingkat kenyamanan daripada pasar tradisional

Orang cenderung akan beralih kepasar modern karena pengaruh gaya hidup hedonisme yang tinggi. Atau karena masyarakat kita yang cenderung konsumtif dan dengan di dorong rasa keingintahuan yang besar terhadap barang yang bersifat baru. Perda Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Penataan Pasar Tradisional. Di Perda tersebut, disebutkan bahwa jarak antara pasar modern dengan pasar tradisional minimal 1,5 kilometer. Sementara kenyataannya, banyak pasar modern yang jaraknya kurang dari 1,5 kilometer. Bahkan jarak antara pasar modern satu dengan lainnya juga sangat dekat. hal ini tentu akan menjadi faktor utama beralihnya konsumen kepada pasar modern karena tingka kenyamanannya. Berdasarkan data Bappeda Kota Bandung tahun 2008 di Bandung terdapat sekitar 300 minimarket dan sekitar 50 supermarket. Sementara jumlah pasar tradisional di Bandung tercatat hanya 35.

 

  1. E.       Kebijakan-Kebijakan dalam Mengatasi Problematika Pembangunan Pasar Modern dalam Menstabilkan Perkembangan Pasar Tradisional

Dibeberapa negara lain seperti negri Jiran – Malaysia dan Singapore, pasar tradisional dijadikan tujuan wisata. Pasar tradisional dikelola dengan professional dan bersih sehingga pengunjung juga merasa nyaman dan senang berbelanja. Thailand, pasar apungnya bahkan menjadi tujuan utama oleh turis asing yang berkunjung. Pasar tradisional di Turki, Jepang dan Korea juga dikelola secara professional dan menjadi tujuan wisata. Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah. Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, termasuk kerjasama  swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/ dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar-menawar (Pepres RI No. 112, 2007).

Pengaruh datangnya pasar modern terhadap pasar tradisional sangat kuat sehingga selalu terjadi pro-kontra antara para pelaku bisnis retail modern. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika masuknya pasar modern dalam suatu wilayah atau kota diharapkan akan mampu bisa menyerap banyak tenaga kerja dalam hal ini adalah pemuda dan remaja yang baru lulus sekolah tingkat atas yaitu SMA atau yang setara.

Di dalam berbagai penelitian singkat di berbagai daerah industri menunjukkan bahwa penggangguran memerlukan penanganan segera . Dalam hal ini diharapkan bahwa masuknya pasar modern adalah dapat mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak akan tetapi di dalam bisnis-bisnis retail bahwa manajemen lebih mementingkan tenaga kerja angkatan baru yakni adalah para remaja yang baru lulus Sekolah Menengah Atas atau SMA yang setara. Pada awalnya pusat perbelanjaan atau pasar modern ini berasal dari pasar-pasar tradisional yang semakin berkembang. Ada kalanya gedung yang digunakan sebagai pusat perbelanjaan ini dibangun di atas pasar-pasar tradisional . Hal ini menimbulkan fenomena lain yaitu semakin tersisihnya pedagang-pedagang yang berada di pasar tradisional.

     Dengan menjamurnya hipermarket maupun supermarket saat ini keberadaan pasar tradisional mulai kurang diminati, hal ini tentunya akan memperburuk keadaan ekonomi masyarakat kelas bawah, akankah pasar tradisional hilang tenggelam atas tembok tinggi hipermarket, unruk itu diperlukan langkah-langkah strategis agar pasar tradisonal tetap eksis, diantaranya adalah :

1)      Lakukan pembenahan agar pasar tradisonal bisa bersaing dengan pasar modern. antara lain adalah dengan membuat kebijakan dari pemerintah yang mendukung pengembangan pasar tradisional, membenahi pasar agar menjadi lebih bersih, segar, dan terkesan lapang.

2)      Kemudian diupayakan agar makanan yang dijual sesegar mungkin karena ini merupakan ciri khas dari pasar tradisional.

3)      Upaya lain adalah promosi yang harus lebih gencar dan berorientasi pada menampilkan identitas ketradisionalannya.

4)      Regulasi Zona Pasar, adanya kebijakan pemerintah yang mengatur regulasi zona pasar, khususnya untuk pasar-pasar moderen, kebijakan ini tentunya haruslah menitik beratkan pada keberadaan atau eksistensi pasar tradisional, pendirian pasar modern atau hipermarket maupun supermarket perlu dibatasi atau  ditentukan jumlahnya dalam satu wilayah dimana ada pasar tradisional.

5)      Pembatasan waktu operasi dari jam 10.00 – 22.00 WIB hal ini sebagai pembatasan para konsumen dan sebagai proteksi pada pasar modern agar kelangsungan pasar tradisional tetap berlangsung.

6)      Penentuan pajak operasional dan perizinan dalam pembangunan pasar modern berdasarkan

7)      pemberlakuan ketentuan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern.

8)      Adanya campur tangan pemerintah untuk mengubah atau memperbaiki regulasi yang kurang menguntungkan pasar tradisional.

9)      Membuat spesifikasi pasar dengan harapan dapat menyaingi pasar modern.

10)  Adanya partisipasi dari masyarakat karena dengan adanya pasar tradisional dapat meratakan distribusi pendapatan.

11)  Menyediakan infrastruktur yang layak yang dapat menyaingin pasar modern, dapat mencontoh pasar tradisional yang berhasil menyaingin pasar modern.

12)  Pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap Pasar tradisional.

13)  Menjaga kebersihan pada pasar tradisional.

Dengan adanya faktor yang menghambat berkembangnya pasar tradisional itu dapat diselesaikan mungkin kesempatan bagi pasar tradisional untuk membenah diri dan menghilangkan citra buruknya dapat dipenuhi, tentunya diperlukan adanya perencanaan dan pembenahan yang matang.

Langkah demi langkah yang harus dihadapin oleh pemerintah untuk mengembangkan pasar tradisioanal salah satunya dengan adanya pemberdayaan pasar modern itu sendiri yang dilakukan oleh pemerintah kota setempat. Adapun program pemngembangan pasar tradisional :

  1. Strategi jangka pendek :

a)      Fasilitas pembangunan/renovasi fisik pasar

b)      Peningkatan kompetisi pengelolaan pasar

c)      Program pendampingan pasar

d)      Penataan dan pembinaan pasar (Perpers No.112.2007)

e)      Optimalisasi pemanfaatan lahan pasar

  1. Jangka menengah-panjang

a)      Pengembangan konsep koridor ekonomi pasar tradisional

b)      Perbaikan jaringan suplai barang ke pedagang pasar

c)      Pengembangan konsep pasar sebagai koridor ekonomi ( pasar wisata)

d)     Kompetisi pasar bersih / penghargaan dan sertifikasi

Akan tetapi untuk pembenahan pasar seperti di atas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena menyangkut tingkat pendidikan masyarakat lapis bawah yang cenderung rendah. Selain itu pola kebiasaan masyarakat juga turut menjadi penghambat penataan pasar. Secara normatif solusi yang tepat untuk mengatasi beberapa permasalahan tersebut adalah dengan menyinergikan pasar tradisional dan tempat perbelanjaan modern sebagai satu kesatuan fungsional. Kebijakan-kebijakan pemerintah haruslah bersifat memberikan solusi kepada pasar-pasar tradisional. Karena pasar tradisional merupakan merupakan salah satu pilar ekonomi yang cukup potensial untuk meningkatkan perekonomian. Pasar tersebut mampu memberikan kehidupan bagi perekonomian terutama masyarakat bawah. Pemda juga diuntungkan dengan dijadikannya pasar-pasar tradisional menjadi kawasan tujuan wisata. Pemda dapat meraup pajak lebih besar dari pasar-pasar tersebut.

Sebagaimana ketika orang akan bertamu ke suatu tempat haruslah mengerti norma atau aturan-aturan yang berlaku baik lisan maupun tulisan karena dengan begitu tuan rumah bisa menyambut dengan ramah pula, begitu pula jika suatu pasar modern akan datang dalam suatu wilayah atau kota haruslah mematuhi peraturan perundangan yang berlaku.

Tentunya ketika pasar modern akan datang haruslah melihat keadaan di sekitarnya akankah berpengaruh baik atau malah sebaliknya, dan dengan datangnya pasar modern dalam suatu wilayah atau kota haruslah dapat mengubah perekonomian dalam suatu kota tanpa mengurangi eksistensi pasar tradisional yang notabene sudah terdahulu berdiri sebelum masuknya pasar-pasar modern

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.      Laporan Observasi
    1. Pedagang warung pinggir jalan

Menurut sumber Ibu Eza dan Pak Emid yang sudah berjualan sejak tahun 1970-an beliau mengakui keberadaan minimarket disekitar tempatnya berjualan berdampak pada konsumennya yang semakin berkurang karena lebih memilih untuk pergi ke minimarket alfamart namun pelanggan beliau setidaknya tidak terlalu drastis berkurang karena sebagian besar ibu-ibu rumah tangga masih tetap menjadi pelanggannya yang setia , dan setiap hari ada saja pelanggan baru yang berbelanja diwarungnya. penghasilan setiap hari tidak menentu mulai dari Rp. 50.000-Rp.200.000. Dengan penghasilannya itu beliau merasa tercukupi untuk kebutuhannya sehari-hari.

  1. Pedagang pasar tradisional di Pasar Rahayu

Menurut Pak Agus seorang pedagang di Pasar tradisional Pasar Rahayu menyatakan bahwa semenjak ia berdagang dari tahun 1999 sampai sekarang mengaku kalau konsumennya semakin berkurang dan pendapatannya pun berkurang sekarang sehari-hari hanya memperoleh Rp. 500.000-Rp. 1.500.000 saja dan itu pun untuk berbelanja barang lagi jadi bukan pendapatan bersih. sebenarnya pembangunan pasar modern atau mall-mall sangat mengganggu mereka, ketakutannya akan hal yang diinginkan seperti penggusuran lapak usahanya karena akan dijadikan lahan pembangunan minimarket selalu ada dalam benaknya. Pesan beliau untuk pemerintah yaitu kurangi pasar modern dan perhatikan pedagang pasar tradisional.

  1. B.       Kesimpulan

Perkembangan pasar tradisioal pada era globalisasi sekarang sudah sangat memprihatinkan sebagaimana diketahui perkembangan pasar modern yang sudah tersebar dibeberapa kota bahkan sampai ke kabupaten-kabupaten menjadi faktor utama berkurangnya jumlah pembeli yang pergi kepasar, selain itu fasilitas dan kenyamanan yang diberikan pasar modern adalah hal utama yang diutamakan oleh pihak pasar modern dalam menarik konsumen. Adanya modal dan kerjasama dengan para pengusaha dibidangnya menjadikan pasar modern kuat dalam persaingannya dengan pasar tradisional yang cenderung tempat dan fasilitasnya yang tidak memberikan kenyamanan dan modal yang pas-pasan. dukungan pemerintah setempat pun menjadi memperkuat keberadaannya. Perbaikan pasar tradisional mulai dari bangunan, barang dagang dan tempatnya menjadi nyaman merupakan solusi agar pasar tradisional diminati kembali oleh para konsumen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://prokum.esdm.go.id/uu/1999/uu-5-1999.pdf

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/03/10/apa-kabar-pasar-tradisional/

http://dany-ira.blogspot.com/2010/01/dampak-pasar-modern-terhadap-pasar.html

http://ips-mrwindu.blogspot.com/2009/04/jenis-jenis-pasar.html

http://dany-ira.blogspot.com/2010/01/dampak-pasar-modern-terhadap-pasar.html

http://hukum.unsrat.ac.id/pres/perpres_112_2007.pdf

Isu-Isu Kontemporer


ISU-ISU SOSIAL KONTEMPORER

BIDANG

DASAR TEORI

LOKAL DAN REGIONAL

NASIONAL

GLOBAL

Ekonomi

– Teori dampak Balik dan Dampak Sebar Gunnard Myrdal. Bahwa pembangunan ekonomi menghasilkan suatu proses sebab musabab sirkuler yang membuat si kaya mendapat keuntungan semakin banyak dan merak yang tertinggal dibelakang menjadi semakinn terhambat.

 

– Konsep : Permintaan, Penawaran, Penjualan, Ekspor, Impor, Produksi, Produk.

Sandal Tasikmalaya Tergerus Produk Cina.

(Perajin sandal Tasikmalaya mengeluh karena menurunnya permintaan terhadap produk mereka. Hal itu berlangsung 1 tahun belakang ini. Diduga salah satu penyebabnya adalah masuknya sandal cina hingga menggerus produk lokal Kota Tasikmalaya. karena pembeli lebih tertarik membeil produk impor tersebut karena harganya murah.)

Privatisasi Miskinkan Warga.

(Kepimilakan fasilitas umum yang ada di Indonesia oleh beberapa perusahaan swasta menyebabkan kemiskinan warga dan menyengsarakan warga. Hal ini merupakan praktik ideologi neoliberalisme dan hal ini dilarang dalam UUD 1945 pasal 33.)

Minyak Mentah Dunia Mengalami Penurunan.

(Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan. Hal itu seperti terjadi pada harga minyak mentah Brent yang merosot dari level psikologis 120 dolar AS per barel karena meningkatnya kekhawatiran tentang kondisi ekonomi global Eropa dan Cina. Selain itu kekhawatiran akan sanksi Teheran dapat mengganggu ekspor minyak Iran.)

Politik

– Konsep : Kekuasaan, Kedaulatan, Kontrol sosial, Negara, Pemerintah, Legislatif, Oposisi, Sistem Politik, Demokrasi, Pemilu, Partai Politik,

 

 

 

PDIP-Gerindra Resmi Berkoalisi.

(PDIP dan Gerindra kota Cimahi resmi berkoalisi untuk memenangi oemilihan Wali Kota Cimahi 2012. Koalisi kedua partai tersebut dituangkan dalam penandatangan nota kesepahaman koalisi di sekertariat DPC PDIP Cimahi, Jumat 20 April 2012.)

Jajaran PKB Siap Mundur Jika Gagal Meraih 15 Persen Suara di Pemilu 2014.

(Seluruh pimpinan partai PKB di Jawa barat mulai dari ketua DPW, DPC, berjanji akan mundur dari jabatannya jika gagal memenuhi target dalam pemilihan Legislatif 2014 yang menargetkan 15 persen suara.)

Sarkozy dan Holland Berselisih Soal Euro.

(Dua kandidat presiden prancis bersilang pendapat mengenai krisis Euro pada saat-saat terakhir menjelang pemutaran pertama pemilu hari minggu, sementara sebagian besar jejak pendapat memperlihatkan kandidat sosialis Francois Hollande semakin unggul dari kandidat konservatif Nicolas Sarkozy yang tidak populer.)

Hukum

Teori Politik menurut :

–  Prof Sahardjo : sebagai alat mengayomi masyarakat
– G. Niemeyer : alat mengatur kegiatan manusia
–  L. Pospisil : alat untuk mengendalikan masyarakat kearah yang tertib
– Roscoe Pound : Tool Of Social Engineering = alat untuk melakukan perubahan pola piker masyarakat

 

 

Isengi Istri Orang Berujung Maut.

(Diawali karena kekesalan tersangka HYK terhadap korban M ichsan dikarena saat pesta perayaan ulang tahun tersangka yang bertempat di rumah tersangka pada minggu 22 April 2012 korban tanpa sengaja memegang buah dada istri tersangka meskipun sudah diperingatkan oleh tersangka namun korban tidak menghiraukannya sampai akhirnya tersangka kesal lalu menusuk korban dengan pisau yang ada di rumahnya korban pun tewas ditempat .)

Kejahatan Senjata Api Meresahkan Masyarakat.

(Dijelaskan oleh Guru Besar Universitas Parahyangan menyatakan bahwa kejadian ini sudah menjadi isu nasional dan menjadi pemicu agar penegakan hukum ditegakan. Dan itu menjadi momen baru untuk melakukan hal tersebut. Jumat 20  april 2012 hari meninggal karena usahanya mengejar perampok yang sudah menyatroni rumahnya namun perampok tersebut melepaskan senjata api dan menewaskannya.)

Kekerasan di Pakistan, Kisah tragis Fakhra Younus.

(Fakhra Younus melakukan bunuh diri pada tanggal 17 maret 2012 ketika keadilan yang ia tunggu selama 11 tahun terakhir tidak mendapatkan titik temu yaitu dimana sang suami khar yang dinikahinya 1997 sebaagai istri ketiga sering melakukan KDRT terhadapknya kemudian ia berpisah tanpa bercerai setelah suaminya menyiramkan zat asam pada mukanya yang mengharuskan ia menjalani perawatan pada tahun 2000.)

Agama

– Konsep : Sholat, Muslim, Kepercayaan,

Gubernur, “Tuntaskan Konflik Agama di Jabar”.

(Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengharapkan masalah GKI Yasmin dan tindakan kekerasan terhadap ahmadiyah bisa dituntaskan sebelum masa jabatannya berakhir 2013, Namun ia menyerahkan masalah tersebut kepada pimpinan agama yang bergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama Jabar agar birokat dan aparat tidak perlu ikut campur tangan).

Hidupkan Lagi Tradisi Mengaji Kepada Anak di Jawa Barat.

(Dalam pembukaan MTQ tingkat Jawa Barat yang  ke-32 di lapangan Karangpawitan, kKarawan 21 April 2012 menyerukan agar tradisi menjgaji setelah sholat magrib kembali di lakukan oleh anak muslim. Karena dirasakan masa sekarang tradisi tersebut sudah hilang.)

Bakar Kitab Suci, Pasukan NATO Minta Maaf.

(Komandan pasukan NATO di Afghanistan meminta maaf atas adanya laporan pembakaran Al-Quran oleh anak buahnya di luar Ibukota Kabul. Kasus itu menyebabkan ribuan orang hari ini turun ke jalan memprotes tindakan oknum prajurit NATO tersebut.
Menurut kantor berita Reuters, Selasa 21 Februari 2012, Komandan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional NATO (ISAF), Jenderal John R Allen, mengakui anak buahnya di pangkalan militer Amerika Serikat di Bagram, utara Kabul, telah membakar banyak materi pengajaran Islam, termasuk kitab suci.)

 

Sosbud

– Teori Orientasi Nilai Budaya dari Kluckhohn (1961) bahwa hal yang paling tinggi nilainya dalam setiap kebudayaan hidup manusia minimal ada lima yaitu (1) Human nature, (2) Man nature, (3) Time, (4) Activity, (5) Relational.

 

 

– Konsep :

“Kawin Cai”, Menyatukan Keragaman Budaya.

(Festifal budaya Jawa Barat yang berlangsung 22 April 2012 dalam rangka memeriahkan hari jadi Kabupaten Sumedang ke-434 di alun-alun Sumedang diwarnai kawin cai yaitu menyatukan air dari delapan Kabupaten /Kota di Jawa Barat dan dijadikan satu dalam sebuah gentong yang melambangkan suatu kesatuan kearifan lokal)

Benda Seni Rupa di Indonesia.

(Banyak benda seni rupa terapan yang dihasilkan di berbagai daerah setempat di Indonesia. Masing-masing benda seni rupa memberi ciri khas budaya setempat Indonesia.
Benda seni rupa khas Indonesia menarik kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri. Ini artinya, dengan melestarikan dan memakai produk seni Indonesia, maka kita ikut mendukung promosi budaya Nusantara.)

Parade Budaya, Spirit Kebersamaan.

(Parade peringatan konferensi Asia Afrika yang ke -57 ini dihadiri oleh Direktur informasi dan media kementrian luar negeri, PLE Priatna, serta sejumlah pejabat pemkot bandung. peringatan ini berlangsung selama 6 hari 18-22 April 2012 yang dipusatkan di Museum KAA)

Perilaku Menyimpang

– Teori Penyimpangan : Teori Anomi oleh Robert Merton 1930 (Setiadi dan Kolip, 2011). Teori ini berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam struktur sosial sehingga ada individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi menyimpang.

 

 

– Konsep :

Petinggi TNI dalangi geng motor.

(Kejadian ini diawali pengeroyokan dan menewaskan leasi Arifin staf pangkalan Armada Maritim di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, 31 Maret 2012 yang memicu adanya aksi balas dendam oleh pihak tentara, sekitar 200 orang berambut cepat melakukan aksi penganiayaan sejumlah orang di kawasan Jakarta Utara. Dan di duga 4 petinggi TNI yang mendalangi aksi tersebut )

Anggota Brigez kembali berulah.

(Seorang gadis HN 17 tahun terbujuk masuk dalam geng motor brigez setelah terlebih dahulu berkenalan dengan NS 22 tahun kemudian sebagai syarat menjadi anggota geng motor brigez HN dipaksa melayani ke 4 anggota brigez selama 2 hari berturut-turut sampai akhirnya kabur dan oleh orang tuanya dilaporkan kepada pihak kepolisian resort Garut.)

Anak Kelas VI SD, Cabuli tiga temannya.

(TD 12 Tahun yang telah melakukan tindakan tidak senonoh terhadap tiga teman laki-lakinya kasus ini terungkap ketika salah seorang korban TD, EJ 9 tahun melaporkan kasus tersebut kepada keluarganya dan kemudian pihak keluarga melaporkan pada Mapolsek Cibadak untuk pemeriksaan selanjutnya diperkirakan penyimpangan yang dialakukan TD lebih dari 9 orang 22 April 2012).

Pendidikan

– Konsep : Jenjang pendidikan, Guru, Siswa, Pengetahuan, pengajaran, pembelajaran,

667.982 Siswa di Jawa Barat Ikut UN Hari Ini.

(Setelah pekan lalu UN tingkat SMA maka hari senin 23 April UN tingkat SMP mulai dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia selama 4 hari. pada UN SMP tidak adanya pengawas dari satuan pendidikan perguruan tinggi)

Guru Kirim Surat Kepresiden.

(Merasa disudutkaan oleh Kadisdik Kabupaten Sukabumi Zaenal Mutaqin mengirimkan surat kepada Presiden mengenai mencuatnya kasus LKS Komunis yang ia laporkan kepada wartawan yang sebelumnya ia sudah laporkan kepada disdik setempat dan kepada penerbit untuk mencabut edaran LKS tersebut.)

Indonesia-Amerika Sepakat Tingkatkan Pertukaran Mahasiswa

(Indonesia dan Amerika sepakat menjalin kerjasama meningkatkan jumlah pertukaran mahasiswa hingga 100% dalam beberapa tahun kedepan. Hal tersebut dilakukan sebagai wujud tindak lanjut dari deklarasi bersama antara Presiden AS Barack Obama dan Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono yang berkomitmen menjalin kerjasama secara komperehensif, salah satunya adalah dalam bidang pendidikan pada tanggal 19 April.)

Keamanan dan Pertahanan

– Konsep :  Damai,

TNI akan Bangun Dua Batalyon di Perbatasan Malaysia.

(Dua batalyon masing-masing di Sangatta (Kalimantan Timur) dan Kapuas Hulu (Kalimantan Barat) dalam waktu dekat segera dibangun oleh Komando Daerah Militer VI/Tanjungpura guna mengantisipasi kerawanan pertahanan dan keamanan di kawasan perbatasan Malaysia.)

WNI  Menjadi Tentara Malaysia.

(Sejumlah kalangan sedang mencari info dan sumber terkait perekrutan masyarakat Indonesia di Kawasan daerah perbatasan Kalimantan dan Malaysia. Tentunya jika hal tersebut benar akan sangat memalkukan bagi bangsa Indonesia. Anggota DPR/MPR Yoseph Umar di Jakarta tanggal 22 April 2012 menegaskan apapun motif dan tujuannya hal tersebut tidak paut dan dapat menimbulkan masalah.)

Cina-Rusia Latihan Perang, Saat Latihan Militer-AS Masih Berlangsung.

(Ditengah persinggungan politik antara pemerintah Cina dan sejumlah negara Asia tetangganya, Angkatan Laut Cina mengadakan latihan perang bersama Angkatan Laut Rusia mulai 22 April 2012 hingga enam hari kedepan di Laut Kuning.)

Pengangguran

– Pengangguran merupakan sebuah fenomena dalam

perekonomian yang tengah berubah. Kenyataan

bahwa pekerja yang dipecat atas pertimbangan

adanya perubahan dalam pengaturan proses

produksi tidak dapat secara seketika memanfaatkan

setiap peluang guna memperoleh pekerjaan baru

melainkan harus menunggu peluang lain yang lebih

baik … tidaklah merupakan reaksi otomatis

terhadap perubahan–perubahan yang telah terjadi,

terlepas dari kehendak dan pilihan pencari kerja

yang bersangkutan, melainkan merupakan akibat

dari tindakan-tindakan yang disengaja. Jadi

sifatnya spekulatif, bukan frictional. (Mises [1949]

1966: 600)

 

 

Konsep :

Pengangguran di Jakarta Menurun.

(Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di DKI Jakarta menurun tipis. Jika pada Februari 2011 tercatat TPT 10,83 persen, pada Agustus 2011 TPT 10,80 persen dari 5,14 juta angkatan bekerja. Kepala Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, Agus Suherman, mengatakan, TPT DKI Jakarta mengalami penurunan tipis, karena jumlah angkatan kerja atau pencari kerja di Ibu Kota pada Agustus 2011 bertambah 134.000 orang, atau mencapai 5,14 juta orang. Sementara jumlah angkatan kerja Februari 2011 hanya sebanyak 5,01 persen. Sementara itu jumlah penduduk yang bekerja di DKI Jakarta pada Agustus 2011 mencapai 4,59 juta orang. Jumlah ini mengalami pertambahan sebesar 121.300 orang, bila dibandingkan dengan keadaan Februari 2011 yang mencapai 4,47 juta orang)

Pemerintah Targetkan Pengangguran Turun 1,4 Juta Orang Tahun Ini

(Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan jumlah pengangguran sebesar 1,4 juta orang di tahun 2012. Pemerintah juga optimistis Indonesia tidak akan terpengaruh dengan kondisi ekonomi dunia.)

Pengangguran di Jepang Meningkat.

(Tingkat pengangguran Jepang naik menjadi 3,9 persen pada November dari 3,7 persen pada Oktober, di tengah resesi di ekonomi kedua terbesar dunia itu, data resmi menunjukkan Jumat (26/12).    
Tingkat pengangguran untuk laki-laki naik menjadi 4,1 persen dari 3,9 persen bulan sebelumnya, sementara angka pengangguran untuk perempuan meningkat menjadi 3,8 persen dari 3,5 persen, menurut data dari Kementerian Dalam Negeri.

Jumlah orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat 100.000 orang dari setahun terdahulu menjadi berjumlah 2,56 juta orang)

Narkoba

– Konsep : Ganja, melanggar hukum,  

Polres Cimahi Ringkus Tujuh Pengedar Narkoba.

(Satuan resor Cimahi selasa 17 April 2012 meringkus tiga remaja asal Kabupaten Cianjur setelah terbukti melakukan pesta narkoba jenis ganja di Cianjur akhir pekan lalu. Dengan tertangkapnya tiga tersangka itu, Polres Cimahi berhasil meringkus tujuh tersangka sindikat pengedar dan pengguna narkoba di Kabupaten Bandung Barat.)

Narkoba China Serbu Indonesia.

(Polisi kembali membongkar jaringan sabu dari China. Kasus terakhir dibongkar di apartemen mewah di Pecenongan dengan nilai Rp 5 miliar. Petugas Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menggerebek sebuah kamar di Apartemen Atap Merah (Red Top), Pecenongan, Kecamatan Sawahbesar, Jakarta Pusat, Selasa (6/7/2010) malam. Penggerebekan dilakukan karena tempat itu dijadikan sebagai laboratorium untuk memproduksi sabu.

Penggerebekan dilakukan di kamar 2183 yang terletak di lantai 18 Apartemen Red Top. Polisi menyita barang bukti berupa 1 kilogram sabu, 5 kilogram sabu cair, dan 50 butir ekstasi, beserta peralatan produksi. Polisi juga menangkap empat pelaku.)

Warga Jepang Divonis Mati di Malaysia

(Pengadilan di Selangor, Malaysia, menjatuhi hukuman gantung kepada wanita warga negara Jepang yang kedapatan membawa sabu-sabu pada  Selasa, 25 Oktober 2011. Wanita ini mengaku dijebak untuk membawa barang haram tersebut dalam sebuah koper.

Dilansir dari laman Washington Post, Mariko Takeuchi, 37, akan mengajukan banding terkait putusan pengadilan padanya. Wanita yang berprofesi sebagai perawat ini adalah warga negara Jepang pertama  yang diadili di Malaysia atas kasus penyelundupan obat terlarang.)

Korupsi

– Konsep : Pencurian, penggelapan,

Korupsi Uang Parkir Rp 276 Juta, Divonis 1,5 Tahun.

(I Ketut Supir, Ketua Yayasan Widya Suara, yang mengelola parkir Pasar Sukawati, Gianyar, Bali, divonis 1,5 tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Denpasar (Pengadilan Tipikor Denpasar), Senin (23/4/2012). Supir terbukti bersalah tidak menyetorkan uang retribusi parkir sebesar Rp 276.058.000 kepada Pemerintah Kabupaten Gianyar (Pemkab Gianyar).

KPK Pertimbangkan Banding Vonis Nazaruddin.

(Komisi Pemberantasan Korupsi sedang mempertimbangkan untuk mengajukan banding atas vonis terhadap mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin.

Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (20/4/2012), menjatuhkan vonis empat tahun dan 10 bulan penjara serta denda Rp 200 juta subsider empat bulan kurungan. Vonis hakim tersebut masih di bawah tuntutan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang meminta majelis menghukum Nazaruddin tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider enam bulan kurungan)

Indonesia-AS Bentuk Tim Pemberantasan Korupsi.

(Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi memberikan dukungan kepada Indonesia untuk memberantas korupsi. Dukungan nyata dari AS ini selain dalam bentuk pemberian batuan dana juga sepakat bersama-sama membentuk Tim Pemberantasan Korupsi Tingkat Tinggi.

“Kesepakatan membentuk Tim Pemberantasan Korupsi Tingkat Tinggi baru saja selesai kami tandatangani. Tujuannya untuk membantu Indonesia dalam membangun kapasitas para Jaksa dalam menangani kasus-kasus korupsi tingkat tinggi yang melibatkan banyak negara,” kata Jaksa Agung AS, Michael B Mukasey di gedung Kejagung, Jakarta, Senin (9/6))

Demonstrasi Anarkis

– Teori Deprivasi Relatif dari Ted Robert Gurr (1970) Ide dasar teori ini adalah adanya penghilangan atau perampasan yang disertai ketegasan dan keterusterangan dalam penolakannya itu sebagai suatu respons terhadap suatu ketidakadilan yang mereka rasakan.

 

 

– Konsep :

Mahaiswa dan Polisi Bentrok saat Demo LKS Komunis.

(Aksi mahasiswa yang tergabung dalam gerakan Mahasisswa Nasional Indonesia dan Fraksi Rakyat Sukabumi Selasa 17 April 2012 berakhir ricuh. mereka terlibat baku hantam dengan sejumlah personel kepolisian resor Sukabumi Kota.)

Aksi Anarkis Demo Kenaikan BBM.

(Demo penolakan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di akhir bulan Maret 2012 cukup menyita perhatian, di samping ada pro dan kontra pemerintah dalam menaikkan harga BBM bersubsidi. Ironisnya demo penolakan kenaikan BBM yang katanya membela rakyat ini seringkali berakhir ricuh dan anarkis.)

Puluhan Ribu Orang Demo “Rusia Tanpa Putin”

(Puluhan ribu demonstran mengibarkan bendera dan berteriak-teriak dan rusuh saat menuntut pemilihan umum ulang dan sekaligus mengakhiri kekuasaan Vladimir Putin, Sabtu 24 Desember 2011. Ini meningkatkan tekanan terhadap pemimpin Rusia itu, saat dia mencoba untuk memenangkan kembali kursi presiden)

Eksploitasi SDA

– Konsep: penebangan liar, pengurasan, perusakan,

Hutan Kota Garut Memperihatinkan.

(Hutan kota Garut kurang idela karena jumlahnya hanya sekitar 1,5 hektar padahal idealnya hutan kota 40 hektare untuk mnegimbangi tingkat polusi yang tinggi. Dishhut kota Garut Sutarman 22 April 2012 menyatakan akan melakukan penanaman pohon dibeberapa sejumlah instansi, pelayanan umu, sekolah, dan akan menambahkan ruang terbuka hijau di tempat pembuangan sampah di kawasan Pasirbajing, kerkof, Nusaindah.)

Eksploitasi Mangan di Timor Barat Memprihatinkan.

(Kegiatan eksploitasi mangan secara liar di Timor Barat dilakukan secara besar-besaran oleh pengusaha dari luar Nusa Tenggara Timur. Mereka diduga membayar pejabat setempat pada setiap tingkat perizinan antara Rp 1 miliar – Rp 2 mliar.

Sebagian besar lokasi mangan telah diambilalih beberapa pejabat termasuk oknum anggota Polda NTT dengan cara membeli lokasi dari pemilik tanah setempat. Angota Yayasan Perkumpulan Masyarakat Penanggulangan Bencana NTT Josep Boli di Kupang, Senin (15/2) mengatakan, jika di daratan Pulau Flores masyarakat lokal masih berteriak menentang dan melarang pengusaha dan pemerintah daerah melakukan eksploitasi, tetapi di Timor Barat kegiatan itu justru dibiarkan.)

 

http://id.shvoong.com/law-and-politics/law/2019142-teori-hukum-menurut-beberapa-ahli/

http://www.hanshoppe.com/wp-content/uploads/publications/trans/hoppe_misesian-case-keynes-indonesian.pdf

http://nasional.kompas.com/read/2012/04/22/16513696/KPK.Pertimbangkan.Banding.Vonis.Nazaruddin

 

Pertanggungjawaban Pelaku kelompok


BAB 21

PERTANGGUNGJAWABAN PELAKU KELOMPOK

Struktur-struktur masyarakat modern pada dasarnya berbeda dengan struktur masyarakat sebelumnya. Selain pelaku orang, ada ciptaan yang baru berkembang, pelaku kelompok modern yang bertindak dan dipengaruhi, mengejar kepentingan, dan mengontrol peristiwa. Jika masyarakat baru ini dilihat dari sudut pandang naif, sejumlah persoalan muncul untuk pertama kalinya. salah satunya berhubungan dengan pertanggungjawaban terhadap pelaku-pelaku lainn di masyarakat.

Persoalan tersebut datang dari ketiga sumber diantaranya yang pertama, cara yang membangkitkan rasa tanggungjawab pelaku orang terhadap pelaku lain mungkin tidak dimiliki oleh ciptaan-ciptaan baru ini. Kedua, terletak pada fakta bahwa pelaku kelompok itu banyak yang ukurannya sangat besar dan berpengaruh. Ketiga, sebuah pelaku kelompok, sesuai definisinya, bukanlah pelaku orang. Jadi, kendati dapat dikatakan bahwa seseorang yang mengurus kepentingannya sendiri setidak-tidaknya bertanggungjawab atas dirinya sendiri, pernyataan serupa tidak bisa digunakan untuk membenarkan segala tindakan sebuah pelaku kelompok.

Tindakan Bertanggung Jawab dari Pelaku Orang

Bagaimana cara mengontrol tindakan orang agar tidak sama sekali tidak bertanggungjawab dan melalaikan kepentingan orang-orang lain? Pernyataan ini penting bagi pelaku orang, walaupun konsepsi tentang apa sesungguhnya pelaku bertanggungjawab itu belum pasti. konsepsi untuk itu berbeda-beda setiap anggota masyarakat. secara umum tentu, perilaku bertanggungjawab dapat didefinisikan sebagai perilaku yang memikiran kepentingan dan hak orang lain. tindakan yang diharapkan seseorang pelaku akan memberi sedikit keuntungan baginya, jelas akan lebih baik bagi semua orang kalau tindakan-tindakan tersebut tidak dilakukan.

Upaya untuk menegakan kontrolatas perilaku pelaku orang yang merupakan salah satu komponen sosialisasi. Disamping itu, pentingnya sanksi-sanksi informal dan hukum kriminal sebagai alat kontrol sosial pelaku orang menegaskan pentingnya mekanisme kontrol sosial berkelanjutan sepanjang usia dewasa, melebihi masa sosialisasi anak-anak.

Keuntungan utama sosialisasi diatas sanksi-sanksi eksternal ialah bahwa setelah perubahan internal berlangsung, kepentingan atau hak orang lain pasti dipertimbangkan, walaupun saat tidak ada orang lain yang bisa mengawasi tindakan. Hasilnya, tidak perlu lagi penguatan perilaku tanggungjawab, yang mungkin memeras tenaga, menghabiskan waktu, atau menuntut pengorbanan; hak dan kepentingan orang lain pasti dihormati, walaupun dalam situasi-situasi saat penguatan mustahil atau sukar dilakukan. Sanksi-sanksi eksternal yang menjadikan tindakan orang bertanggungjawab itu berkisar dari sanksi-sanksi informal, seperti pernyataan tidak setuju yang ringan atau boikot, hingga sanksi-sanksi hukum karena melanggar hukum atau peraturan.

Ketika rasa tanggungjawab seseorang terhadap orang-orang lain tidak terlalu berbeda, konflik bisa saja terjadi karena suatu tindakan yang bertanggungjawab terhadap salah satu pihak ternyata merugikan kepentingan pihak lainnya. Contohnya, anak-anak yang sedang tumbuh menghadapi konflik seperti itu antara tanggungjawab terhadap keluarga dengan tanggungjawab terhadap teman.

 Maka salah satu cara untuk memahami bagaimana menuntun tindakan korporasi ke arah yang bertanggungjawab ialah dengan memperoleh sedikit wawasan terkait bagaimana cara masyarakat menangani pelaku orang. Namun terlebih dahulu ada baiknya diperhatikan bahwa kontrol sosial terhadap tindakan pelaku orang jauh dari sukses universal.

Tindakan langsung tampak pranata apa dimasyarakat yang setara dengan pranata sosialisasi dan norma sosial yang menjadi batasan pada tindakan individu dan menuntun tindakan tersebut ke arah yang bertanggungjawab. sistem hukum tentu saja membatasi tindakan pelaku orang maupun pelaku kelompok, tetapi tidak ada persamaan yang jelas untuk sosialisasi masa kanak-kanak dan norma-norma sosial informal.

Cikal Bakal Sosial Pertanggungjawaban Korporasi

Hubungan antara pelaku orang dan pelaku kelompok dapat diperjelas dengan mempertimbangkan cikal bakal pelaku kelompok modern yang tidak punya hubungan hakiki dengan pelaku orang ini.

Ketika konsep korporasi sebagai pelaku dengan segenap kemandiriannya sendiri mulai diakui dalam common law, persoalan pertanggungjawaban korporasi menjadi semakin rumit dan sulit daripada sebelumnya ketika bentuk pelaku-pelaku kelompok masih sederhana. Setelah lepas dari keluarga, korporasi menjadi mandiiri, dan gagasan pertanggungjawaban individu pelaku orang terpisahkan pula dengan gagasan pertanggujawaban korporasi.

Perubahan-Perubahan Internal dan Pertanggungjawaban Korporasi

Berkurangnya dan terbatasnya mekanisme yang tersedia bagi korporasi guna menumbuhkan pertanggungjawaban sosial memunculkan pertanyaan, yaitu, sarana lain apa yang tersedia untuk membangkitkan perilaku korporasi yang bertanggungjawab. Ada baiknya diingat kembali masalah-masalah serupa bagi pelaku orang, serta sarana-sarana yang telah berkembang untuk mengatasi masalah-masalah itu.

Ada persamaan umum yang dapat ditarik antara korporasi dan pelaku orang. Perubahan-perubahan internal pada sebuah korporasi analog dengan sosialisasi pelaku orang. Hukum dan peraturan pemerintah yang wajib ditaati korporasi dibawah ancaman hukuman analog dengan norma dan hukum disertai sanksi formal dan informal yang memberikan kontrol eksternal pada pelaku orang. Namun, kisaran perubahan internal dan batasan eksternal yang dialami korporasi jauh lebih luas ketimbang pelaku orang, sebab kisaran struktur dan fungsi organisasinya jauh lebih luas. Batasan eksternal berbentuk hukum pengatur dan putusan-putusan pengadilan yang menegakan dan melaksanakan hukum itu digunakan secara luas oleh pemerintah, dengan hiruk pikuk aktivitas yang patut menjadi perhatian pada 1960-an dan 1970-an. Pendekatan yang lebih halus adalah perubahanperubahan internal yang dengan sendirinya menumbuhkan perilaku yang lebih bertanggungjawab, tetapi pendekatan ini belum pernah dipelajari secara lengkap.

Apa Itu Pertanggungjawaban Sosial?

Sebelum membicarakan potensi perubahan-perubahan internal di dalam korporasi, ada baiknya ditanyakan lebih dulu apa yang sesungguhnya dinamakan pertanggungjawaban sosial ittu. Jawabannya terletak pada jenis-jenis relasi yang dimiliki pelaku kelompok dengan lingkungannya dan kepentingan-kepentingan pihak lain pada relasi-relasi itu. Seperti pada pelaku orang, pertanggungjawaban terhadap seperangkat kepentingan yang lain.

Setiap korporasi yang bertindak secara efektif pasti bertindak guna memenuhi beberapa perangkat kepentingan, yang mungkin merupakan campuran. Dalam pelaksanaannya, persoalan pertanggungjawaban korporasi berhubungan dengan persoalan cara untuk mengubah campuran. Biasanya dengan membuat perubahan yangsemakin menjauhi pemenuhan kepentingan korporasi sendiri dan semakin mendekati pemenuhan satu dari empat perangkat kepentingan lain diatas atau lebih, kepentingan karyawan, kepentingan konsumen, kepentingan investor, ataukah kepentingan lingkungan. Namun, banyak dan ragamnya kepentingan, didalam setiap perangkat maupun antar perangkat, menyiratkan bahwa masalahnya tidaklah sederhana, bahkan secara konseptual pun; tidak ada kelompok tunggal yang korporasi dapat melaksanakan pertanggungjawaban sosial terhadapnya, dan secara bersamaan memenuhi kepentingan semua pihak yang dipengaruhi oleh tindakan-tindakannya.

Siapakah Yang Internal Bagi Korporasi?

Kesulitan konseptual yang terkait dalam mempertimbangkan kemungkinan perubahan-perubahan yang internal bagi korporasi itu adalah kesulitan dalam menentukan siapa yang internal bagi korporasi. Pertanggungjawaban pelaku kepada kepentingan pelaku-pelaku lain yang berinteraksi dengannya harus dilihat dalam hubungannya dengan kepentingan pelaku itu sendiri. Terhadap kepentingannyalah tindakan-tindakan pelaku itu bersifat responsif. Bagi pelaku kelompok, bukan hal mudah menentukan apa saja kepentingan itu.

Pandangan klasik tentang korporasi ialah sebagai pemilik modal yang membeli input-input faktor seperti bahan mentah, tenaga kerja, dan peralatan pengolahan, mengorganisir integrasi input-input faktor itu sebaik-baiknya sampai menghasilkan produk akhir, lalu menjual produk itu kepada konsumen. Berdasarkan konsepsi ini, lingkungan dalam korporasi adalah kelompok pemilik pengelola itu.

Perubahan Pada Struktur Pengelolaan: Perwakilan Pekerja

Salah satu tipe perubahan pada struktur pengelolaan korporasi adalah perwakilan pekerja didalam dewan direktur. Perwakilan pekerja adalah bagian dari gerakan memperluas kisaran kepentingan yang direspons dewan direktur dan korporasi yang dipimpinnya.

Kodeterminasi menjadikan korporasi-korporasi Jerman lebih demokratis, artinya, lebih bertanggungjawab dan responsif terhadap kepentingan karyawan. Korporasi bisa saja kurang responsif terhadap kepentingan pemegang saham dalam meningkatkan penembalian ekonomis perusahaan sekaligus kurang responsif terhadap kepentingan konsumen pada harga murah. Perusahaan bisa saja menjadi tidak kompetitif dan bangkrut. Namun kalau wakil-wakil karyawan bertindak secara rasional demi kepentingan konstituen-konstituen mereka, pengaruh utamanya ialah meningkatnya fraksi pendapatan korporasi yang akan menjadi milik pekerja, dengan mengorbankan pihak pemegang saham.

Perubahan Pada Struktur Pengelolaan: Perwakilan Kepentingan Eksternal

MEMATUHI ATURAN PERMAIANAN

Jenis pertama perwakilan kepentingan eksternal yang dirancang guna memastikan bahwa korporasi menaati segenap isi dan semangat hukum. Perwakilan tersebut dimaksudkan untuk melindungi kepentingan-kepentingan pelaku-pelaku di masyarakat yang terkena akibat dari tindakan korporasi: karyawan, investor, konsumen dan lingkungan. Maksudnya bukan menjadikan korporasi bersifat dermawan atau suka memberi, tetapi untuk memastikan bahwa korporasi tidak melanggar hukum sehingga merugikan kepentingn pihak lain. Pelanggaran seperti itu biasanya terjadi saat tindakan sebuah korporasi tidak bisa diperiksa oleh pihak luar, membuka peluang untuk melakukan kegiatan yang secara ilegal merugikan kepentingan orang lain. Ada contoh pelanggaran seperti itu untuk setiap jenis transaksi yang melibatkan pelaku kelompok; tidak jelas, apakah pelanggaran seperti itu dapat dicegah dengan perwakilan pihak luar di dalam dewan korporasi.

Contoh pelanggaran yang paling sering adalah pelanggaran yang merugikan kepentingan-kepentingan yang hendak dilindungi oleh hukum penyingkapan (disclosure). Yang paling utama adalah perdagangan orang dalam (insider trading) oleh orang-orang lain yang dekat dengan mereka, dan kepentingan-kepentingan yang dilindungi hukum itu adalah kepentingan para pemegang saham lainnya. Ada pula contoh ketika kepentingan utama yang terpengaruh adalah kepentingan konsumen. Ketika kepentingan utama dirugikan adalah kepentingan lingkungan. dan yang terakhir adalah ketika kepentingan yang dirugikan adalah karyawan.

PERHATIAN KORPORASI TERHADAP KEPENTINGAN PIHAK-PIHAK DI LUAR KORPORASI

Korporasi yang berbasis keluarga kini sudah jarang ditemui, menginternalisasi kepentingan pihak-pihak lain melalui hubungan-hubungan keluarga itu dengan komunitas, tak ubahnya pelaku orang menginternalisasi kepentingan orang lain melalui sosialisasi.

Sosialisasi anak-anak merupakan proses yang membawa mereka untuk merenungkan kepentingan orang-orang lain, sehingga diri objek yang kepentingannya menjadi alasan bagi tindakan, sampai drajat tertentu memasukan kepentingan orang-orang lain itu. Tugas ini pada hakikatnya lebih sederhana bagi pelaku kelompok, sebab posisi-posisi yang menyusun struktur pelaku kelompokditempati oleh orang yangmempunyai kepentingan sendiri dan mempunyai kewajiban terhadap orang-orang lain diluar korporasi. Dengan demikian, menanamkan kepentingan-kepentingan yang sifatnya eksternal buat pelaku kelompok tampaknya secara hakiki lebih mudah ketimbang menanamkan kepentingan-kepentingan eksternal pada pelaku orang.

Perubahan-perubahan Internal Korporasi Yang Melibatkan Insentif Agen

Penertiban mundur oleh konsumen terhadap agen menangani sejenis pertanggungjawaban korporasi, pertanggungjawaban terhadap konsumen. Untuk barang dan jasa yang dipasarkan, hal ini sudah diselesaikan dengan struktur kompetisi pasar yang memberikan ganjaran secara finansial bagi korporasi-korporasi yang memuaskan konsumen. Pentingnya memasukan struktur ganjaran tambahan pada tingkat agen menjadi penting dalam dua kondisi berikut. kondisi pertama, jika korporasi itu besar; ukuran yang besar membuat insentif terpadu hirarki korporasi lebih penting bagi kebanyakan agen ketimbang insentif dari pasar. kondisi kedua terjadi saat pelaku kelompok tidak berada pada sebuah pasar, misalnya, untuk suatu instansi pemerintah. Dalam instansi seperti itulah boleh diharapkan akan dijumpai rendahnya perhatian terhadap kepentingan klien. Jadi, dalam instansi seperti itulah pengenalan penertiban mundur untuk agen oleh klien boleh jadi akan paling efektif dalam meningkatkan perhatian agen terhadap kepentingan klien.

Investasi Yang Bertanggungjawab Secara Sosial

Cara ketiga untuk menjadikan korporasi lebih bertanggungjawab secara sosial, selain perubahan dalam struktur pengelolaan dan perubahan pada struktur insentif untuk agen, ialah melalui perubahan pada investasinya. Walaupun dimaksudkan untuk membangkitkan pertanggungjawaban sosial dalam korporasi, cara ini kurang umum dibandingkan dua cara lainnya. Asas umum ialah bahwa dengan berinvestasi pada suatu aktivitas, sebuah korporasi beroleh manfaat dari aktivitas itu dengan dua cara: pertama, dengan menyediakan sarana untuk membantu mendukung aktivitas tersebut, dan kedua, dengan bertindak sedemikian rupa guna melindungi investasinya dengan cara meningkatkan pelaksanaan fungsi aktivitas tersebut. cntohnya bank dalam melindungi modal yang dipinjamkannya , menyediakan semacam manajerial yang dimaksudkan untuk mendukung keberhasilan perusahaan yangdiberinya pinjaman.

Undang-Undang Perpajakan dan Norma-Norma Sosial

Cara lain untuk membangkitkan pertanggungjawaban sosial pada pelaku-pelaku kelompok disamping perubahan-perubahan internal yang dibicarakan diatas ialah perubahan pada struktur ganjaran yang diadakan oleh lingkungan. Cara ini terutama dilakukan melalui perubahan pada undang-undang perpajakan.

Untuk pelaku kelompok adakah sesuatu yang analog dengan norma-norma sosial informal yang mendorong pelaku orang untuk bertindak dengan cara yang memikirkan kepentingan orang lain? Norma-norma ini tidak Cuma memberikan dukungan bagi tindakan-tindakan yang memberi manfaat bagi orang lain. Batasan-batasan hukum terhadap korporasi tidak berfungsii serupa, sebab hukuman hanya ditetapkan untuk tindakan yang dilarang. Tetapi, ada satu cara yang fungsinya boleh jadi analog dengan norma-norma sosial informal, yaitu, kebijakan perjakan. Untuk aktivitas yang tidak menjadi kepentingan pelaku kelompok, tetapi diselenggarakan secara luas demi kepentingan publik, dapat diberikan keringanan pajak. Dengan cara pendukungan seperti ini, aktivitas-aktivitas tersebut mulai menjadi kepentingan korporasi. Hal seperti ini sudah dilakukan dibanyak negara maju. Sumbangan-sumbangan untuk kegiatan amal mengurangi tanggujawab pajak sebuah korporasi itu sama dengan orang bersosialisasi yang telah didorong untuk memikirkan kepentingan orang lain.

kasus isu kontemporer

Sikap Lunak terhadap Lapindo

11 April 2012 kp2kknjateng Tinggalkan Komentar Go to comments

SELASA, 10 APRIL 2012

EDITORIAL KORAN TEMPO

Seharusnya pemerintah bersikap tegas terhadap PT Minarak Lapindo Jaya. Perusahaan ini belum juga merampungkan pembayaran ganti rugi terhadap korban semburan lumpur Lapindo. Padahal beban perusahaan ini jauh lebih ringan dibanding negara.

Lumpur yang mulai menyembur enam tahun lalu itu telah membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal atau tempat usaha. Kegiatan ekonomi masyarakat setempat juga terganggu lumpur yang meluap dari sumur minyak yang dibor oleh Lapindo Brantas Inc, perusahaan milik keluarga Bakrie. Kini masih terdapat 600 berkas sertifikat tanah milik warga yang belum diganti rugi. Nilainya mencapai Rp 900 miliar. Inilah yang membuat penduduk setempat marah dan beberapa waktu lalu melakukan unjuk rasa dengan menutup Jalan Raya Porong.

Ketidakseriusan pihak Bakrie menangani Lapindo ini menimbulkan pertanyaan besar. Bisnisnya tidak sedang dililit resesi. Bahkan Aburizal Bakrie, yang juga Ketua Umum Golkar, kini tampak sibuk menyiapkan diri untuk maju sebagai calon presiden pada 2014. Urusan Lapindo justru akan menghambat ambisi ini bila tak segera diselesaikan. Apalagi beban Lapindo sebetulnya jauh lebih kecil dibanding negara.

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007, negara merogoh kocek Rp 27,4 triliun untuk bencana lumpur ini. Bandingkan dengan Lapindo yang cuma mengeluarkan Rp 3,4 triliun. Negara menanggung biaya sosial daerah-daerah di luar peta terdampak atau kawasan yang kena dampak langsung lumpur. Adapun Lapindo hanya menanggung ganti rugi untuk warga desa yang terendam lumpur.

Tak hanya diatur dalam peraturan presiden, duit untuk penanganan lumpur Lapindo itu juga dimasukkan dalam Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dalam UU APBN Perubahan 2012 pun masalah ini dicantumkan secara jelas. Inilah yang kemudian mengundang spekulasi kurang sedap. Ada yang menganggap anggaran penanganan korban lumpur Lapindo itu sebagai barter atas dukungan Partai Golkar terhadap usul pemerintah mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak.

Spekulasi seperti itu sebetulnya kurang logis karena bukan kali ini saja penanganan lumpur Lapindo di luar peta terdampak masuk dalam APBN. Hanya, sebagian publik tetap mempertanyakan besarnya tanggung jawab negara dalam urusan ini. Apalagi banyak ahli geologi yang berpendapat lumpur Lapindo bukanlah bencana alam, melainkan akibat kelalaian manusia. Ini semua menimbulkan kesan pemerintah terlalu lunak, bahkan “baik hati”, terhadap Bakrie.

Lunaknya sikap itu juga terlihat dari tidak adanya reaksi pemerintah terhadap PT Minarak Lapindo yang belum melunasi janji. Kenapa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak segera bertindak? Dulu, pada Desember 2008, saat perusahaan Bakrie itu ingkar janji, Presiden langsung memanggil Nirwan Bakrie, pengendali kelompok usaha ini. Lapindo akhirnya mencicil kewajibannya.

Tindakan seperti itu seharusnya dilakukan lagi bila pemerintah mempedulikan nasib para korban lumpur Lapindo.

Sumber : http://koran.tempo.co/konten/2012/04/10/270508/Sikap-Lunak-terhadap-Lapindo

 

Perjudian


BAB 1

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Dalam pergaulan sehari-hari, manusia tidak bisa lepas dari norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Apabila semua angota masyarakat mentaati norma dan aturan tersebut, niscaya kehidupan masyarakat akan tenteram, aman, dan damai. Namun dalam kenyataannya, sebagian dari anggota masyarakat ada yang melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap norma dan aturan tersebut. Pelanggaran terhadap norma dan aturan yang berlaku dalam masyarakat dikenal dengan istilah penyimpangan sosial atau istilah yang sering digunakan dalam perspektif psikologi adalah patologi sosial (social pathology). Akibat penyimpangan sosial ini, memunculkan berbagai permasalahan kehidupan masyarakat yang selanjutnya dikenal dengan penyakit sosial.

Penyimpangan sosial dari sekelompok masyarakat atau individu akan mengakibatkan masalah sosial, menurut Kartini (2003) kejadian tersebut terjadi karena adanya interaksi sosial antar individu, individu dengan kelompok, dan antar kelompok. Interaksi sosial berkisar pada ukuran nilai adat-istiadat, tradisi dan ideologi yang ditandai dengan proses sosial yang diasosiatif. Adanya penyimpangan perilaku dari mereka terhadap pranata sosial masyarakat. Ketidaksesuaian antar unsur-unsur kebudayaan masyarakat dapat membahayakan kelompok sosial kondisi ini berimplikasi pada disfungsional ikatan sosial.

Apabila kejadian tersebut terus terjadi dalam masyarakat, maka perjudian, tawuran antar pelajar dan mabuk-mabukan tersebut akan menjadi virus mengganggu kehidupan masyarakat. Masyarakat akan resah dan merasa tidak tenteram. Andaikan tubuh kita diserang virus, tentu tubuh kita akan merasa sakit. Begitu pula masyarakat yang diserang virus, tentu masyarakat tersebut akan merasa sakit. Sakitnya masyarakat ini bisa dalam bentuk keresahan atau ketidak-tenteraman keidupanan masyarakat. Oleh karena itulah, perjudian, tawuran antar pelajar dan mabuk-mabukan itu dikategorikan sebagai penyakit masyarakat atau penyakit sosial. Penyakit sosial adalah perbuatan atau tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas bangsa, disiplin, kebaikan dan hukum formal.

Sebenarnya penyakit sosial itu tidak hanya perjudian, tawuran antar pelajar dan kriminalitas. Masih banyak perilaku masyarakat yang bisa disebut menjadi virus penyebab penyakit sosial, misalnya: alkoholisme, penyalahgunaan Napza, pelacuran, dan mungkin masih banyak lagi perilaku masyarakat yang bisa menimbulkan keresahan dan mengganggu keteraman masyarakat.

Faktor apa yang menyebabkan timbulnya berbagai penyakit masyarakat tersebut? Para ahli sosiologi menyatakan bahwa penyakit sosial itu timbul karena adanya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang terhadap norma dan aturan yang berlaku dalam masyarakat. Pelanggaran terhadap norma dan aturan masyarakat inilah yang kemudian dikenal dengan penyimpangan sosial.
Beberapa fenomena perilaku perjudian, sebagai salah satu penyakit sosial masyarakat yang akan diurai dan diharapkan memberikan kontribusi konstruktif dalam penyelesaiannya akan diketengahkan dalam paper ini, antara lain; Pertama, menjelaskan tentang motif individu melakukan judi dengan kajian psikologi, Kedua, judi sebagai diasosiatif yang mengakibatkan terjadinya penyakit sosial masyarakat, dan ketiga upaya pendekatan untuk menyelesaikan dan merehabilitasi penyakit sosial judi.

 

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian perjudian?
    2. Apa yang melatarbelakangi terjadinya perjudian di berbagai kalangan masyarakat?
    3. Apa dampak dari perjudian?
    4. Bagaimana cara dan upaya memberantas perjudian?

 

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan penilitian ini adalah:

  1. Mendapat gambaran secara lebih terperinci mengenai aksi judi.
  2. Mengetahiu latar belakang dilakukannya aksi perjudian sebagai salah satu satu bentuk penyimpangan.
  3. Mengetahui sejauh mana dampak perjudian mempengaruhi penyimpangan individu secara sosial maupun psikologi individu, dan;
  4. Sebagai modal agargenerasi muda terhindar dari perjudian.

 

  1. Metode Penelitian

Dalam penilitian ini kami menggunakan beberapa metode untuk penelitian ini, diantaranya:

  1. Observasi lapangan
  2. Wawancara dengan narasumber (pelaku judi)
  3. Kajian pustaka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian (UU No. 7 Tahun 1974) tidak ada dijelaskan secara rinci defenisi dari perjudian. Namun dalam UU No. 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 303 ayat (3) KUHP “Yang dimaksud dengan permainan judi adalah tiap-tiap permainan, dimana kemungkinan untuk menang pada umumnya bergantung pada peruntungan belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Dalam pengertian permainan judi termasuk juga segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segaa pertaruhan lainnya.

Perjudian pada dasarnya adalah permainan di mana adanya pihak yang saling bertaruh untuk memilih satu pilihan di antara beberapa pilihan dimana hanya satu pilihan saja yang benar dan menjadi pemenang.. Pemain yang kalah taruhan akan memberikan taruhannya kepada si pemenang. Peraturan dan jumlah taruhan ditentukan sebelum pertandingan dimulai.  Terkait dengan perjudian banyak negara yang melarang perjudian sampai taraf tertentu, Karena perjudian mempunyai konsekwensi sosial kurang baik, dan mengatur batas yurisdiksi paling sah tentang undang-undang berjudi sampai taraf tertentu. Terutana beberapa negara-negara Islam melarang perjudian dan hampir semua negara-negara mengatur itu. Kebanyakan hukum negara tidak mengatur tentang perjudian, dan memandang sebagai akibat konsekuensi masing-masing, dan tak dapat dilaksanakan oleh proses yang sah sebagai undang-undang.

Perjudian dalam perspektif hukum adalah salah satu tindak pidana (delict) yang meresahkan masyarakat. Sehubungan dengan itu, dalam Pasal 1 UU No. 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian dinyatakan bahwa semua tindak pidana perjudian sebagai kejahatan. Ancaman pidana perjudian sebenarnya cukup berat, yaitu dengan hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun atau pidana denda sebanyak-banyaknya Rp. 25.000.000,00 (Dua puluh lima juta rupiah).

 

Pasal 303 KUHP jo.  Pasal 2 UU No. 7 Tahun 1974 menyebutkan:

(1)   Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana denda paling banyak Rp.25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah), barangsiapa tanpa mendapat ijin :

  1. Dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan untuk permainan judi dan menjadikannya sebagai mata pencaharian, atau dengan sengaja turut serta dalam suatu perusahaan untuk itu.
  2. Dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam perusahaan untuk itu, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan kesempatan adanya sesuatu syarat atau dipenuhinya sesuatu tata cara.
  3. Menjadikan turut serta pada permainan judi sebagai pencaharian.

(2)   Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencahariannya, maka dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencaharian itu.

Namun meski sudah diatur dalam undang-undang (UU) dan dikenakan sanksi yang berat tidak menurutkan niat subjek hukum untuk melakukan tindak pidana perjudian ini. Seiring dengan peradaban manusia perjudian tetap berkembang. Namun sampai saat ini belum dapat dijelaskan secara tepat kapan penjudian mulai dikenal oleh manusia. Menurut Cohan (1964), perjudian sudah ada sejak jaman prasejarah. Perjudian seringkali dianggap seusia dengan peradaban manusia. Dalam cerita Mahabarata dapat diketahui bahwa Pandawa menjadi kehilangan kerajaan dan dibuang ke hutan selama 13 tahun karena kalah dalam permainan judi melawan Kurawa. Di dunia barat perilaku berjudi sudah dikenal sejak jaman Yunani kuno. Para penjudi primitif adalah para dukun yang membuat ramalan ke masa depan dengan menggunakan batu, tongkat atau tulang hewan yang dilempar ke udara dan jatuh ditanah. Biasanya yang diramal pada masa itu adalah nasib seseorang pada masa mendatang. Pada saat itu nasib tersebut ditentukan oleh posisi jatuhnya batu, tongkat atau tulang ketika mendarat ditanah. Dalam perkembangan selanjutnya posisi mendarat tersebut dianggap sebagai suatu yang menarik untuk dipertaruhkan. Alice Hewing (dalam Stanford & Susan, 1996) dalam bukunya Something for Nothing: A History of Gambling mengemukakan bahwa orang-orang Mesir kuno sangat senang bertaruh dalam suatu permainan seperti yang dimainkan oleh anak-anak pada masa kini dimana mereka menebak jumlah jari-jari dua orang berdasarkan angka ganjil atau genap. Orang-orang Romawi kuno menyenangi permainan melempar koin dan lotere, yang dipelajari dari Cina. Orang Yunani Kuno juga menggunakan hal yang sama. Selain itu, mereka juga menyenangi permainan dadu.

Pada jaman Romawi kuno permainan dadu menjadi sangat populer. Para Raja seperti Nero dan Claudine menganggap permainan dadu sebagai bagian penting dalam acara kerajaan. Namun permainan dadu menghilang bersamaan dengan keruntuhan kerajaan Romawi, dan baru ditemukan kembali beberapa abad kemudian di sebuah Benteng Arab bernama Hazart, semasa perang salib.

Setelah dadu diperkenalkan lagi di Eropa sekitar tahun 1100an oleh para bekas serdadu perang salib, permainan dadu mulai merebak lagi. Banyak kerabat kerajaan dari Inggris dan Perancis yang kalah bermain judi ditempat yang disebut Hazard (mungkin diambil dari nama tempat dimana dadu tersebut diketemukan kembali). Sampai abad ke 18, Hazard masih tetap populer bagi para raja dan pelancong dalam berjudi.

Pada abad ke 14, permainan kartu juga mulai memasuki Eropa, dibawa oleh para pelancong yang datang dari Cina. Kartu pertama yang dibuat di Eropa dibuat di Italia dan berisi 78 gambar hasil lukisan yang sangat indah. Pada abad 15, Perancis mengurangi jumlah kartu menjadi 56 dan mulai memproduksi kartu untuk seluruh Eropa. Pada masa ini Ratu Inggris, Elizabeth I sudah memperkenalkan lotere guna meningkatkan pendapatan negara untuk memperbaiki pelabuhan-pelabuhan.

Sedangkan untuk saat ini yang sering dipakai sebagai bahan taruha adalah hasil akhir dari sebuah pertandingan olahraga. Olahraga yang sering dijadikan taruahan dan menjadi lumrah hukumnya bagi para pecinta olahraga adalah sepakbola. Bahkan sepakbola saat ini sudah dijadikan industri terutama dalam hal perjudian, sponsor dan penjualan pemain sepakbola. Seiring dengan perkembangan teknologi terutama internet, perjudian sepakbola dilakukan setiap hari didunia maya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Perjudian

Meskipun masalah perjudian sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi baik dalam KUHP maupun UU No. 7 tahun 1974 ternyata masih mengandung beberapa kelemahan. Kelemahan ini yang memungkinkan masih adanya celah kepada pelaku perjudian untuk melakukan perjudian. Adapun beberapa kelemahannya adalah :

  1. Perundang-undangan hanya mengatur perjudian yang dijadikan mata pencaharian, sehingga kalau seseorang melakukan perjudian yang bukan sebagai mata pencaharian maka dapat dijadikan celah hukum yang memungkinkan perjudian tidak dikenakan hukuman pidana
  2. Perundang-undangan hanya mengatur tentang batas maksimal hukuman, tetapi tidak mengatur tentang batas minimal hukuman, sehingga dalam praktek peradilan, majelis hakim seringkali dalam putusannya sangat ringan hanya beberapa bulan saja atau malah dibebaskan
  3. Pasal 303 bis ayat (1) angka 2, hanya dikenakan terhadap perjudian yang bersifat ilegal, sedangkan perjudian yang legal atau ada izin penguasa sebagai pengecualian sehingga tidak dapat dikenakan pidana terhadap pelakunya. Dalam praktek izin penguasa ini sangat mungkin disalahgunakan, seperti adanya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) dengan pejabat yang berwenang.

Menurut Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul patologi sosial, perjudian adalah pertaruhan dengan sengaja yaitu mempertaruhkan suatu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai dengan menyadari adanya resiko dan harapan-harapan tertentu dalam peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlombaan dan kejadian-kejadian yang tidak atau belum pasti hasilnya. Pengaturan perjudian sendiri dapat ditemukan dalam pasal 303 KUHP, pasal 303 bis KUHP dan UU nomor 7 tahun 1974 tentang penertiban perjudian.

Perjudian (gambling) dalam kamus Webster didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang melibatkan elemen risiko. Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya suatu kerugian. Sementara Carson dan Butcher (1992) dalam buku Abnormal Psychology and Modern Life, mendefinisikan perjudian sebagai memasang taruhan atas suatu permainan atau kejadian tertentu dengan harapan memperoleh suatu hasil atau keuntungan yang besar. Apa yang dipertaruhkan dapat saja berupa uang, barang berharga, makanan, dan lain-lain yang dianggap memiliki nilai tinggi dalam suatu komunitas. 

Definisi serupa dikemukakan oleh Stephen Lea, et al (1987) dalam buku The Individual in the Economy, A Textbook of Economic Psychology seperti yang dikutip oleh Papu (2002). Menurut mereka perjudian adalah suatu kondisi dimana terdapat potensi kehilangan sesuatu yang berharga atau segala hal yang mengandung risiko. Namun demikian, perbuatan mengambil risiko dalam perilaku berjudi, perlu dibedakan pengertiannya dari perbuatan lain yang juga mengandung risiko. Ketiga unsur dibawah ini mungkin dapat menjadi faktor yang membedakan perilaku berjudi dengan perilaku lain yang juga mengandung risiko:

  1. Perjudian adalah suatu kegiatan sosial yang melibatkan sejumlah uang (atau sesuatu yang berharga) dimana pemenang memperoleh uang dan imbalan lainnya yang dianggap berharga.
  2. Risiko yang diambil bergantung pada kejadian-kejadian di masa mendatang, dengan hasil yang tidak diketahui, dan banyak ditentukan oleh hal-hal yang bersifat kebetulan atau keberuntungan.
  3. Risiko yang diambil bukanlah suatu yang harus dilakukan, kekalahan atau kehilangan dapat dihindari dengan tidak ambil bagian dalam permainan judi.

 

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perjudian adalah perilaku yang melibatkan adanya risiko kehilangan sesuatu yang berharga dan melibatkan interaksi sosial serta adanya unsur kebebasan untuk memilih apakah akan mengambil risiko kehilangan tersebut atau tidak.

 

  1.  Motif Perjudian Kajian Psikologi

Pada salah satu ayat dalam al-Quran surat al-Baqarah [2] : 219 bahwa sesungguhnya judi tidak memberikan maslahat melainkan mudarat—judi tidak akan memberikan manfaat kepada masyarakat. Individu yang melakukan tindakan berjudi terdorong motif untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya (utility maximitation) bagi kesejahteraannya. Ekspektasi itu kemudian membuat dia melakukan spekulasi dengan cara-cara yang destruktif yang menghalalkan segala cara.

Merasakan kemenangan ketika berhasil meraup keuntungan membuat eskalasi kegembiraan (euforia) sangat tinggi dan mengantar keinginan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi faktor ini sebagai pencetus (driven) yang dapat merusak. Simak saja perilaku para penjudi, akan mempertaruhkan segala sesuatu yang dianggap sebagai harta untuk didiserahkan ditempat perjudian. Sekuensial dari perilaku tersebut akan berefek kepada tindakan-tindakan yang menyimpang lainnya (disfungtional behavior), tidak lagi mematuhi pranata-pranata sosial, norma, nilai, dan hukum positif sehingga akan menimbulkan virus dalam masyarakat, bila tidak diselesaikan secara komprehensif, baik secara persuasif dan preventif maka akan menimbulkan penyakit sosial masyarakat.

Penyakit sosial akan sulit “diobati” bilamana didukung perilaku yang menetap telah dilakukan oleh sebagian masyarakat pada generasi sebelumnya yang terus-menerus masih dilestarikan seperti perilaku sabung ayam dan sejenisnya yang di dalamnya ada unsur judi. Terdapat pula pemahaman yang keliru oleh sebagian masyarakat bahwa perilaku-perilaku yang cenderung beraroma judi dianggap sebagai permainan dan filantropi (kerelaan memberikan sumbangan kepada pihak lain) namun semua itu jelas menggambarkan model judi yang dimodifikasi.

Perilaku berjudi menjadi bahan kajian lebih lanjut mengingat perilaku tersebut sebenarnya amat sulit diberantas. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apa saja faktor yang memengaruhi perilaku tersebut ditinjau dari sudut pandang psikologi dan apakah suatu perilaku berjudi dapat dianggap sebagai perilaku yang menyimpang (patologis). Perjudian di satu pihak sangat terkait dengan kehidupan dunia bawah kita (underworld), tapi di pihak lain dilegalisasi (legitimated world), dan seakan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia rekreasi dan hiburan. Keberanian mengambil risiko dan ketangguhan menghadapi ketidakpastian dalam dunia perjudian dan bisnis merupakan dua elemen yang nuansanya sama, kendati dalam konteks yang amat berbeda. Oleh sebab itu, dalam komunitas masyarakat tertentu perjudian tidak dianggap sebagai perilaku menyimpang yang dapat menimbulkan masalah moral dalam komunitas. Berbeda dengan pendapat tersebut, DSM-IV yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Assocation (APA) yang dikutip Papu (2002) mengatakan bahwa perilaku berjudi dapat dianggap sebagai gangguan kejiwaaan yang termasuk dalam Impulse Control Disorders, jika perilaku berjudi tersebut sudah tergolong kompulsif. Hal ini didasarkan atas kriteria perilaku yang cenderung dilakukan secara berulang-ulang tanpa dapat dikendalikan, sudah mendarah daging (menetap) dan sulit untuk ditinggalkan.

  1. Perilaku Berjudi Sebagai Patologis Sosial.

Untuk memahami apakah perilaku berjudi termasuk dalam perilaku yang patologis, diperlukan suatu pemahaman tentang kadar atau tingkatan penjudi tersebut. Hal ini penting mengingat bahwa perilaku berjudi termasuk dalam kategori perilaku yang memiliki kesamaan dengan pola perilaku adiksi. Menurut Papu (2002), pada dasarnya ada tiga tingkatan atau tipe penjudi, yaitu:

  1. Social Gambler§

Penjudi tingkat pertama adalah para penjudi yang masuk dalam kategori “normal” atau seringkali disebut social gambler, yaitu penjudi yang sekali-sekali pernah ikut membeli lottery (kupon undian), bertaruh dalam pacuan kuda, bertaruh dalam pertandingan bola, permainan kartu atau yang lainnya. Penjudi tipe ini pada umumnya tidak memiliki efek yang negatif terhadap diri maupun komunitasnya, karena mereka pada umumnya masih dapat mengontrol dorongan-dorongan yang ada dalam dirinya. Perjudian bagi mereka dianggap sebagai pengisi waktu atau hiburan semata dan tidak mempertaruhkan sebagian besar pendapatan mereka ke dalam perjudian. Keterlibatan mereka dalam perjudian pun seringkali karena ingin bersosialisasi dengan teman atau keluarga. Di negara-negara yang melegalkan praktek perjudian dan masyarakat terbuka terhadap suatu penelitian seperti di USA, jumlah populasi penjudi tingkat pertama ini diperkirakan mencapai lebih dari 90% dari orang dewasa.

  1. Problem Gambler§ 

Penjudi tingkat kedua disebut sebagai penjudi “bermasalah” atau problem gambler, yaitu perilaku berjudi yang dapat menyebabkan terganggunya kehidupan pribadi, keluarga maupun karir, meskipun belum ada indikasi bahwa mereka mengalami suatu gangguan kejiwaan (National Council on Problem Gambling USA, 1997). Para penjudi jenis ini seringkali melakukan perjudian sebagai cara untuk melarikan diri dari berbagai masalah kehidupan. Penjudi bermasalah ini sebenarnya sangat berpotensi untuk masuk ke dalam tingkatan penjudi yang paling tinggi yang disebut penjudi patologis jika tidak segera disadari dan diambil tindakan terhadap masalah-masalah yang sebenarnya sedang dihadapi. Menurut penelitian Shaffer, Hall, dan Vanderbilt (1999) yang dimuat dalam website Harvard Medical School ada 3,9% orang dewasa di Amerika Bagian Utara yang termasuk dalam kategori penjudi tingkat kedua ini dan 5% dari jumlah tersebut akhirnya menjadi penjudi patologis. 

  1. Pathological Gambler§

Penjudi tingkat ketiga disebut sebagai penjudi “patologi” atau pathological gambler atau compulsive gambler. Ciri-ciri penjudi tipe ini adalah ketidakmampuannya melepaskan diri dari dorongan-dorongan untuk berjudi. Mereka sangat terobsesi untuk berjudi dan secara terus-menerus terjadi peningkatan frekuensi berjudi dan jumlah taruhan, tanpa dapat mempertimbangkan akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh perilaku tersebut, baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, karir, hubungan sosial atau lingkungan disekitarnya. American Psychiatric Association atau (APA) mendefinisikan ciri-ciri pathological gambling sebagai berikut: “The essential features of pathological gambling are a continuous or periodic loss of control over gambling; a progression, in gambling frequency and amounts wagered, in the preoccupation with gambling and in obtaining monies with which to gamble; and a continuation of gambling involvement despite adverse consequences” .

 

Meskipun pola perilaku berjudi ini tidak melibatkan ketergantungan terhadap suatu zat kimia tertentu, namun menurut para ahli, perilaku berjudi yang sudah masuk dalam tingkatan ketiga dapat digolongkan sebagai suatu perilaku yang bersifat adiksi (addictive disorder). DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-fourth edition) yang dikeluarkan oleh APA menggolongkan pathological gambling ke dalam gangguan mental yang disebut Impulse Control Disorder. Menurut DSM-IV tersebut diperkirakan 1% (-) 3% dari populasi orang dewasa mengalami gangguan ini. Individu yang didiagnosa mengalami gangguan perilaku jenis ini seringkali di identifikasi sebagai orang yang sangat kompetitif, sangat memerlukan persetujuan atau pendapat orang lain dan rentan terhadap bentuk perilaku adiksi yang lain. Individu yang sudah masuk dalam kategori penjudi patologis seringkali di iringi dengan masalah-masalah kesehatan dan emosional. Masalah-masalah tersebut misalnya kecanduan obat (Napza), alkoholik, penyakit saluran pencernaan dan pernafasan, depresi, atau masalah yang berhubungan dengan fungsi seksual (Pasternak dan Fleming, 1999). Adapun kriteria individu yang dapat digolongkan sebagai penjudi yang patologis menurut DSM-IV Screen (alat yang digunakan untuk mengukur tingkatan penjudi) adalah jika individu tersebut menunjukkan 5 (lima) faktor atau lebih dari faktor-faktor sebagai berikut: 

  1. Preoccupation Terobsesi, dengan perjudian (contoh. sangat terobsesi untuk mengulangi pengalaman berjudi yang pernah dirasakan dimasa lalu, sulit mengalihkan perhatian pada hal-hal lain selain perjudian, atau secara khusuk memikirkan cara-cara untuk memperoleh uang melalui perjudian) 
  2. Tolerance, Kebutuhan untuk berjudi dengan kecenderungan meningkatkan jumlah uang (taruhan) demi mencapai suatu kenikmatan/kepuasan yang diinginkan.
  3. Withdrawal, Menjadi mudah gelisah dan mudah tersinggung setiapkali mencoba untuk berhenti berjudi.
  4. Escape, Menjadikan perjudian sebagai cara untuk melarikan diri dari berbagai masalah hidup atau perasaan yang kurang menyenangkan (contoh: Perasaan bersalah, ketidakberdayaan, cemas, depresi, sedih) 
  5. Chasing, Setelah kalah berjudi, cenderung kembali berjudi lagi untuk mengejar kemenangan supaya memperoleh titik impas. 
  6. Lying, Berbohong kepada anggota keluarga, konselor atau terapist atau orang lain tentang keterlibatan dirinya dalam perjudian. 
  7. Loss of control, Selalu gagal dalam usaha mengendalikan, mengurangi atau menghentikan perilaku berjudi. 
  8. Illegal Acts, Terlibat dalam tindakan-tindakan melanggar hukum, seperti penipuan, pencurian, pemalsuan, dsb, demi menunjang biaya finansial untuk berjudi.
  9. Risked significant relationship, Membahayakan atau menyebabkan rusaknya hubungan persahabatan dengan orang-orang yang sangat berperan dalam kehidupan, hilangnya pekerjaan, putus sekolah atau keluarga menjadi berantakan, atau kesempatan berkarir menjadi hilang.
  10. Bailout, Mengandalkan orang lain untuk memberikan uang kepada dirinya ataupun keluarganya dalam rangka mengurangi beban finansial akibat perjudian yang dilakukan.

 

  1. Perilaku Berjudi Sebagai Penyakit Sosial

Perjudian merupakan salah satu bentuk penyakit sosial. Perjudian sudah ada di muka bumi ini beribu-ribu tahun yang lalu. Dalam bermain pun kadang-kadang kita tanpa sadar telah melakukan perbuatan yang mengandung unsur perjudian secara kecil-kecilan. Misalnya, dalam bermain kelereng, lempar dadu, bermain kartu, dan sebagainya siapa yang menang akan mendapatkan hadiah tertentu, yang kalah akan memberikan atau melakukan sesuatu sesuai kesepakatan. Semua itu menunjukkan bahwa dalam permainan tersebut ada unsur perjudian. Ada sesuatu yang dipertaruhkan dalam permainan judi.

Perjudian merupakan penyakit sosial yang sangat buruk. Kemenangan yang dihasilkan dari perjudian tidak akan bertahan lama justru akan berakibat pada pengrusakan karakter individu dan akan merusak kehidupannya. Banyak sudah fakta menceritakan bahwa pemenang judi tidak selalu memiiki hidup yang sejahtera, sebagian besar mengalami kemiskinan yang begitu parah dan mengalami alianasi (lketerasingan) dari keluarga dan masyarakat. Kehidupan yang semestinya dapat diperoleh dan dinikmati dengan keluarga dapat berubah menjadi keburukan. Benar adanya bilamana Allah dalam al-Quran surat al-Maidah [5] : 90-91 menfirmankan bahwa judi adalah perilaku syaitan, bila tidak dijauhi maka akan menimbulkan permusuhan dan kebencian. Konflik ditimbulkan akan merusak keharmonisan keluarga, dan masyarakat akhirnya kehidupan yang bermakna sebagai hamba Tuhan tidak akan diperoleh.
Kreativitas memodifikasi judi dapat kita lihat diberbagai tempat, Jenis judi pun bermacam-macam dari yang bersifat sembunyi-sembunyi sampai yang bersifat terbuka. Yang sembunyi-sembunyi misalnya Togel (totohan gelap), adu ayam jago, permainan kartu dengan taruhan sejumlah uang. Sedangkan judi yang terbuka, misalnya kuis dengan SMS dengan sejumlah hadiah uang atau barang yang dilakukan oleh berbagai media baik cetak maupun elektronik.

Perbuatan judi merupakan perilaku yang melanggar terhadap kaidah-kaidah, nilai-nilai, dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Pelanggaran ini tidak saja hanya pada adat dan kebiasaan masyarakat, tetapi juga melanggar norma hukum. Bagi individu atau kelompok yang melakukan perjudian, maka akan mendapat sanksi baik oleh masyarakat maupun berupa sanksi hukum. Sanksi masyarakat misalnya dikucilkan oleh masyarakat, dipergunjingkan, tidak dihargai dan lain sebagainya. Sedangkan secara hukum perjudian merupakan pelanggaran terhadap hukum posistif seperti yang termaktuk dalam KUHP pasal 303 dengan selama-lamanya dua tahun delapan bulan (2 tahun 8 bulan) atau denda sebanyak-banyknya sebesar Rp600.000,-

Karena menjadi penyakit sosial masyarakat, maka untuk memberantasnya diperlukan kerjasama yang terintegtasi dan konstruktif antara berbagai komponen baik masyarakat, aparat penegak hukum, dan pemerintah, seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahadiyan (2009) dan Kantor LITBANG Bandung (2005) hasil penelitian mereka menyimpulkan perlu dilakukan kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait untuk melakukan upaya pencegahan secara preventif, represif dan persuasif. Diperlukan sosialisasi secara masif untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat dengan pendekatan para tokoh agama setempat.

 

  1. Pengendalian Sosial Upaya Mencegah dan Merehabilitasi Patologi Sosial

Pengendalian sosial adalah upaya atau cara yang dilakukan masyarakat untuk menertibkan anggotanya masyarakatnya yang menyimpang, melanggar, atau membangkang terhadap nilai, aturan dan norma. Pengendalian ini dilakukan untuk mencegah munculnya penyimpangan sosial dan penyakit sosial. Pengendalian sosial dilakukan agar masyarakat mau mematuhi aturan dan norma yang berlaku. Di samping itu, pengendalian sosial dimaksudkan agar terwujud keserasian bermsayarakat, tercipta ketertiban dalam kehidupan, memperingatkan para pelaku untuk tidak berperilaku menyimpang dan bertentangan dengan nilai, norma dan aturan.

Lalu bagaimana cara pengendalian sosial, bagaimana bentuk pengendalian sosial dan lembaga apa saja yang dapat berperan dalam pengendalian sosial dan merehabilitasi patologi sosial? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, cermati uraian berikut ini. Paling tidak ada empat cara untuk pengendalian sosial, yaitu persuasif, koersif, penciptaan situasi yang dapat mengubah sikap dan perilaku, dan penyampaian nilai norma dan aturan secara berulang-ulang.

 

  1. Persuasif

Cara ini dilakukan dengan penekanan pada usaha membimbing atau mengajak berupa anjuran. Contoh, penertiban PKL (Pedagang Kaki Lima) dengan memindahkan ke lokasi- lokasi tertentun yang sudah disiapkan.

  1. Koersif

Mestinya langkah ini ditempuh setelah langkah persuasif telah dilakukan. Apabila dengan anjuran, bujukan tidak berhasil, tindakan dengan kekerasan bisa dilakukan. Contoh polisi pamong praja, membongkar paksa lapak (termpat berjualan) PKL yang menurut informasi masyarakat sering dialkukan tempat perjudian. Aparat kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang diduga melakukan praktek-praktek perjudian, menangkap bandar judi Togel dan sabung ayam untuk kemudian diproses di tindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Tindakan seperti itu, bertujuan untuk menerapi pelaku agar merasakan sanksi ketika berperilaku menyimpang sehingga ada efek jera yang dirasakan, di harapkan dengan efek tersebut pelaku akan sadar.

  1. Penciptaan Situasi yang Dapat Mengubah Sikap dan Perilaku (kompulsif)

Pengendalian sosial sangat tepat bila dilakukan dengan menciptakan situasi dan kondisi yang dapat mengubah sikap dan perilaku seseorang. Misalnya, ketika para penjudi melakukan perjudian sabung ayam tanpa mau mengindahkan ketentuan pemerintah, pemerintah, penegak hukum (kepolisian), dan para tokoh agama memberikan sosialisasi berupa himbauan-himbauan secara intensif berupa implikasi negatif terhadap kehidupa individu dan keluarga, melalui media-media efektif seperti radio atau tempat yang efektif (misalnya; balai desa, tempat ibadah, atau datangi rumah warga).

 

  1. Penyampaian Nilai, Norma dan Aturan Secara Berfulang-ulang (vervasi).

Pengendalian sosial juga dapat dilakukan dengan cara penyampaian nilai, norma, aturan secara berulang-ulang. Penyampaian ini bisa dengan cara ceramah maupun dengan dibuatkannya papan informasi mengenai aturan, nilai dan norma yang berlaku. Dengan cara demikian diharapkan nilai, norma dan aturan dipahami dan melekat pada diri individu anggota masyarakat.

 

Metode lain yang dapat dilakukakan, untuk mengendalikan dan mencegah penyakit atau penyimpangan sosial, maka bentuk-bentuk pengendalian sosial dapat dilakukan melalui cara-cara; menolak perilaku tersebut, teguran, pendidikan, agama, pengucilan, dan meminta pihak lain menanganinya.

a)      Menolak

Seseorang yang melanggar nilai, norma dan aturan mendapat cemoohan atau ejekan dari masyarakatnya, sehingga ia malu, sungkan, dan akhirnya meninggalkan perilakunya.

 

b)      Teguran

Orang yang melanggar nilai, norma dan aturan diberikan teguran, nasehat agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar nilai, norma dan aturan.

 

c)      Pendidikan

Melalui pendidikan seorang individu akan belajar nilai, norma dan aturan yang berlaku. Dengan demikian ia dituntun dan dibimbing untuk berperilaku sesuai dengan nilai, norma dan aturan yang berlaku. Pendidikan ini bisa dilakukan di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.

d)     Agama

Agama memiliki peran yang sangat besar dalam pengendalian sosial. Orang yang memiliki agama akan memahami bahwa melanggar nilai, norma dan aturan di samping ada hukuman di dunia juga ada hukuman di akherat. Dengan pemahaman ini maka, individu akan terkendali untuk tidak melanggar nilai, norma dan aturan yang berlaku.

Menurut Papu (2002) menyikapi perilaku berjudi dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa hal yang krusial untuk diperhatikan:

  1. Mengingat bahwa perjudian amat sulit untuk diberantas, maka hal pertama yg perlu diperhatikan untuk melindungi anggota keluarga agar tidak terlibat dalam perjudian adalah melalui penanaman nilai-nilai luhur di mulai dari keluarga, selaku komunitas terkecil dalam masyarakat. Kalau orangtua dapat menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anak sejak usia dini maka anak akan memiliki kontrol diri dan kontrol sosial yang kuat dalam kehidupannya, sehingga mampu memilih alternatif terbaik yang berguna bagi dirinya dan masyarakat di sekitarnya. Penanaman nilai-nilai bukan hanya sekedar dilakukan dengan kata-kata tetapi juga lebih penting lagi melalui keteladanan dari orangtua.
  2. Mengingat pula bahwa perilaku berjudi sangat erat kaitannya dengan pola pikir seseorang dalam memilih suatu alternatif, maka sangatlah perlu bagi orangtua, pendidik dan para alim ulama untuk mengajarkan pola pikir rasional. Pola pikir rasional yang saya maksudkan adalah mengajarkan seseorang untuk melihat segala sesuatu dari berbagai segi, sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak alternatif yang ditawarkan. Dengan memiliki kemampuan berpikir rasional seseorang tidak akan dengan mudah untuk mengambil jalan pintas.
  3. Bagi anda yang merasa sudah sangat sulit untuk meninggalkan perilaku berjudi, sebaiknya anda tidak segan-segan untuk meminta bantuan orang-orang professional seperti psikiater, psikolog, konselor atau terapist. Bekerjasamalah dengan mereka untuk melepaskan diri dari masalah perjudian. 
  4. Jika memang tidak memiliki pengendalian diri yang tinggi maka jangan sekali-kali anda mencoba untuk berjudi, sekalipun itu hanya perilaku berjudi tingkat pertama. Jangan pula menjadikan judi sebagai pelarian dari berbagai masalah kehidupan anda sehari-hari. Jika memang memiliki masalah mintalah bantuan pada orang-orang professional, bukan pergi ke tempat-tempat perjudian.
  5. Perkuat iman kepada Tuhan dan perbanyak kegiatan-kegiatan yang bersifat religius. Dengan meningkatkan iman dan selalu mengingat ajaran agama, sesuai dengan keyakinan masing-masing maka kemungkinan untuk terlibat perjudian secara kompulsif akan semakin kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL OBSERVASI

  1. Wawancara dengan pelaku perjudian.

Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat indonesia. Banyaknya pertandingan sepak bola yang disiarkan oleh stasiun televisi justru dijadikan sarana bermain judi. Meskipun perjudian telah di atur dalam undang-undang yang mempunyai sanksi bagi yang melanggarnya tetapi tetap saja banyak perjudian sepak bola yang terjadi dalam masyarakat. Upaya yang dilakukan oleh pihak kepolisian sendiri hanya sebatas menyebar anggota polisi berpakaian preman dilapangan, selebihnya hanya menunggu hasil laporan dari anggota masyarakat. Biasanya para pelaku mengadakan perjudian ini hanya lewat telepon atau SMS saja dan segala pembayaran dilakukan melaui transfer antar Bank. Sanksi hukuman bagi pelaku perjudian yang tertangkap sendiri adalah pidana penjara dan denda. Sampai saat ini belum ada kasus yang terungkap.

Berdasarkan observasi yang kami lakukan pada seorang pelaku penjudi yang bernama coki (nama samaran) seorang mahasiswa umur 22 tahun, berkuliah disalah satu Universitas ternama di Bandung, semester 6. saudara Coki ini mulai berjudi ketika dibangku SMA, berawal dari iseng-iseng sampai akhirnya ketagihan hingga sekarang. Saudara Coki ini biasa melakukan bermacam-macam judi, seperti judi sepak bola.menurut Dia judi sepak bola ini sangat mudah dilakukan dan hanya menghabiskan modal yang sedikit, caranya hanya bermodal SMS atau lewat telepon saja. Prosedur yang di gunakan saudara Coki ini yaitu dengan cara datang ke tempat Bandar perjudian yang tempatnya di stasiun kereta Api Bandung ataupun dapat menelpon dari rumah, kemudian pasang taruhan yang di inginkan. Dia juga sering join dengan teman dalam memasang taruhan sehingga keuntungan yang didapatkan lebih besar, kira-kira sekitar Rp 6 juta rupiah. Judi jenis ini memang tergolong aman karena sering dilakukan dirumah. Saudara Coki juga mengatakan bahwa sering terjadinya sidak aparat kepolisian di daerah stasiun kereta api. Pernah suatu hari Bandar judinya tertangkap oleh polisi. Tetapi tidak berapa lama tertangkap kemudian Bandar tersebut melakukan negisiasi agar segera dibebaskan, dengan timbal baliknya Bandar tersebut harus membayar uang sogokan sebesar Rp 1,5 juta kepada polisi. Tidak berapa lama perjudian tersebut dibuka kembali setelah Bandar judinya keluar dari penjara. Dari kejadin ini kita dapat menyimpulkan bahwa tidak adanya sikap kepatuhan terhadap hukun negara, seharusnya aparat kepolisian itu dapat menegakkan hukum-hukum yang berlaku dan memberantas penyakit masyarakat yang salah stunya adalh perjudian.

Selain judi sepak bola saudara Coki pun mengungkapkan, Dia juga sering melakukan judi kartu dalam bentuk permainan qyu-qyu ataupun  samyoung, dengan memasang sejumlah taruhan yang bervariasi. Permainan ini pun terbagi kedalam 2 kelas yaitu kelas “ daging” (skala besar) dan kelas “cucuk” (skala kecil). Keuntungan dalam permainan judi ini bisa mencapai kisaran Rp 2 juta. Kegiatan judi ini sering dilakukan di sebuah rumah di daerah Cijerah, Bandung. Kemudian tidk hanya itu perilaku berjudi ini juga dilakukan dengan pesta miras. Jadi sudah barang tentu para penjudi ssini tidak lagi mematuhi pranata-pranata sosial, norma, nilai, dan hukum positif sehingga akan menimbulkan virus dalam masyarakat.

Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Banyaknya pertandingan sepak bola yang disiarkan oleh stasiun televisi justru dapat semakin membuka kesempatan orang untuk melakukan perjudian sepak bola. Meskipun perjudian telah diatur dalam undang-undang dan mempunyai sanksi bagi yang melanggarnya tetap saja banyak perjudian sepak bola yang terjadi dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena belum pernah ada kasus perjudian sepak bola yang diungkap oleh polisi. Upaya yang dilakukan pihak kepolisian sendiri hanya sebatas menyebar anggota polisi berpakaian preman di lapangan, selebihnya hanya menunggu adanya laporan dari anggota masyarakat. Belum pernah ada kasus perjudian sepak bola yang terungkap juga disebabkan karena kegiatan yang dilakukan para penjudi dan bandar judi sangat rapi dan terorganisir, biasanya para pelaku mengadakan perjudian ini hanya lewat telepon atau SMS saja dan segala pembayaran dilakukan melalui transfer antar bank. Sanksi hukuman bagi pelaku perjudian yang tertangkap sendiri adalah pidana penjara atau denda. Sampai saat ini belum ada kasus yang terungkap.

 

Berdasarkan observasi yang kami lakukan  kami melihat para penonton pertandingan bola selalu mengadakan taruhan dengan menggunakan uang atau pulsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WAWANCARA KE INSTANSI PEMERINTAHAN

 

  1. a.    Wawancara kepada pihak terkait
  2. POLISI

Aparat Kepolisian Sektor Cidadap mengamankan dua alat judi mesin dari Terminal Lembang, Kota Lembang,Bandung Barat, Senin (31/10/2011). Tempat judi itu sudah beroperasi selama sembilan bulan. pihaknya juga memintai keterangan Bukuy (35), pemilik mesin judi, dan Heru (37), pemilik warung. “Sayangnya para pelaku perjudian melarikan diri sebelum kami sampai di lokasi,” kata Alam. Alam menambahkan, informasi adanya aktivitas judi itu berasal dari masyarakat. “Rata-rata keuntungannya Rp 300.000 per hari. Para tersangka akan diancam menggunakan Pasal 303 KUHP dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara,” kata Alam. 

 

  1. SATPOL PP

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja saat melakukan sidak di sekitar alun-alun menemukan orang-orang yang sedang berjudi, kemudian  melakukan pengrebekan terhadap arena judi Kyu-Kyu yang berada di warung remang-remang dari hasil pengrebekan itu petugas berhasil menangkap 3 pelaku salah satunya adalah merupakan oknum dari anggota polisi.

Data yang berhasil dihimpun, tiga pelaku judi yang di grebek oleh petugas tersebut adalah Sutikno, warga Kelurahan cimahi, Budiyono, warga Kelurahan Batujajar, Bandung. Penangkapan terhadap 3 pelaku judi jenis Kyu-Kyu tersebut, bermula saat petugas dari Sat Reskrim mendapatkan informasi dari warga sekitar kelurahan Kebonsari tersebut bahwa ada perjudian yang berada di pos Satpam itu.

Dari informasi tersebut petugas  langsung datang di lokasi perjudian itu, para pemain mungkin tidak mengira akan ada sidak petugas Satpol PP, yang menangkapnya karena mereka sedang bermain dengan oknum polisi.

Namun tanpa disadari oleh para pelaku petugas yang datang dengan berpakaian preman langsung datang di lokasi judi itu dan langsung mengrebek para pemain.

Saat dilakukan pengrebekan, satu oknum anggota polisi yang ikut tertangkap dalam perjudian tersebut masih berseragam lengkap, pasalnya anggota tersebut dalam keadaan piket jaga di bank itu, namun malah ikut dalam permainan judi Kyu-Kyu itu. “Setelah tertangkap semua pelaku langsung diamankan di Mapolres untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, selain itu sejumlah barang bukti juga sudah kita amankan guna penyelidikan,” terang Kasubbag Humas Polres Bandung Barat.
Dari tangan para pelaku petugas berhasil menyita barang bukti berupa uang tunai senilai Rp 290.000, satu set katu Domino, dan satu buah buku, serta satu buah kursi yang digunakan para pelaku saat bermain judi tersebut.

  1. b.             Alternatif kebijakan yang tepat sasaran kepada masyarakat

Perjudian sudah menjadi penyakit dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Bahkan masalah perjudian sudah menjadi penyakit akut masyarakat, maka perlu upaya yang sungguh-sungguh dan sistematis, tidak hanya dari pemerintah dan aparat penegak hukum saja, tetapi juga dari kesadaran hukum dan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama dan bahu membahu menanggulangi dan memberantas semua bentuk perjudian.

Regulasi yang ada saat ini belum mampu menjawab permasalahan perjudian di Indonesia. Pidana berat belum tentu mampu memberantas perjudian. Diperlukan mens rea atau niat dari masyarakat yang perlu menjadi pertimbangan dalam membuat peraturan yang benar-benar mampu menutupi ruang untuk melakukan perjudian. Untuk itu perlu dibuat peraturan baru yang tidak hanya memberikan peran penting kepada aparat hukum dan pemerintah dalam menangani perjudian tetapi juga peran penting kepada masyarakat

 

 

 

  1. c.              Rencana tindakan

Perjudian tetap saja sulit untuk diberantas, jangankan diberantas dikurangi saja sulit, perjudian tetap eksis dimasyarakat. Memberantas perjudian layaknya mengosongkan air laut. Meski pidananya sudah jelas dan perjudian memang salah serta sudah dikonstruksikan sebagai tindak pidana oleh KUHP. Ada wacana yang menyebutkan agar perjudian dilegalkan sekalian dengan membuat pengawas yang ketat atas perjudian. Jika dikaji lebih mendalam perjudian pada dasarnya bagian dari perikatan dan masuk pada ranah perdata.

Jika dilihat dari segi Kriminologi, dalam penanganan perjudian Kriminologi memiliki peran besar agar memberikan seluk-beluk tentang perjudian sehingga bisa dipakai dalam hukum pidana untuk dituangkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sesuai dengan manfaat Kriminologi yaitu :

  1. Salah satu dasar /latar belakang ilmu untuk profesi dan pekerja sosial dapat menggunakan kriminologi dalam menaggulangi masalah masyarakat yang ditangani. Dalam hal ini Kriminologi dapat dipakai sebagai cara dalam penanggulangan perjudian. Sehingga bisa diketahaui faktor yang menyebabkan tetap saja dilakukan oleh masyarakat.
  2. Untuk menghindarkan rasa benci atau rasa simpati yang tidak positif/tidak sehat pada pelaku kejahatan. Pandangan masyarakat yang menganggap negatif terhadap pelaku kejahatan dalam perjudian bisa dicegah.
  3. Manfaat lain baik bagi pribadi, masyarakat maupun ilmu pengetahuan sendiri. Kriminologi memberikan masukan dalam bidang akademik terutama dalam hal edukasi mengenai ilmu dan pengetahuan tentang perjudian.

 

Perjudian itu sendiri dapat digolongkan sebagai kejahatan konvensional karena sampai saat ini justru menjadi kebiasaan yang sulit untuk diberantas dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Perkembangan dari perjudian itu sendiri saat dapat digolongkan sebagai kejahatan terorganisasi. Karena saat ini malah dilegalkan dan dalam pelaksanaannya sudah terorganisir, bahkan bisa juga dikategorikan sebagai kejahatan profesional yang mana saat ini perjudian jusrtu dijalankan sebagai profesi yang menetap yang memberikan penghasila yang menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan peninjauan dilapangan dilingkungan masyarakat sehari-hari, terdapat berbagai hal yang mendorong mengapa melakukan perjudian. Ada yang hanya sekedar iseng, menambah uang saku bahkan untuk mata pencaharian. Ada yang melakukan dengan intensitas yang jarang, sering bahkan ada yang melakukannya setiap. Jika dibandingkan dengan pemasukan dan pengeluaran yang melakukan perjanjian sangat timpang. Pengeluaran untuk perjudian cenderung lebih besar daripada pemasukannya. Tetapi hal itu tidak menjadi penghalang bagi pelaku perjudian. Faktanya ketagihan untuk mendapat keuntungan dalam perjudian menjadi fakor utama dalam perjudian. Kesukaan dengan dunia sepakbola hanyalah alasan accesoir dalam melakukan perjudian.

Oleh karena itu aparat penegak hukum segera memberantas permaslahan perjudian ini sampai keakar-akarnya. Di butuhkan kerjasama dengan semua anggota masyarakat untuk mengawasi dan melaporkan jika ada orang-orang yang melakukan perjudian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Perilaku perjudian jelas sangat bertentangan dengan norma, nilai, dan hukum yang bersumber dari agama dan hukum positif yang berlaku di Indonesia. Motif berjudi sebenarnya terobsesi oleh adanya insentif ekonomi yang bagi pelaku diekspektasikan akan memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat maka dengan tercetuslah perilaku judi yang bila dianggap sebagai adiksi maka kemudian berubah menjadi kompulsif.

Dari uraian tersebut, dapat dberikan kesimpulan, bahwa:

  1.  Individu yang melakukan tindakan berjudi terdorong motif untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya (utility maximitation) bagi kesejahteraannya. Sekuensial dari perilaku tersebut akan berefek kepada tindakan-tindakan yang menyimpang lainnya (disfungtional behavior), tidak lagi mematuhi pranata-pranata social, norma, nilai, dan hukum positif sehingga akan menimbulkan virus dalam masyarakat. Bagi kajian psikologi sosial, perilaku berjudi dapat dianggap sebagai gangguan kejiwaaan yang termasuk dalam Impulse Control Disorders bilamana perilaku tersebut cenderung melakukannya secara masif dan intens dan sifatnya menetap dan sulit untuk dikendalikan ketergantungan terhadap judi dapat dikategorikan sebagai adiksi kompulsif.

 

  1. Perjudian merupakan penyakit sosial yang berimplikasi buruk terhadap lingkungan sosial masyarakat. Kemenangan yang diperoleh dari perjudian tidak akan bertahan lama justru akan berakibat pada pengrusakan karakter individu dan kehidupannya. Banyak sudah fakta menceritakan bahwa pemenang judi tidak selalu memiiki hidup yang sejahtera, sebagian besar mengalami kemiskinan yang begitu parah dan mengalami alianasi (keterasingan) dari keluarga dan masyarakat. Kehidupan yang semestinya dapat diperoleh dan dinikmati dengan keluarga dapat berubah menjadi keburukan. Benar adanya bilamana Allah dalam al-Quran surat al-Maidah [5]:90-91 menfirmankan bahwa judi adalah perilaku syaitan, bila tidak dijauhi maka akan menimbulkan permusuhan dan kebencian.

 

  1.  karena keburukan yang ditimbulkannya maka diperlukan suatu perencanaan yang strategis antar komponen, baik instansi pemerintah, aparat penegak hukum, dan tokoh-tokoh masyarakat untuk selalu berikhtiar mengeliminir perilaku judi dan berbagai media judi dengan berbagai tindakan. Tindakan yang dilakukan harus menyentuh akar masalah, dengan melakukan kajian yang komrehensif akan memberikan gambaran secara holistik persoalan dan bagaimana untuk mencegahnya. Terdapat beberapa alternatif produktif dalam mengendalikan dan merehabilitasi perilaku perjudian tersebut. Namun langkah yang kecil tetapi dapat memberikan kontribusi yang sangat besar adalah dengan memberikan edukasi dan pemahaman dari orang tua kepada anak dan didukung dengan pemahaman agama yang baik akan menjadi imunitas yang kuat untuk menangkal penyakit judi yang dianggap sebagai patologi sosial.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN-LAMPIRAN

  1. Foto-foto observasi

 

 

  1. Pelaku perjudian                                                  

                         judi di warung                               judi di kosn

 

 

  1. Bukti-bukti (alat-alat yang digunakan ketika berjudi)

 

             

Kartu remi beserta uang taruhan               judi togel

 

            

Judi online                                                 judi togel

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Alquran. 1971. Al quran dan Tafsir. Kerjasama Departemen Agama dengan Lembaga Percetakan Al-Quran Raja Fahd, Arab Saudi.

 

  • Carson, C. Robert., dan Butcher, James N. 1992. Abnormal Psychology and Modern Life. Ninth edition. New York: Harper Collins Publishers Inc.

 

 

  • Kartono, Kartini. 2003. Patologi Sosial. Rajagrafindo Press. Jakarta.

 

  • Papu, Johanes. 2002. Perilaku Berjudi ://www.e-psikologi.com/epsi/sosial_detail.asp/diakses tanggal 12 Maret 2010.

 

 

 

  • Shaffer, H. J., Hall, M. N., dan Vander Bilt, J. (1999). Estimating the Prevalence of Disordered Gambling Behavior in the United States and Canada: A Research Synthesis. American Journal of Public Health, 89, 1369-1376. http://www.basisonline.org/2001/03/index.html/ diakses tanggal 12 Maret 2010.