Kampung Naga Tasikmalaya 3


Nama              : Elita Suratmi

NIM               : 0903921

Jurusan            : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Tugas : Praktikum

Mat.Kul.         : Perubahan Sosial Budaya

 

Kampung Naga merupakan salah satu perkampungan tradisional sekaligus objek wisata dengan luas areal kurang lebih 4 ha yang terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya – Bandung melalui Garut. Kampung Naga  dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya dalam hal ini bisa disebut sebagai masyarakat yg multikultural. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat. Dalam kesehariannya masyarakat kampung naga selalu menaati apa yang para leluhurnya amanati seperti dilarang keras merusak hutan dan menambah atau mengurangi bahkan dilarang untuk merubah struktur bangunan yang telah ada hal ini dikarenakan agar tidak merusak alam, masyarakat kampung naga masih sangat sederhana dalam pengolahan SDA hal ini menjadi salah satu latar belakang mengapa masyarakat kampung Naga menjadi seakan akan melakukan isolasi terhadap budaya yang ada sekarang ini, namun masyarakat kampung naga akhir –akhir ini sudah mulai mengenal dan menggunakan alat-alat teknologi seperti hp, mobil, motor, tv, kipas angin, dll. Tapi tentunya masih dalam batas sekedar tahu. Hal ini tentu sangat berbanding terbalik dengan masyarakat yang berada dii kawasan pantai pangandaran yangsudah bersifat global yaitu masyarakat yang sangat membuka diri terhadap budaya luar yang masuk dan bisa berakulturasi dengan budaya global lainnya, sehingga perubahan sosial budayanya lebih cepat dibandingkan dengan masyarakat kampung naga.

Namun dibalik itu semua dua masyarakat yang saling bertolak berbeda ini memiliki suatu problematika atau masalah tersendiri dimana masing –masing pihak ada suatu perubahan yang tidak sesuai dengan alur dimana disalah satu pihak, seperti masyarakat kampung Naga mereka cenderung statis/ lambat dalam perubahan sosial budayanya sehingga sangat sulit untuk mengkondisikan masyarakat agar lebih maju sesuai dengan kebutuhan jaman selain itu juga pada masyarakat kampung naga masih bersofat multikultural yang semakin membuat ketat masyarakatnya untuk menjadi lebih lambat lagi dalam perubahan sosia budayanya. Dan pada masyarakat pangandaran yang cenderung cepat untuk berakulturasi dengan budaya pendatang membuat masyarakat pangandarang mengalami suatu culture shock dimana masyarakat khususnya pada malam hari berdasarkan hasil pengamatan yang saya lakukan tidak sedikit masyarakat khususnya para pemuda melakukan hal-hal yang sebenarnya itu bukanlah budaya masyarakat indonesia seperti minum-minuman dipinggir pantai, nongkrong sambil minum di warung-warung kopi dan bahkan hampir sebagian besar pegadang warung-warung makanan menyediakan minuman keras dan hal seperti itu sudah dianggap atau suudah menjadi hal yang biasa disana tentunya hal ini juga sangat dikhawatirkan jika hal seperti ini terus berkelanjutan untuk kedepannya.

Berdasarkan teori Multikultural masyarakat kampung naga merupakan bagian dari suatu kemultikultural suatu budaya karena masyarakat kampung naga masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang dimana pada adat istiadatnya dengan malakukan suatu tradisi tradisi yang secara berkala akan terus dilakukan sebagi usaha pengabdian maupun pelestarian sampai nanti ke anak cucu mereka. Sedangkan masyarakat pantai pangandaran sudah bersifat global dengan ditandai sudah mulai menghilangkan sebagian besar tradisi-tradisi leluhurnya. Namun jika dilihat dari keragaman budayanya keduanya tentu sama sama bersifat mutikultural namun perbedaanya disini yaitu dilihat dari sisi mana kita melihat adanya suatu multikultural tersebut.

Dalam permasalahan yang kompleks ini tentunya ada beberapa solusi yang mungkin dapat dilakukan bagi kedua masyarakat yang berbeda tersebut agar sesuai dengan alur suatu perubahan sosial dan juga tidak menimbulkan suatu culture shock disalah satunya yaitu bagi masyarakat kampung Naga dimana telah dibahas diatas bahwa dalam perubahan sosial budayanya masih sangat statis atau lambat sehingga belum bisa menyatu dengan perkembangan zaman sekarang dan tentunya hal ini dapat dihindari jika masyarakat kampung naga bisa sedikit lebih membuka diri untuk mengambil suatu sisi positif dari perkembangan zaman sekarang yang memunculkan suatau teknologi-teknologi yang dapat membantu mereka dalam keseharian minimal unrtuk pengolahan lahan agarmasyarakat tersebut secara tidak langsung dapat membantu perekonomian negara dengan menghasilkan hasil tanah yang besar, selain itu masyarakat kampung naga agar lebih membuka mata lagi mengenai pentingnya suatu pendidikan bagi anak-anak mereka karena berdasarkan penuturan dari salah satu perwakilan masyarakat kampung naga bahwa anak-anak mereka berseklah hanya sampai SD mungkin hal ini disebabkan karena jauhnya jarak sekolah dengan tempat tinggal mereka yaitu harus menysuri tangga permanen yang lumayan jauh dan tinggi karena perkampungan mereka berada dibawah bukit. Mungkin hal ini juga pemerintah harus ikut turun serta untuk mensosialisasikan pentingnya mengikuti perubahan zaman dan hal-hal seperti itu.  Tentunya dengan pendekatan terlebih dahulu dengan ikut menghormati keyakinan mereka. Sedangkan masyarakat pantai pangandaran dimana jika kita lihat masyarakatnya sangat bersifat terbuka dengan perkembangan zaman globalosasi tentunya. Namun masyarakatnya jika kita teliti mengalami suatu culture shock dalam meneria suatu budaya baru tentu hal ini sangat tidak baik bagi kelangsungan hidup anak bangsa, untuk mengatasinya khususnya pada masyarakat pantai pangandaran dengan mensosialisasikan kembali adat-istiadat para leluhur seperti tradisi-tradisi yang sebelum-sebelumnya dilakukan oleh masyarakat pantai pangandaran sebelum terkenal sebagi daerah pariwisata. Dan dengan melakukan suatu pembatasan-pembatasan perdagangan minuman keras bagi warung-warung sekitarnya. Selain itu juga masyarakat secara perlahan mulai menanam nila-nilai yang baik kepada anak-anak mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s