Masyarakat Baduy


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.  Kondisi Geografis

 

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LU dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20°C.

Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan Badawi atau Bedouin Arab yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

1.2.  Asal usul Masyarakat Baduy

 

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia. Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai ‘Tatar Sunda’ yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Baduy sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala’ (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau ‘Sunda Asli’ atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.

 

1.3.  Bahasa dan Sistem Komunikasi

 

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes ‘dalam’ tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORITIS

 

Kebutuhan manusia untuk saling berhubungan akan melahirkan kelompok-kelompok sosial dalam kehidupan. Namun demikian, tidak  semua himpunan manusia dapat dikatakan sebagai  kelompok sosial.  Untuk dikatakan sebagai kelompok sosial, terdapat persyaratan-persyaratan tertentu seperti yang dikemukakan oleh Soekanto (1982:111) sebagai berikut:

  1. Adanya kesadaran dari anggota kelompok tersebut bahwa ia  merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
  2. Adanya hubungan timbale balik antara anggota yang satu dengan lainnya dalam kelompok itu.
  3. Adanya suatu faktor  yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok yang bersangkutan yang merupakan unsure pengikat atau pemersatu. Faktor tersebut dapat berupa nasib yang sama, kepentingan bersama, tujuan yang sama ataupun ideology yang sama.
  4. Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku.

Dengan demikian, kelompok terbentuk melalui proses interaksi dan proses sosial, di mana manusia berhimpun dan bersatu dalam kehidupan bersama berdasarkan hubungan yang timbale balik, saling mempengaruhi dan memiliki kesamaan untuk tolong menolong, sebagaimana dikemukakan oleh Mac Iver (196:213).

            Di dalam kelompok, manusia menyesuaikan diri satu sama lainnya usaha penyesuaian diri ini akan terus-menerus dilakukan selama kelompok itu “bernilai”, bagi dirinya dan selama kelompok diperlukan bagi kemajuan dan perkembangannya. Proses penyesuaian diri ini lama-kelamaan  menjurus kepada proses sosialisasi, yaitu proses yang menurut Buhler (1968:172). Disebut sebagai: “Proses yang membantu individu-individu melalui  belajar dan penyesuaian diri bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar ia dapat berperan serta berfungsi bagi kelompoknya”.  Proses ini terjadi melalui interaksi sosial di mana anggota kelompok ini dapat berhubungan secara serasi atau dapat pula terjadi pertentangan. Namun selama manusia sebagai anggota kelompok merasa memerlukan kelompoknya ia akan bersedia melakukan beberapa kompromi  terhadap tuntutan kelompok. Berdasarkan pengalaman dalam kelompok, manusia mempunyai system tingkah laku (behavior-system) yang dipengaruhi oleh watak pribadinya. Sistem perilaku ini akan menentukan dan membentuk sikap (attitude) terhadap sesuatu.

Mac Iver dan Page (1957:124) menggolongkan kelompok sosial dalam beberapa sudut pandang dengan berdasarkan pada berbagai kriteria (ukuran). Sementara Simmel dalam  systematic society mendasarkan pengelompokannya pada besar kecilnya jumlah anggota, cara individu mempengaruhi kemlompoknya serta interaksi sosial dalam kelompok tersebut. Simmel memulainya dengan bentuk terkecil yang terdiri dari satu orang  individu sebagai focus hubungan sosial yang dinamakan “nomad”, lalu dua atau tiga orang yang dinamakan “triad” atau “dyad”.  Sebagaimana perbandingan dielaah pula kelompok-kelompok yang lebih besar. Ukuran lain dalam klasifikasi kelompok sosial adalah berdasarkan derajat interaksi sosial pada kelompok yang bersangkutan. Dalam pendekatan ini para sosiolog mendasarkan pengelompokannya pada derajat saling  kenal mengenal pada anggota-anggotanya (face to face groupings). Contohnya: keluarga, rukun etangga, desa, kota, koperasi, dan Negara. Ukuran kepentingan dan wilayah merupakan salah satu pengelompokkan di samping besar kecilnya. Jumlah anggota dan derajat interaksi sosial. Pengelompokkan ini berdasarkan pada kepentingan dan wilayah yang tidak mempunyai kepentingan khusus atau tertentu. Contohnya adalah suatu komunitas (community) masyarakat setempat, seperti: Komunitas Kampung Naga, Masyarakat Baduy, Suku Dayak dll. Selain itu, berlangsungnya kepentingan merupakan suau ukuran lain bagi klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial. Contohnya adalah suatu kerumunan yang terbentuk oleh kepentingan yang tidak berlangsung lama. Hal ini berbeda dengan komunitas kepentingannya relative bersifat tetap (permanent).

Klasifikasi selanjutnya adalah berdasarkan ukuran derajat organisasi. Dalam klasifikasi ini kelompok-kelompok sosial terdiri dari kelompok yang  terorganisasi dengan baik sekali seperti Negara sampai pada kelompok yang hamper tak erorganisasi seperti kerumunan. Dengan demikian dasar yang dapat diambil sebagai alternative untuk mengadakan klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial tersebut adalah ukuran jumlah, derajat interaksi sosial atau kepentingan kelompok serta derajat organisasi maupun kombinasi dari ukuran-ukuran tersebut mengacu pada pengelompokkan kelompok sosial dari Mac Iver dan Page (1957:215). Hubungan-hubungan positif antar manusia menurut Ferdinand Tonnies, selalu bersifat Gemeinschaft dan Gesselschaft. Dalam Reading  in Sociology (1960:82) Tonnies dan Loomis menyatakan bahwa Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggotanya diikat oleh hubungan batin yang bersifat alamiah dan dasar dari hubungan tersebut adalah rasa cinta dan kesatuan batin yang telah dikodratkan. Bentuk utama dari gemeinschaft dapat dijumpai dalam keluarga, kelompok kekerabatan, rukun tetangga dan lain-lain.

Community dapat diterjemahkan sebagai “masyarakat setempat”, yang dapat menunjukkan warga sebuah kota, desa, suku atau bangsa. Ciri utama masyarakat setempat adalah adanya social relationship antara anggota-anggotanya. Dengan demikian tempat tinggal suatu wilayah geografis, dengan faktor utama interaksi di antara anggotanya menunjukkan  kekhasan suatu community.  Batasan dari Selo Soemardjan (1962) menyatakan bahwa masyarakat setempat adalah suatu kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial yang tertentu. (Soekanto, 1982:142). Unsur-unsur community sentiment menurut Mac Iver dan Page (1961:293) antara lain: seperasaan, sepenanggungan, dan saling memerlukan. Adapun tipe-tipe dari masyarakat setempat menurut Davis (1960:313) di  antaranya dapat digolongkan dengan menggunakan empat criteria sebagai berikut:

  1. jumlah penduduk,
  2. luas, kekayaan dan kepadatan penduduk daerah pedalaman,
  3. fungsi-fungsi khusus dari masyarakat setempa terhadap seluruh masyarakat organisasi masyarakat yang bersangkutan.

Kriteria tersebut digunakan untuk membedakan jenis-jenis masyarakat setempat yang sederhana dan modern, masyarakat pedesaan dan perkotaan. Pada kehidupan masyarakat modern sering dibedakan antara masyarakat pedesaaan dan masyarakat perkotaan dalam bentuk “rural community” dan “urban community”. Dalam kehidupan masyaraka pedesaan, hubungan yang terjadi anara anggota masyarakat terjalin secara erat, mendalam dengan system kehidupan berkelompok. Pekerjaan inti penduduk biasanya terkonsentrasi pada sector pertanian. Dalam mengelola pertanian cara-cara yang digunakan masih (sangat) tradisional dan tidak efisien yang lazim disebut  sebagai “subsistence farming”. Pada umumnya golongan orang-orang tua dijadikan sebagai penasihat dalam kehidupan sehingga peranan mereka menjadi begitu penting. Masalah yang timbul kemudian adalah sulitnya mengadakan perubahan-perubahan sosial. Hal ini disebabkan pandangan-pandangan mereka yang didasarkan pada tradisi yang kuat. Karena itu, sulit sekali untuk mengubah pola piker, sikap maupun perilaku penduduknya. Kelangkaan alat-alat komunikasi turut menunjang terhadap perubahan-perubahan tadi. Salah satu komunikasi yang berkembang adalah desas-desus yang sifatnya negatif. Dilihat dari sudut hubungan antara penguasa dengan rakyat berlangsung secara idak resmi, di mana segala sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama diselesaikan dengan cara musyawarah. Ciri lainnya adalah tidak adanya pembagian kerja yang jelas dan tetap. Beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat pedesaan menurut Soerjono Soekanto: (1982:149).

1. Kehidupan Keagamaan

Kecenderungan bagi masyarakat desa mengarah pada kehidupan agamis (religius trend), sedangkan pada kehidupan orang-orang kota mengarah pada keduniawian (seculer trend). Hal ini dilandasi oleh cara berfikir yang berbeda.

  1. Kemandirian

Pada masyarakat biasanya tidak terlalu bergantung pada orang lain. Hal terpenting bagi masyarakat perkotaan adalah individu atau manusia sebagai perseorangan. Di desa-desa orang kurang berani untuk menghadapi orang lain dengan latar belakang yang berbeda. Kebiasaan yang ada pada individu tidak sesuai dengan kebiasaan yang sesungguhnya.

  1. Pembagian Kerja

Pada masyarakat pedesaan pembagian kerja kurang tegas dan jelas dan tidak memiliki batas-batas yang nyata.

  1. Peluang Memperoleh Pekerjaan

Peluang mendapatkan pekerjaan pada masyarakat pedesaan relatif sulit, mengingat sifat pekerjaan yang homogen, dan berkurangnya/makin menyempitnya lahan pertanian.

  1. Jalan Pikiran

Pola pikir yang irrasional pada masyarakat pedesaan tidak memungkinkan terjadinya interaksi berlandaskan fakor pribadi belaka.

  1. Perubahan Sosial

Pada masyarakat pedesaan perubahan sosial berlangsung secara lambat, mengingat sikap masyarakatnya yang tertutup terhadap dunia luar, dan senantiasa curiga terhadap hal-hal baru yang dating dari luar.

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1. Kepercayaan dan Adat Istiadat

 

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apapun”, atau perubahan sesedikit mungkin:

“Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung”

Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a). Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Orang Baduy juga memiliki hari raya sebagaimana umat Islam seperti lebaran, Hari Raya orang Baduy itu disebut Kawalu, Selama tiga bulan perayaan Kawalu, warga Baduy dalam menutup diri karena menjalankan ritual kepercayaan agama yang dianutnya. Wisatawan dilarang masuk perkampungan Baduy Dalam (yang berciri khas pakaian putih-putih), yakni wilayah Cibeo, Cikawartana dan Cikeusik, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. “Jika pengunjung nekat mendatangi Baduy dalam tentu dikenakan sanksi hukuman oleh pemuka adat,” kata Ketua Lembaga Hukum Adat Baduy Jaro 12, Saidi (65), di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis. Ia mengatakan, saat ini perayaan Kawalu di daerah Baduy memasuki bulan karo (kedua), karena bulan pertama (kasa) sudah dilaluinya. Sedangkan bulan tiga (katiga) diperkirakan jatuh pada bulan Mei. Selama Kawalu ini, warga Baduy Dalam menutup diri karena menjalankan ritual kepercayaan agama yang dianutnya, sehingga warga luar tidak diperbolehkan untuk mengunjunginya, termasuk pejabat daerah dan negara. Hal itu keputusan lembaga adat.

Oleh karena itu, pihaknya meminta semua warga luar hendaknya menghormati keputusan lembaga adat tersebut. Sebab, secara turun temurun perayaan Kawalu tidak diperbolehkan warga luar memasuki kampung Baduy Dalam. Akan tetapi, sesudah berakhir nanti pengunjung juga diperbolehkan kembali mendatangi kawasan Baduy Dalam. “Setelah Kawalu kami melaksanakan perayaan Seba dengan mendatangi bupati dan Gubernur Banten membawa hasil-hasil bumi (pertanian),” Sebetulnya perayaan Kawalu itu merupakan upaya warga Baduy dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga warga luar tidak diperbolehkan untuk mengunjunginya. Perayaan Kawalu itu, warga Baduy dalam juga menjalankan ibadah puasa selama tiga bulan. Namun demikian, cara puasanya berbeda dengan umat Islam sebulan penuh. “Kalau warga Baduy Dalam berpuasa hanya tiga kali dalam tiga bulan selama melaksanakan Kawalu.

3.2. Baduy Luar dan Baduy Dalam (Struktur Sosial)

 

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik). Ciri khas Orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Kelompok masyarakat panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar, yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Apabila Baduy Dalam dan Baduy Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka “Baduy Dangka” tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

 

3.3. Sistem Pemerintahan Masyarakat Baduy

 

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu “puun”. Struktur pemerintahan secara adat Kanekes adalah sebagaimana tertera pada Gambar 1. Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah “puun” yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan puun tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Gambar 1. Struktur Pemerintahan Masyarakat Baduy

 

Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan) dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung (Makmur, 2001). Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan, memintal kain, memande besi untuk membuat golok, dan membuat pernak pernik dari bahan-bahan bambu, dan kayu.

 

3.4.Pola Interaksi dengan Masuarakat Luar

 

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. “Lojor henteu beunang dipotong, pendek henteu beunang disambung” (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung).

 

Filosofi itulah hingga kini tetap aktual bagi komunitas Baduy di pedalaman Lebak yang merayakan tradisi upacara Seba sebagai wujud ungkapan syukur kepada Bapak Bapak Gede (Bupati atau Kepala Pemerintahan Daerah). Perayaan adat Seba, menurut warga Baduy, merupakan peninggalan leluhur tetua (Kokolot) yang harus dilaksanakan sekali dalam setiap tahun. Acara itu digelar setelah musim panen ladang huma, bahkan tradisi sudah berlangsung ratusan tahun sejak zaman Kesultanan Banten di Kabupaten Serang.

Kawasan Baduy yang menghuni lahan seluas 5.108 hektare itu, dan seluas 3.000 hektare di hutan lindung dalam acara Seba tersebut meminta perlindungan kepada Bupati dan aparat pemerintah daerah sehingga masyarakat Baduy merasa aman dan damai.
Kejadian pemerkosaan dan penyerobotan tanah ulayat yang menimpa warga Baduy tahun lalu, jangan sampai terulang kembali. Demikian permintaan warga Baduy dalam acara Seba tersebut. Panggilan kewajiban Seba begitu sakral, karena prosesi itu titipan dari Lembaga Adat Baduy dari leluhur hingga dijalankan para generasi penerusnya.
Baduy Dalam, berseragam serba putih-putih hingga kini masih mempertahankan adat mereka. Baduy Dalam pergi kemana-mana selalu ditempuh berjalan kaki. Mereka tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan, termasuk mengikuti upacara Seba dengan berjakan kaki sepanjang 50 Km.

Bagi Baduy Luar yang berseragam hitam-hitam kehidupannya lebih modern, dan mereka kemana-kemana menggunakan kendaraan bahkan di zaman sekarang ini juga banyak warga Baduy Luar memiliki telepon seluler (ponsel). Ayah Mursid (35), seorang kepala Lembaga Adat Baduy Dalam (Tangtu Jaro 3), memiliki kekuasaan Cibeo, Cikeusik, Cikawartana, sejak usia 12 tahun sudah mengikuti acara Seba, sehingga dirinya cukup dikenal di kalangan pejabat pemerintah maupun masyarakat Lebak. Ia bersama Naldi (20), warga Cikeusik, melakukan perjalanan menuju Pemkab Lebak yang cukup melelahkan sekitar 12 jam, dan mereka berjalan kaki hingga sepanjang 12 kilometer menembus perbukitan Gunung Kendeng di kawasan Baduy. Selama menempuh ke pusat pemerintahan, ia juga beberapa kali melepaskan rasa lelah dengan beristirahat di sepanjang jalan.

Prosesi upacara Seba suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dan menjadikan ketetapan Lembaga Adat Masyarakat Baduy yang diterapkan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. “Seba itu titipan adat yang harus dijalankan karena jika tidak dilaksanakan khawatir kami kualat,” katanya. Namun demikian, kendati melelahkan Seba itu,ia merasa senang selain bisa bertemu langsung bersama Bupati dan aparat Muspida setempat. Di bidang pertanian, penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh. Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger. Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk. Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

 

                        Kesimpulan

 

Orang Kanekes atau orang Baduy adalah orang yang mengasingkan diri dari hiruk pikuknya dunia modern bukan suku “terasing” atau “primitif”, yang kerap dituduhkan orang, mereka mengasingkan diri karena mereka tidak mau terimbas oleh kehidupan masyarakat luar modern yang menurut keyakinan mereka dapat merusak kehidupan dan tradisi atau istiadat yang secara turun temurun diwariskan dari nenek moyang mereka, tabu atau “pamali”, adalah “pameo”, yang dapat memagari mereka dari berbagai perubahan social yang melanda kehidupan masyarakat pada umumnya. Walaupun mereka bertahan dengan adapt istiadat serta kepercayaan yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyangnya tapi mengingat banyak wisatawan asing dan domestik yang sering datang ke daerah Baduy Dalam maupun Baduy luar akhirnya sedikit banyak orang-orang Kanekes ini harus menyerah juga pada perubahan sosial yang ada terutama pada masyarakat Baduy Luar, naluri kemanusiaan mereka tidak dapat mengelak dari proses sugesti, identifikasi dan imitasi terhadap sentuhan-sentuhan barang-barang modern yang dibawa oleh para pengunjung ke wilayah meraka. Larangan akan kepemilikan dan penggunaan alat-alat elektronik seperti: Radio, Televisi, lampu, listrik, kamera, lilin dan barang sejenis, juga larangan penggunaan terhadap pemakaian alat-alat kebersihan badan seperti; sabun, sampo, pasta gigi pengharum ruangan dan sejenisnya.

Untuk masalah sandang dan papan pun rupanya telah terkena imbasnya dari perubahan sosial pada masyarakat Baduy Luar terutama, perhiasan menjadi pemandangan yang biasa bagi para wanitanya, rumah yang mestinya tidak boleh dipaku dicat dan dan diberi hiasan rupanya sudah berubah, pakaian yang mestinya tidak boleh dijahit dan berkancing sudah dijahit dan berkancing dan kantong/saku.  Nampaknya secara evolusionis perubahan sosial terjadinya juga pada masyarakat Baduy walaupun terjadi dengan sangat lambat. Sebagai komunitas  yang unik dan masih memegang erat tradisi warisan nenek moyang maka kearifan lokal “local wisdom” nampaknya perlu ditiru oleh oleh orang-orang yang mengaku modern namun perilakunya masih “barbar” dan “ acapkali “vandalism”, fenomena leuweung Larangan di gunung Kendeng adalah merupakan fenomena kearifan lokal untuk memelihara kelestarian lingkungan alam agar tetap terpelihara dan terjaga dengan baik, sehingga anak cucu kita masih dapat merasakan dan menikmati indahnya alam yang hijau, sungai yang jernih, udara yang bersih, makanan yang sehat, binatang-binatang yang yang dilindungi yang beraneka ragam masih dapat dijumpai oleh anak cucu kita kelak. Apabila di luar sana orang acapkali kelaparan karena kekurangan pangan karena kemiskinan yang melanda, dan atau karena orang lain yang memiliki “kelebihan”,  tidak peduli maka di Baduy hampir tidak ada yang kelaparan atau kekurangan pangan karena mereka giat bekerja tiap-tiap individu bekerja mengolah tanah dan tidak ada fenomena pengangguran, sebagai hasil kerja kerasnya mereka senantiasa memiliki persediaan pangan yang cukup setiap panjang tahun. Peraturan adat turut menentukan dalam usaha melestarikan semua lingkungan alamnya. Semua satwa yang hidup di dalamnya dilindungi. Sangat dilarang bagi tamu yang masuk ke daerahnya, membawa sabun, rinso, geretan, odol, katanya bisa mencemari air dan membunuh kehidupan di dalamnya. Menebang pohon, menembak binatang, menuba ikan, memotret/foto sembarangan pada objek tertentu, apabila ketahuan oleh punggawa adat akan ditangkap dan disidang. Barang bawaan dimusnahkan, pembawanya diadili atau diusir keluar. Bagi orang Baduy sendiri bila melanggar peraturan, akan dikenakan sanksi dengan hukuman yang sama, diasingkan ke daerah pembuangan oleh adat.

Begitu juga dengan rumah yang dibangun harus menghadap Utara-Selatan pada setiap ujung bubungannya, walaupun beranda depannya tidak sehadapan. Setiap rumah pada ujung bubungannya harus diberi ijuk yang berbentuk tanduk atau lingkaran, dalam membangun rumah kayu jangan digergaji dan diserut serta dipaku. Keadaan rumah harus disesuaikan dengan suasana lingkungan tidak boleh dicat, divariasikan, agar alami. Orang Baduy sangat berpegang teguh kepada yang menjadi pedoman hidupnya yang dikenal dengan “Dasa Sila” (10 Pengertian). (1) Moal megatkeun nyawa nu lian, (2) Moal mibanda pangaboga nu lian, (3) Moal linyok moal bohong, (4) Moal mirucaan kana inuman nu matak mabok, (5) Moal mudia ati kanu sejen, (6) Moal barang dahar dina waktu nu kakurung ku peuting, (7) Moal make kekembangan jeng seuseungitan, (8) Moal ngageunah-geunah geusan sare, (9) Moal nyukakeun ati ku igel, gamelan, kawih atawa tembang, (10) Moal make emas atawa salaka.

2 thoughts on “Masyarakat Baduy

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s