Budaya Kerja


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Terdapat dua alasan penting mengapa nelayan yang menggeluti bidang kerja perikanan laut dan tinggal di komunitas-komunitas pantai menjadi golongan penduduk yang memerlukan perhatian khusus di Indonesia. Pertama, di Indonesia adalah sebuah negara Maritim dengan garis pantai kurang lebih 80.000 km. Kedua, perikanan laut merupakan bagian dari sektor pertanian, dan menurut angka statistik 1989 angkatan kerja pada sektor pertanian ini masih mendominasi seluruh angkatan kerja di Indonesia.

Dari sudut pemililikan modal, masyarakat nelayan dapat dibagi dua, yaitu toke pemilik modal (perahu, jaring, dan uang) dan ”nelayan yang tidak memiliki modal, dan bekerja pada toke, juga adalah wajar lebih miskin daripada toke.

  1. B.     Rumusan Masalah

Belum banyak penelitian-penelitian sosial dengan hasil yang menonjol yang berbicara tentang masyarakat nelayan di Indonesia, apalagi yang sudah diterbitkan untuk umum. Beberapa rumusan masalah yang dibahas pada makalah ini yaitu :

  1. Bagaimana Gambaran umum Budaya Kerja Masyarakat Nelayan?
  2. Bagaimana sistem produksi dan distribusi para nelayan dalam peningkatan kesejahteraan hidup?
  3. Bagaimana budaya kerja masyarakat nelayan di desa jatirejo dalam upaya peningkatan mutu kerja?
    1. C.    Tujuan

Tujuan dari penelitian lapangan ini adalah:

  1. Menjelaskan  Gambaran umum desa jati rejo
  2. Menjelaskan  sistem produksi dan distribusi para nelayan dalam peningkatan kesejahteraan hidup
  3. Mendiskripsikan  pola kehidupan rumah tangga nelayan dalam kehidupan sehari-hari
  4. Menjelaskan  budaya kerja masyarakat nelayan di desa jatirejo dalam upaya peningkatan mutu kerja
  5. D.    Ruang Lingkup Dan Metode

Ruang lingkup wilayah adaalah mesyarakat nelayan Desa Jatirejo yang secara administrasi termasuk Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan , profinsi jawa Timur. Desa Jatirejo merupakan desa pantai yang memiliki 111 dusun meliputi 72 rukun tatangga (RT). Sebagian besar penduduk di Jatirejo ini adaalah nelayan yang mengnadalkan lingkungan periran laut sebagai sumber penghidupan.

Desa ini dipilih sebagai daerah sampel berdasarkan beberapa kriteria, yaitu disamping sebagian besar penduduknya bermatapencaharian nelayan juga peralatannya juga dipakai untuk kegiatan nelayan yang tradisional. Begitupula seperti dermaga, tempat pelelangan ikan (TPI), koperasi unit desa (KUD) Mina Bakti serta pos keamanan.

Metode penelitian yang digunakan untuk merekam data dan informasi “ Budaya Kerja Nelayan” adalah metode peniltian kulitatif dengan observasi partisipasi dan interview mendalam. Yang dijadikan narasumber antara lain kepala desa, ustad, padagang, juragan, pimpinan unit koperasi, juru mudi, juru mesin, juru payang, juru bersih, guru sekolah, dan isteri nelayan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORITIS

 

  1. A.      Pengertian Budaya Dan Kebudayaan

Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo 1993). Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia. Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar. Setiap masyarakat memiliki budaya tersendiri yangsecara turun temurun di akukan dan masih bertahan sampai sekarang. Budaya merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi suatu golongan, etnik, komunitas dan sebagainya sebagi suatu identitas diri. Dengan budaya seseorang dapat mengeksplorasi kemampuan yangada dalam dirinya berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku didalamnya dan diatur berdasarkan ketentuan yang ada sejak zaman dahulu pada suatu golongan tertentu.

  1. B.       Pengertian Budaya Kerja

Budaya Kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja. (Sumber : Drs. Gering Supriyadi,MM dan Drs. Tri Guno, LLM ).

Suatu keberhasilan kerja, berakar pada nilai-nilai yang dimiliki dan perilaku yang menjadi kebiasaannya. Nilai-nilai tersebut bermula dari adat kebiasaan, agama, norma dan kaidah yang menjadi keyakinannya menjadi kebiasaan dalam perilaku kerja atau organisasi. Nilai-nilai yang telah menjadi kebiasaan tersebut dinamakan budaya. Oleh karena budaya dikaitkan dengan mutu atau kualitas kerja, maka dinamakan budaya kerja.

Kata budaya itu sendiri adalah sebagai suatu perkembangan dari bahasa sansekerta ‘budhayah’ yaitu bentuk jamak dari buddhi atau akal, dan kata majemuk budi-daya, yang berarti daya dari budi, dengan kata lain ”budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa. Sedangkan kebudayaan merupakan pengembangan dari budaya yaitu hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut”.

Pengertian kebudayaan banyak dikemukakan oleh para ahli seperti Koentraningrat, yaitu; ”kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakukan yang teratur oleh tatakelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat”.

Budaya kerja, merupakan sekumpulan pola perilaku yang melekat secara keseluruhan pada diri setiap individu dalam sebuah organisasi. Membangun budaya berarti juga meningkatkan dan mempertahankan sisi-sisi positif, serta berupaya membiasakan (habituating process) pola perilaku tertentu agar tercipta suatu bentuk baru yang lebih baik.

Adapun pengertian budaya kerja menurut Hadari Nawawi dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia menjelaskan bahwa:

Budaya Kerja adalah kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang oleh pegawai dalam suatu organisasi, pelanggaraan terhadap kebiasaan ini memang tidak ada sangsi tegas, namun dari pelaku organisasi secara moral telah menyepakati bahwa kebiasaan tersebut merupakan kebiasaan yang harus ditaati dalam rangka pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai tujuan.

Dari uraian di atas bahwa, budaya kerja merupakan perilaku yang dilakukan berulang-ulang oleh setiap individu dalam suatu organisasi dan telah menjadi kebiasaan dalam pelaksanaan pekerjaan.

Adapun Menurut Triguno dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia menerangkan bahwa:

Budaya Kerja adalah suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi yang tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja.

Taliziduhu Ndraha dalam buku Teori Budaya Kerja, mendefinisikan budaya kerja, yaitu; ”Budaya kerja merupakan sekelompok pikiran dasar atau program mental yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan kerjasama manusia yang dimiliki oleh suatu golongan masyarakat”.

Sedangkan Menurut Osborn dan Plastrik dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia menerangkan bahwa: “Budaya kerja adalah seperangkat perilaku perasaan dan kerangka psikologis yang terinternalisasi sangat mendalam dan dimiliki bersama oleh anggota organisasi”.

Dari uraian-uraian di atas bahwa, budaya kerja merupakan falsafah sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, dan kekuatan pendorong yang dimiliki bersama oleh setiap individu dalam lingkungan kerja suatu organisasi.

Jika dikaitkan dengan organisasi, maka budaya kerja dalam organisasi menunjukkan bagaimana nilai-nilai organisasi dipelajari yaitu ditanam dan dinyatakan dengan menggunakan sarana (vehicle) tertentu berkali-kali, sehingga agar masyarakat dapat mengamati dan merasakannya.

Terbentuknya Budaya Kerja

Budaya kerja berbeda antara organisasi satu dengan yang lainnya, hal itu dikarenakan landasan dan sikap perilaku yang dicerminkan oleh setiap orang dalam organisasi berbeda. Budaya kerja yang terbentuk secara positif akan bermanfaat karena setiap anggota dalam suatu organisasi membutuhkan sumbang saran, pendapat bahkan kritik yang bersifat membangun dari ruang lingkup pekerjaaannya demi kemajuan di lembaga pendidikan tersebut, namun budaya kerja akan berakibat buruk jika pegawai dalam suatu organisasi mengeluarkan pendapat yang berbeda hal itu dikarenakan adanya perbedaan setiap individu dalam mengeluarkan pendapat, tenaga dan pikirannya, karena setiap individu mempunyai kemampuan dan keahliannya sesuai bidangnya masing-masing.

Untuk memperbaiki budaya kerja yang baik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk merubahnya, maka itu perlu adanya pembenahan-pembenahan yang dimulai dari sikap dan tingkah laku pemimpinnya kemudian diikuti para bawahannya, terbentuknya budaya kerja diawali tingkat kesadaran pemimpin atau pejabat yang ditunjuk dimana besarnya hubungan antara pemimpin dengan bawahannya sehingga akan menentukan suatu cara tersendiri apa yang dijalankan dalam perangkat satuan kerja atau organisasi.

Maka dalam hal ini budaya kerja terbentuk dalam satuan kerja atau organisasi itu berdiri, artinya pembentukan budaya kerja terjadi ketika lingkungan kerja atau organisasi belajar dalam menghadapi permasalahan, baik yang menyangkut masalah organisasi.

  1. C.      Tujuan Atau Manfaat Budaya Kerja

Budaya kerja memiliki tujuan untuk mengubah sikap dan juga perilaku SDM yang ada agar dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang. Manfaat dari penerapan Budaya Kerja yang baik :

  1. Meningkatkan jiwa gotong royong
  2. Meningkatkan kebersamaan
  3. Saling terbuka satu sama lain
  4. Meningkatkan jiwa kekeluargaan
  5. Meningkatkan rasa kekeluargaan
  6. Membangun komunikasi yang lebih baik
  7. Meningkatkan produktivitas kerja
  8. Tanggap dengan perkembangan dunia luar, dll.

 

  1. D.    Budaya Kerja Masyarakat Nelayan

           Sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan (Ginkel, 2007). Baik nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan.

           Bagi masyarakat  nelayan, kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai ”pedoman kehidupan”, referensi pola-pola kelakuan sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa  yang terjadi di lingkungannya (Keesing, 1989:68-69). Setiap gagasan dan praktik kebudayaan harus bersifat fungsional dalam kehidupan masyarakat. Jika tidak, kebudayaan itu akan hilang dalam waktu yang tidak lama. Kebudayaan haruslah membantu kemampuan survival masyarakat atau penyesuaian diri individu terhadap lingkungan kehidupannya. Sebagai suatu pedoman untuk bertindak bagi warga masyarakat, isi kebudayaan adalah rumusan dari tujuan-tujuan dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu, yang disepakati secara sosial (Kluckhon, 1984:85, 91).

               Perspektif antropologis untuk memahami eksistensi suatu masyarakat bertitik tolak dan berorientasi pada hasil hubungan dialektika antara manusia, lingkungan, dan kebudayaannya. Karena itu, dalam beragam lingkungan yang melingkupi kehidupan manusia,  satuan sosial yang terbentuk melalui proses demikian akan menmpilkan karakteristik budaya yang berbeda-beda.  Dengan demikian, sebagai upaya memahami masyarakat nelayan, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, berikut ini akan dideskripsikan beberapa aspek antropologis yang dipandang penting sebagai pembangun identitas kebudayaan masyarakat nelayan, seperti sistem gender, relasi patron-klien, pola-pola eksploitasi sumber daya perikanan, dan kepemimpinan sosial.

 

 

 

 

 

BAB III

BUDAYA KERJA MASYARAKAT NELAYAN

 

  1. A.    Budaya masyarakat Nelayan Indonesia

Sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan2. Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan (Ginkel, 2007). Baik nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan. Dalam tulisan ini, saya memahami konstruksi masyarakat nelayan dengan mengacu pada konteks pemikiran di atas, yaitu suatu konstruksi masyarakat yang kehidupan sosial budayanya dipengaruhi secara signifikan oleh eksistensi kelompok – kelompok sosial yang kelangsungan hidupnya bergantung pada usaha pemanfaatan sumber daya kelautan dan pesisir. Dengan  emperhatikan struktur sumber daya ekonomi lingkungan yang menjadi basis kelangsungan hidup dan sebagai satuan sosial, masyarakat nelayan memiliki identitas kebudayaan yang berbeda dengan satuan-satuan sosial lainnya, seperti petani di dataran rendah, peladang di lahan kering dan dataran tinggi, kelompok masyarakat di sekitar hutan, dan satuan sosial lainnya yang hidup di daerah perkotaan. Bagi masyarakat nelayan, kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai ”pedoman kehidupan”, referensi pola-pola kelakuan sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya (Keesing, 1989:68-69). Setiap gagasan dan praktik kebudayaan harus bersifat fungsional dalam kehidupan masyarakat. Jika tidak, kebudayaan itu akan hilang dalam waktu yang tidak lama. Kebudayaan haruslah membantu kemampuan survival masyarakat atau penyesuaian diri individu terhadap lingkungan kehidupannya. Sebagai suatu pedoman untuk bertindak bagi warga masyarakat, isi kebudayaan adalah rumusan dari tujuan-tujuan dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu, yang disepakati secara sosial (Kluckhon, 1984:85, 91). Perspektif antropologis untuk memahami eksistensi suatu masyarakat bertitik tolak dan berorientasi pada hasil hubungan dialektika antara manusia, lingkungan, dan kebudayaannya. Karena itu, dalam beragam lingkungan yang melingkupi kehidupan manusia, satuan sosial yang terbentuk melalui proses demikian akan menmpilkan karakteristik budaya yang berbeda-beda. Dengan demikian, sebagai upaya memahami masyarakat nelayan, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, berikut ini akan dideskripsikan beberapa aspek antropologis yang dipandang penting sebagai pembangun identitas kebudayaan masyarakat nelayan, seperti sistem gender, relasi patron-klien, pola-pola eksploitasi sumber daya perikanan, dan kepemimpinan sosial.

  1. B.     Sistem Gender

Sistem gender adalah sistem pembagian kerja secara seksual (the division of labor by sex) dalam masyarakat nelayan yang didasarkan pada persepsi kebudayaan yang ada. Dengan kata lain, sistem gender merupakan kontruksi sosial dari masyarakat nelayan yang terbentuk sebagai hasil evolutif dari suatu proses dialektika antara manusia, lingkungan, dan kebudayaannya. Sebagai produk budaya, sistem gender diwariskan secara sosial dari generasi ke generasi. Berdasarkan sistem gender masyarakat nelayan, pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan ”laut” merupakan ”ranah kaum laki-laki”, sedangkan wilayah ”darat” adalah ranah kerja ”kaum perempuan”. Pekerjaan-pekerjaan di laut, seperti melakukan kegiatan penangkapan, menjadi ranah laki-laki karena karakteristik pekerjaan ini membutuhkan kemampuan fisik yang kuat, kecepatan bertindak, dan berisiko tinggi. Dengan kemampuan fisik yang berbeda, kaum perempuan menangani pekerjaan-pekerjaan di darat, seperti mengurus tanggung jawab domestik, serta aktivitas sosial-budaya dan ekonomi. Kaum perempuan memiliki cukup banyak waktu untuk menyelesaikan tangung jawab pekerjaan tersebut. Sebagian besar aktivitas perekonomian di kawasan pesisir melibatkan kaum perempuan dan sistem pembagian kerja tersebut telah menempatkan kaum perempuan sebagai “penguasa aktivitas ekonomi pesisir”. Dampak dari sistem pembagian kerja ini adalah kaum perempuan mendominasi dalam urusan ekonomi rumah tangga dan pengambilan keputusan penting di rumah tangganya (Kusnadi, 2001). Dengan demikian, kaum perempuan tidak berposisi sebagai ”suplemen” tetapi bersifat ”komplemen” dalam menjaga kelangsungan hidup rumah tangganya. Persepsi masyarakat nelayan terhadap perempuan yang bekerja di sektor publik terbagi menjadi tiga, yaitu: persepsi konservatif, moderat bersyarat, dan kontekstual dinamis (Kusnadi, Hari Sulistiyowati, Adi Prasodjo, dan Sumarjono, 2006:67-76). Jika persepsi ”konservatif” dan pandangan ”moderat bersyarat” dianut oleh sebagian kecil masyarakat nelayan, sebaliknya pandangan ”kontekstual-dinamis” dianut oleh sebagian besar warga masyarakat nelayan. Persepsi kontekstual-dinamis lebih rasional dalam menilai perempuan pesisir yang bekerja sesuai dengan kebutuhan dan kondisi-kondisi sosial ekonomi lokal. Persepsi ini memberikan ruang yang luas bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam kegiatan publik dengan tidak mengorbankan tanggung jawab domestiknya.3 Dalam rumah tangga nelayan miskin, kaum perempuan, isteri nelayan, mengambil peranan yang strategis untuk menjaga integrasi rumah tangganya. Modernisasi perikanan yang berdampak serius terhadap proses pemiskinan telah menempatkan kaum perempuan sebagai penanggung jawab utama kelangsungan hidup rumah tangga nelayan (Kusnadi, 2003:69-83). Jika pemerintah menggagas program-program pemberdayaan untuk mengatasi kemiskinan nelayan, kaum perempuan dapat ditempatkan sebagai subjek pemberdayaan sosial-ekonomi. Dengan demikian, upaya untuk mencapai tujuan pemberdayaan dapat ditempuh secara tepat dan efisien. Prinsip-prinsip relasi patron-klien berlaku juga pada masyarakat nelayan. Unsur unsur sosial yang berpotensi sebagai patron adalah pedagang (ikan) berskala besar dan kaya, nelayan pemilik (perahu) (orenga, Madura), juru mudi (juragan laut atau pemimpin awak perahu), dan orang kaya lainnya. Mereka yang berpotensi menjadi klien adalah nelayan buruh (pandhiga, Madura) dan warga pesisir yang kurang mampu sumber dayanya. Secara intensif, relasi patron-klien ini terjadi di dalam aktivitas pranata ekonomi dan kehidupan sosial di kampung. Para patron ini memiliki status dan peranan sosial yang penting dalam kehidupan masyarakat nelayan (Kusnadi, 2000). Kompleksitas relasi sosial patron-klien (vertikal) dan relasi sosial horisontal di antara mereka merupakan urat-urat struktur sosial masyarakat nelayan. terikat oleh hubungan kerja sama ekonomi yang erat. Pedagang perantara menyediakan bantuan dan pinjaman (uang) ikatan untuk nelayan pemilik dan nelayan buruh. Nelayan pemilik menyediakan bantuan dan pinjaman ikatan kepada nelayan buruh. Hubungan kerja sama ekonomi di antara mereka diikat oleh relasi patron-klien. Relasi sosial ekonomi bebasis patron-klien ini berlangsung intensif dan dalam jangka panjang. Relasi sosial ekonomi akan berakhir jika terjadi persoalan yang tidak bisa diatasi di antara mereka, sehingga pihak nelayan pemilik dan nelayan buruh harus melunasi utangutangnya kepada pedagang perantara. Sedemikian dalamnya relasi patron-klien mendasari aktivitas ekonomi nelayan, sehingga ada peneliti yang menyebut organisasi ekonomi nelayan sebagai organisasi ”ekonomi patron-klien” (Elfindri. 2002). Selain di sektor ekonomi, relasi-relasi patron-klien juga terjadi intensif di kampung-kampung nelayan yang tingkat kemiskinannya tinggi. Sebagai contoh, dalam jaringan sosial berbasis hubungan ketetanggaan, orang-orang yang mampu (pedagang, nelayan pemilik, atau pihak lainnya) dan memiliki sumber daya ekonomi lebih dari cukup akan membantu tetangganya yang kekurangan. Biasanya bantuan tersebut berupa barangbarang natura, makanan, informasi, pakaian, dan upah jasa. Mereka yang telah ditolong itu akan membalas kebaikan tersebut dengan kesiapan menyediakan jasa tenaganya untuk membantu patron. Aktualisasi relasi patron-klien ini merupakan upaya menjaga kerukunan bersama, sehingga efek negatif kesenjangan sosial di kalangan masyarakat nelayan dapat diminimalisasi (Kusnadi, 2000). Realitas sosial demikian dan masih berfungsinya pranata-pranata budaya itu menunjukkan bahwa upaya sebagian akademisi memahami masalah sosial dalam masyarakat nelayan dari perspektif kelas, bukan hanya tidak tepat, tetapi juga menyesatkan secara akademis.

  1. C.    Pola-pola Eksploitasi Sumberdaya

Dalam konteks hubungan eksploitasi sumber daya perikanan, masyarakat nelayan kita memerankan empat perilaku sebagai berikut: (1) mengeksploitasi terus-menerus sumber daya perikanan tanpa memahami batas-batasnya; (2) mengeksploitasi sumber daya perikanan, disertai dengan merusak ekosistem pesisir dan laut, seperti menebangi hutan bakau serta mengambil terumbu karang dan pasir laut; (3) mengeksploitasi sumber daya perikanan dengan cara-cara yang merusak (destructive fishing), seperti kelompok nelayan yang melakukan pemboman ikan, melarutkan potasium sianida, dan mengoperasikan jaring yang merusak lingkungan, seperti trawl atau minitrawl; serta (4) mengeksploitasi sumber daya perikanan dipadukan dengan tindakan konservasi, seperti nelayan-nelayan yang melakukan penangkapan disertai dengan kebijakan pelestarian terumbu karang, hutan bakau, dan mengoperasikan jaring yang ramah lingkungan (Kusnadi, 2009:126-127). Perilaku pertama, kedua, dan ketiga dianut oleh sebagian besar nelayan kita sebagai konsekuensi dari persepsi yang kuat terhadap sumber daya perikanan atau sumber daya kelautan yang bersifat open access bagi siapa pun yang mau memanfaatkannya. Perilaku keempat adalah perilaku minoritas di kalangan masyarakat nelayan, seperti ditunjukkan oleh adanya komunitas-komunitas adat atau komunitas lokal yang mengelola sumber daya perikanan untuk memperkuat kepentingan ekonomi kolektif, kemandirian sosial, dan kelangsungan hidup. Komunitas-komunitas adat seperti ini tersebar di berbagai wilayah tanah air. Mereka menjaga dengan baik pranata-pranata pengelolaan sumber daya laut yang dimilikinya Klaim pemilikan atas sumber daya komunal ini dilegitimasi oleh sejarah sosial dan unsur-unsur identitas etnisitas yang mereka miliki (Kusnadi, 2009:127). Perilaku eksploitatif yang tak terkendali berimplikasi luas terhadap kelangkaan sumberdaya perikanan dan kemiskinan nelayan. Di samping itu, kompetisi antarnelayan dalam memperebutkan sumber daya perikanan terus meningkat, sehingga berpotensi menimbulkan konflik secara eksplosif di berbagai wilayah perairan, khususnya di kawasan yang menghadapi kondisi overfishing (tangkap lebih). Kondisi-kondisi umum yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi timbulnya konflik nelayan adalah sebagai berikut:

a)      Kelangkaan atau semakin berkurangnya sumber daya perikanan, khususnya di perairan pantai, dan kondisi overfishing, yang disebabkan oleh beberapa hal penting, yaitu: eksploitasi berlebihan dan kerusakan ekosistem pesisir-laut.

b)      Kegiatan eksploitasi sumber daya perikanan tidak disertai dengan kesadaran dan visi kelestarian atau keberlanjutan dalam mengelola lingkungan pesisir-laut, sehingga terjadi ketimpangan.

c)      Kegagalan pembangunan pedesaan di wilayah kabupaten/kota pesisir, sehingga meningkatkan tekanan penduduk terhadap sumber daya laut dan kompetisi semakin meningkat.

d)     Belum adanya perencanaan dan aplikasi kebijakan pembangunan wilayah pesisir secara terpadu dengan melibatkan stakeholders yang luas.

Selain itu, sebab-sebab khusus timbulnya konflik nelayan di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Pelanggaran jalur-jalur penangkapan, khususnya di perairan pantai (inshore).
  2. Perebutan wilayah tangkapan (fishing grounds).
  3. Perebutan lokasi rumpon dan pencurian ikan di lokasi rumpon.
  4. Pengoperasian alat tangkap yang tingkat kualitasnya berbeda di antara dua kelompok nelayan (misalnya, nelayan pancingan dengan nelayan payang), sehingga hasil tangkapan yang diperoleh timpang.
  5. Pengoperasian alat tangkap yang merusak kelestarian sumber daya perikanan, seperti minitrawl dan sejenisnya.
  6. Penangkapan yang merusak lingkungan, seperti dengan bom ikan, potasium, dan sebagainya.

Dalam berbagai kasus konflik nelayan, sebab-sebab di atas sering saling tumpang tindih. Upaya untuk mengurangi tekanan penduduk terhadap sumber daya laut dan mengatasi overfishing melalui diversifikasi pekerjaan atau konversi pekerjaan tidak mudah dilakukan karena terbatasnya peluang kerja lainnya (off-fishing) di daerah pesisir. Ketergantungan nelayan terhadap laut sangat tinggi.

  1. D.    Kepemimpinan Sosial

Sebagai suatu kesatuan sosial-budaya, masyarakat nelayan memiliki ciri-ciri perilaku sosial yang dipengaruhi oleh karakteristik kondisi geografis dan matapencaharian penduduknya. Sebagian dari ciri-ciri perilaku sosial tersebut adalah sebagai berikut :

1)      Etos kerja tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai kemakmuran.

2)      Kompetitif dan mengandalkan kemampuan diri untuk mencapai keberhasilan.

3)      Apresiasi terhadap prestasi seseorang dan menghargai keahlian.

4)      Terbuka dan ekspresif, sehingga cenderung “kasar”.

5)      Solidaritas sosial yang kuat dalam menghadapi ancaman bersama atau membantu sesama ketika menghadapi musibah.

6)      Kemampuan adaptasi dan bertahan hidup yang tinggi.

7)      Bergaya hidup “konsumtif “.

8)      Demonstratif dalam harta-benda (emas, perabotan rumah, kendaraan, bangunan rumah, dan sebagainya) sebagai manifestasi “keberhasilan hidup”.

9)      ”Agamis”, dengan sentimen keagamaan yang tinggi.

10)  ”Temperamental”, khususnya jika terkait dengan ”harga diri”.

Salah satu ciri perilaku sosial dari masyarakat pesisir yang terkait dengan sikap temperamental dan harga diri tersebut dapat disimak dalam pernyataan antropolog Belanda di bawah ini (Boelaars, 1984:62):

Orang pesisir memiliki orientasi yang kuat untuk merebut dan meningkatkan kewibawaan atau status sosial. Mereka sendiri mengakui bahwa mereka cepat marah, mudah tersinggung, lekas menggunakan kekerasan, dan gampang cenderung balas-membalas sampai dengan pembunuhan. Orang pesisir memiliki rasa harga diri yang amat tinggi dan sangat peka. Perasaan itu bersumber pada kesadaran mereka bahwa pola hidup pesisir memang pantas mendapat penghargaan yang tinggi. Ciri-ciri perilaku sosial di atas memiliki relevansi dengan ciri-ciri kepemimpinan sosial masyarakat pesisir. Berdasarkan kajian filologis atas naskah-naskah klasik (kuno) yang banyak dipengaruhi oleh ajaran agama Islam, seperti Kitab Sindujoyo Pesisiran dan Babad Gresik Pesisiran, syarat-syarat pemimpin di kalangan masyarakat pesisir adalah sebagai berikut (Widayati, 2001:3):

  1. Siap menolong siapa saja yang meminta bantuan.
  2. Mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
  3. Dermawan kepada semua orang.
  4. Selalu menuntut ilmu dunia dan akhirat untuk keseimbangan kehidupan.
  5. Tidak berambisi terhadap jabatan atau kedudukan walaupun banyak berjasa.
  6. Rendah hati (tidak sombong), tetapi tidak rendah diri (minder).
  7. Sangat benci penindasan dan berbuat adil kepada siapa saja.
  8. Rajin bekerja dan beribadah, khususnya shalat lima waktu.
  9. Sabar dan bijaksana.
  10. Berusaha membahagiakan orang lain.

Sebagian nilai-nilai perilaku sosial di atas merupakan modal sosial yang sangat berharga jika didayagunakan untuk membangun masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir. Demikian juga, syarat-syarat pemimpin dan kepemimpinan masyarakat pesisir memiliki relevansi yang baik untuk merekonstruksi kepemimpinan bangsa dan negara Indonesia. Penjelajahan terhadap nilai-nilai budaya kepesisiran ini tentu saja memiliki kontribusi yang sangat strategis untuk membangun masa depan bangsa yang berbasis pada potensi sumber daya kemaritiman nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

SISTEM PRODUKSI DAN DISTRIBUSI

PARA NELAYAN DALAM PENINGKATAN KESEJAHTERAAN HIDUP

 

  1. A.    Sistem Produksi

Sistem produksi yang berlaku pada masyarakat nelayan baik di pulau Jawa maupun Indonesia pada umumnya pemilik modal, pedagang ikan, juragan maupun nelayan pekerja sebgai komponen dalam sistem produksi serta hubungannya diantara mereka tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Begitu pula dengan alat angkutan maupun alat tangkap yang digunakan serta status nelayan, sistem pembagian kerja dan pembagian upahnya atau hasilnya. Sitem produksi masyarakat nelayan terkadang dalam hasilnya tidak maksimal hal ini dikarenakan ada pihak ketiga yang mendulang banyak dari pada para nelayannya yang langsung terjun kelapangan. Seperti halnya penjualan ikan kepada pemasok cenderung lebih rendah harganya dari pada para pemilik modal atau juragan yang menjual ikan-ikan tersebut kepada konsumen, perusahaan maupun warung-warung. Namun budaya kerja masyarakat nelayan di Indonesia cukup kuat diamana hasil atau pendapatan tak terlalu dipikirkan yang terpenting setiap harinya mereka bisa memproduksikan ikan segar mereka sebagai suatu kebutuhan primer rumah tangganya. Ini patut di contoh oleh masyarakat yang lain. Budaya kerja merupakan modal utama dalam semangat kerja dalam masyarakat yang kemudian memunculkan nilai-nilai untuk berusaha dan bekerja tanpa meninggalkan budaya nenek moyang yaitu kejujuran.

  1. B.     Pemilik Modal

Yang dimaksud pemilik modal di sini adalah orang yang memiliki uang. Contohnya pemilik modal pada masyarakat Desa Jatirejo biasanya disebut Toke. Toke ini adalah yang memilikin pabrik atau pengusaha. Mereka umumnya adalah orang Cina. Para toke tersebut umumnya tidak tinggal di Desa ini usaha mereka dijalankan oleh kaki – tangannya yang disebut pedagang. Para pedagang ikan trsebutlah yang orang asli desa ini. Pedagang ikan ini pekerjaannya membeli ikan dari para juragan ataupun langsung dengan nelayan yang mempunyai hubungan dengan juragan tersebut. Pedagang ikan di Desa jatirejo ini jumlahnya tidak kurang dari 10 orang dan hampir seluruhnya mendapat modal uang dengan cara meminjam dari Toke. Sementara itu dikatakan juragan di Desa Jatirejo ini adalah yang memilikin perahu mapun jaring / payang. Ini berarti juragan adalah orang yang memiliki modal alat angkut maupun alat tangkap iakn, karena itu juragan juragan ini juga disebut juragan darat.

Perlu diketahui bahwa diantara juragan darat itu adapula yang ikut melaut, akan tetapi juragan darat tidak, sebab para juragan darat tergolong orang-orang yang dapat dikatakan telah berhasil hidupnya. Jumlah juragan darat yang terdapat di Desa Jatirejo ini hampir mencapai ratusan jumlahnya. Setiap juragan darat setidaknya mmepunyai satu perahu dan dua payang. Bahkan banyak pula diantara juragan darat termasuk orang – orang yang disegani penduduk. Jadi kerja juragan darat yang utama adalah mencukupi kebutuhan buruh-buruhnya supaya kerasan. Biasanya juragan itu mengikatnya dengan cara memberi pinjaman uang untuk kebutuhan hidupnya. Hal ini terdapat suatu nilai hubungan sosial yang menjadi modal utama dalam melahirkan suatu modal sosial yaitu budaya kerja yang semangat karena tercetus dalam hatinya untuk bekerja dengan baik karena memiliki tanggungan yang harus mereka balas dalam hal ini.

Dapatlah dikatakan bahwa hubungan yang terjadi di antara buruh nelayan dengan juragan darat, kemudian hubungan yang terjadi antara juragan darat dengan pedagang maupun hubungan antara pedagang dengan toke hanya terbatas kepada kesulitan atau kesusahan yang berkaitan dengan kegiatan masing-masing.

  1. C.    Status Nelayan

Dalam kelompok buruh nelayan atau juragan laut itu trediri atas beberapa orang tingkat keahlian. Status nelayan yang terdapat di dalam kelompokn nelayan antara lain :

  1. Juru mudi

Juru mudi dalam kelompok buruh nelayan merupakan pimpinan juru mudi dalam mencari ikan di laut sangat menentukan. Dengan semangat kerja yang tinggi juru mudi akan senantiasa begadang dan secara lihai mengamati keadaan lautan untuk mencari kumpulan keberadaan ikan pada saat itu.

  1. Juru Mesin

Juru mesin dalam kelompok nelayan merupakan orang kedua setelah juru mudi. Sebab selama perjalanan juru mesin yang bertanggung jawab atas hidup matinya mesin disel di perjalanan. Sehingga lancar tidaknya perjalanan juru mesin sangat menentukan. Juru mesin tentunya orang yang mengerti mengenai mesin agar kemudian jika terjadi sesuatu hal saat berlayar maka juru mesin akan memperbaikinya dengan benar. Juru mesin juga sangat penting untuk menumbuhkan budaya kerja dalam dirinya agar apa yang dia lakukan menjadikan usaha dalam perbaikan mesin tidak menjadikan dia suatu beban.

  1. Pengrampit atau pembersih

Sementara itu pengamprit atau pembersih adalah urutan berikutnya. Dalam hal ini pengamprit selalu bertanggung jawab atas kebersihan alat angkut maupun alat tangkap ikan sejak keberangkatan sampai kembali lagi di tempat. Pengrampit ini peranannya sangat besar atas kenyamanan orang-orang yang berada didalam perahu tersebut.

  1. Pemasang dan Penarik Jaring atau Payang

Dan yang terakhir adalah tenaga buruh yang bekerja sebagai pemasang atau penarik jaring atau payang. Tenaga ini hanya bekerja pada saat melepas dan menarik jaring atau payang di lokasi tempat menangkap ikan. Mereka memasang jaring atau payang dan selanjutnya sekaligus menariknya kembali. Semangat kerja dalam buruh sangat diperlukan karena dalam hal ini buruh juga sangat besar peranannya, kemudian mengeluarkan tenaga besar dalam sahanya itu.

  1. D.    Pembagian Hasil atau Upah

Pembagian hasil atau upah ini tidak setiap hari, melinkan apabila para nelayan itu pergi melaut saja dan tergantung kapada hasil yang mereka peroleh. Dapat saja mereka melaut karena nasib lagi sial tidak mendapat iakn. Ini bereti para nelayan tersebut tidak memperoleh hasil / upah.

Adapun pembagian hasil / uaph yang diterima oleh pencari iakn di laut menggunakan “sistem ramah”. Artinya perolehan secara keseluruhan itu dipotong lebih dulu untuk biaya perawatan mesin seperti membeli minyak, oli, ataupun kerusakan onderdil mesin. Sisinya dibagi menjadi 2 (dua), yaitu 50% untuk juragan darat(pemilik perahu dan jaring / payang) dan 50% lagi untuk juragan laut beserta anak buahnya yang sesuai dengan besar kecilnya tanggung jawab.

Berdasarkan beberapa keterangan juragan darat dan juragan laut, yang 50% itu ternagi menjadi 7,5 bagian, yang meliputi pengmudi 2 bagian, juru mesin 1,5 bagian, pengamprit 2 bagian dan pemasang dan penarik payang masing – masing 1 bagian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

BUDAYA KERJA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA JATIREJO

DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU KERJA

 

Masyarakat pedesaan yang menjadi objek penelitian adalah masyarakat Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa Timur. Secara garis besar masalah budaya kerja tampak dalam berbagai bentuk kegiatan sehari – hari, baik dalam kegiatan ekonomi, sosial budaya maupun dalam gaya hidup serta pandangan masyarakat terhadap pekerjaanya, dan gaya hidup masyarakat nelayan desa Jatirejo.

  1. A.    Kegiatan Ekonomi, Sosial , dan Budaya
    1. 1.      Kegiatan Ekonomi

Keadaan alam Desa Jatirejo yang relatif kurang subur tanahnya berpasir dan berbatu merupakan tantangan bagi penduduknya untuk bekerja keras demi mempertahankan hidupnya.hal ini sangat mencerminkan dalam ajaran Islam yang yang melakukan ibadah sholat seperti besok akan mati cerilah harta seakan – akan hidup 1000 tahun lagi. Inilalah yang mendaari mesyarakat nelayan jtirejo untuk bekerjakeras. Hidupnya ibarat berbantal ombak dan berselimut angin.

Selain itu orang desa nelayan di jatirejo telah menanamkan semangat kerja kepada anak-anaknya ketika masih duduk di sekolah dasar. Mulai saat itu sudah adakaharusan bagi anak-anaknya untuk membantu meringankan atau memperlancar pekerjaan orang tua di rumah maupun dilaut. Apabila terjadi puncak musim ikan meupun awal musim ikandiharusnya anaknya, baik laki-laki atau perempuan untuk tidak bersekolah.

  1. 2.      Kegiatan Sosial

Kegiatan sosial adalah kegiatan-kegiatan yang muncul dalamkehidupan bermasyarakat. Dalam kegiatan sosial, pertisipasi sangat berperan di dalamnya. Bahwa kegiatan dalam partisipasi itu merupakan kegiatan uasaha bersama. Artinya orang yang terlibat dalam kegiatan pertisipasi tidak bolehmenjadi penonton, membiarkan oranglain bekerja sndiri, tetapi harus memiliki artian sebagai patner untuk kerjasama atas dasr sukarela tanpa paksaan.

  1. 3.      Kegiatan Budaya

Manusia yang berharap tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan yang mencerminkan eksistensi dari tata nilai mesyaraktnya. Kebudayaan dan kehidupan mesyarakat merupakan dua dunia yang saling terikat demikian erat keduanya saling mewarnai, bersatu sulit dipisahkan. Dengan kata lain kebudayaan dan kehidupan manusia merupakan dua jiwa dalam satu tubuh. Dimana tata nilai berkembang menurut kodrat tertentu di dalamnya.

  1. B.     Berbagai Bentuk Kegiatan Berkaitan Dengan Budaya Kerja

Telah dikemukakan bahwa mesyarakat Desa Jatirejo adalah nelayan. Dalam hal ini semangat kerja tidak perlu diragukan legi. dimana pada puncak musim ikan tiba, baik laki – laki ataupun perempuan tua muda bersama di bidang kenelayanan.

Beberapa kasus yang ada dan sering muncul berkaitan dengan masalah kenelayanan di Desa Jatirejo, antara lain :

  1. Sistem pembagian hasil yang bernama “sistem Ramah” dirasa para nelayan buruh belum begitu memuaskan. Sehingga para nelayan buruh selalu dalam posisi yang sangat lemah. Karena itu sangat sulit baginya lebih cepat terangkat.
  2. Pada puncak musim ikan sekalipun penghasilan para nelayan buruh banyak, akan tetapi karena harga ikan pada saat seperti itu umumnya rendah sehingga dengan penghasilan ikan yang banyak itupun menjadi sangat kecil mmanfaatnya.
  3. Baik perahu maupun alat tangakap iakn yang digunakan nelayan di Desa Jatirejo masih tergolong teradisional sehingga hasilnya sangat tergantung kapada laut sekitar saja karena jangkaauna operasinya masih sangat ternatas.

Di Desa Jatirejo ada semacam tradisi yang sudah diangggap sebagai kewajiban oleh masyarakat, yaitu tradisi menyumbang. Pada awalnya tradisi nyumbang. itu hanya dilakukan untuk acara hajatan tertentu, seperti perkawinan atau khitanan. Masyarakat merasa dipaksa oleh aturean tak resmi bahwa mereka harus nyumbang itu sendiri adalah pemberian secara sukarela. Jadi jelas merasa dirugikan terutama pada masyarakat yang kurang mampu.

Tradisi lain yang masih ada adalah tradisi mengkeramatkan waktu (hari) tertentu.Masyarakat Desa Jatirejo hingga kini mesih mengkeramatkan Hari Jumat. Pada waktu hari Jumat itu semua kegiatan melaut diberhentikan (istirahat) sekalipun puncak musim ikan tiba. Maka hal ini dapat menghambat suksesnya suatu rencana. Dan akibatnya masyarakat secara tidak sadar akan dirugikan, kartena tidak melaut padahal setiap hari harus makan dan minum demi keluarganya.

  1. C.    Pandangan Masyarakat Terhadap Pekerjaan

Mastarakat Desa Jatirejo mempunyai pandangan bahwa suatu pekerjaan akan berhasil apabila dilaksanakan sesuai dengan keterampilan dan keahlian orang yang bersangkutan. Sebagian besar masyarakat Deswa Jatirejo yang bekerja sebagai mnelayan merupakan bidang pekerjaan yangh telah mentradisi dan ditekuni sebagai suatu pencaharian utama.

  1. D.    Gaya Hidup Masyarakat Nelayan Desa Jatirejo

Gaya hidup mengacu pada pola tingkah laku sehari – hari segolongan manusia dalam mesyarakat yang dapat diamati serta member identitas khusus kepada golongan itu.

Dalam hal gaya hidup meayarakat nelayan jatirejo, unsur solidaritas dalam pergaulan merupakan indicator yang juga cukup penting untuk melihat gaya hidup suatu kelompok termasuk nelayan, sebab melalui teman bergaul inilah akanterbentuk gaya hidup mereka.

 

 

 

 

 

BAB VI

PENUTUP

  1. A.  Kesimpulan

Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo 1993). Budaya Kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja. (Sumber : Drs. Gering Supriyadi,MM dan Drs. Tri Guno, LLM ). Manfaat dari penerapan Budaya Kerja yang baik :

  1. Meningkatkan jiwa gotong royong
  2. Meningkatkan kebersamaan
  3. Saling terbuka satu sama lain
  4. Meningkatkan jiwa kekeluargaan
  5. Meningkatkan rasa kekeluargaan
  6. Membangun komunikasi yang lebih baik
    1. Meningkatkan produktivitas kerja
    2. Tanggap dengan perkembangan dunia luar,

Bagi masyarakat  nelayan, kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai ”pedoman kehidupan”, referensi pola-pola kelakuan sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa  yang terjadi di lingkungannya (Keesing, 1989:68-69). Sistem gender adalah sistem pembagian kerja secara seksual (the division of labor by sex) dalam masyarakat nelayan yang didasarkan pada persepsi kebudayaan yang ada. Dalam konteks hubungan eksploitasi sumber daya perikanan, masyarakat nelayan kita memerankan empat perilaku sebagai berikut: (1) mengeksploitasi terus-menerus sumber daya perikanan tanpa memahami batas-batasnya; (2) mengeksploitasi sumber daya perikanan, disertai dengan merusak ekosistem pesisir dan laut, seperti menebangi hutan bakau serta mengambil terumbu karang dan pasir laut; (3) mengeksploitasi sumber daya perikanan dengan cara-cara yang merusak (destructive fishing), seperti kelompok nelayan yang melakukan pemboman ikan, melarutkan potasium sianida, dan mengoperasikan jaring yang merusak lingkungan, seperti trawl atau minitrawl; serta (4) mengeksploitasi sumber daya perikanan dipadukan dengan tindakan konservasi, seperti nelayan-nelayan yang melakukan penangkapan disertai dengan kebijakan pelestarian terumbu karang, hutan bakau, dan mengoperasikan jaring yang ramah lingkungan (Kusnadi, 2009:126-127). ciri-ciri perilaku sosial tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Etos kerja tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai kemakmuran.Kompetitif dan mengandalkan kemampuan diri untuk mencapai keberhasilan.
  2. Apresiasi terhadap prestasi seseorang dan menghargai keahlian.
  3. Terbuka dan ekspresif, sehingga cenderung “kasar”.
  4. Solidaritas sosial yang kuat dalam menghadapi ancaman bersama atau membantu sesama ketika menghadapi musibah.
  5. Kemampuan adaptasi dan bertahan hidup yang tinggi.
  6. Bergaya hidup “konsumtif “.
  7. Demonstratif dalam harta-benda (emas, perabotan rumah, kendaraan, bangunan rumah, dan sebagainya) sebagai manifestasi “keberhasilan hidup”.
  8. ”Agamis”, dengan sentimen keagamaan yang tinggi.
  9. ”Temperamental”, khususnya jika terkait dengan ”harga diri”.

Sistem produksi yang berlaku pada masyarakat nelayan baik di pulau Jawa maupun Indonesia pada umumnya pemilik modal, pedagang ikan, juragan maupun nelayan pekerja sebgai komponen dalam sistem produksi serta hubungannya diantara mereka tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Yang dimaksud pemilik modal di sini adalah orang yang memiliki uang. . Status nelayan yang terdapat di dalam kelompokn nelayan antara lain :

  1. a.       Juru mudi
  2. b.      Juru mesin
  3. c.       Pengrampit atau pembersih
  4. d.      Pemasang dan penarik jaring atau payang

            Pembagian hasil atau upah ini tidak setiap hari, melinkan apabila para nelayan itu pergi melaut saja dan tergantung kapada hasil yang mereka peroleh

DAFTARPUSTAKA

 

Subagyo, Wisnu dan Margariche. 1997. Budaya Kerja Nelayan Indonesia di Jawa Timur (Kasus Desa Nelayan Jatirejo, Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan). Bupara Nugraha: Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Modal_sosial

http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-budaya-kerja-dan-tujuan-manfaat-penerapannya-pada-lingkungan-sekitar

http://fisip.uns.ac.id/blog/indraseptiawan/2010/05/25/tugas-mata-kuliah-dasar-logika-meresume-buku-yang-berbasis-penelitian/

http://www.javanologi.info/main/themes/images/pdf/Budaya_Masyarakat_Nelayan-Kusnadi.pdf

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s