Membantu Para Siswa Menginterpretasikan Sejarah


Bab 10

Membantu Para Siswa Menginterpretasikan Sejarah

 

Kilasan Bab

Semua orang harus mengetahui masa lalu mereka dan tempatnya di dalam sejarah dunia. Bab ini akan berhubungan dengan bagaimana kita mempelajari masa lalu kita dan bagaimana masa lalu itu dapat dibuat sangat bermakna bagi kita sebagai individu dan sebagai masyarakat di dunia dan bangsa yang saling bergantung. Pelajaran Sejarah merupakan sesuatu yang pribadi dan menyenangkan namun terkadang dilihat oleh para siswa sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan dan tertinggal. Para siswa memiliki kesulitan dalam memberikan alasan tentang pelajaran Sejarah karena seperti tidak memberikan sesuatu yang bermanfaat. Mungkin ini adalah lebih kepada factor apa dan sejarah yang mana yang telah diajarkan ibandingkan sifat alamiah dari Sejarah dan pentingnya bagi para masyarakat.

Banyak guru pendidikan dasar memainkan peran yang penting karena mereka menyediakan para siswa dengan pengalaman pembelajaran yang formal tentang Sejarah. Penelitian baru-baru ini tentang bagaimana para siswa sekolah dasar dan menengah memahami Sejarah telah digambarkan sebagai konsep yang naïf atau sesuatu yang imajinatif dan tidak akuratnya asumsi yang dipegang oleh para siswa. Penelitian ini menantang keabsahan masa lalu dalam memperkenalkan pelajaran Sejarah kepada generasi muda. Oleh karena itu, strategi pembelajaran dan kurikulum yang sering dirasakan oleh para orang dewasa saat masih SD atau SMA tentang cara mereka mempelajari Sejarah dipertanyakan dan dievaluasi kembali. Bab ini akan meneliti beberapa alasan untuk mempelajari Sejarah, keterampilan yang dibutuhkan untuk mempelajari Sejarah, peran interpretasi dan bukti dalam pelajaran Sejarah, dan penelitian tentang bagaimana para siswa usia muda mulai untuk menguji dan menginterpretasikan Sejarah untuk mengidentifikasi kontribusi yang diberikan untuk kehidupan mereka.

Tujuan Bab

  1. Membedakan antara definisi Sejarah yang diberikan oleh sekolah dan digunakan di sekolah.
  2. Mengidentifikasi empat tujuan mempelajari Sejarah.
  3. Memberikan rasional terhadap pelajaran Sejarah untuk siswa tingkat 8.
  4. Membedakan antara peran sumber primer dan sekunder dalam mempelajari Sejarah.
  5. Menjelaskan mengapa pembelajaran Sejarah memasukkan pengujian tentang konflik.
  6. Menjelaskan mengapa mempelajarai beberapa topic Sejarah disarankan bagi siswa sekolah dasar dan menengah.
  7. Memberikan masukan terhadap prosedur pengajaran  yang dibutuhkan bagi para siswa untuk berpikir secara kritis tentang kejadian dan tokoh-tokoh Sejarah.
  8. Menggambarkan bagaimana urutan kejadian digunakan untuk membantu pengembangan pemahaman tentang waktu.
  9. Bercermin pada bagaimana pendekatan siklus pengajaran terhadap mata pelajaran tepat untuk kebutuhan para siswa dalam mempelajari Sejarah.
  10. Mengidentifikasi berbagai macam sumber yang dapat digunakan untuk mengajarkan Sejarah bagi para siswa.
  11. Menjelaskan bagaimana peran pengajaran naratif dan pembelajaran Sejarah membutuhkan studi lebih lanjut.

Definisi Sejarah

Sejarah memiliki arti yang berbeda untuk orang yang berbeda juga. Bahkan para Sejarawan pun tidak setuju dengan definisi tunggal tentang Sejarah atau tentang apa yang tercantum di dalam sebuah masalah Sejarah untuk penelitian. Para Sejarawan sebenarnya merujuk hal ini dengan berbagai macam nama yg berbeda: sejarah sosial, sejarah militer, sejarah lisan, pengumpul arsip, sejarah umum, penafsir kejadian ulang, sejarah keluarga, dan arkeolog. Namun para sejarawan pada umumnya setuju dengan tiga aspek yang penting: Sejarah adalah sebuah studi kronologis yang menafsirkan dan memberikan makna terhadap kejadian-kejadian dan menerapkan metode sistematis untuk menemukan kebenaran.

Tidak seperti ilmu-ilmu sosial, sejarah tidak bertumpu secara langsung pada observasi dan percobaan untuk menggali fakta. Sejarah hanya mempunyai apa yang tertinggal di masa lalu dan diawetkan untuk memberikan petunjuk terhadap apa yang sudah terjadi. Sebagian orang melupakan banyak hal; sebagian lagi sama sekali tidak mengingat apapun. Bagaikan seorang detektif, sejarah membutuhkan penelitian yang melelahkan untuk mencari banyak petunjuk. Penemuan sebagian besar hanyalah petunjuk, bukanlah rekam jejak yang utuh. Mereka mencerminkan sudut pandang dan ingatan yang dibawa. Oleh karena itu, para Sejarawan menafsirkan bukti, memutuskan tingkat kepentingannya dan keakuratannya. Hal ini dilakukan dengan menerapkan tebakan yang logis dan terbaik terhadap pengetahuan tentang orang-orang dan waktu.

Seringkali penemuan mengakibatkan banyak pertanyaan yang dapat sulit dijawab. Kemampuan untuk menempatkan waktu dan kejadian di dalam urutan kronologis sangat penting di dalam pembangunan hubungan sebab-akibat. Para sejarawan tidak hanya menguji motif dan kegiatan yang dilakukan manusia, namun juga sering menerapkan prinsip-prinsip dari penemuan ilmiah untuk membantu mereka menafsirkan bukti yang ada. Bekerja untuk sebuah sejarah membutuhkan logika dan ketekunan. Tugas tidak akan selesai ketika jawaban sudah ditemukan; hasilnya harus dikomunikasikan kepada yang lain, atau pengetahuan tersebut akan hilang selamanya.

Sebenarnya, penjelasan ini tidak cukup dari apa yang para sejarawan professional indikasikan terhadap sejarah. Elliott West, seorang ahli dalam ilmu sejarah sosial dan lingkungan dari American West, menjelaskan bahwa sejarah tidak memiliki awalan atau akhiran. Selalu ada sesuatu yang lebih untuk dipelajari. Sebagai kebutuhan, para sejarawan mengikat pembelajaran mereka dengan awalan dan akhiran. Namun pada kenyataannya, kejadian yang terjadi yang menjadi topic pembelajarannya, dan semakin banyak sejarah yang akan diketahui setelahnya. Mengetahui bahwa kejadian-kejadian ini dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam dan lebih besar lagi dan sebuah penafsiran yang lebih bermakna tentang apa yang sudah dipelajari. West menggambarkan sejarah sebagai sesuatu yang tidak pasti yang “merayakan berbagai macam perbedaan sudut pandang dan penekanan kontinuitas kita dengan, dan tanggung jawab untuk, masa lalu dan masa yang akan datang” (West, 2000:1). Ia mengatakan bahwa kualitas yang tidak pasti ini, pembelajarn sejarah mempunyai banyak kesamaan dengan berbagai macam pendidikan bagi guru.

Para siswa memiliki banyak pengalaman sebelum datang ke sekolah dan kembali ke situasi yang berbeda saat mereka pulang. Para guru dapat mengikat pengajaran mereka dengan mengetahui karakteristik pembangun siswa di usia tertentu, namun ini hanya bantuan kecil saja. Para guru yang mengetahui detil kehidupan individu siswa mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang minat, ketakutan, dan perilaku siswanya. Bagaikan sejarawan, semakin banyak guru tahu tentang siswanya, semakin baik pemahaman mereka.

Ketika mempelajari sejarah, semakin banyak siswa tahu, semakin baik mereka mempelajarinya. Para siswa usia awal dengan pengetahuan dan pengalaman yang terbatas dapat belajar sejarah namun tidak dengan pemahaman yang sama yang guru, orang tua, dan sekolah miliki. Hanya apa yang siswa tahu dan mampu melakukan di berbagai waktu yang berbeda selama jenjang sekolah mereka sangat besar tidak diketahui. Hanya di saat-saat terkini di dalam penelitian yang telah mencoba untuk menemukan bagaimana siswa dapat mempelajari sejarah.

Terlebih lagi, jika pola konstruktivisme benar, masalah pengajaran sejarah saat ini berbeda dari mereka yang memandang sebagai masalah pengajaran sejarah di masa lalu. Apa yang anda ketahui dan dapat mengerti sebagai seorang anak kecil bukan karena perubahan di masyarakat dan dunia, apa yang anak-anak pada zaman ini dapat mengerti. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa siswa memahami waktu dan banyak konsep lain yang dibutuhkan untuk mempelajari sejarah dengan cara yang lebih canggih dibandingkan dengan apa yang para guru rasakan di masa lalu. Penelitian lain, khususnya hasil uji sederhana yang lebih besar, menggambarkan bahwa para siswa mungkin tidak mengetahui hal-hal yang kami pikir mereka tahu atau apa yang kami pikir tahu ketika kami berada di usia mereka. Para guru harus memutuskan bagaimana menggunakan hasil penelitian untuk meningkatkan pengajaran sejarah seraya mempertahankan godaan untuk melakukan apa yang selalui dilakukan atau mereka yang memiliki sedikit pengalaman dengan pengajaran yang dilakukan.

Brophy dan Van Sledright (1997), di dalam pengulasan penelitian yang baru mengenai pemahaman siswa menengah dan pembelajaran sejarahnya, merekomendasikan bahwa para guru bertanya kepada dirinya pertanyaan berikut untuk mencerminkan pendekatan mereka secara serius untuk pengajaran sejarah:

  1. Ide-ide besar apa yang ingin saya sampaikan?
  2. Bagaimana pembelajaran sejarah dapat membangkitkan minat siswa?
  3. Bagaimana saya dapat mendorong siswa untuk bertanya pertanyaan-pertanyaan penting tentang apa yang terjadi di masa lalu?
  4. Konsep tidak akurat apa yang dimiliki oleh para siswa yang membuat mereka sulit memahami tujuan pembelajarannya?
  5. Bagaimana saya dapat membantu para siswa memahami masa lalu dan masuk ke dalam pengalaman orang lain?
  6. Bagaimana saya dapat membantu siswa memahami bahwa sejarah merupakan penafsiran berdasarkan bukti?

Hal tersebut juga mengingatkan kita bahwa beberapa siswa mengenalkan imajinasi mereka ke dalam penafsiran kejadian. Mereka memberikan kita sesuatu bahwa guru membuat tugas dan kesempatan untuk mengenal penggunaan yang salah dari imajinasi itu dan menggantikannya dengan analisis fakta untuk membantu siswa membuat penafsiran yang lebih akurat dan logis.

Sejarah di Sekolah

Sejarawan memainkan peran yang sangat besar di dalam semua komisi dan komite nasional sejak 1892 yang telah berkecimpung di ilmu sejarah dan sosial (Hertzberger, 1989). Sejarah adalah salah satu mata pelajaran teridentifikasi secara spesifik di dalam tujuan 3 Departmen Pendidikan Amerika Serikat (1990), yang menyatakan bahwa sejarah membantu menyiapkan para siswa untuk menjadi “masyarakat yang bertanggung jawab, pembelajaran lebih lanjut, dan kepekerjaan yang produktif di dalam ekonomi.” Pernyataan itu memunculkan sebuah pandangan bahwa “semua siswa akan berpendidikan dan memahami berbagai kekayaan budaya yang berbeda dari bangsa ini dan tentang komunitas dunia” (Departemen Pendidikan Indonesia, 1990:5-6).

Dua dimensi yang penting dari pendidikan kewarganaegaraan di dalam demokrasi diidentifikasikan oleh Engle dan Ochoa (1988). Salah satunya adalah sosialisasi, proses di mana seorang anak mulai menerima dan mendukung budayanya. Hal ini memberikan kelanjutan masyarakat. Engle dan Ochoa berpendapat bahwa untuk melanjutkan sebuah demokrasi yang mencerminkan kesediaan para manusianya, para warga negara harus juga mengalami dimensi kedua, paksaan sosialisasi berlawanan. Paksaan itu membuat para masyarakat menguji kepercayaan pribadi dan sosialnya dan menganalisa masalah bangsa dan dunia. Sosialisasi berlawanan membutuhkan pandangan yang didukung dengan alasan dan bukti. Perilaku tersebut dibutuhkan jika para warga negara di dalam sebuah demokrasi mampu untuk memutuskan hal, institusi, program, dan perilaku apa yang harus dilanjutkan, diubah, atau bahkan dihapus.

Pembelajaran sejarah member kesempatan untuk kedua hal tersebut. Engle dan Ochoa berpendapat bahwa anak balita menerima instruksi yang sangat besar sosialisasinya namun beberapa sosialisasi berlawanannya baru tepat dikasih saat mereka berada di sekolah dasar. Siklus pembelajaran pada Hari Syukuran Berkah pertama di Amerika Serikat adalah sebuah contoh tentang bagaimana sejarah membantu sosialisasi siswa (Tabel 10.1).

 

 

 

 

 

Tabel 10.1

Siklus Pembelajaran (Hari Syukuran Berkah pertama di Amerika Serikat)

Tingkat: Pertama dan Menengah

Standar NCSS: Waktu, Kontinuitas, dan Perubahan

 

Standar Nasional untuk Sejarah:

Standard 4: bagaimana nilai-nilai demokratis muncul dan bagaimana itu dicontohkan oleh manusia, kejadian, dan simbol. Standard 6: cerita rakyat dan budaya yang membantu membentuk kekakayaan warisan bangsa.

 

Pengenalan Ekspolasi

 

Tujuan

 

Siswa mengidentifikasi hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa saat pindah

Langkah-langkah

 

  1. Menanyakan siswa: Berapa banyak dari kalian yang pernah pindah?
  2. Membagi siswa menjadi kelompok yang berisi empat siswa. Suruh tiap kelompok memilih empat peran: perekam, ketua, pengatur bahan, dan fasilitator. Tiap grup berpura-pura sebagai sebuah kelurga dan membuat daftar hal-hal yang harus dilakukan karena mereka akan pindah sebulan atau dua bulan lagi. Mereka sedang berencana tentang bagaimana mereka akan ke sana, di mana akan tinggal ketika sampai, dan apa yang harus dibawa. Buatlah tiap kelompok berbagi daftar mereka dan merekamnya di secarik kertas.
  3. Diskusikan tugas tersebut yang akan dibantu oleh para anak-anak. Sebagai tugas rumah, berikan siswa sebagai berikut: “Dari benda-benda tersebut, pilihlah barang-barang yang akan kalian bawa, namun benda-benda yang ingin kalian bawa harus muat di sebuah tas coklat besar. Bawa hanya daftar yang tertulis ke kelas besok.

Penilaian

 

Siswa bekerja bersama di dalam kelompok, membuat pilihan yang logis. Rekamlah menggunakan lembar penyocokkan.

 

Pengembangan Pelajaran

Bahan-bahan: Tranparansi OHP Lembar 3 – alat-alat Coming to America, untuk tiap siswa, kopi Sheet 4 dan 5, alat-alat Coming to America, peta atau globe dunia, buku penjualan dan baha-bahan yang diunduh dari Internet (lihat link website).

 

Tujuan

 

  1. Siswa mengungkapkan kesadaran mereka tentang kesulitan pindah dan membuat keputusan berdasarkan prioritas pribadi.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Siswa mengidentifikasi paling tidak lima perbedaan fisik antara pindah hari ini dan di tahun 1620.

 

 

 

 

 

  1. Para siswa mengidentifikasi delapan barang yang dibawa Pilgrim berdasarkan apa yang mereka kira sebagai kebutuhan dan ruang dan klasifikasikan barang tersebut sebagai barang-barang, perkakas rumah tangga, pakaian, dan makanan.
  2. Para siswa bekerja di kelompok kecil, mengumpulkan data yang tepat dari buku tentang Pilgrim dan Hari Syukuran Berkah.
  3. Siswa menarik kesimpulan tentang bagaimana perayaan Pilgrim dan Hari Syukuran Berkah sama dan berbeda.

Langkah-langkah

 

  1. Siswa membagi daftar mereka dan membahas alasan pemilihan mereka. Tanya, “apakah hal pertama yang dipilih? Apa yang kalian butuhkan untuk ditinggal? Akankah kaliah sudah membuat pilihan yang sama ketika mengetahui tempat yang akan kalian tempati nanti tidak akan muat?” Bahaslah perubahan yang dipilih dan alasannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Melacak perjalanan Pilgrim di peta atau globe. Perjalanannya menempuh waktu selama 66 hari. Tunjukkan Lembar 3 dari alat-alat Coming to America, tentang bagaimana Mayflower dipenuhi orang dan barang-barang. Diskusikan bagaimana perjalanan para Pilgrim berbeda dari perjalanan disaat ini. Rekamlah perbedaan dari daftar. Tunjukkanlah bantuan pemilihan terhadap pendapat mereka sebelum mendaftarnya. Tanyalah: apakah kamu berpikir Pilgrims memiliki banyak kesulitan dalam memutuskan apa yang ingin dibawa? Mengapa?
  2. Suruhlah para siswa untuk membuat sebuah daftar apa yang mereka pikir Pilgrim bawa. Klasifikasikan. Apakah para siswa menyebutkan barang, perkakas rumah, senjata, pakaian, dan makanan? Uji Lembar 4 dan 5 di dalam alat Coming to America sebagai ide tambahan dan melihat saran-saran. Suruh para siswa bahwa tidak ada yang tahu beberapa hal apa yang dibawa oleh para Pilgrim.

 

 

 

 

 

 

  1. Para siswa bekerja di dalam kelompok kecil, menggunakan buku tentang Pilgrim dan Hari Syukuran Berkah untuk mencari jawaban. Berilah pertanyaan yang berbeda untuk tiap kelompok. Setiap kelompok melaporkan penelitiannya ke kelas dan mendiskusikan mengapa Pilgrims harus merayakan.
  2. Membandingkan perayaan modern Hari Syukuran Berkah dengan masa lalu dengan menuliskan kesamaan dan perbedaannya. Siswa membertahukan sumber buktinya. Penutup: tulislah dua kesimpulan; satu untuk kesamaan dan satu lagi untuk perbedaan.

 

Penilaian

 

Siswa mengidentifikasi kesulitan yang mungkin saat pindah dan memilih barang yang akan mereka bawa jika pindah hari ini.

Gunakan sebuah daftar partisipasi dalam pembuatan daftar hadir diskusi yang berbeda, dan berikan atau setuju dengan idenya.

Setidaknya lima perbedaan fisik teridentifikasi di kelas di dalam daftar di papan.

 

 

 

 

 

 

 

Siswa mengklasifikasikan penggunaan kategori dengan tepat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siswa bekerja bersama untuk menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

 

Siswa berbagi ide tentang kategori dan sumber buktinya.

 

Perluasan

Bahan-bahan: Bacaan pendek tentang Chusongnal di Korea dan Pista Ng Aniham di Filipina.

 

Tujuan

 

  1. Siswa memberikan alasan dan mengidentifikasi bukti pendukung mengapa masyarakat di negara lain ada yang merayakan dan tidak merayakan Hari Syukuran Berkah.
  2. Siswa membandingkan perayaan berkah di Korea dan Filipina, dan di Amerika Serikat dengan mengidentifikasi kesamaan dan perbedaannya.
  3. Siswa mengidentifikasi tradisi, sejarah, dan usaha Pilgrim untuk hidup dan bekerja bersama sebagai pentingnya merayakan Hari Syukuran Berkah.

Langkah-langkah

 

  1. Menanyakan siswa tentang alasan Hari Raya Berkah dan ketika dirayakan di Amerika Serikat. Tanyalah: apakah hari raya ini hanya dirayakan di Amerika Serikat? Mengapa? Atau mengapa tidak?

 

 

 

 

 

 

  1. Menyediakan bacaan pendek tentang perayaan tersebut dan menyuruh siswa mengidentifikasi persamaan dan perbedaannya.

 

 

 

 

 

 

  1. Membahas: mengapa para petani di berbagai belahan dunia merayakannya setelah musim panen? Hari ini, sedikit orang yang menjadi petani, namun kita masih merayakan hari raya ini. Tanyalah: menurut kalian mengapa kita masih merayakannya? Kesimpulan: suruhlah kepada para siswa untuk secara singkat menyimpulkan ide utama pelajaran dan kegiatan yang mendukungnya.

Penilaian

 

Siswa mengidentifikasi alasan dan memberikan bukti untuk mendukung alasannya.

 

 

 

 

Siswa memberikan perbandingan yang akurat.

 

 

 

 

 

 

Siswa berkata bahwa kita memiliki kebutuhan dan keinginan yang sama.

Siswa memberikan alasan pengenalan tentang kerja keras dan kebutuhan untuk penghargaan. Siswa memberikan alasan  dari sejarah dan perayaannya.

 

 

Peran pembelajaran sejarah di sekolah adalah untuk menyosialisasikan siswa dengan tradisi demokratis di Amerika Serikat dan mempersiapkan mereka untuk menjadi warga negara yang baik. Banyak penelitian yang diabdikan untuk mempelajari tentang asal-usul bangsa dan perjuangannya untuk tumbuh secara fisik, politik, dan ekonomi.

Standar bagi Sejarah

NCSS Standard II, “Waktu, Kontinuitas, dan Perubahan,” menyebutkan tiga konsep kunci bagi pembelajaran Sejarah: “program studi sosial harus memasukkan pengalaman yang menyediakan pembelajaran cara-cara manusia memandang diri mereka dalam lingkup waktu.” (NCSS, 199b:22). Dalam mencari pemahaman akar sejarah dan menempatkan diri di dalam lingkup waktu, para siswa dihubungkan dengan manusia dan ide-ide yang tersisa di berbagai generasi. Mereka juga melihat bahwa perjuangan untuk bertahan terhadap perubahan sebagai sebuah cara untuk mengendalikan kehidupan. Membangun sebuah sudut pandang sejarah membantu para individu dan kelompok menjawab beberapa pertanyaan berikut:

  1. Siapa saya?
  2. Apa yang terjadi di masa lalu?
  3. Bagaimana saya terhubung dengan hal-hal di masa lalu?
  4. Bagaimana dunia sudah berubah dan bagaimana hal ini berubah di masa yang akan datang?
  5. Bagaimana cerita personal mencerminkan berbagai sudut pandang dan menginformasikan aksi dan ide kontemporer? (NCSS, 1994b:22).

Siswa yang sedang mempelajari Sejarah ketika mereka mengurutkan kejadian di dalam kehidupan sehari-hari mereka, mendengarkan cerita tentang hari ini dan masa lalu, mengenal bahwa individu lain memiliki pandangan yang berbeda, dan memahami hubungan antara kegiatan dan keputusan dan akibatnya. Kurikulum, dimulai di taman kanak-kanak, mempunyai banyak kesempatan untuk menilai konsep-konsep dasar sejarah. Para siswa menikmati pemecahan masalah tentang sebuah situs yang tak biasa yang mereka temukan saat berjalan di lingkungan mereka atau di sekolah mereka berjuta tahun yang lalu. Mereka juga dapat belajar tentang orang-orang yang dipakai untuk nama jalan atau nama gedung.

Setelah dialog dan revisi besar, Standar Nasional untuk Sejarah diterbitkan di tahun 1996. Standard tersebut mengenai sejarah Amerika Serikat, sejarah dunia, dan keterampilan berpikiran kesejarahan. Table 10.2 memperlihatkan tentang lima standard berpikir kesejarahan untuk tingkat K-12: (1) Berpikir kronologis, (2) pemahaman kesejarahan, (3) interpretasi dan analisis kesejarahan, (4) kemampuan meneliti kesejarahan, dan (5) membuat keputusan dan analisis masalah kesejarahan.

Di table 10.2, keterampilan yang ditulis miring adalah untuk pengenalan dan penguasaan pada tingkat 5-12 ketika siswa adalah pemikir operasional formal. Walaupun keterampilan ini sama dengan mereka yang berada di K-4, hal tersebut berbeda secara kualitatif dalam kompleksitas dan jumlah tugas yang harus dilakukan siswa sebelum membuat kesimpulan akhir. Catatlah penekanan di Standar 5 dalam sudut pandang dan alternatifnya yang mendorong sejarawan untuk melihat sejarah sebagai sebuah cerita yang tiada akhir. Para sejarawan merekomendasikan bahwa semua lima standard itu diberi pendekatan K-4 di awal, namun bukan sementara, tingkat yang lebih dari sekedar menceritakan kembali sejarah dan lebih dari hanya menerima sebuah hasil. Mereka ingin para guru menekankan kebutuhan adanya bukti untuk mendukung ide mereka.

Karena perbedaan dalam perkembangan kognitif dan afektif siswa dan di dalam kurikulum ditemukan berbagai macam pendapat, dua set standard pengetahuan sejarah dihadirkan: satu dengan K-4 atau tingkat awal (Tabel 10.3), dan satu lagi untuk tingkat 5-12 (Tabel 10.4). table 10.4 menjelaskan secara detil tentang standard yang direkomendasikan dan teridentifikasi oleh semua era waktu sejarah. Tiap standard mungkin merujuk pada berbaga i cara. Guru dan sistem sekolah membuat banyak keputusan tentang spesifik sejarah yang ingin dirujuk. Namun, merujuk sejarah pada siswa sekolah dasar melalui topic dan kejadian yang memiliki ilmu pengetahuan personal atau pengalamannya harus dengan jelas ditekankan.

Pusat Nasional untuk Sejarah di Sekolah menjelaskan kegiatan-kegiatan kunci dari Standar Nasional Sejarah untuk tingkat 5-12 di dalam dua buku sumber, yang berjudul Bring History Alive. Satu buku sumber ditujukan untuk sejarah Amerika Serikat dan satu lagi berfokus pada sejarah dunia. Hal ini mengilustrasikan rekomendasi Pusat untuk menggunakan berbagai sumber untuk mengajar sejarah. Table 10.5 memberikan contoh-contoh kegiatan untuk tingkat 5-8 dari buku tersebut dan mengindikasikan beberapa standard isi untuk tiap pelajaran. Siswa menggunakan kedua sumber dan berbagai keterampilan intelektual untuk menafsirkan data. Keseluruhan set Standar Nasional Sejarah K-12 tersedia di Internet (lihat di kolom rekanan website di buku ini) dan juga terdaftar sebagai sebuah website di akhir bab ini.

 

 

 

 

 

 

Tabel 10.2

Standar di dalam Berpikir Historis

Standar 1: Berpikir Kronologis

  1. Membedakan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan.
  2. Mengidentifikasi struktur temporal dari cerita sejarah.
  3. Membangun urutan waktu dalam pembangunan cerita sejarah milik siswa.
  4. Mengukur dan menghitung tanggal.
  5. Menafsirkan data yang dihadirkan di garis waktu.
  6. Membuat garis waktu.
  7. Menjelaskan perubahan dan kontinuitas waktu.
  8. Membangun kembali pola suksesi dan durasi sejarah.
  9. Membandingkan model alternative periodisasi.

Standar 2: Pemahaman Historis

  1. Mengidentifikasi penulis atau sumber dokumen atau cerita sejarah.
  2. Merekonstruksi ulang makna literal tulisan sejarah.
  3. Mengidentifikasi pertanyaan sentral tentang rujukan cerita sejarah.
  4. Membaca cerita sejarah dengan imajinasi.
  5. Menghargai sudut pandang sejarah.
  6. Menggambar peta sejarah.
  7. Menggambar grafik visual dan matematis di dalam data yang dihadirkan.
  8. Menggambar data visul dari foto, lukisan, kartun, dan arsitektur.
  9. Membuktikan sudut pandang sejarah.
  10. Menggunakan data matematis visual dalam bentuk grafik, table, grafik bulat dan batang, diagram Venn, dan lain-lain.
  11. Menggambar sumber sejarah secara visual.

Standar 3: Interpretasi dan Analisis Sejarah

  1. Membuat formulasi pertanyaan untuk fokus pada analisis mereka.
  2. Membandingkan dan mengontraskanide yang berbeda.
  3. Menganalisis fiksi sejarah.
  4. Membedakan antara fakta dan fiksi.
  5. Membandingkan cerita yang berbeda antara figure sejarah, era, atau kejadian.
  6. Menganalisa ilustrasi cerita sejarah.
  7. Mempertimbangkan berbagai sudut pandang.
  8. Menjelaskan penyebab dalam menganalisis kejadian sejarah.
  9. Menentang argumentasi sejarah.
  10. Membuat hipotesis pengaruh masa lalu.
  11. Mengidentifikasi pengarang atau sumber dokumen sejarah.
  12. Membedakan antara fakta dan interpretasi sejarah.
  13. Menganalisa hubungan sebab-akibat dan berbagai penyebab termasuk pentingnya pengaruh individu terhadap ide dan perannya.
  14. Membandingkan cerita sejarah yang bersaing.
  15. Memegang interpretasi tentative sejarah.
  16. Mengevaluasi perdebatan besar antara sejarawan.

Standar 4: Kemampuan Penelitian Sejarah

  1. Memformulasikan pertanyaan sejarah.
  2. Mengumpulkan data sejarah.
  3. Mempertanyakan data sejarah.
  4. Kemampuan mengetahui waktu dan tempat dan membangun sebuah penjelasan cerita.
  5. Mengidentifikasi halangan sejarah.

Standar 5: Membuat Keputusan dan Analisis Isu Sejarah

  1. Mengidentifikasi masalah dan dilemma di masa lalu.
  2. Menganalisa ketertarikan dan nilai berbagai manusia yang terlibat.
  3. Mengidentifikasi penyebab masalah.
  4. Mengajukan alternative pilihan untuk menyelesaikan masalah.
  5. Memformulasikan posisi masalah.
  6. Mengidentifikasi solusi yang dipilih.
  7. Mengevaluasi konsekuensi keputusan.
  8. Mengidentifikasi sejarah yang relevan.
  9. Mengevaluasi alternative.

Tabel 10.3

Standar Sejarah bagi Tingkat K-4

 

Topik 1: Hidup dan bekerja bersama di dalam keluarga dan masyarakat, sekarang dan masa lalu.

Standar 1

Kehidupan keluarga sekarang dan masa lalu, kehidupan keluarga di berbagai tempat di masa lalu.

Standar 2

Sejarah masyarakat pelajar masa lalu dan bagaimana mereka bervariasi.

 

Topik 2: Sejarah siswa di berbagai negara bagian.

Standar 3

Manusia, kejadian, masalah, dan ide yang membuat sejarah negara bagian.

 

Topik 3: Sejarah prinsip demokrasi Amerika Serikat dan nilai dan manusianya dari berbagai budaya yang berkontribusi terhadap budaya, ekonomi, dan politiknya.

Standar 4

Bagaimana nilai demokratis muncul dan bagaimana itu dicontohkan oleh manusia, kejadian, dan simbol.

Standar 5

Penyebab dan asal berbagai pergerakan kelompok besar ke dalam dan di dalam Amerika Serikat, sekarang dan masa lalu.

Standar 6

Cerita tradisional dan kontribusi budaya yang membantu membentuk kekayaan nasional.

 

Topik 4: Sejarah manusia dari berbagai budaya di dunia.

Standar 7

Atribut terpilih dan perkembangan sejarah dari berbagai masyarakat di Afrika, Amerika, Asia, dan Eropa.

Standar 8

Penemuan besar di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, efek sosial dan ekonomi, dan tanggung jawab penemu dan peneliti terhadapnya.

Tabel 10.4

Contoh Standar Sejarah Tingkat 5-12

Era 3: Revolusi dan Bangsa Baru (1754-1820an)

Standar 1

Penyebab Revolusi Amerika.

Standar 2

Dampak Revolusi Amerika dalam hal politik, ekonomi, dan masyarakat.

Standar 3

Institusi dan praktek pemerintah selama Revolusi.

Era 8: Depresi Besar dan Perang Dunia II (1929-1945)

Standar 1

Penyebab Depresi Besar dan bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat Amerika Serikat.

Standar 2

Bagaimana Perundingan Baru menyelesaikan Depresi Besar yang mengubah federalisme Amerika Serikat.

Standar 3

Penyebab Perang Dunia II dan karakternya dan dalam pembentukan Amerika Serikat dalam peran politik dunia.

Tabel 10.5

Contoh Kegiatan Siswa dalam Pengajaran Standar Nasional Sejarah

Kegiatan yang direkomendasikan untuk tingkat 5-6

  1. Transformasi Eropa karena krisis ekonomi dan demografi di abad ke-14.
  2. Bagaimana peningkatan saling ketergantungan ekonomi telah mengubah kehidupan manusia?
  3. Bagaimana demokrasi liberal, pasar ekonomi, dan pergerakan hal asasi manusia telah membentuk kehidupan politik dan sosial?
  4. Keadaan sosial terhadap peperangan.

Kegiatan untuk tingkat 7-8

  1. Transformasi di Eropa karena krisis ekonomi dan demografi di abad ke-14.
  2. Bagaimana demokrasi liberal, pasar ekonomi, dan pergerakan hak asasi manusia membentuk kehidupan sosial dan politik.
  3. Karakter Peperangan Saudara dan dampaknya bagi masyarakat Amerika Serikat.
  4. Keadaan sosial terhadap peperangan.

Keuntungan Mempelajari Sejarah

Untuk menjawab tentang kurangnya kuantitas dan kualitas pengajaran sejarah di sekolah dasar dan menengah di Amerika Serikat, sejarawan membentuk Komisi Bradley untuk Sejarah di Sekolah pada tahun 1987. Laporan akhirnya adalah pengujian paling baru oleh sejarawan dalam pengajaran sejarah K-12. Komisi ini mengatakan bahwa studi sejarah itu “penting untuk semua warga negara di negara demokrasi, karena ini memberikan sebuah cara untuk memahami diri sendiri dan masyarakat kita, dalam hubungannya untuk kondisi manusia di segala waktu, dan bagaimana beberapa hal berubah dan berlanjut.” (Komisi Bradley, 1989:5). Keuntungannya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Keuntungan personal untuk membantu individu meraih identitas mereka dengan menemukan tempatnya di sejarah dunia.
  2. Studi sejarah membantu individu memahami lebih baik dan mata pelajaran lain tentang kemanusiaan.
  3. Mempelajari sejarah membantu menyatukan warga negara ke dalam masyarakat dengan membuat sebuah identitas nasional.

Siswa dan Pembelajaran Sejarah

Walau siswa mungkin tidak mampu untuk memahami sejarah sepenuhnya, mereka mampu untuk merujuk beberapa aspek. Beberapa tahun belakangan, para penelitih telah mengubah fokus mereka dari pemahaman waktu ke perhatian yang lebih luas terhadap bagaimana siswa mempelajari sejarah. Sebagai hasilnya, mereka lebih bisa membuat rekomendari berdasakan penelitian untuk kegiatan yang membantu siswa membangun pemahaman yang lebih berarti tentang sejarah.

Standard Nasional Sejarah digunakan oleh banyak negara bagian dalam pembentukan standard pembelajaran sosial negara bagian. Mereka telah bekerja sama dengan banyak penemuan penelitian ke dalam rekomendasinya. Di sisa pembahasan pada bab ini akan membahas beberapa referensi spesifik terhadap penelitian yang berhubungan dengan strategi pembelajaran dan sumber-sumber pengajaran sejarah untuk siswa sekolah dasar dan menengah. Anda juga disuguhkan dengan siklus pembelajaran dan ide yang mencontohkan penggunaan tepat hasil penelitian.

Sekretaris Pendidikan Amerika Serikat, Rod Paige mengatakan di konferensi pers pada 9 Mei 2002, bahwa persentase tinggi siswa yang tidak bagus pada tingkat dasar itu “tidak dapat diterima. Sejarah merupakan bagian penting bagi kurikulum nasional sekolah kita. Melalui sejarah kita paham tentang masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan kita. Sejarah terbagi kita adalah yang menyatukan kita sebagai Amerika.” (Paige, 2002a).

Menggunakan Urutan Waktu untuk Mengembangkan Kronologi

 

Konsep waktu itu abstrak. Urutan waktu merupakan hal yang konkrit yang digunakan untuk membantu siswa dalam memahami konsep yang berhubungan dengan waktu. Secara fisik, membuat sebuah urutan waktu hanyalah bagian dari proses. Pertanyaan dan latihan menggunakan urutan waktu tiu sangat esensial jika siswa ingin mencari makna dan hubungan yang terjalin di dalam urutan waktu itu.

Penekanan awal di calendar untuk anak-anak TK mungkin tampak sebagai pengenalan angka dan hitungan, calendar juga membantu mereka untuk menandai waktu dan perubahan penting yang terjadi setiap waktunya. Merekam perubahan udara dan musim ddan mengenal hari libur dan ulang tahun adalah titik awal untuk pembelajaran waktu di dalam sejarah. Dengan pengetahuan kejadian ini, guru membantu siswa untuk mengenal ide-ide penting yang berhubungan dengan sejarah. Pertanyaan tentang apa yang mereka lakukan pada hari ini atau apa yang mereka lakukan kemarin merupakan pertanyaan dan kegiatan yang tepat untuk melatih kemampuan tersebut.

Urutan-urutan waktu pertama yang siswa ditugaskan untuk buat hanya berfokus pada pengurutan kejadian dengan benar. Merekam satu kejadian untuk tiap hari dalam seminggu merupakan struktur yang sangat membantu bagi siswa untuk digunakan ketika membuat urutan waktu pribadi (Hickey, 1999).

Urutan waktu yang penuh tidak hanya mengidentifikasi tanggal atau periode waktu saat kejadian terjadi, namun juga mengurutkannya dalam keseragaman waktu. Menempatkan kejadian bersamaan dengan urutan waktu membutuhkan kemampuan untuk menambah atau mengurangi. Ketika periode yang panjang dipertimbangkan, perkalian dan pembagian dibutuhkan. Ketika menyangkut periode kejadian yang lebiih lama, para siswa dapat ditanyakan pertanyaan yang berhubungan dengan generasi waktu untuk membantu pemahaman mereka:

  1. Berapa banyak generasi yang terlewati antara kejadian tersebut? (contoh: Perang Saudara dan Perang Spanyol-Amerika)
  2. Berapa banyak orang yang masih hidup saat mengalami Perang Saudara dan dampak buruknya atau apakah pemahaman mereka berdasarkan sumber kedua?
  3. Apakah ada kejadian penting yang mungkin mengubah kemungkinan kejadian apa yang biasanya akan terjadi kepada mereka di dalam perang atau karena peperangan yang terjadi?

 

Berpikir tentang hubungan sebab-akibat dan prediksi hipotesis dapat dirangsang dengan kegiatan yang melibatkan penghilangan dan/atau perpindahan kejadian sepanjang urutan waktu. Pertanyaan-pertanyaan juga distimulasi; sebagai contoh, tanyalah para siswa kejadian apa yang seharusnya tidak terjadi jika kompas ditemukan 200 tahun sebelumnya. Para guru juga merancang ulang kejadian pada urutan waktu, menanyakan siswa apakah pengaturan yang baru itu adalah sebuah kemungkinan. Para siswa dapat ditanya untuk menimbang jika sebuah kejadian tertentu dihilangkan atau ditambahkan di urutan waktu, kejadian lain apa yang juga akan hilang atau bertambah (Sunal & Hass, 1993). Urutan waktu adalah bagian yang paling penting untuk sejarah dan mereka sering digambarkan dengan kata-kata, warna, dan gambar. Guru harus mendorong siswa untuk membaca dan menafsirkan urutan waktu di dalam buku serta kata-kata dan gambarnya.

Sumber-sumber Pengajaran Sejarah

 

Ketika mengajarkan sejarah kepada anak-anak, para pendidik menggunakan berbagai macam sumber sebagai penambahan dari buku teks. Lebih lanjut lagi sumber tersebut memberikan kesempatan untuk mempelajari sejarah dengan menggunakan variasi yang lebih luas dalam mempelajari keterampilan. Bagian pembelajaran sejarah adalah belajar bagaimana sejarawan mendapatkan dan memproses informasi. Lihat Tabel 10.2 untuk daftar keterampilan yang digunakan di daam berpikir kesejarahan. Para sejarawan menggunakan berbagai macam media. Setiap pembelajaran dinilai dari kegunaan, keakuratan, dan batasannya. Beberapa sumber sudah siap sedia; lainnya dapat diunduh dari Internet.

Menempatkan dan Menggunakan Sumber Sejarah

Sumber untuk mengajar sejarah dapat diambil dengan meminta bantuan. Manusia sudi membantu jika mereka dengan sopan dimintai bantuan akan hal-hal tertentu. Anggota keluarga siswa banyak memiliki hal untuk diberikan. Para siswa harus menuliskan sebuah surat ucapan terima kasih, mencakup beberapa hal yang mereka pelajari sebagai cara melihat dan menggambarkan perhatian dan pembelajaran mereka. Siswa dipersiapkan dengan cepat untuk beberapa perilaku tertentu yang dibutuhkan di dalam penanganan sumber. Buatlah siswa sadar akan tujuan pembelajaran mereka sesegara mungkin sebelum pengalaman dan kesenangan mereka menghambat sumber perhatian mereka. Siapkah pengumpulan data yang cocok dengan tujuan pembelajaran yang digunakan.

Manusia sebagai Sumber

Sejarah adalah bagian dari kehidupan manusia. Melalui pengujian kesamaan dan perbedaan di dalam gaya hidup dan menggunakan sumber dari berbagai kelompok ras, etnis, dan sosial di dalam masyarakat, sebuah dimensi multibudaya ditambahkan terhadap pembelajaran sejarah (Hickey, 1999: Singer, 1992). Susruhlah siswa untuk menulis surat kepada pemimpin organisasi sejarah lokal untuk meminta informasi khusus tentang sejarah.

Artefak dan Museum

Museum adalah sumber penting dari artefak, begitu juga toko-toko barang antic. Museum yang lebih besar selalu membuat reproduksi barang yang dijual dengan harga pantas. Satu atau dua artefak terpilih dapat memberikan banyak kesempatan bagi siswa untuk menggunakan penelitian dan keterampilan berpikir mereka. Pertanyaan yang menarik beserta diskusi yang memicu pembuatan hipotesis dan investigasi dapat dibuat dengan menguji artefak. Perjalanan ke museum juga sering dilaporkan sebagai ingatan yang positif bagi pembelajaran sejarah. Para siswa akan belajar dengan sangat baik jika ada kesempatan instruksi di awal maupun di akhir kunjungan. Guru harus memberikan fasilitas yang baik sesegera mungkin sebelum kunjungan. Banyak museum telah merencanakan kegiatan atau daftar bacana untuk membantu para guru saat melakukan kunjungan. Mereka juga menawarkan panduan atau program khusus bagi kelompok siswa.

 

Masyarakat atau Komunitas sebagai Sumber

Sejarah lokal dan negara sering dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah. Hal ini memberikan kesempatan untuk mengumpulkan data pertama sebagai seorang sejarawan lakukan dan memprosesnya menjadi sebuah kesimpulan yang bermakna. Guru kelas tiga Caroline Donnan (1988) menjelaskan bahwa ia mampu menyatukan semua objektif keterampilan studi sosial melalui komunitas studi sosial.

Pemakaman sering dijadikan sebagai lokasi monument pengingat tentang kejadian atau manusia. Perjalanan ke pemakaman dapat membantu mengajari siswa tentang siklus kehidupan dan tentang bagaimana dan mengapa orang-orang yang mati itu diingat. Siswa yang lebih tua akan melibat lebih dekat pada batu nisan dan menemukan perubahan dalam hidup dan kecilnya keabadian. Terkadang, kelompok agama, etnis, dan ras tertentu dikubur di area pemakaman yang terpisah.

Arsitektur komunitas anda juga menggambarkan asal kelompok etnis, perubahan dalam kesukaan, dan kemakmuran tiap penduduk. Ini mengindikasikan bahwa teknologi dan materi tersedia untuk membangun sebuah bangunan. Nama-nama jalan juga mencerminkan fungsinya dan tempat serta orang yang dikagumi.

Dokumen sebagai Sumber

Setiap warga negara Amerika Serikat harus sadar tentang isi pentingnya dokumen seperti Deklarasi Kemerdekaan, Undang-Undang, dan Proklamasi Emansipasi. Banyak buku teks memasukkan reproduksi dokumen-dokumen besar. Di sini, dokumen didefinisikan sebagai rekaman resmi tentang kejadian kehidupan manusia, komunitas, bisnis, dan institusi.

Administrasi Rekaman dan Arsip Nasional telah menyiapkan sumber-sumber pengajaran dan secara teratur menerbitkan pelajaran yang berdasarkan dengan dokumen sejarah dari koleksinya di dalam Social Education. Dokumen asli biasanya ditulis tangan dan sulit untuk dibaca. Banyak buku paket dokumen pendidikan memasukkan kopian yang mudah untuk dibaca.

Diary, Surat, dan Gambar sebagai Dokumen.

Buku harian, surat, dan gambar juga merupakan sumber utama data sejarah. Beberapa buku berisikan sumber-sumber ini yang mengacu pada kejadian-kejadian tertentu dan periode waktu. Keluarga lokal dan museum juga mempunyai hal seperti ini yang dapat dikopi untuk dibagi.

Guru juga dapat membuat dokumen sendiri untuk dijadikan sumber pembelajaran. Pendidik seperti Leah Moulton dan Corrine Tevis (1991) menemukan museum lokal dengan sumber yang sangat besar tentang gambar-gambar sejarah dari komunitasnya.

Kemampuan Visual dan Sejarah

Sebelum adanya foto, para seniman menangkap kesukaan orang-orang dan pemandangan berupa lukisan, di tembok gua, di batu, atau di atas kanvas. Kerja seni menghiasi gedung, rumah, dan kuburan. Mempelajari peradaban masa lalu selalu menemukan bukti yang ditemukan oleh para arkeolog. Karena bahasa manusia sering tidak tertulis atau tidak dapat diterjemahkan, karya seni memberikan kita dengan berbagai macam sumber informasi terbaik tentang bagaimana manusia hidup. Anak-anak sering sekali suka bekeja dengan gambar, melihatnya dengan lebih dekat dan itu dapat dijadikan sumber pembelajaran yang baik untuk kelompok-kelompok kecil.

Kemampuan visual membutuhkan keterampilan dalam penginterpretasian, latihan penilaian, dan hasrat untuk bertanya tentang apa yang dilihat. Film serta kartun adalah sumber-sumber sangat dekat dengan anak-anak. Ketika film dan video digunakan, para siswa menganalisa perbedaan antara fakta, fiksi, keindahan, dan kebutuhan untuk menciptakan cerita yang menarik perhatian penonton. Penggunaan dialog, music, emosi, dan rangsangan visual membuatnya sebagai sumber yang kuat untuk menyampaikan informasi. Ketika menggunakannya sebagai media pengajaran, guru membenarkan kesalahan dan mencoba untuk membantu siswa untuk membedakan antara fakta, fiksi, dan hiburan.

Perekaulangan dan Drama

Kunjungan ke situs sejarah dan festival akhir minggu sering membawa manusia ke dalam kontak terhadap perekaulangan kembali peran manusia yang hidup dan bekerja selama periode sejarah. Sejaah diajarkan oleh para perekaulang melalui presentasi dan menjawab pertanyaan seolah-olah para penikmat sejarah sedang merasakan apa yang terjadi dulu. Sangat mungkin bagi para sejarwan untuk datang ke sekolah-sekolah memberikan presentasi atau hari-hari khusus untuk sebuah perayaan sejarah. Jenis presentasi ini dapat menjadi bagian dari penilaian pembelajaran.

Beberapa guru juga menggunakan bermain peran sebagai strategi pembelajaran. Para siswa menggunakan pengetahuan awalnya untuk bermain peran tokoh atau kejadian seraya pertanyaan guru memfokuskan pikiran mereka dan membantu para siswa untuk bercermin pada interpretasi dan mengevaluasinya.

Biografi dan Kesusateraan Sejarah

Setiap bulan Mei, Social Education menerbitkan sebuah daftar buku-buku anak yang berhubungan dengan Komite Pengulas Buku NCSS dan Konsulat Buku Anak-anak. Semua buku berhubungan dengan studi sosial dan diklasifikasikan berdasarkan tingkat topic kelas. Daftar-daftar ini berguna sebagai sumber-sumber bagus bagi guru dan sumber pembelajaran yang memiliki pusat coordinator. Keputusan untuk menggunakan buku-buku ini sebagai bagian kurikulum bergantung pada kontribusinya terhadap tujuan studi sosial. Buku-buku fiksi sejarah harus ditulis di dalam konteks kejadian nyata sejarah yang melibatkan periode waktu dan tempat tertentu.

Cerita dapat digunakan sebagai bagian dari penjelasan awal untuk membantu meningkatkan minat dan bertanya tentang kejadian tersebut. Selama fase pengembangan belajar, cerita sejarah naratif dan biografi, fiksi maupun faktual, dapat bertindak sebagai sumber data yang dianalisa dan dievaluasi. Guru dapat membacanya untuk siswa, berhenti dan membahas cerita-cerita yang sulit bagi siswa. Ini membantu mereka untuk menghubungkan informasi lain yang mereka ketahui tentang cerita tersebut untuk memperjelas pemahaman mereka. Model pendekatan ini membuat sebuah keterampilan sejarah yang baik dan juga keterampilan membaca yang bagus. Alternatif lain adalah bahwa guru boleh menyuruh siswa memilih beberapa buku tentang sebuah topic dan membagi penemuan dan pertanyaan mereka kepada yang lain. Menggunakan berbagai buku memberikan sebuah kesempatan untuk mengakomodasi siswa dengan berbagai macam keterampilan. Berbagai macam penulis juga bisa menghadirkan fakta yang berbeda, kesimpulan yang berbeda, dan mengungkapkan sudut pandang dan interpretasi yang berbeda. Penggunaan banyak buku menuntut siswa untuk melatih cara mereka menguji opini yang berbeda, seperti yang dilakukan oleh para sejarawan.

Keberhasilan dengan penggunaan cerita naratif dan biografi sejarah dalam pengajaran sejarah di kelas 3 sampai 6 telah diuji (Drake & Drake, 1990: Levstik, 1986; Zarnowski, 1990). Di tiap kasus, banyak buku digunakan, dan pembelajaran berlangsung selama sebulan atau lebih. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa siswa cenderung bereaksi kuat kepada karakter dan situasi mereka dan bahwa pengetahuan sejarah dipelajari. Peneliti telah menemukan bahwa pengujian yang bermakna dan pembelajaran sejarah dari buku itu tidak otomatis.

Banyak ahli yang mendukung penggunaan kesusasteraan di dalam pembelajaran sejarah dan studi sosial. Sekolah menengah sering meminta studi literature untuk membantu pemberian praktek tambahan di dalam membaca untuk meningkatkan nilai uji membaca. Tim sekolah menengah sering menggunakan sebuah novel atau bab buku dengan unit terintegrasinya atau sebagai inspirasi bagi unit yang terintegrasi. Guru di dalam tim menghubungkan proses pembelajarannya tentang buku pelajaran di sekolah. Guru mata pelajaran sosial dapat membantu siswa untuk memahami cerita di dalam hubungannya dengan konteks sejarah. Perilaku guru dapat membantu siswa dalam belajar sejarah melalui sastra dengan melakukan beberapa hal berikut:

  1. Memilih sumber dan membantu siswa mendapatkan sumber tambahan.
  2. Mengatur tugas yang meminta siswa untuk memanipulasi data yang dikumpulkan atau mendapatkan data baru yang berhubungan dengan pelajarannya.
  3. Menyediakan waktu khusus membaca setiap hari.
  4. Mengawasi dan memberikan dorongan positif bagi usaha individu dan kelompok.
  5. Menyediakan timbal balik terhadap usaha dan kerja siswa.
  6.   Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk membagi pengetahuan mereka satu sama lain dan yang lain di luar kelas, khususnya keluarga atau mentor mereka.
  7. Mendorong siswa untuk menilai cerita secara kritis tentang fakta, opini, fiksi, atau hubungan sebab-akibat.

Membuat sebuah Hubungan Kesusasteraan

Berbagai macam buku sejarah

Biografi dan fiksi sejarah adalah dua jenis buku yang telah lama dikenal oleh para siswa. Seri biografi dikumpul dan ditulis bagi semua tingkat siswa. Seringkali penulis menekankan atau menghilangkan perjuangan dan prestasi kehidupan. Penulis lain menekankan pada nilai yang didapat di usia tersebut dan menggunakan atau mempraktekkan hal yang memicu pada pentingnya keberhasilan. Penggunaan biografi juga untuk memperluas jangkauan wanita dan minoritas untuk mengisi ruang kosong di buku teks yang tidak menyediakan hal seperti ini.

Memperluas Keterampilan di dalam Sejarah

Banyak tersedia program untuk membantu memperluas keterampilan guru di dalam pembelajaran sejarah. Internet membantu menyatukan kebutuhan guru untuk meningkatkan pengetahuan mereka ketika mereka membutuhkan keterampilan yang mudan dan murah untuk didapat. Guru juga sering membutuhkan bantuan atau asisten dalam pencarian informasi tentang budaya dan sudut pandang berbagai macam kelompok etnik yang ada di Amerika Serikat.  Keanggotaan di dalam organisasi professional dan datang pada pertemuan negara bagian, regional, atau nasional sangat membantu. Jurnal dan Koran professional memberikan kesempatan untuk belajar dan berpikir tentang masalah-masalah dan menjadi sadar akan kesempatan lokakarya, dan konferensi yang memberikan beasiswa bagi guru.

Kesimpulan

Sejarah adalah sebuah mata pelajaran yang penting bagi para siswa. Berbagai macam cara dilakukan untuk menjaga dan merangsang minat siswa dalam pembelajaran sejarah yang berarti. Banyak peneliti yang setuju pada kebutuhan pembelajaran topic sejarah yang lebih mendalam, penggunaan banyak sumber, dan pertimbangan pada sudut pandang yang bervariasi. Rossi (2000) menyimpulkan bahwa implikasi yang jelas terhadap perkembangan kurikulum penelitian pada pengajaran sejarah adalah sebuah kebutuhan yang mendalam untuk memberikan sebuah konsep kerja yang membuat para siswa untuk menemukan makna di dalam detil.

Beberapa kontroversi masih ada tentang konten dan jenis sejarah yang akan ditekankan, namun tidak ada masalah pada konten yang potensial. Keluarga kita, benda-benda di sekitar kita, masalah-masalah yang mempengaruhi kehidupan kita, dan nilai-nilai serta kepercayaan kita semua memberikan konten yang cukup. Begitu juga dengan data jika kita mencari dan mengujinya dengan hati-hati. Pembelajaran sejarah dapat merangsang kita untuk menguji perilaku kita saat ini dengan mata kepala sendiri menuju pembuatan perubahan yang tepat seraya menjaga kontinuitas dengan masa lalu kita yang berharga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s