Empat Keterampilan yang Merefleksi Listening


BAB 4

Empat Keterampilan yang Merefleksi Listening

Mendengarkan dialog itu lebih ke mendengarkan maknanya daripada kata-katanya … dalam listening (mendengarkan) yang sebenarnya, kita memahami lewat kata-kata, melihat kata-katanya, untuk mentukan siapa orang yang mengatakannya. Mendengarkan adalah sebuah pencarian untuk menemukan orang yang tepat yang mengungkapkan katanya-katanya secara verbal dan nonverbal. Tentu saja kita akan menjumpai masalah semantik. Kata-kata yang mereka gunakan mengandung konotasi yang berbeda dengan yang biasa kita gunakan. Akibatnya, saya tidak akan pernah bertanya tentang apa yang anda katakan, tetapi apa yang saya dengar. Saya harus mengatakannya dengan cara yang lain tentang apa yang Anda katakan, dan memastikan kembali bahwa apa yang tersisa dipikiran dan hati Anda sampai di pikiran saya dan hati secara utuh dan tanpa pengurangan.

–                     John Powell, theologian

 

Ada tiga kelompok utama metode mendengarkan – keterampilan memahami, keterampilan mengikuti, dan keterampilan menrefleksikan. Bab ini mendefinisikan apa yang dimaksud dengan frase yang menrefleksikan respon dan meneliti empat jenis refleksi: parafrase, mencerminkan perasaan, mencerminkan makna dan refleksi sumatif

RESPON REFLEKTIF MENUNJUKKAN PEMBICARA

 

Seni mendengar yang baik melibatkan kemampuan untuk merespon secara reflektif. Dalam respon reflektif, pendengar menyatakan kembali perasaan dan / atau isi dari apa yang pembicara telah komunikasikan dan memahaminya dengan cara yang menunjukkan apa yang kita pahami dan terima.

 Seorang psikolog anak, berbicara kepada sekelompok ibu-ibu, membandingkan respon reflektif tidak menghakimi dengan jenis interaksi yang lebih umum di masyarakat kita:

Peneliti:           Misalnya suatu pagi ketika segala hal tampaknya salah. Telepon bedering, bayi yang menangis, dan tanpa disadari, roti panggangmu hangus. Suami anda melihatnya dan berkata: “Ya Tuhan! Kapan kau akan belajar membuat roti panggang?” bagaimana reaksi anda?

Ny. A: Saya akan melemparkan roti panggang itu ke wajahnya!

Ny. B: Saya akan berkata, “Masak saja sendiri roti sialanmu itu!”

Ny. C: Saya akan merasa sangat sakit hati dan hanya akan bisa menangis.

Peneliti:           Kata-kata seperti apa yang akan membuat perasaan anda tertuju pada suami anda?

Orang tua:       Marah, benci, dendam.

Peneliti:           Apakah memanggang roti lain akan memudahkan anda?

Ny. A: Hanya jika aku bisa memasukkan racun ke dalamnya.

Peneliti:           kalau dia pergi kerja, apakah anda akan lebih mudah membereskan rumah?

Ny. A: Tidak, sepanjang hari akan menjadi sangat kacau.

Peneliti:           Misalkan situasinya sama: roti panggangnya hangus tapi suamimu melihat situasi yang sedang kau hadapi kemudian berkata, “Oh, sayang, pagi yang berat untukmu – bayi, telepon, dan sekarang roti bakarnya.” [Ini merupakan respon reflektif. Disampaikan dalam beberapa kata yang tidak menghakimi yang pendengar pikirkan tentang apa yang orang lain alami.]

Ny. A: Saya akan mati mendadak kalau suami saya mengatakan itu untuk saya.

Ny. B: Saya akan merasa takjub!

Ny. C: Saya akan merasa sangat bahagia lalu aku akan memeluknya dan menciumnya.

Peneliti:           Kenapa? – bayinya kan masih nangis dan rotinya tetap hangus?

Orang tua:       Itu tidak masalah.

Peneliti:           Apa yang membuatnya berbeda?

Ny. B: Anda merasa seperti dihargai dan dia tidak mengkritik anda – menyadari dia bersama anda dan tidak melawan anda.

 

 

            Dari percakapan singkat dengan sekelompok ibu-ibu, kita dapat menyaring esensi dari refleksi mendengarkan. Pertama, respon reflektif yang diberikan oleh peneliti itu tidak menghakimi. Kedua, respon itu secara akurat merefleksikan apa yang orang alami. Ketiga, responnya singkat. Keempat, seringkali sesuai bahwa sosok seorang suami tercermin lebih dari sekedar kata-katanya.

PARAFRASE

Parafrase merupakan tanggapan singkat dari pembicara yang menyatakan inti dari konten lain dengan menggunakan kata-kata dari si pendengarnya. Kata yang dicetak miring dalam definisi ini menyoroti unsure penting dari keefektifan suatu parafrase.

            Pertama, parafrase yang baik itu singkat. Saat orang mulai menggunakan keterampilan ini, mereka cenderung terlalu bertele-tele. Kadang-kadang parafrase ini bahkan memiliki pesan lebih dari satu orang pembicara. Saat parafrasenya tidak ringkas, rangkaian pemikiran dari pembicara bisa keluar jalur. Pendengar yang yanik akan belajar untuk menyingkat responnya.

            Kedua, parafrase yang efektif hanya menggambarkan inti dari pesan pembicaranya. Dia memotong detail-detail yang ada dalam percakapan dan berfokus pada inti permasalahan. Para pendengar yang baik mengembangkan perngertian yang menjadi  inti dari pembicaraan dan menggambarkannya dalam kata-kata. Dua puluh lima abad yang lalu, para filsuf Yunani Heraclitus mengatakan: “Dengarkan maknanya.”

Karakteristik lain dari parafrase adalah bahwa parafrease berfokus pada isi pesan si pembicara. Hal ini berkaitan dengan fakta atau gagasan daripada emosi yang diekspresikan si penyampai. Meskipun perbedaan jelas antara isi dan perasaannya dibuat-buat, parafrase hanya berfokus pada isi pesan.

Akhirnya, sebuah parafrase yang efektif dinyatakan dengan kata-kata dari si pendengar itu sendiri. Keterampilan ini melibatkan konsen pemahaman dari rekomendasi si pembicara. Pendengar perlu “masuk ke keterampilan lain” untuk sejenak dan melihat situasi dari sudut pandang si pembicara. Dari pemahaman pendengar kemudian dituliskan dalam ringkasan kata-katanya sendiri. Ada perbedaan yang sangat jelas terlihat antara meniru (mengulangi persis kata-kata si pembicara) dengan parafrase. Meniru biasanya menghambat percakapan, sementara parafrase, jika digunakan dengan tepat, dapat memberikan kontribusi besar terhadap komunikasi dengan orang lain.

Mari kita dengarkan sejenak sebuah fragmen percakapan antara Maureen dan temannya Kim. Maureen berusaha memutuskan apakah ia akan mulai berkeluarga atau melanjutkan karirnya di perusahaan hubungan-masyarakat.

Maureen:         Aku bingung akan memutuskan punya bayi atau tidak. George juga tidak yakin. Aku suka pekerjaanku….membangkitkan semangat dan menantang lagipula aku dibayar. Tapi kadang aku ingin punya anak dan menjadi ibu sepanjang hari.

Kim:    Kau sangat menikmati pekerjaanmu, tapi kadang kamu merasa sangat ingin jadi seorang ibu.

Maureen:         (mengangguk setuju.)

 

Kim menyampaikan kembali inti dari kata-kata Maureen. Dia melakukannya dengan meringkasnya dan dengan kata-katanya sendiri. Responnya merukan bentuk parafrase. Memang, beberapa pihak berwenang menyebut parafrase dengan “ringkas, respon dengan kata sendiri.”

Ketika parafrase “tepat sasaran,” pembicara hampir selalu berkata, “Ya,” “Benar,” “Tepat.” Atau dia mungkin menganggukkan kepalanya atau dalam beberapa cara lain menunjukkan bahwa respon itu akurat. Dari sebagian percakapan diatas, Maureen membiarkan Kim tahu bahwa ia benar-benar mengerti. Saat parafrasenya tidak tepat, pembicara biasanya akan memperbaiki kesalahpahaman tersebut.

Kebanyakan orang yang belajar keterampilan mendengarkan akan merasa canggung ketika pertama kali mencoba untuk merefleksi inti dari pernyataan lain. Selain itu banyak yang tidak percaya bahwa itu akan “bekerja” dengan baik. Mereka piker orang lain akan merasa tersinggung atau lebih buruk lagi jika mereka merefleksikan kata-kata mereka.

“Suamiku akan berpikir aku gila kalau aku mengatakan kembali apa yang baru saja ia katakan.”

“Apa kau bercanda? Aku merefleksikan tanggapanku pada orang-orang lain di pertemuan? Aku pasti bakal jadi bahan tertawaan.”

“Anak aku akan bilang, “Kau aneh sekali – aku kan baru saja bilang itu.’ “

 

Sebenarnya, kebanyakan ornag sudah melakukan refleksi meskipun mereka tidak menyadarinya. Jika seseorang memberi tahu anda nomor teleponya, anda mungkin akan mengulanginya lagi saat anda menuliskannya untuk memastikan anda mendengar dengan benar. Jika seseorang memberi anda arah atau lokasi yang jaraknya beberapa mil jauhnya dan terdapat beberapa belokan, anda mungkin akan mengulangi arah untuk memastikannya. Ketika berhadapan dengan hal spesifik semacam itu, kebanyakan dari kita tahu dari pengalaman bahwa informasi yang didapat dari komunikasi sering kali tidak dapat dipercaya kecual diperiksa kebenarannya. Kami telah memutar nomor yang salah terlalu banyak dan terlalu banyak berbelok. Ahli komunikasi percaya bahwa metode ini, yang jarang digunakan orang, dapat diterapkan lebih sering dan lebih terampil dalam hubungan interpersonal kita. Kebanyakan dari kita akan mendapatkan manfaat dari ketepatan yang baik dalam berinteraksi sehari-hari. Parafrase sangat membantu dlam mengurangi kemungkinan adanya kesalah pahaman. Jenis pemeriksaan ketepatan yang kita lakukan ketika mengulagi nomor telepon juga bisa digunakan lebih sering.

 

Merefleksikan Perasaan

Merefleksikan perasaan melibatkan penggambaran kembali kepada pembicara, dalam pernyataan yang ringkas, emosi yang ia sampaikan saat berkomunikasi. Fred, 34, mengatakan pada temannya:

Fred:    Aku sudah membulatkan tekad kalau aku akan menikah sekarang. Satu demi satu hubunganku berakhir.

Rick:    Benar-benar menyedihkan.

Fred:    Iya..Apa aku akan menemukan orang yang tepat?

 

Rick menyadari bahwa temannya Fred mungkin merasakan beberapa perasaan – kesepian, frustrasi, ketakitan, atau mungking kombinasi dari semunanya. Saat Fred berbicara, Rick “membeca” bahasa tubuhnya dan memutuskan putus asa adalah emosi utama. Pada percakapan selanjutnya Rick mulai menebak apa yang temannya rasakan.

Pendengar sering kali kehilangan dimensi emosional dalam percakapan. Ada kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada isinya. Jika terdapat pencerminan yang dilakukan, fokusnya lebih kepada fakta daripada perasaan. Atau pendengar yang mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan fakta: “Apa yang kamu lakukan?” “Kapan itu terjadi?”

Saya sedang mengerjakan sebuah proyek menulis saat telepon berdering. Ternyata itu adalah teman saya dari Chicago. Senang sekali bisa mendengar kabar darinya, tapi ternyata dia punya kabar yang kurang menyenangkan. Tak lama kemudian dia mulai berkata, “Aku baru saja mendengar kalau lokakarya yang akan aku pimpin di bulan Januari di batalkan.” “Dibatalkan, ya?” jawabku. “Iya,” katanya sebelum akhirnya kita berganti topic. Setelah kami menutup telepon, saya baru menyadari kalau saya bukan pendengar yang baik. Saya melewatkan poin penting dari apa yang dikatakannya Karen asaya tidak memahami bagaimana perasaannya saat lokakaryamu dibatalkan. Aku tidak memberinya dorongan untuk menyampaikan perasaannya, dan malah mengalahkannya untuk berdiskusi.

Kemudian saya mulai mengumpulkan informasi tentang lokakarya pada bulan Januari. Dia telah disewa untuk memimpin lokakarya di kapal pesiar di Karibia. Sebagian besar waktu bisa dihabiskan untuk menikmati matahari dan bersantai. Bisa dibayangkan betapa kecewanya saat itu harus dibatalkan. Saya juga ingat bagaimana kesalnya dia saat harus bekerja lembur di musim dingin. Dia tidak punya cukup waktu untuk istirahat, menyendiri, dan teman-temannya. Kesempatan ini memungkinkannya untuk tetap bekerja tapi bisa menikmati kebebasan untuk menyendiri dan berkumpul bersama teman-temannya. Mungkin perasaan yang dia rasakan antara senang dan sedih – sedih karena ia tidak bisa pergi dengan kapal pesiar, senang karena kini dia punya waktu untuk menjalani kehidupannya seperti biasa.

Saya tidak pernah tahu. Saya tidak pernah memberinya dorongan untuk member tahu saya bagaimana perasaannya saat itu. Meskipun aku tidak mengatakannya dengan panjnag lebar, dan tentu saja tidk menginginkan itu, saya malah mendengarkan dan mendorongnya untuk berbicara tentang fakta dan bukan perasaannya. Seolah-olah saya mengatakan, “Fakta yang penting. Yang saya mau adalah faktanya.”

Ketika mendengarkan tidak mendorong seseorang untuk mengungkapkan perasaannya, kita cenderung kehilangan reaksi pribadi si pembicara dengan kejadian yang digambarkannya – gembira, sedih, frustrasi, marah, murung, ambivalensi, dan sebagainya. Sejak William James yang menyatakan “Individualitas dilihat dari perasaan,” kita kehilangan keunikan orang lain saat kita memiliki tingkat kesadaran yang rendah terhadap emosi orang lain.

Jika pembicara sedang membicarakan suatu masalah, refleksi dari perasaan membentunya memahami emosinya sendiri dan dengan demikian ia bisa mencapai solusi masalahnya. Data ada di sekitar kita. Perasaan adalah kekuatan energy yang membantu kita menyortir data kami, mengaturnya, dan menggunakannya secara efektif seperti yang kita bentuk dan menerapkan langkah-langkah tindakan yang relevan.

Meningkatkan Kapasitas untuk “Mendengarkan” Perasaan

            Meskipun hal ini jarang terjadi untuk mencerminkan perasaan dalam percakapan, masing-masing dari kita dalam menjalani proses pendewasaan, kami belajar untuk “membaca” emosi orang lain. Tidak perlu diragukan lagi, setiap orang mampu meningkatkan keterampilan itu. Tapi, perlu disadari bahwa sebenarnya kita lebih berhasil melakukannya meskipun kita tidak menyadarinya. Hal ini mungkin terjadi berulang kali dalam hidup kita yaitu saat kita sedang berbicara dengan orang lain, kita akan menyadari dengan cepat kalau dia mulai merasa bosan. Menarik bukan, bahwa anda bisa mengidentifikasi perasaan mereka ketika mereka tidak pernah mengatakan kalau mereka sedang bosan? Anda sering kali menyadari kapan seseorang marah pada anda padahal ia tidak pernah mengatakannya. Ingat saat-saat ketika orang tidak mengatakannya, tapi menginginkan sesuatu dari anda – dan anda benar-benar yakin setelah mereka mengakatannya? Kemudian, saat anda menyadari kalau ada orang yang sangat menyukai anda tapi tidak pernah mengatakannya pda anda tapi anda mengetahui itu. Terkadang seseorang mungkin telah mengatakan sesuatu pada anda tapi anda sadar bahwa dia berpikir dan merasakannya denga intuisi, sering kali mampu memahami atau menebak reaksi orang lain. Hal yang luar biasa, bagaimanapun juga, orang yang berpendidikan formal sedikit dan tidak ada pelatihan dalam keterampilan berkomunikasi di jaman yang modern ini mampu membaca sandi atau pesan dari apa yang dirasakan orang lain. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana anda mengembangkan kemampuan yang sangat kompleks ini?

Professor Norman Kagan, pengajar keterampilan berkomunikasi di Universitas Michigan, mengatakan mungkin ada beberapa kepekaan bawaan yang berasal dari keturunan, tapi lebih dari itu:

Anda mungkin memiliki waktu seumur hidup untuk melihat orang lain dan memiliki banyak alasan untuk mengajarkan kepada diri sendiri bagaimana cara mengenali suasana hati mereka….sebagai seorang anak anda harus mengenali suasana hati orang tua anda. Anda belajar merasakan suasana hati orang tua anda dan memprediksi apa yang mungkin mereka lakukan selanjutnya. Anda belajar untuk menyadari saat ada makanan yang mendekati anda tau tidak. Sepanjang hidup anda, anda telah belajar untuk memperhatikan dan mempengaruhi perasaan orang lain [memalui emosinya]. Pertama kali anda mendapatkan pukulan dari pengganggu di kelas anda, kemudian anda jadi memiliki alasan untuk belajar mengenali gejala kemarahan seseorang. Di sekolah, dan pada tanggal tertentu, anda harus datang untuk memenuhi surat panggilan jika tidak anda akan dihukum. Pikiran manusia adalah pusat saraf fantasi yang sangat kompleks. Hal ini akan mengambil bagian yang besar dalam menuliskan yang telah anda ketahui mengenai perasaan orang lain.

Sementara pernyataan bahwa setiap orang memiliki sensitivitas emosi untuk secara refleks mencerminkan perasaan-perasaan mereka hanya isapan jempol belaka. Terbukti dari ribuan peserta program pelatihan kemampuan komunikasi kami, jenis pendengar adalah orang yang lebih memusatkan perhatiannya pada isi pembicaraan daripada perasaannya dan sering mengalami kesulitan untuk mencari tau perasaan sang pembicara, bahkan ketika emosinya cukup jelas terlihat.

Sigmund Freud menjelaskan bagaimana kekurangpekaan emosi kita berkembang. Freud menyatakan bahwa jika setiap orang bertindak sesuai dengan hati dan mengekspresikan perasaannya secara spontan, akan terjadi kekacauan di masyarakat. Untuk mencegah kekacauan tersebut, setiap kelompok masyarakat, dari kelas paling tinggi hingga kelas terendah sekalipun menentang adanya pengungkapan perasaan secara terbuka. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut menerapkan sanksi yang berat terhadap orang-orang yang melanggar peraturan tersebut. Lembaga-lembaga seperti rumah, sekolah, perkantoran, dan gereja juga cenderung mendukung pernyataan untuk tidak mengungkapkan perasaan secara terbuka. Hal tersebut menimbulkan kondisi dimana orang-orang mengalami kesulitan untuk menggambarkan perasaan mereka kepada orang lain. Hingga saat ini, penggambaran perasaan masih menjadi fokus utama dalam metode mendengarkan yang efektif.

Setiap orang memiliki kapasitas untuk memahami perasaan orang lain yang berkembang secara parsial. Hal ini sangat penting dan termasuk kedalam salah satu kemampuan yang dinilai sulit, kemampuan tersebut bukan sebuah anugerah yang dibawa seseorang dari lahir. Selain itu, hidup dalam masyarakat yang melarang mengungkapan emosi dapat menumpulkan rasa sensitivitas kita dan membuat semua orang merasa canggung untuk mencerminkan perasaan mereka dalam sebuah percakapan.

Semua orang yang tergabung dalam program pelatihan ini mencoba untuk menggambarkan perasaan mereka dan mencaritahu bagaimana cara agar mereka bisa lebih peka terhadap perasaan lawan bicaranya. Kami mengajarkan mereka untuk memusatkan perhatian dalam 4 hal:

  1. Kata-kata yang digunakan untuk mengekspresikan perasaan.
  2. Isi dari pesan yang disampaikan.
  3. Bahasa tubuh.
  4. Tanya diri sendiri, “Jika saya yang mengalami hal tersebut, perasaan apa yang saya rasakan?

Menyimak Kata-kata yang Digunakan Untuk Menggambarkan Perasaan

Jika tujuannya adalah untuk menerangkan perasaan, kesulitannya terletak pada mengidentifikasi ekspresi perasaan secara verbal dalam sebuah percakapan. Biasanya orang-orang menggambarkan perasaannya dalam sebuah kata secara langsung.

Seorang wanita karir yang masih muda sedang bercerita kepada teman baiknya:

 

Aku tidak percaya bahwa aku sangat menikmati pekerjaanku. Dan aku juga memiliki kegiatan-kegiatan lain yang menyenangkan diluar pekerjaanku. Tapi hal itu membuatku sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menyendiri. Tapi, ketika aku mendapatkan waktu untuk menyendiri, aku merasa sangat marah karena harus merasakan kesepian dan tidak melakukan kegiatan apapun.

 

Sekarang baca kembali pernyataan di atas dan tandai kata-kata yang dengan jelas menggambarkan perasaan yang ia ungkapkan. Saya menandai kata-kata seperti menikmati, menyenangkan, dan kesepian. Sebuah penggambaran perasaan yang bisa juga dikatakan dalam bentuk seperti ini:

 

“Meskipun kamu mengalami hal-hal yang menyenangkan, tapi perasaan kesepian akan tetap ada.”

 

Beberapa perasaan akan mudah terlihat dalam bentuk sebuah percakapan tertulis, sehingga kita bisa membaca ulang percakapan tersebut dan menentukan kata-kata penggambar perasaan yang digunakan. Meskipun kata-katanya menggambarkan secara langsung dan jelas perasaan sang pembicara seperti contoh di atas, namun mungkin saja orang-orang tidak menyadarinya. Hal tersebut bisa saja terjadi ketika kita terlalu fokus mencari petunjuk verbal yang menggambarkan perasaaan itu.

Ketika sang pembicara memberikan pernyataan verbal mengenai perasaannya, dan hal tersebut diikuti oleh bahasa tubuh yang tepat, berarti penggambaran perasaannya berhasil menafsirkan kembali apa yang ia rasakan. Hal ini tidak berlaku jika kita memusatkan perhatian kita terhadap kata-kata penggambar perasaan yang digunakannya saja.

Selama kebudayaan kita masih menentang pengungkapan perasaan, tidak akan ada petunjuk verbal seperti contoh diatas. Seorang ibu bertanya pada anak perempuannya mengenai kencannya tadi malam. Anak perempuannya menjawab, “Oh, OK.” Kata “OK” menunjukkan bahwa kencannya baik-baik saja. Tapi apa makna dari kata itu dalam suatu percakapan? Bisa saja kata tersebut bermakna “Aku tidak suka seseorang ikut campur dengan masalah pribadiku.” Atau itu memiliki makna antara menyenangkan dan hebat. Bahasa tubuh anak perempuan itu mungkin menunjukkan apa makna dari kata “OK” tersebut.

 

Menebak Perasaan dari Isi Keseluruhannya

Karena pengekangan perasaan menyebar luas dalam kebudayaan kita, sang pembicara mungkin tidak akan menggunakan kata-kata penggambar perasaan sama sekali. Akan tetapi, isi keseluruhan dari apa yang dikatakannya bisa memberikan pentunjuk tentang perasaannya.

 

Baca pernyataan dibawah ini dan tebak perasaan Eric:

 

Eric:     Pelanggan itu benar-benar menyenangkan. Dia membuatku mendatangi perusahaannya sebanyak 3 kali. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjelaskan rekomendasiku mengenai perubahan dalam metode produksi. Kemudian dia melirik sainganku dan tidak akan pernah melihatku dalam daftar penjualan sekarang.

 

Mungkin Eric merasa marah pada pelanggannya dan/atau pada dirinya sendiri. Akan tetapi, dia juga mungkin merasakan perasaan lain seperti keputusasaan. Memperhatikan bahasa tubuh Eric juga dapat membantu pendengarnya menebak perasaan Eric dengan tingkat akurasi yang lebih besar.

 

Memperhatikan Bahasa Tubuh

Salah satu cara paling efektif untuk menebak perasaan orang lain adalah dengan cara memperhatikan bahasa tubuhnya. Karena gambaran perasaan sangat penting dalam menyimak yang efektif dan karena memperhatikan ekspresi wajah, nada bicara, gerakan, dan sifat memberikan petunjuk mengenai perasaan seseorang, topik ini akan dibahas dalam Bab 6.

 

Apa yang Saya Rasakan?

Sebagai seorang pendengar yang menandai kata-kata penggambar perasaan sang pembicara (jika memang digunakan), “perhatikan kembali” perasaan yang mungkin tersirat dari apa yang dikatakannya secara keseluruhan, dan perhatikan bahasa tubuhnya, kemudian dia akan bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang akan aku rasakan jika aku mengalami hal tersebut?” Karena setiap orang memiliki banyak pengalaman emosional, dapat dipastikan bahwa kita dapat ikut merasakan perasaan sang pembicara tersebut. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengetahui reaksi kita dan menebak perasaan orang lain yang timbul karenanya. Berdasarkan “tebakan”nya, pendengar bisa memahami gambaran perasaan orang lain. Biasanya, sang pembicara langsung mengetahui apakah kita memperhatikan apa yang ia katakan atau tidak— dengan cara menganggukkan kepalanya, mengatakan “Ya” atau “Benar,” atau memberikan respon lain terhadap apa yang kita katakan.

MEREFLEKSIKAN MAKNA

Ketika perasaan dan fakta membentuk sebuah reaksi, kita bisa mengetahui maksud pembicaraannya. Contohnya, Marge, wanita paruh baya, berkata pada suaminya Rob:

Marge     :        Pengawasku terus menerus bertanya mengenai kehidupan pribadiku. Seharusnya dia mengurus urusannya sendiri.

Rob     :           Kau merasa terganggu karena dia tidak menghormati privasimu.

Perasaan muncul karena terpicu oleh kejadian-kejadian tertentu. Perhatikan perasaan-perasaan di kolom sebelah kiri yang muncul akibat kejadian-kejadian tertentu yang berada di kolom sebelah kanan.

Perasaan          Kejadian (Fakta)

Senang                        Prentice-Hall menganugerahkanku sebuah kontrak untuk buku ini.

Sedih               Seorang teman baikku pindah rumah.

Jengkel            Persetujuan yang sudah disepakati minggu lalu tidak dipatuhi oleh beberapa orang bersangkutan.

Kecewa           Mesin fotokopi itu sudah rusak untuk ketiga kalinya dalam 3 hari ini.

Kita sudah melihat seberapa penting untuk seorang pendengar masuk kedalam perasaan sang pembicara. Kita juga sudah melihat manfaat dari memahami isi pesan yang disampaikan sang pembicara. Seperti yang dikatakan oleh Robert Carkhuff, segala hal yang kita simpan dalam pikiran kita akan lebih mudah kita lakukan daripada hal-hal yang tidak bisa kita rasakan sama sekali. Ketika kita memberi respon terhadap maksud pembicara—perasaan dan motivasi kita serta isi yang tergabung dalam sebuah perasaan lain—metode menyimak kita akan menjadi lebih efektif.

Ketika seseorang mengerti bagaimana cara mencerminkan perasaan dan isinya, maka keduanya bisa bergabung untuk membentuk suatu maksud tertentu. Dalam pelajaran pertama untuk menggambarkan makna, kebanyakan orang menggunakan formula “Kamu merasa [masukkan kata penggambar perasaan] karena [masukkan kejadian yang membuat kamu merasakan perasaan tersebut].”

Mari kita lihat bagaimana formula “You feel … because … ” (“Kamu merasa … karena …”) bekerja dalam beberapa situasi:

Earl:     Sebuah perubahan besar! Aku takut tidak akan mendapatkan kenaikan pangkat, tapi hal itu benar-benar terjadi. Rumah baru kami benar-benar bagus. Dan Marie serta anak-anak tak pernah terlihat sebahagia ini.

John:    Kamu merasa senang karena semuanya berjalan sesuai dengan apa yang kamu harapkan.

Atau:

Wilma: Suamiku membuatku gila. Awalnya dia berkata bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkan masalah keuangan. Tapi kemudian ia marah besar ketika aku membeli sesuatu.

Harriel:            Kamu merasa gelisah karena dia sangat tidak konsisten.

Formula “You feel … because … ” (“Kamu merasa … karena …”) dinilai tidak terlalu mengganggu dalam sebuah percakapan. Itu merupakan salah satu bentuk respon yang tepat dan membantu orang-orang untuk mengingat baik perasaan atau isi yang dimaksud. Berbeda dengan membebani percakapan tersebut dengan sebuah ucapan seperti “Sepertinya aku mendengar kamu mengatakan bahwa….”

Kebanyakan orang tidak terlalu setuju dengan formula ini. Karena formula ini ibarata mendirikan sebua tiang penyangga dalam sebuah rumah yang sedang direnovasi. Itu bisa membantu kita untuk beberapa saat, tapi ketika sudah tidak diperlukan lagi, itu bisa dihilangkan. Setelah menggunakan formula “You feel … because … ” (“Kamu merasa … karena …”) untuk mendapatkan maksud dari penbicara tersebut, mungkin kamu ingin mencoba untuk menggunakan cara yang lebih “natural” untuk mencerminkan maksudnya. Kata “are” bisa mengganti kata “feel”. Dan kata-kata seperti “by”, “since”, “about”, dan “that” bisa digunakan untuk mengganti kata “because” dalam formula tersebut. Dengan variasi-variasi seperti ini, renspon yang kita berikan terlihat tidak terlalu resmi.

You are confused by his mixed messages.” (Kamu bingung oleh pesan-pesannya yang tidak jelas)

You are elated that things are going so well in your new job.” (Kamu gembira karena pekerjaan barumu berjalan dengan baik)

You’re angry about the recent schedule revisions.” (Kamu marah karena terjadi perubahan-perubahan jadwal)

You are discouraged by his unresponsiveness.” (Kamu berkecil hati karena sikapnya yang nampak tidak peduli)

Pada kenyataannya, percakapan yang terjadi mengalir begitu saja, sehingga tidak mungkin mencerminkan maksudnya secara terus menerus. Menggambarkan perasaan, menggambarkan isi, keinginan untuk berbicara yang kecil, berdiam diri, dan respon lainnya dapat menyusun sebuah penggambaran makna. Dalam beberapa percakapan, penekanan gambaran perasaan akan sangat membantu. Ada kalanya pendengar lebih berkonsentrasi terhadap gambaran isinya saja. Akan tetapi dalam situasi apapun pendengar akan tetap mencerminkan maksudnya.

Terkadang sebuah penggambaran maksud dinilai tepat meskipun tidak ada kata-kata yang diganti. Norma, seorang manager, terpilih untuk sebuah tugas di perusahaannya. Dia bekerja seharian, tapi setiap hari tumpukan pekerjaannya tidak berkurang sama sekali. Barbara, seorang sekretaris yang bekerja di kantor yang sama, berkata pada Norma, “Kamu merasa berkecil hati karena meskipun kamu sudah bekerja keras, masih banyak hal yang harus kamu kerjakan.”

Penggambaran makna adalah pilihan yang tepat saat kamu harus membentuk sebuah kalimat singkat. Semakin singkat semakin bagus. Karena respon yang terlalu berbelit-belit akan membingungkan si pendengar.

REFLEKSI SUMATIF

Refleksi sumatif adalah menceritakan kembali tema utama beserta cerminan perasaan pembicara dalam jangka waktu yang cukup lama dari saat percakapan itu terjadi dan mencakup kemampuan-kemampuan deskriptif lainnya. Hal tersebut mencakup sejumlah komentar-komentar atau penekanan rasa dan/atau persoalan-persoalan yang dibahas. Percakapan yang tersusun tersebut berisi informasi-informasi yang kurang bermanfaat hingga bahasan-bahasan penting. Terkadang pembicara itu sendiri terjebak dalam pikiran dan perasaan yang membingungkan. Seperti kepingan-kepingan puzzle yang berada dalam sebuah kotak. Tapi kadangkala seperti sebuah puzzle yang tersusun rapi sebagai sebuah gambar yang diletakkan di atas meja. Dengan kata lain, sebuah rangkuman yang efektif memungkinkan pembicara untuk bisa melihat penggalan-penggalan ungkapannya terkumpul dalam sebuah kesatuan yang bermakna. Sebuah respon keseluruhan membantu pembicara untuk meningkatkan sebuah gambaran integrasi dari apa yang sudah ia sampaikan. Hal itu menunjukkan bahwa penekanan hal-hal penting yang dilakukan terus menerus secara berulang-ulang menunjukkan hasil yang luar biasa.

Carl Jung, seorang Psikoterapis terkenal Swiss, menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan Sigmund Freud di tahun 1907 pada seorang koleganya. Banyak hal yang ingin ia diskusikan dengan Freud, dan dia berbicara tanpa henti selama 3 jam. Akhirnya Freud menyelanya dan mengelompokkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan Jung kedalam beberapa kelompok sehingga memudahkan mereka untuk mendiskusikan hal-hal tersebut dan mengalokasika beberapa jam ke depan dalam sebuah diskusi tanya jawab yang lebih efektif.

Sebuah rangkuman bisa membantu seorang pembicara untuk memahami diri mereka sendiri. Gerard Egan memberikan sebuah contoh untuk kasus tersebut:

Penasihat:        Mari kita tinjau kembali apa yang telah kita diskusikan. Kamu sedang murung, depresi—bukan karena kekhawatiran biasa, tapi kamu sedang benar-benar khawatir. Kau mengkhawatirkan kesehatanmu, tapi hal ini lebih merujuk kepada sebab depresi yang sedang kau alami. Selain itu, ada beberapa persoalan-persoalan yang sedang menghantui hidupmu. Selah satu fakta yang harus hadapi saat kau pindah kerja adalah kau tidak bisa terlalu sering mengunjungi teman-teman baikmu. Jarak menjadi penghalangnya. Persoalan lainnya—kau merasa sangat sakit hati sekaligus malu—adalah usahamu untuk tetap nampak awet muda. Kamu tidak mau menghadapi kenyataan bahwa kau mulai bertambah tua. Persoalan ketiga adalah kau terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja keras—hingga akhirnya saat kau menyelesaikan proyek jangka pangjangmu, kau akan merasa kesepian.

 

 

Klien:  Menyedihkan jika aku mengingat semua itu, tapi memang itulah yang sedang aku hadapi sekarang. Aku benar-benar harus belajar menghargai diriku sendiri. Aku membutuhkan sebuah gaya hidup yang baru, sebuah gaya hidup yang membuatku banyak berinteraksi dengan orang lain.

Rangkuman seperti ini memiliki beberapa elemen konfrontasi di dalamnya. Pendengar bisa mengira-ngira apa reaksi sang pembicara saat ia mendengar sebuah rangkuman yang disampaikan dengan cara konfrontasi.

Rangkuman sangat berguna dalam situasi ketika sebuah konflic atau permasalahan membutuhkan sebuah penyelesaian. Bill berbicara pada ayangnya mengenai keinginannya untuk mengambil cuti dari dunia pendidikan demi mendapatkan pengalaman setelah ia lulus nanti. Setelah berbincang selama 45 menit, ayahnya berkata:

Kadang-kadang kamu merasa bahwa lulus sekolah itu merupakan sebuah “keharusan” dalam hidupmu, tapi kamu juga tidak merasa mengambil pendidikan yang lebih tinggi setelah kau mulai bekerja adalah sebuah pilihan  yang cukup bijak. Sebenarnya kau mengkhawatirkan keadaan keuanganku karena biaya untuk pendidikanmu sudah menghabiskan lebih dari ribuan dollar. Selain itu kau ingin menikahi Lea, dan kau tidak yakin bahwa dia mau menunggumu selama 2 tahun atau dia akan berpikir bahwa kau hanya seorang pelajar yang masih hijau. Kau merasa tertekan karena kau harus segera menentukan pilihan setelah kau lulus nanti.

Sebuah rangkuman juga bermanfaat ketika sang pembicara terlihat merasa lelah dengan semua hal yang ia utarakan. Memaparkan rangkuman dari apa yang ia sampaikan membantu mengarahkan pada kesimpulan dan/atau mengarahkan pembicaraan pada ulasan selanjutnya.

Ketika kita menyimak seseorang berbicara lebih dari 1 sesi, sebuah rangkuman bisa disampaikan pada awal ulasan yang baru. Akan lebih baik jika sebelum berpindah ke sesi selanjutnya kita bertanya lebih dulu apakah pembicara tersebut ada yang ingin disampaikan, sehingga ia bisa didiskusikan lebih lanjut. Jika tidak, pendnegar bisa memberikan rangkuman di akhir percakapan. Rangkuman yang diberikan menunjukkan bahwa pendengar memperhatikan apa yang disampaikan pembicara, selain itu juga membantu pembicara agar tidak mengulang materi yang pernah disampaikan dan membantu pembicara mengulas kembali pembahasan di sesi sebelumnya.

Salah satu tujuan dari rangkuman tersebut adalah memberi pembicara semangat untuk mengembangkan isi bahasannya. Rangkuman juga ikut memberikan laporan akurat apakah pendengar benar-benar memperhatikan pembicara atau tidak.

Rangkuman yang deskriptif termasuk efektif ketika pengengar mampu (1) memahami poin-poin yang disampaikan, dan (2) memilih data yang yang terkait dengan pembicaraan tersebut—yang membantu pembicara memahami situasi yang sedang dihadapinya. “Sebuah rangkuman,” kata Egan, “bukanlah sebuah kumpulan fakta-fakta yang digabungkan secara paksa; tapi merupakan sebuah penyajian data yang relevan secara sistematik.”

Penggunaan beberapa kalimat seperti yang dicontohkan di bawah ini bisa digunakan untuk melatih kemampuan merangkum kita:

“Satu masalah yang terus menerus muncul sepertinya….”

“Mari kita ulas kembali apa yang sudah kita bahas sejauh ini….”

“Saya memikirkan tentang apa yang kamu katakan. Saya merasa mungkin ada sebuah pemecahan dan mari kita cari tahu pemecahannya. Kamu….”

“Setelah mendengarkanmu, masalah yang kamu hadapi terlihat seperti…..” (Lalu beri contoh-contoh yang serupa dengan permasalah yang dihadapinya.

Efektifitas dari refleksi sumatif hanya bisa dibuktikan oleh orang-rang yang menggunakannya dan orang-orang yang ikut menyimak penggunaan refleksi sumatif itu sendiri. Sebuah penyajian terakhir yang baik harus bisa mengarahkan seseorang untuk berbicara dengan tingkat kejelsasan yang lebih tinggi. Sebuah rangkuman yang baik dapat membantu pembicara untuk lebih jelas memahami situasinya meskipun ia hanya mendengar ulasan dari apa yang ia katakan. Meskipun dalam sebuah rangkuman tidak terdapat tambahan materi-meteri baru, tapi bagi pembicara hal tersebut merupakan hal baru karena untuk pertama kalinya dia mendengar kembali semua yang sudah ia ungkapkan sebelumnya. Selain itu, sebuah rangkuman yang efektif bisa digabungkan dengan percakapan utamanya dan menjadi sebuah kesimpulan.

SUMMARY

Pendengar yang baik secara refleks akan mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh sang pembicara. Dia mengungkapkan kembali, dalam bahasanya sendiri, perasaan dan/atau isi yang sudah disampaikan—dan,  tanda bahwa ia menerima dan mengerti apa yang disampaikan. Ada 4 kemampuan dasar dalam merefleksikannya. Paraphrasing, respon reflektif yang pertama, berpusat pada isi bahasan sang pembicara. Penggambaran perasaan yang muncul saat pendengar memfokuskan diri pada kata-kata penggambar perasaan, mengambil kesimpulan mengenai perasaan pembicara dari isi pembicaraan secara umum, “membaca” bahasa tubuh, bertanya, “Apa yang akan aku rasakan jika aku berada dalam situasi tersebut?” dan menggambarkan kembali perasaan sang pembicara. Gabungan dari penggambaran perasaan dan isi pembicaraan disebut juga refleksi makna. Refleksi sumatif mengulas kembali secara singkat elemen-elemen yang muncul dari sebuah percakapan yang yang cukup panjang.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s