Membantu Siswa Membangun Konsep


BAB 4

MEMBANTU SISWA MEMBANGUN KONSEP

 

Gambaran Umum

Pendidikan IPS mencakup penguasaan kunci konsep dan proses yang diperlukan untuk seseorang dalam membuat keputusan, partispasi aktif dalam bermasyarakat dan berbudaya serta produktivitas ekonomi (National Council for Social Studies,1994b.)

Informasifaktual, atau fakta merupakan dasar dalam observasi dan dalam referensi tentang objek dan peristiwa. Contoh dar idua fakta tersebut sebagai berikut:

Undang-undangtentanghakmerupakansalahsatukonstitusi di AmerikaSerikat.

Keluarga penulis itu memiliki 2 anak, 1 anak perempuan dan satu lagi anak laki-laki.

Ringkasan konsep dari suatu pernyataan fakta tersebut memiliki karakteristik umum dan membedakan setiap dan semua contoh konsep dari selain contoh, Fakta pertama, tentang undang-undang Hak, mungkin merupakan bagian dari seperangkat dari fakta yang digunakan untuk membentuk konsep dokumenp emerintahan. Dan faktakedua, tentang keluarga penulis, mungkin merupakan salah satu bagian dari seprangkat fakta yang bias digunakan untukmem bentuk konsep keluarga.

Fokus dalam bagian ini adalah memfasilita sisiswa mempelajari konsep social studies. Karena siswa biasanya datang kekelas dengan ide yang terbentuk sebelumnya dan beberapa kesalah pahaman tentang dunia, perencanaan guru dan implelemtasi aktivitas yang mendorong perubahan konse pmenuju akurasi yang lebihbesar.

Konsep mengajar diawali dengan refleksi dan latihan

Dalam pelajaran yang memfokuskan untuk membantu siswa membentuksuatuk konsep baru atau merekonstruksi salahs atu yang telahada, peran guru mencakup 2 hal,

  1. Menyediakan informasi bagi siswa untuk bekerjadengan tugas tersebut
  2. Bertanya sebuah pertanyaan untuk memfokuskan perhatian mereka dalam aspek yang pentingdalam informasi tersebut.

Meskipun Guru tersebut melayani sebagai seorang tamus elama pembentukan pembelajaran berlangsung, aktivitas berpusatpa da interaksiantar siswa dan lingkungan social mereka. Aktivitas membuatsiswa menjadi aktifdalam bekerja dengan contoh darikonsep tersebut. Akhirnya, siswam erekonstruksi ide-ide mereka atau menciptakan suatu definisi dari konsep yang digunakan sebagai informasi yang mereka telah kerjakan selama pembentukan pembelajaran.

Adegan di Kelas 4

Sebagai kegiatan eksplorasi untuk muridnya, Ibu Carlson bertanya kepada mereka untukm enjawab pertanyaan. Bagaimana menurutmu respon siswa kelas 4 tersebut?

“Pikirkantentang siapa yangdudukdi sampingmu di salah satu kelasmu”

“Jika seseorang duduk di kirimu, apakah dia laki-laki atau perempuan? Siapa nama orang tersebut?”

“Jika seseorang duduk tepat di depankamu, apakah dia laki-laki atau perempuan? Siapanama orang tersebut?”

Kemudian, Ibu Carlson menginstruksikansiswanyauntukmenggambar map sederhana yang menggambarkan diri mereka dan siswa yang duduk dekat dengan mereka.Kemudian, Ibu Carlson bertanya, “tahukah kamuorang-orang yangduduk di dekatmu lebih baik daripada merekayang duduk jauh darimu?”Akhirnya, ia meminta siswa untuk berpikir tentang apa karakteristik atau atribut, yang mereka gunakan untuk memilih orang yang mereka masukkan ke dalam peta. Dia bertanya kepada siswanya, “apa atribut yang mereka miliki padau mumnya?”

Atribut tersebut telah memfokuskan pada aktivitas eksplorasi yaitu lokasi. Siswa diminta untuk berfikir siapa yang duduk di dalam ruangan kelas yang berdekatan dengan mereka. Mereke tidak diminta memikirkan lokasi yang lain yang jauh dari mereka. Untuk membangun aktivitas eksplorasi, berikutnya pengembanganpembelajaran terjadi

Adegan Kelas 4 Membangung Pembelajaran

Ibu Carlson meminta siswanya untuk membayangkan skenario berikut,

Bayangkan dinding kelas tersebut bergerak menjauh sehingga kelas menjadi 2 kali lipat lebih besar. Ketika itu terjadi, kursimu akhirnya menjadi lebih jauhsatu sama lain.

Sekarang jarak antara kursimu menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Orang yang ada dikirimu masih dikiri. Orang yang tept di depanmu masih di depanmu.Ssatu-satunya halyang telah berubah adalahseberapa jauhkursiAnda. Meskipun orang disekitarmu menjadi lebih jauh darimu, mereka tetap yang dikirimu atau didepanmu.

Ibu carlson : Apa mungkin ke memanggil seseorag yang duduk dekat dengan kita dikelas atauyang tinggaldi sebelah rumah kamidi rumah? (Para siswa dengan cepatmemutuskanbahwa orang semacam itudisebuttetangga)

Ibu Carlson: Menggunakan karakter atau lokasi, bagaimana kamu mengartikan tetangga?

Brian: Tetangga adalah seseorang yang bertempat tinggal dekat denganmu

Ibu Carlson: Apakah kamu berfikir definisi Brian tentang tetangga tersebut adalah satuhal yang benar bagimu? (Para siswa memberitahu dia bahwa itu merupakan satu definisi yang benar. Ibu arlson menuliskan di Papan Tulis sebagai definisi mereka)

Ibu Carslson: Dengan menggunakan definisi Brian tentang tetangga, jika orang yang duduk di sebelah kirimu mengganti tempat duduknya dengan seseorang yang ada di sisi lain dalam ruangan ini, apakah orang tersebut masih akan menjadi tetanggamu? (Setelah berdiskusi, siswa setuju bahwa siswa yang mengganti tempat duduknya tidak lagi disebut tetangga. Mereka memutuskan bahwa atribut terpenting dari tetangga adalah lokasi dan khusus, yang lokasinya dekat)

Fakta sebagai konten Pendidikan IPS

Fakta tentang dunia yang pertama diperoleh melalui lima indra dalam bentuk observasi. Fakta Pendidikan IPS adalah pernyataan fakta-fakta tentang observasi terhadap oran, objek dan peristiwa.

Mereka keluar secara langsung, pengalaman sensorik atau tidak langsung melalui pengalaman lainnya; kita dapat mendengar atau membaca tentang informasi faktual yang telah diperoleh, Sebagai contoh, kita bisa mengamati pembangunan rumah baru di dekat lapangan. Kita menghitung 12 rumah baru sedang dibangun, Kemudian, kita berkendara lebih jauh, kita tahu sebuah set baru lainnya dari rumah dan menghitung 40 rumah sedang dibangun di tempat tersebut. Kita memperoleh fakta tersebut secara langsung melalui observasi kita. Atau kita membaca koran tentang berapa banyak rumah baru yang dibangun di dua tempat tersebut. Sekarang, secara tidak langsung kita memperoleh fakta tersebut, yang oleh orang lain telah di identifikasi.

Hari ini teknologi membantu kita mengumpulkan data, membuatnya tersedia bagi seluruh siswa. Zaman dahulu, informasi hanya tersedia untuk orang yang tinggal dekat dengan kantor pemerintahan, museum dan perpustakaan besar. Sebagai contoh, informasi tentang jumlah izin untuk pembangunan rumah baru dan lokasi rumah yang dibangun disimpan di departement data di kota dan di desa. Yang lainnya, contoh informasi bahwa siswa dan peneliti sosial bisa didapatkan dengan mengakses teknologi di Pusat Intelgient Amerika Serikat “CIA World Fact Book”, www.odci.gov/publications/factbook/. Situs tersebut mengandung fakta tentang bangsa lain.

Fakta adalah kejadian tunggal, yang terjadi di masa lalu atau sekarang. Fakta merupakan hasil dari Observasi. Fakta tidak memungkinkan kita untuk memprediksi suatu peristiwa atau tindakan (Eggen dan Kauchak, 2011). menggunakan fakta-fakta tentang jumlah rumah yang dibangun di pengembangan baru, kita tidak bisa prediksi nomor rumah yang akan di bangun di pengembangan selanjutnya yang aka di mulai di kota tersebut. Strategi efektif untuk mempelajari informasi faktual sangat berbeda dari yang digunakan dalam pembelajaran Pendidikan IPS.

Konten Pendidikan IPS yang bermakna adalah tidak didapatkan dengan menggunakan atau mengingat kembali fakta ketika membangun dan menafsirkan konsep. Ketika mengingat dibutuhkan, strategi memori hafalan pembelajaran dapat memfasilitasi pembelajaran fakta pendidikan IPS. Pembelajaran hafalan memerlukan pengulangan, umpan balik segera, meruntuhkan konten ke potongan-potongan kecil, menghubungkan materi baru untuk dihafalkan untuk informasi yang sebelumnya dipelajari, yang membantu menghafal dan perhatian terhadap kebutuhan motivasi siswa (Joyce dan Weil, 1992). Permainan, penghargaan dan cepat bolak-balik instruksi perisitiwa adalah semuanya teknik yang efektif untuk membantu mengingat fakta.  Teknik pengajaran hafalan harus hanya sebagian kecil dari Pendidikan IPS, mungkin tidak lebih dari 10 persen dari waktu instruksional. Terminologi, simbol, dan ejaan adalah informasi faktual yang mungkin ada di dalam kurikulum pendidikan IPS. Fakta yang berguna seorang guru mungkin siswa belajar adalah nama-nama benua, langkah-langkah utama untuk membuat prosedur hukum, untuk membangun sebuah garis waktu dan nama koin digunakan sebagai uang dalam masyarakat kita.

Guru merencanakan di awal untuk menghafal fakta dan hubungan fakta tersebut dengan objek penting pendidikan ips. Di unit kelas empat tentang bentuk bumi, sebagai contoh, nama dari Pegunungan dan gunung berapi seperti gunung McKinley, Gung Everst dan Gunung Kilimanjaro adalah fakta yang mungkin dipelajari sebagai langkah kecil dan aktivitas dalam unit tersebut. Latar belakang pengalaman melibatkan informasi faktual bahwa siswa adalah adalah bagian terpenting dalam ruangan kelas pendidikan IPS. dengan tidak adanya pengalaman pribadi secara langsung pada bagian siswa, guru dapat fokus pada pengajaran beberapa fakta sehingga siswa lebih mampu mengembangkan dan memahami konsep-konsep yang lebih penting dan generalisasi. Ketika guru menampilkan muridnya sebuah video tentang gunung dan gunung berapi, seperti salah satunya Gunung McKinley, video hanya sumber pengalaman umum para guru mengetahui siswa dapat berbagi.Pengalamann langsung dan penggunaan referensi informasi memberikan rungan kelas sumber penting dari fakta-fakta yang akan digunakan dalam mengembangkan konsep.

Zaman dahulu, Pembelajaran pendidikan IPS tradisional memfokuskan pada strategi pembelajaran fakta.  ini sering mengakibatkan siswa sekolah dasar dan menengah yang memiliki pemahaman yang lemah menjadi lebih menarik dan konsep yang maju  yang diperlukan untuk membentuk kesimpulan dan membuat keputusanber nilai (NCSS,1994a). guru saat ini yang berusaha merealisasinya hanya jarang fakta-fakta harus menjadi fokus dari apa yang diajarkan.

Terlalu banyak informasi faktual bagi siapapun untuk dipelajari. Jumlah fakta Pendidikan IPS dua kali lipat setiap beberapa tahun . Namun banyak fakta yang hanya memiliki sedikit kuatan untuk menciptakan pengetahuan yang berguna atau bermakna bagi mereka. Pengunnan strategi pembeljatan fakta mengabaikan konsep-konsep pendidikan ips yang penting. Siswa tidak belajar objek yang penting. Sebagai contoh, penekanan pada fakta-fakta mengurangi pembelajaran struktur pemerintah AS untuk menghafal nama-nama cabang pemerintahan dan pernyataan yang menjelaskan kekuasaan mereka. Namun objek pendidikan ips yang powerful adalah pembagunan yang komperhensif, pemahaman pribadi peradilan, legislatif, dan cabang-cabang eksekutif dari Pemerintah AS. Setiap cabang pemerintah adalah sebuah konsep dan harus diajarkan menggunakan konsep strategi belajar.

Tanpa latar belakang fakta yang memadai, pemahaman konsep siswa seperti individu, kelompok, atau konsumen, masih belum jelas. Fakta adalah bagian penting dari pembelajaran tapi tidak harus menjadi hasil akhir dari pelajaran dan unit. Fakta hanya dapat memberikan contoh atau arti parsial untuk konsep-konsep dasar untuk memahami isi pendidikan ips, keterampilan, sikap dan nilai.

Membentuk Konsep

Konsep dibentuk melalui kesamaan antara banyak fakta dan dan untuk sementara menekankan kesamaan tersebut. Seperti contoh, danau adalah konsep yang dibentuk dengan berfokus pada bentuk, isi dan berbagai sumber badan air. kita fokus pada kesamaan yang konsisten yang menciptakan konsep  danau dan mengabaikan perbedaan-perbedaan kecil antara danau, seperti ukuran dan di mana mereka ditemukan.

Memberikan contoh dan bukancontoh

Sebagai konsep yang terbentuk, nomor dari contoh dan  konsep bukan contoh harus diperiksa (Baker dan Piburn, 1997). Konsep yang terbaik diperkenalkan melalui satu atau lebih pengalaman dengan konsep selama tahap pengenalan eksplorasi siklus belajar. Eksplorasi konsep diikuti dengan memberikan contoh dan bukan contoh konsep selama tahap pengembangan dari siklus pembelajaran.

Contoh adalah setiap dan semua item atau kejadian yang memiliki karakteristik konsep yang diberikan (Seiger-Ehrenberg,2002p.291). Ketika murid bekerja dengan konsep sumber daya alan, misalnya, guru dapat memberikan informasi faktual melalui penggunaan contoh yang sangat konkret, seperti sebongkah batu bara, sepotong besi dan segelas air. Siswa juga dapat mencari sumber daya alam yang ditemukan di daerah 6-kaki-persegi ditandai di halaman sekolah atau di gambar. Mereka bisa menggunakan sumberdaya alam di gambar dan multimedia diambil dari pesawat ruang angkasa. Sebagai contoh lain, ketika mengajar konsep danau, guru bisa menggunakan gambar internet dari danau erie, danau garam besar, Danau Baikal, dan danau lokal dan siswa menemukan danau ini pada peta.

Bukan contoh adalah setiap dan semua item individu yang mungkin memiliki beberapa tapi tidak semua karakteristik atau atribut penting yang memberikan contoh konsep yang diberikan (Seiger-Ehrenberg,2002p.291). sebagai bagian dari proses membangun konsep sumber daya alam, misalnya, siswa dapat memeriksa nonexamples (Bukan contoh)  seperti potongan plastik dan nilon. sedangkan bahan-bahan ini memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan sumber daya alam, mereka tidak cukup mirip untuk dianggap sebagai sumber daya alam. Sebuah benjolan dari plastik mungkin tampak seperti batu, tetapi tidak dibuat oleh proses alam melainkan diproduksi oleh orang-orang.

Sebagai contoh lebih lanjut, guru dapat memutuskan bahwa siswa pertama perlu belajar bahwa atribut berikut adalah titik awal untuk memahami konsep sumber daya alam: objek yang ditemukan di bumi yang bisa digunakan. Kemudian guru memutuskan untuk menggunakan contoh-contoh dan bukan contoh berikut untuk membantu siswa membangun pemahaman tentang atribut ini.

Contoh: semacam objek umum ditemukan di dalam kelas menjadi dua kelompok yang mewakili asal-usul alam mereka: benda logam dan objek kayu

Bukan Contoh: siswa memeriksa sepotong remah-remah kayu dan batang tanaman yang kering, karena kemungkinan besar telah menggunakan sedikit langsung atau jangka pendek, menunjukkan bahwa mereka tidak dapat bertindak sebagai sumber daya untuk digunakan orang.

Mengidentifikasi semua karakteristik penting dari sebuah konsep

Untuk pembelajaran yang efektif, adalah penting untuk mengidentifikasi seluruh atrubut atau karakteristik penting untuk isi Pendidikan IPS. Ketika konsep sangat kompleks, seorang anak memulai dengan definisi yang sederhana. Pengalaman anak meningkatkan kemampuannya untuk mengerti sebuah ide, konsep tersebut halus dan atribut beru ditambahkan ke definisi. Banyak konsep-konsep Pendidikan IPS seperti demokrasi dan keadilan memiliki arti yang berevolusi dari waktu ke waktu sebagai individu dewasa dan perubahan budaya.

Misalnya, dalam mempelajari konsep persahabatan, anak-anak dapat mempertimbangkan kesamaan teman untuk diri mereka sendiri sebagai karakteristik penting (Singeleton dan Ashet, 1979) Dengan bantuan, pengalaman siswa dan mempertimbangkan beberapa karakteristik dari persahabatan. (1) kesamaan dirasakan dalam usia, ras, jenis kelamin, bunga, tingkat keramahan dan nilai-nilai (2) adanya saling menerima, kekaguman dan loyalitas (3) kesediaan untuk saling membantu dan akan puas dengan bantuan yang diterima (4) peduli terhadap apa yang terjadi ke teman (5) saling pemahaman dan kedekatan dengan harapan bahwa teman berguna untuk setiap saat (Kostelnik, stein, Whiren, dan Soderman, 1998). Karakteristik 4 dan 5 biasanya dipahami siswa di sekolah menengah tapi bukan oleh siswa yang masih muda. Namun, semua siswa sekolah dasar dan menengah dapat belajar bahwa beberapa karakteristik, seperti ukuran atau warna rambut teman, tidak penting.

Ini penting untuk membantu siswa membedakan karakteristik yang tidak penting dari orang-orang yang penting.

Guru memainkan peran penting dalam membantu siswa mengidentifikasi atribut penting dari konsep-konsep Pendidikan IPS. Guru menggunakan silus pembelajaran yang mencakup masing-masing dari tiga karakteristik pertama yang penting dari konsep persahabatan untuk menghasilkan perubahan konseptual di siswa yang lebih muda. Siswa yang lebih tua bisa bertanya untuk mempertimbangakan karakteristik ke 4 dan ke 5 dari pertemanan tersebut. Untuk siswa yang lebih tua, siklus pembelajaran dapat melibatkan menanyakan siswa, selama fase eksplorasi pendahuluan, untuk membuat dan mendiskusikan prediksi dan melakukan tes dengan menggunakan skenario yang ditulis dalam stasiun pembelajaran bagi beberapa karakteristik penting.

Selama tahap pengembangan pelajaran, para siswa dapat mendiskusikan hasil tes prediksi mereka. Ketika diskusi berlangsung, mereka diberi penjelasan yang jelas tentang contoh dan non-contoh. contoh dipilih secara cermat untuk membuat jelas hal yang penting dan non-contoh karakteristik dari konsep tersebut.

Fase ekspansi melibatkan siswa meminta untuk membuat aplikasi lebih lanjut dan mentransfer konsep untuk situasi di luar konteks keluar dari konteks ruangan kelas. ini bisa melibatkan situasi sehari-hari, seperti bagaimana untuk membantu seorang teman yang telah meninggalkan makan siangnya di rumah dan tidak punya uang untuk membeli makan siang, atau situasi yang tidak terlalu umum, seperti bagaimana untuk membantu seorang teman yang terpilih sebagai wakil kelas untuk legislatif sekolah meskipun Anda berpikir tentang mencoba untuk memilih dirimusendiri.

Membedakan konsep-konsep dari fakta-fakta

Konsep berbeda dari fakta-fakta dalam dua cara utama. Pertama, Pernyataan faktual adalah informasi yang terisolasi yang diperoleh secara langsung melalui indra: melihat, mendengar, merasakan, perasaan, atau berbau. Konsep melibatkan lebih dari pengamatan sederhana, kedua, konsep meringkas dan mengklasifikasikan hasil pengamatan ke dalam kategori. Persamaan diidentifikasi dan umum dan memperluas makna dari fakta-fakta yang dikategorikan. Sebagai contoh, mempertimbangkan arti yang berasal dari fakta-fakta dalam pernyataan berikut: pemilih dapat laki-laki atau perempuan, dari setiap ras atau agama apapun, tapi harus pada akhirnya 18 tahun.

Kemampuan meringkas konsep ini sangat penting. Misalnya, orang naik di berbagai jenis kendaraan: besar dan kecil, dengan ruang untuk dua atau enam, dengan atau tanpa penyejuk udara. Untuk mengingat masing-masing dengan nama akan mengambil banyak kapasitas mental, sehingga kita bentuk konsep bahwa kelompok bersama-sama serupa kendaraan oleh karakteristik bersama, seperti truk pick-up, mobil sport, van dan limusin.

Konsep didefinisikan oleh manusia dan mencerminkan budaya mereka. Tanpa konsep, semua fakta yang kita pelajari akan sulit untuk diingat atau digunakan. Sebagai contoh, jika siswa terlibat dengan unit pada konsep agresi dan manajemen konflik, guru mungkin menggunakan contoh agresi disengaja, seperti penandaan teman terlalu keras dalam permainan petak umpet, menceritakan sebuah lelucon yang tak terduga melukai perasaan seseorang, atau menghancurkan kupu-kupu di tangan Anda dalam upaya untuk tetap terbang jauh. satu set contoh mungkin berurusan dengan seorang anak yang menikmati suatu tindakan agresif yang secara tidak sengaja melukai orang: Roger merasa kepuasan dalam pukulan karate merubuhkan bdan sammy, atau Elizabeth tertawa gigitan Tulana karena rasanya enak. contoh lain menggambarkan agresi bermusuhan: claudia mendorong jenny jauh dari air mancur karena jenny pertama kali melakukannya sebelumnya. Claudia melihat ini sebagai “mendapatkan bahkan”, sehingga direncanakan dan disengaja. Masing-masing contoh agresi sengaja atau direncanakan adalah fakta. Ketika mereka diperiksa dalam terang karakteristik mereka bersama, mereka membuat konsep agresi.

Untuk memahami definisi yang terdapat istilah-istilah abstrak dan berhubungan dengan konsep, adalah tugas yang sulit bagi siswa. Contoh mengenai konsep tersebut salah satunya adalah definisi konsep untuk skala adalah serangkaian tanda yang dibuat sepanjang garis pada interval teratur untuk mengukur jarak pada peta. Definisi umum mengenai skala pada umumnya dapat ditemukan dalam buku pelajaran sekolah dan menengah. Dalam memahami definisi skala membutuhkan pengetahuan tentang apa yang dimaksud dengan serangkaian tanda, suatu interval, sebuah pengukuran, jarak, dan peta.

Konsep adalah label atau istilah yang digunakan untuk berkomunikasi. Dan peta adalah salah satu konsep yang digunakan untuk menggambarkan objek. Beberapa hal yang banyak menggunakan konsep penting adalah sosial-budaya, waktu, lingkungan, individu, produksi, hubungan global, dan pemerintahan. Konsep mengkomunikasikan makna yang berbeda untuk individu. Mahasiswa mungkin dapat fokus hanya pada satu aspek pemerintahan. Tetapi siswa dapat memvisualisasikan orang yang mengelola banyak pekerjaan dll.

Definisi operasional menjelaskan sebuah tes untuk menentukan apakah suatu objek, tindakan, atau peristiwa adalah contoh dari konsep. Tes ini dijelaskan dalam istilah dan pengalaman yang akrab bagi siswa. Definisi ini mengecualikan semua pernyataan wajar yang tidak mewakili contoh dari konsep bagi siswa. Jika objek atau peristiwa tidak bertemu tes, maka itu tidak mewakili contoh konsep.  Contoh definisi operasional adalah “Bertindak pada dorongan berarti bahwa seseorang bertindak tanpa berpikir ke depan, ide atau keinginan muncul dalam kepala mereka dan bergerak melihat sesuatu yang mereka inginkan dan mengambilnya, mereka berpikir sesuatu dan berseru keluar” (Calkins, 1995, hlm 59). Definisi operasional meliputi apa yang dilakukan dalam suatu acara atau objek yang mendefinisikan seperti, “muncul sebuah gagasan atau hasrat menjadi kepala mereka, dan merek berada dalam gerakan”. Kekuatan belajar IPS berfokus pada penggunaan definisi operasional untuk mengkomunikasikan makna konsep.

 

KETERKAITAN DI ANTARA KONSEP

 

Konsep saling terkait. Dua konsep sering berbagi beberapa fakta yang sama, dan konsep yang paling mencakup konsep-konsep lain sebagai subkonsep. Garasi A, misalanya tempat menyimpan mobil, tetapi bisa juga menjadi sebuah lokakarya atau tempat penyimpanan. Orang yang fleksibel dalam konsep mereka membentuk, memungkinkan mereka untuk memperhitungkan keragaman dalam dunia sosial.

Kunci konsep dalam pembelajaran IPS di SD dan SMP adalah pemerintahan. Pemerintahan mencakup sub konsep cabang Pemerintahan. Cabang-cabang pemerintahan pada gilirannya, melibatkan konsep peradilan, legislatif, dan eksekutif. Eksekutif, pada gilirannya, termasuk presiden, gubernur, dan walikota. Konsep-konsep tersebut membentuk suatu hirarki. Dalam hirarki, konsep kunci dapat menggabungkan banyak sub konsep. Pada gilirannya, konsep bisa menjadi sub konsep untuk cabang pemerintahan. Menyediakan peta konsep dan menyuruh siswa membuat peta konsep dapat menjadi alat penting untuk membantu siswa menilai pembelajaran mereka sendiri. Peta konsep juga dapat membantu guru mendiagnosa masalah belajar.

Peta konsep adalah istilah yang merupakan istilah yang sering digunakan secara bergantian. Sebuah peta konsep membantu siswa mengembangkan pengetahuan dan pemahaman yang saling terkait. Peta konsep telah didefinisikan sebagai suatu proses yang mengidentifikasi konsep-konsep dalam satu set bahan yang sedang dipelajari, dan yang mengatur konsep tersebut ke dalam susunan hirarki dari konsep yang paling umum dan inklusif, dengan konsep paling umum dan spesifik (Farris & Cooper, 1994)

Pertimbangkan peta konsep yang paling sederhana :

Orang makan _______ apel

 

Seperti peta konsep yang menunjukkan bagaimana dua konsep yang terkait tetapi tidak menggambarkan suatu hirarki. Sebagai perangkat instruksional atau penilaian, guru dapat menggambar peta konsep bagi siswa dan meninggalkan beberapa ruang kosong di dalamnya. Dalam contoh di ata, guru akan meninggalkan ruang kosong di mana apel di temukan. Siswa mungkin menggunakan peta dalam satu atau lebih dari beberapa cara untuk membahas dan memutuskan konsep apa yang harus ditulis dalam garis kosong dan melakukan investigasi untuk memutuskan bagaimana mengisi kekosongan tersebut. Tergantung pada keinginannya, siswa dapat memiliki banyak pilhan untuk mengisi opsi garis kosong tersebut.

Perhatikan contoh berikut :

Negara dengan pendapatan tertinggi adalah _____

Dalam hal ini, hanya satu pilihan dapat diterima.

Guru dapat menggunakan peta konsep, di mulai dengan pengetahuan siswa dan menambahkan untuk merevisi. Sebuah konsep web sangat mirip dengan peta konsep. Dalam konsep web, ide yang paling umum dan inklusif ditempatkan di tengah. Subkonsep di atur di sekitarnya dan terhubung dengan garis. Kemudian lapisan sub-sub konsep dari sub konsep masing-masing di atur di sekitar bagian luar sub konsep masing-masing dan terhubung dengan garis.

Konsep yang paling utama seperti pemerintahan dan peta, itu termasuk beberapa sub konsep. Untuk keakuratan membangun konsep yang di ajarkan, siswa perlu memahami sub konsep. Fakta, diringkas untuk membentuk kunci konsep yang bermakna bagi siswa. Misalnya ketika membangun konsep perspektif peta, siswa harus mengalami bagaimana semua pemandangan yang mereka lihat berbeda tergantung pada seberapa jauh mereka atau arah dari mana mereka lihat. Siswa harus mengalami melihat sebuah pohon di taman bermain dari 1 kaki jauhnya, 10 meter jauhnya, dan 100 meter jauhnya. Mereka harus melihat dari arah yang berbeda. Pengalaman ini memungkinkan siswa untuk memperoleh fakta-fakta penting yang diperlukan untuk memahami perspektif sub konsep.

Hal ini penting untuk menggabungkan banyak kesempatan bagi siswa untuk pengalaman dan berinteraksi dengan sub konsep penting. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk membandingkan karakteristik yang menggambarkan konsep-konsep dan hubungan antara mereka. Guru harus memahami hirarki antara konsep sukses dan mendiagnosa kesulitan siswa mengalami dalam membangun konsep-konsep ini. 

 

Konsep Web Sederhana

Guru melakukan analisis konsep untuk membantu mereka dalam mempertimbangkan bagaimana konsep-konsep terkait satu sama lain. Dalam sebuah analisi konsep berikut diidentifikasi :

  • Nama Konsep
  • Definisi Konsep
  • Kritis mendefinisikan atribut atau karakteristik
  • Beberapa contoh konsep
  • Superordinat Konsep Kritis
  • Subkonsep Kritis
  • Mengkoordinasikan Konsep Kritis

 

Sebuah konsep superordinate adalah konsep lebih besar atau lebih inklusif ke dalam sebuah konsep yang cocok. Negara adalah sebuah konsep superordinate untuk daerah. Sebuah konsep koordinat adalah salah satu yang setara dalam beberapa cara untuk konsep di bawah pertimbangan. Dua konsep mungkin gerhubungan dalam hal hanya satu karakteristik. Aliran dan sungai adalah konsep koordinat. Kapitalisme dan komunisme adalah konsep koordinat untuk sosialisme. Konsep mengkoordinasikan terkait satu sama lain, tetapi juga sub konsep non superordinate untuk satu sama lain.

Sebagian besar konsep dari pembelajaran IPS adalah bahwa siswa perlu membangun konsep tersebut. Untuk melakukan ini, siswa mengambil sejumlah fakta dan mengolahnya. Individu harus belajar mengkonsep dan memproses informasi itu. Akibatnya siswa dalam kelas memiliki pemahaman yang berbeda-beda dari konsep tersebut.

 

 

 

 

PERBEDAAN DALAM KOMPLEKSITAS DAN KEABSTRAKAN DARI KONSEP

 

Konsep berbeda dalam kompleksitas dan tingkat keabstrakan (Klausmeier, Ghatala, & Frayer 1974; Martorell 1994). Karena perbedaan ini, tingkat keabstrakan konsep harus sesuai tingkat perkembangan pemikiran siswa. Pertimbangakan konsep berikut : keinginan, genangan air, peta, uang, dekade, jalan raya, pemilihan individu, dan saling ketergantungan. Dari konsep yang terdaftar, keinginan dan genangan air dapat di pahami oleh anak kecil. Kedua hal ini terkait dengan pengalaman sehari-hari di dunia anak-anak. Sebuah label dan definisi operasional mudah dikaitkan dengan keinginan. Genangan air adalah benda konkret yang dimana anak-anak dapat bermain. Bahwa keinginan dan genangan air merupakan konsep-konsep yan kompleks, masing-masing juga terikat dengan sejumlah pengalaman konkret yang pernah di alami anak. Akibatnya, anak-anak memiliki pengalaman-pengalaman ini untuk membentuk konsep parsial yang tepat selama berada di sekolah dasar. Pengalaman di kemudian hari memberikan kontribusi untuk pemahaman yang lebih lengkap dari setiap konsep.

Konsep peta, uang, dekade, jalan raya, dan pemilihan individu yang tepat di perkenalkan dan di pahami oleh setidak-tidaknya siswa sekolah dasar. Aspek ini lebih langsung di amati subkonsep dari masing-masing konsep yang disebut titik awal. Siswa sekolah dasar dan menengah dapat mengalami sifat subkonsep melalui peta :

  • Bermain di pasir di mana mereka mencoba untuk membuat bangunan sekolah
  • Bermain dengan truk dan mobil di lantai
  • Menggambar suatu object, seperti cangkir minum, dari berbagai susut pandang atas, bawah, dan samping
  • Duduk di bagian yang berbeda dari permainan di sekolah ,memandang permainan yang sama dari lokasi yang berbeda
  • Mengatur model perlengkapan dalam rumah boneka di atas meja

 

Siswa kelas empat dan lima harus mencaritahu subkonsep seperti skala, simbol, dan sistem kolom. Investigasi sistem kolom dimulai dengan mengatur item dalam baris lurus dan kolom (bermain bingo). Kemudian hal ini dapat membangun pengalaman pemahaman yang semakin lebih mendalami konsep kunci dalam sistem kolom. Pemahaman ini, pada gilirannya menjadi bagian konsep yang lebih inklusif dari peta.

Di antara yang paling kompleks dan abstrak dari konsep-konsep sebelumnya yaitu saling ketergantungan yang mengacu pada hubungan 2 orang atau lebih, benda, atau peristiwa. Ini adalah hubungan yang secara pribadi bisa memberikan pengalaman tersendiri dalam kompleks serta cara yang sederhana. Anda dapat saling tergantung dengan kelinci anda, misalnya anda memberi makan kelinci anda dan memberikan kasih sayang. Anda berdua mendapat keuntungan dari hubungan tersebut. Negara kita dan bangsa lain saling ketergantungan dalam hal perdagangan, sumber daya alam, dan produksi yang dihasilkan.  Tapi terkadang tidak secara langsung dapat di amati pada skala besar, seperti dalam kasus saling ketergantungan antar bangsa-bangsa, sulit bagi siswa untuk memiliki pengalaman yang relevan.

 

Kemudahan konsep yang dipelajari tergantung dari beberapa faktor, seperti :

  • Jumlah atribut atau karakteristik yang kritis
  • Bagaimana membangun atribut-atribut ini
  • Keterampilan penalaran tingkat yang diperlukan untuk belajar bermakna memberikan semua aspe konsep (Tenyson & Cocchiarella, 1986)

 

Sebuah teknik mengajar berfokus pada konsep sederhana atau konsep yang bergerak secara bertahap ke konsep yang lebih kompleks (Robert Gagne, 1965). Dia menekankan perlunya untuk memeriksa seluruh urutan belajar, kemudian bekerja dalam langkah kecil yang sedrhana hingga yang kompleks.

Jean Piaget mendefinisikan dan mengkategorikan tingkat perkembangan mental yang di dasari pada proses berpikir untuk siswa (Piaget, 1963, 1970). Tingkat perkembangan di sini adalah praoperasional, operasional konkrit, dan pemikiran operasional formal. Mengembangkan pemikiran operasional konkrit selama SD, dan mulai menggunakan proses berpikir formal di sekolah menengah. Penjelasan mengenai proses berpikir biasanya terkait dengan praoperasional, operasional konkrit, dan tingkat perkembangan operasional dapat ditemukan pada situs web untuk buku ini.

Tiga jenis konsep yang di jelaskan oleh Bruner, Goodnow, dan Austin (1962) : Kata penghubung, ketidaksinambungan, dan relasional. Sebuah konsep penghubung memiliki seperangkat karakteristik tunggal yang mendefinisikan konsep ini. Sebuah contoh dari konsep penghubung dalam pembelajaran IPS adalah bola dunia. Ini adalah objek bola dengan peta bumi yang di gambar di atasnya. Ini adalah jenis paling kompleks dari konsep belajar.

Sebuah konsep ketidaksinambungan memiliki dua atau lebih alternatif atribut penting untuk mendefinisikannya. Orang tua, misalnya, bisa menjadi ayah atau juga bisa menjadi ibu.

Sebuah konsep relasional adalah jenis yang paling kompleks dari konsep. Ini tidak memiliki karakteristik yang jelas. Sebaliknya, karakteristik ditentukan oleh perbandingan dan hubungan dengan benda lain atau peristiwa. Sebuah contoh dari konsep ini adalah kaya. Satu juta dolar dapat membuat anda kaya di dalam kota di mana pendapatan rumah tangga rata-rata adalah $ 40.000 per tahun. Tetapi jika anda tinggal di sebuah kota yang memiliki pendapatam jutaan dolar setiap tahunnya, anda tidak dianggap kaya.

Banyak konten pembelajaran IPS memerlukan penggunaan penalaran untuk beragam pembelajaran. Namun kemampuan siswa yang paling utama adalah untuk melakuakn pemikiran abstrak. Hal ini penting untuk merencanakan pembelajaran konsep penelitian sosial menurut pola penalaran yang diperlukan untuk memahami isi pengkomunikasian dalam pelajaran. Meskipun tidak terbatas pada tahap tertentu, konsep dapat di sebut panca indera atau praoperasional, tergantung pada jenis proses berpikir yang diperlukan untuk mulai membangung makna tentang konsep tersebut. Label-label ini menunjukkan perbedaan dalam pemikiran yang diperlukan untuk memahami suatu konsep bahkan tingkat dasar.

Guru yang efektif dimulai dengan membangun konsep secara bertahap maju ke tingkat yang konsep lebih tinggi. Perbedaan antara kategori-kategori konsep dapat di ringkas : konsep sensorik berkembang dari siswa yang mulai menggunakan berbagai keterampilan penelitian, terutama ketika diperkenalkan melalui orang yang nyata, benda, dan pengalaman. Konsep biasanya dapat dianggap konkrit jika seseorang dapat menangkap maknanya melalui pengalaman langsung. Jika konsep berasal dari penggunaan keterampilan penyelidikkan dan melibatkan posisi konsep dalam sistem teoritis, itu diklasifikasikan sebagai formal. Menggunakan klasifikasi ini, keinginan dan genangan diklasifikasikan sebagai praoperasional. Peta, uang, dekade, jalan raya, dan pemilihan umum yang diklasifikasikan untuk membangun konsep. Proses demokrasi, struktur pemerintahan, dan saling ketergantungan diklasifikasikan sebagai konsep formal.

 

Konsep Indrawi

 

Konsep berarti dapat berkembang sebelum nama konsep di berikan kepada pengalaman. Dalam pembelajaran batas konsep, anak kecil menggunakan indera mereka dengan segala keterbatasannya. Mereka melihat, menyentuh, membaui, dan mungkin menjila atau menggigit setiap benda. Mereka juga berbaring di atasnya, menendang, dan jika itu cukup kecil membuangnya, menaruhnya di bawah, dll. Penelitian ini diulang dengan setiap keterbatasan yang mereka hadapi sampai mereka mampu mengkelompokkan semua karakteristik ini ke dalam batas konsep. Lalu ketika keterbatasan itu ditemukan, tidak hanya label keterbatasan anak kecil itu, tetapi juga mereka mengerti itu adalah konsep yang bermakna. Peristiwa yang sama terjadi pada banyak konsep seperti uang, tempat tinggal, atau bukit.

 

Membangun Konsep

 

Membangun konsep yang artinya dapat diturunkan dari pengalaman langsung dengan orang-orang, benda, atau peristiwa. Pengalaman langsung harus terjadi, atau pengalaman melibatkan siswa. Beberapa konsep konkret, seperti prasangka dan peta adalah contoh kokret dari konsep yang lebih tinggi tingkattannya serta penyelidikan yang diperlukan.

 

Gambar, peta, bola, dan model merupakan pembangunan konsep. Namun, pembelajar harus mampu mengembangkna makna dari pengalaman langsung, atau pengalaman dari konsep itu untuk menjadi nyata. Jika membangun sendiri mewakili model abstrak menyimpang dari pengalaman siswa, bahkan tidak dapat sesuai dengan definisi membangun konsep. Jika konsep disajikan, hanya dapat di hafalkan dan tidak di pahami maknanya, dapat terjadi kesalahpahaman.

 

MEMBUAT KONEKSI LITERATUR

 

Menyadari Keterbatasan Ini

 

Pembahasan dalam bab ini menjelaskan beberapa konsep sensorik, pembangunan, dan formal. Semua konsep membutuhkan pengalaman sosial dan fisik nyata para siswa menggunakan konsep untuk penelitian. Kadang-kadang pemiliham literature tampaknya dapat menggantikan pengalaman nyata. Beberapa guru, misalnya, akan membaca buku selama fase eksplorasi pelajaran untuk memberikan siswa pengalaman yang sama. Namun pengetahuan siswa sebelumnya dan hasil pengalaman dalam pemahaman yang berbeda dari interpretasi buku, dan siswa tidak memiliki pengalaman yang sama atau informasi yang sama setelah buku dibaca.

Jadi menggantikan pengalaman membangun dan sensorik dengan membaca buku tidak efektif jika pengalaman sosial atau fisik. Sebagai contoh, membaca tentang bisbol, permainan tidak sama apabila kita hanya menonton dan bermain dalam satu waktu. Sebuah buku mungkin menggambarkan kesenangan siswa untuk di pilih di acara sekolah dalam sistem sekolah namun deskripsi tidak sama dengan perasaan senang ketika siswa bertemu dengan teman-teman barunya di sekolah.

Dalam konsep, pilihan sastra dapat berfungsi sebagai pilihan yang baik untuk digunakan dalam pelajaran akhir ketika siswa memiliki pemahaman pribadi yang jelas tentang konsep yang sedang di bangun. Membaca buku untuk meninjau sebuah konsep atau memperluas pebnerapannya selama fase ekspansi pelajaran adalah praktik lebih baik daripada mencoba untuk awalnya menghadapi ide melalu kata-kata abstrak cerita.

 

Konsep Formal

 

Konsep formal memperoleh arti mereka dari hubungan yang mantap dengan Asumsi, model, atau beberapa sistem teoritis lainnya. Makna tidak diberikan kepada konsep-konsep ini oleh informasi dari indera, tetapi melalui imajinasi melalui pengembangan hubungan logis dalam system tersebut. Arti konsep ini dikembangkan dari atribut atau relasi yang diberikan kepadanya oleh seperangkat asumsi di mana ia menjadi anggota. Contoh konsep formal adalah kelompok etnic, negara dunia ketiga, dan revolusi.

Siswa yang terutama menggunakan pola pemikiran konkret tidak berpikir melampaui benda konkret, peristiwa, atau pengalaman, memiliki refleksi sedikit kekuasaan, dan tidak membangun sistem teoritis. Mendengar ceramah atau membaca tentang revolusi, negara dunia ketiga, kelompok etnic, komunitas, atau konsep formal lainnya tidak memberikan seperti seorang mahasiswa dengan latar belakang pengalaman diperlukan untuk memahami konsep. Sebaliknya, instruksi harus dimulai dengan pengalaman eksplorasi dan konsep yang kongkrit.

Fakta ilmu sosial konsep dapat diartikan baik sebagai sensorik, konkrit, atau formal, membantu dalam merencanakan kegiatan pembelajaran yang mengarah siswa untuk membangun makna mereka sendiri. Belajar yang dimulai dengan versi konkret dari konsep adalah mungkin untuk membuat koneksi yang lebih aman dengan pemahaman sebelumnya siswa. Siklus belajar adalah cara untuk membantu siswa mencapai pemahaman yang bermakna dari suatu konsep. Sebagian besar siswa cenderung memiliki pemahaman tentang konsep-konsep konkret seperti transportasi, peraturan, membeli dan menjual, dan berbagi. Melalui kegiatan eksplorasi, mereka dapat menerapkan pemahaman mereka dan menemukan keterbatasan konsep-konsep konkret mereka. Misalnya, mereka dapat menemukan kesulitan memperkirakan harga jual yang tepat untuk popcorn hanya didasarkan pada bahan tersebut yang biaya tanpa mempertimbangkan biaya peralatan bermunculan, seperti oven microwave, atau berapa banyak keuntungan yang sesuai. Untuk alasan ini, guru membuat tunjangan dalam jumlah waktu yang tersedia untuk penyelidikan oleh siswa yang berbeda.

Konsep Instruksi

Siswa dari segala usia menguraikan konsep ilmu sosial yang berbeda dari orang diterima sebagai akurat dalam literatur profesional. Di masa lalu, konsepsi alternatif ini telah dipertimbangkan kesalahpahaman dan hambatan penting untuk belajar. Siswa mungkin telah terbentuk konsep alternatif mereka atas dasar fakta-fakta terbatas dan pengalaman mereka telah tersedia. Konsep-konsep mungkin secara teknis tidak akurat atau tidak lengkap, tapi mereka mewakili upaya oleh siswa untuk kesamaan abstrak.

Seorang anak muda mungkin, misalnya, memutuskan bahwa pemilih tidak dapat menjadi seorang polisi karena dia belum pernah melihat orang dengan seragam di bilik suara yang ketika ia menyertai anggota keluarga.  Anak telah membentuk konsep ini berdasarkan fakta-fakta yang terbatas yang tersedia baginya. Atau individu mungkin tidak memiliki diabstraksikan atribut penting. Sebagai contoh, anak mungkin telah mencatat bahwa setiap orang mengantri untuk memilih berbicara tentang bagaimana dia marah adalah dengan meningkatkan legislator negara baru telah memilih untuk diri mereka sendiri. Anak mungkin memutuskan bahwa Anda tidak dapat memilih kecuali Anda sedang marah tentang masalah. Walaupun konsep tersebut tidak akurat, itu tidak merupakan upaya oleh anak untuk kesamaan abstrak.

Sebagai fakta lebih banyak diperoleh melalui pengalaman yang menantang siswa aktif, atau sebagai mahasiswa mereview persediaan fakta, konsep dapat berubah dan menjadi lebih akurat. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memiliki pengalaman yang menambah persediaan fakta. Guru juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendiskusikan fakta-fakta yang telah mereka peroleh dan berhubungan ini fakta-fakta untuk membentuk komsep. Untuk mempelajari konsep baru, siswa harus terlibat dalam perubahan mental konseptual membentuk kembali dan restrukturisasi pengetahuan mereka sebelumnya. Titik awal dalam proses perubahan konseptual pengetahuan sebelumnya siswa. Pengetahuan sebelumnya mereka telah terbukti berhasil bagi mereka di masa lalu tetapi berbeda dari pengetahuan dimaksudkan untuk bisa diperoleh dari pelajaran (Sanger & greenbowe, 1997).

Selama bagian awal pelajaran studi sosial, pengenalan eksplorasi, setiap siswa mengidentifikasi konsep-nya yang ada. Sebuah penelitian sosial bermasalah pengalaman dan diskusi yang berhubungan dengan konsep mendorong siswa untuk berpikir tentang pandangan mereka. Berpikir tentang pandangan mereka mengarah ke konfrontasi antara konsepsi alternatif mereka dan konsepsi yang dimaksudkan oleh pelajaran ilmu sosial. Ketidakpuasan dengan konsepsi yang ada sangat penting untuk proses perubahan konseptual. Hanya pada saat ini melakukan siswa menyadari bahwa mereka harus merombak atau mengganti pengetahuan mereka karena konsep yang ada tidak memadai untuk memahami pengalaman baru. Untuk menjadi berguna, dipertahankan, dan ditransfer ke pengaturan baru, konsepsi baru harus jelas, dimengerti, masuk akal, dan sukses untuk siswa (Berliner & Casanova, 1987). Proses kesadaran, rekonstruksi, dan aplikasi membentuk urutan kejadian dalam siklus belajar. Hal ini mengajar untuk pemahaman

Guru dapat mempengaruhi pemikiran siswa dan konsepsi dalam cara yang dimaksudkan, dengan cara yang tak terduga, atau mungkin tidak sama sekali (Duit, 1987). Bila mungkin mengajar memiliki sedikit efek pada konsep siswa? Empat jenis kasus dapat menyebabkan sedikit atau tidak berpengaruh. Pertama, itulah siswa telah terbentuk konsep sendiri, kadang-kadang dengan memberikan ide banyak pemikiran (rye & rubba, 1998). Banyak konsep yang berkembang sebagai siswa berusaha untuk memahami lingkungan sosial dan fisik. Di sekolah, siswa kadang-kadang terlibat dalam situasi menggunakan konsep bahwa guru mendefinisikan berbeda daripada siswa. Satu atau dua pengalaman instruksional di sekolah mungkin tidak cukup untuk meyakinkan siswa untuk merekonstruksi konsep mereka sendiri.

Kedua, guru sering tidak menyadari konsep siswa tidak akurat atau tidak lengkap. Melalui pengaturan kegiatan pengenalan terbuka eksplorasi, guru mengamati, mendengarkan, dan bekerja dengan pemahaman siswa, tidak saat mereka mengkonsep.

Ketiga, guru sering membuat asumsi tak berdasar tentang proses mengajar dan belajar. Kadang-kadang guru beranggapan bahwa siswa tidak memiliki konsep sebelumnya. di lain waktu, guru mengasumsikan bahwa jika siswa memiliki konsep sebelumnya, ini mudah diganti dengan konsep baru mereka yang diajarkan. Kedua asumsi yang sering salah. Sebagian besar, siswa memiliki konsep sebelumnya yang mereka tidak mudah merekonstruksi karena perubahan konseptual yang sangat sulit dan tidak mudah.

Keempat, guru dan siswa sering gagal untuk berkomunikasi satu sama lain. Guru mencoba untuk menyampaikan makna kata-kata menggunakan, diagram, atau simbol. Siswa telah menemukan makna di dalamnya. Arti dibangun mungkin bukan makna yang dimaksudkan oleh guru. Hal ini sangat mungkin jika kosakata yang digunakan oleh guru, buku teks, lembar kerja atau tidak familiar kepada siswa. Dalam hal ini, berikut ini dapat mengakibatkan:

Para siswa dapat mengabaikan apa yang guru katakan.
Guru mungkin mengabaikan apa yang dikatakan siswa.
Guru mungkin bersikeras bahwa siswa menggunakan “benar” kata-kata, siswa mungkin terdengar seperti mereka memahami konsep tetapi, sebenarnya, mereka tidak.
Guru rephrases tanggapan siswa, membuat mereka akurat tanpa mengatasi kesalahpahaman siswa.

Faktor budaya dan konsep

Lynch (1988, hal.24) menggambarkan budaya sebagai “kulit kedua” yang menjadi terlihat hanya ketika kita sikat melawan satu yang berbeda. Terkadang pelajaran yang dipersiapkan dengan baik gagal untuk membantu siswa mendefinisikan konsep. Ketika ini terjadi, guru juga mungkin ingat simile lynch itu. Budaya siswa mungkin terlibat. Karena budaya kita adalah kerangka kerja untuk hidup kita, itu termasuk makanan kita, pakaian, furnitur, seni, game, dan kebiasaan, serta keyakinan kami yang mendalam dan nilai-nilai. Cara kita memandang dunia, cara kita berhubungan satu sama lain, dan cara kita membawa anak-anak kita secara kultural didefinisikan (Ayers, 1933). Hal ini penting bagi para guru juga untuk mengakui bahwa ada banyak variasi dalam setiap budaya, termasuk tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, pekerjaan, temperamen, dan pengalaman pribadi, yang semuanya adalah faktor yang mempengaruhi nilai-nilai dan keyakinan. Akhirnya, anak-anak tidak mungkin merekonstruksi konsep kami mencoba untuk membantu mereka membangun karena faktor lain dalam kehidupan mereka berasal dari budaya yang mereka bawa ke sekolah, termasuk ras, bahasa, etnis, agama, gender, keluarga, usia, gaya hidup, dan politik orientasi. Dalam kasus seperti itu, tidak semua mahasiswa mencapai tujuan pelajaran itu. Apa guru lakukan? mengajarkan kembali pelajaran dengan menggunakan strategi yang berbeda mungkin bisa membantu. Beberapa siswa, misalnya orang-orang dari budaya timur tengah, pertimbangkan peran mereka dalam kelompok menjadi penting. Siswa-siswa ini mungkin mendapat manfaat dari pendekatan kelompok kooperatif untuk kegiatan melalui konsep yang dibangun. Untuk mengajarkan konsep dengan baik, guru perlu tahu beberapa informasi dasar tentang budaya dan bahasa siswa mereka. Sebuah sumber yang baik menggambarkan gaya belajar dan gaya pengajaran yang sesuai ditemukan di antara mahasiswa dari berbagai budaya adalah pemahaman siswa internasional Anda: panduan budaya, pendidikan, dan linguistik, disunting oleh jeffra flaitz.

Bagaimana guru mempengaruhi konsep sosial siswa studi? lima tindakan penting harus terjadi. Tindakan ini diringkas dalam urutan siklus belajar dalam tabel 4.2.

  • Pertama, guru harus memberikan siswa dengan kesempatan untuk menjadi akrab dengan konteks di mana konsep yang akan dibahas milik. Siswa mencoba ide-ide mereka kita dengan menjelaskan suatu peristiwa atau objek untuk diri sendiri selama pengenalan eksplorasi.
  • Kedua, untuk mempengaruhi konsep siswa berhasil, tachers membantu studients menjadi sadar udeas mereka bawa ke pelajaran. Membawa keluar pengetahuan sebelumnya dimulai selama fase eksplorasi pelajaran dan berlanjut sepanjang pelajaran dengan revisi, perubahan, dan penambahan yang dicatat. Siswa menggambarkan, menulis, menggambar, dan tindakan mereka pemahaman kita atau makna dari data yang terkait dengan konsep utama dari pelajaran. Siswa menggunakan kata-kata mereka sendiri dalam kegiatan tersebut, mengidentifikasi bukti-bukti yang mendukung ide-ide mereka. Kegiatan instruksional meliputi pemilahan, mahasiswa-hanya diskusi kelompok, diskusi kecil dan besar-kelompok dengan guru, dan diskusi informal dengan guru selama kegiatan. Siswa merekam ide-ide mereka dalam gambar beranotasi dan diagram, menggambar sequnced, menulis terstruktur, dan log pribadi.
  • Ketiga selama tahap pengembangan pelajaran, siswa dibimbing untuk membangun konsep baru atau merekonstruksi satu keluar. Penekanan ditempatkan pada siswa mempresentasikan ide-ide mereka kepada orang lain dan belajar untuk menghargai ide-ide dari siswa lain dan guru. Kecil – diskusi kelompok berfokus pada menemukan bukti untuk ide-ide. Diskusi kelompok besar membawa sejumlah ide untuk dipertimbangkan.
  • Keempat, siswa mengalami banyak contoh dan konsep. Waktu yang disediakan bagi siswa untuk mengeksplorasi semua atribut dan aspek atribut masing-masing.
  • Kelima, siswa menggunakan konsep-konsep baru untuk memahami suatu pengalaman baru selama ekspansi. Siswa menyadari kegunaan dari konsep-konsep baru dalam menafsirkan dunia di sekitar mereka.

Eksplorasi pendahuluan:  membantu siswa mencoba menghadapi mereka memiliki   pengetahuan mengenai konsep ilmu sosial

Ajukan pertanyaan-pertanyaan menyelidik untuk mendiagnosis siswa pengetahuan sebelumnya dari konsep penelitian sosial. Fokuskan perhatian siswa pada pengalaman studi sosial.

Mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok untuk berhubungan pengetahuan sebelumnya dengan konsep. Membuat siswa publik pengetahuan sebelumnya dari konsep tersebut.

 

Pengembangan Pelajaran: menyediakan singkat, penutupan singkat untuk konsep studi baru sosial.

Mintalah siswa untuk refleksi dan menjelaskan konsep-konsep eksplorasi pengalaman, dan terminologi dalam woids mereka sendiri untuk menyediakan koneksi ke konsep difokuskan pada pelajaran.

Memberikan definisi, terminologi, penjelasan yang jelas, semua karakteristik, dan elemen konsep studi baru sosial.

Melibatkan siswa dalam contoh yang jelas dan dari konsep studi baru sosial.

Mintalah siswa untuk memperjelas ide baru dan membenarkan pernyataan dengan bukti. Menyediakan untuk praktek siswa menggunakan konsep sosial baru studi.

                Ekspansi:               menyediakan praktek tambahan untuk membantu siswa menggunakan istilah, definisi, dan penjelasan tentang konsep dalam pelajaran.

Menyediakan kegiatan aplikasi untuk konsep studi sosial dalam baru, konteks yang relevan sementara pada saat yang sama siswa membantu mengingat penjelasan asli mereka alternatif.

Menyediakan kegiatan untuk membantu siswa mentransfer konsep sosial baru penelitian terhadap peristiwa dunia semakin nyata.

Menyediakan ringkasan peristiwa penting dalam pelajaran ilmu sosial yang mengarah ke konsep studi baru sosial.

Pengajaran Konsep

Konsep pembelajaran mengharuskan siswa untuk berhubungan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya, untuk menerapkan pengetahuan baru, untuk menyadari semua karakteristik penting melalui banyak contoh dan nonexamples, dan memiliki aplikasi praktik cukup sehingga digunakan tepat dan automitacally. Siklus belajar yang ditunjukkan dalam tabel 4.3 memotivasi siswa dan menyajikan konsep dan subconcept dengan cara yang membantu siswa membangun pemahaman baru tentang konsep.

TABLE 4.3

Kelas Tingkat: Dasar dan Menengah
Standar NCSS: Produksi, Distribusi, dan Konsumsi

Pendahuluan exsplorasi

Tujuan           siswa meninjau  sebelumnya pengetahuan dengan mengidentifikasi contoh alam, manusia, dan modal sumber daya.

Prosedur        Guru bertanya: “Apakah Anda suka brownies?” Para
Guru berkata: “Mari kita membuat beberapa. Apa yang kita
perlu membuat brownies Daftar item? “di papan tulis.
Tegaskan semua item yang diperlukan untuk membuat brownies

Penilaian        Rekam, pada checklist, siswa yang berpartisipasi dengan menawarkan yang sesuai
saran.

Pelajaran Pengembangan

Bahan: Satu set dari tiga gambar alam, sumber daya manusia, dan modal masing-masing, untuk seiap kelompok

Tujuan                       siswa mendefinisikan sumber daya produktif seperti alam, manusia, dan modal sumber daya digunakan untuk membuat produk atau melakukan layanan.

 

Prosedur        Guru membagi siswa ke dalam kelompok. Setiap kelompok diberi satu set gambar alam sumber daya. Guru meminta siswa untuk mendiskusikan set dalam kelompok mereka.
Guru menulis Sumber Daya Produktif pada papan dan mengidentifikasi beberapa gambar dalam mengatur sebagai sumber daya alam. Kemudian guru menulis
sumber daya alam di papan tulis di bawah judul Sumber Daya Produktif. Siswa diminta untuk mengidentifikasi gambar lain di set sebagai alami
sumber daya dan menjelaskan yang karakteristik dalam gambar yang mereka digunakan untuk membuat identifikasi.
Proses ini diulang dengan dua set lain gambar. Guru memiliki siswa mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa (alam) sumber daya yang
Anda lihat dalam gambar ini? Apakah contoh-contoh orang sumber daya manusia? Mengapa? Mengapa tidak?
Guru kembali ke daftar untuk brownies. Siswa mengklasifikasikan setiap item pada daftar. Guru bertanya: “Apa yang bisa kita katakan sumber daya produktif?”
Penutupan: Tuliskan definisi kelas yang produktif sumber daya di papan tulis. Mintalah siswa memutuskan apakah perlu revisi. Mintalah siswa menuliskan
definisi akhir mereka kembangkan di notebook

Penilaian        klasifikasi item dalam daftar adalah direkam pada checklist.
Kelas menyatakan suatu sesuai definisi.

Ekspansi

Bahan: Satu set lima gambar produksi ternak untuk setiap kelompok

Tujuan           Mengingat satu set gambar produksi ternak, mengidentifikasi kelompok-kelompok mahasiswa yang mana dari item foto ini yang tidak sumber daya produktif di
bisnis ini.

Prosedur        Dalam kelompok, siswa mengembangkan daftar item dari gambar-gambar yang digunakan sumber daya produktif dalam produksi ternak dan daftar kedua item yang tidak digunakan. Kemudian siswa mengidentifikasi setidaknya dua contoh manusia, alam, dan modal sumber daya pada daftar mereka. Kelompok perekam menulis di papan tulis. Kelas dan guru bandingkan daftar.

Tetapkan Pekerjaan Rumah: Bicara dengan orang tua atau tetangga sekitar nya atau pekerjaannya, dan mengidentifikasi sumber daya produktif yang diperlukan di dalamnya. Kemudian menempatkan N oleh mereka yang sumber daya alam dan C oleh mereka yang sumber daya modal. Dipersiapkan untuk berbagi informasi ini pada hari berikutnya. Siswa berbagi temuan dari PR wawancara dan membuat daftar yang produktif sumber daya yang digunakan oleh orang yang mereka wawancarai.

Guru bertanya: “Mengapa beberapa orang Anda diwawancarai hanya menggunakan sumber daya modal?
Bagaimana kita bisa menjelaskan pekerjaan yang digunakan baik
sumber daya alam dan sumber daya modal? “

Pelajaran Ringkasan: Siswa sebentar mengidentifikasi mereka kegiatan pelajaran dan menyimpulkan bahwa mereka yang menghasilkan barang yang lebih mungkin untuk menghadapi sumber daya alam sebagaimana mereka bekerja daripada orang-orang
orang yang melakukan pelayanan. Siswa menyimpulkan bahwa sumber daya alam digunakan untuk membuat barang modal semua pekerja menggunakan.

Penilaian        Guru cek kelompok daftar setidaknya 80 persen akurasi.

Konsep Melalui Tingkat Kelas Yang Berbeda

Konsep menyediakan struktur untuk konten studi sosial dalam pelajaran sekolah dasar dan menengah. Program studi sosial di TK dan SD kelas kelas dimulai dengan konsep praoperasional dan keterampilan penyelidikan awal. Pengulangan yang kreatif dan mentransfer konten di semua wilayah penelitian sosial memang diperlukan untuk keterampilan dan pengetahuan untuk menjadi otomatis. Selama kemudian nilai elemntary dan sekolah menengah, pelajaran ilmu sosial menekankan konsep beton bersama dengan keterampilan penyelidikan yang diperlukan untuk mengembangkan pembelajaran bermakna dari konsep. Pelajaran dimulai dengan konsep beton dan bergerak ke arah pengenalan pengalaman yang berkaitan dengan konsep forma

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s