Menggunakan Strategi Pengajaran Untuk Membantu Kegiatan Belajar Siswa


BAB 6

Menggunakan Strategi Pengajaran Untuk Membantu Kegiatan Belajar Siswa

Pengetahuan yang bermanfaat dan berpengaruh bagi kehidupan sosial, didukung oleh cara mengajar menggunakan sumber pengajaran yang efektif, membutuhkan rencana yang matang dan penilaian yang dilakukan secara terus menerus dan memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang. Hal tersebut juga membutuhkan guru yang mengerti dan menggunakan strategi yang memfasilitasi pembentukan ilmu pengetahuan sosial siswa. Apa yang dipelajari siswa dipengaruhi oleh bagaimana cara mereka diajarkan sesuatu, kualitas individu dan proses sosial yang berlangsung dalam ruang kelas dan persepsi serta pemahaman ilmu pengetahuan sosial sebagai sebuah subjek yang diajarkan dan dipelajari (National Council for The Social Studies, 1994b). Program ilmu pengetahuan sosial didukung oleh sebuah gabungan dari teknologi yang tepat dan memadai, fasilitas ruang kelas, dan sumber yang memadai.

Guru ilmu pengetahuan sosial diibaratkan seperti dirigen orkestra, mereka memilih dan menggabungkan strategi mengajar dan sumber pengajaran untuk membantu siswanya belajar. Mereka menekankan pada strategi yang berbeda dalam variasi waktu selama kegiatan pembelajaran. Karena setiap strategi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, guru yang efektif mampu memilih kegiatan yang bisa dinikmati siswanya atau yang dibutuhkan oleh siswanya dalam rangka berlatih dan belajar. Tapi ini tidak berarti bahwa guru harus menggunakan strategi yang paling disukai oleh siswanya, tapi guru juga bisa mengembangkan kreativitasnya sendiri selama mereka bisa secara profesional memberikan alasan atas pilihannya dan mengkombinasikan pilihannya.

Melalui buku ini, banyak skenario dalam ruang kelas, wawancara mengajar, dan kegiatan pembelajaran mengilustrasikan bagaimana guru itu sendiri menggabungkan sumber pengajaran dan strategi untuk menyediakan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan ilmu sosial, muatan, sikap, dan nilainya. Anda akan menginginkan untuk menguji ini secara teliti dan mencobanya dengan para siswa. Mereka menyediakan contoh yang diharapkan mampu menginspirasi anda untuk mengembangkan bakat anda dalam bidang pengembangan pembelajaran.

 

MENJADI SEORANG PERENCANA YANG EFEKTIF DALAM PROGRAM ILMU PENGATAHUAN SOSIAL

Ruang kelas yang efektif membutuhkan guru yang membantu perkembangan pembelajaran untuk perluasan materi pembelajaran siswa terlebih lagi materi yang memang harus dipelajari (Berliner, 1987a). Sejumlah dimensi dan strategi mengajar yang berhubungan dengan pengajaran yang efektif.

Dimensi Mengajar yang Mendukung Pembelajaran Bermakna

Beberapa dimensi mengajar efektif yang mendukung pembelajaran bermakna: kejelasan, variasi, orientasi tugas, dan pekerjaan siswa.

Kejelasan. Kejelasan, atau instruksi yang jelas, termasuk juga diantaranya:

  • Tujuan ilmu pengetahuan sosial dalam aktivitas yang dilakukan
  • Perintah yang mudah dipahami dan dilaksanakan oleh siswa
  • Pengalaman yang berkaitan, dan berhubungan dengan kehidupan siswa
  • Cara yang beragam untuk mempresentasikan kandungan ilmu sosial
  • Kesempatan untuk berinteraksi, memberikan feedback, dan melakukan evaluasi terhadap pembelajaran

(Jacobowitz, 1997)

Variasi. Hanya membaca hal yang berkaitan dengan topik atau hanya menggunakan sebuah materi yang bisa digunakan untuk berbagai aktivitas itu tidak cukup. Menggabungkan pendekatan pengajaran seperti material untuk berbagai aktivitas, diskusi siswa, membaca, dan memberikan pertanyaan dibutuhkan untuk menciptakan terlaksananya pembelajaran bermakna.

Orientasi Tugas. Menciptakan suasana ruang kelas yang berbeda di waktu-waktu tertentu dan memusatkannya demi tercapainya tujuan spesifik pendidikan (Perie, 1997). Pembelajaran ilmu pengatahuan sosial secara tegas bagi semua siswa membutuhkan keterlibatan siswa dalam ilmu pengetahuan sosial untuk sebuah kuantitas yang signifikan dari waktu ke waktu dalam setiap tingkatan. Pengelolaan guru yang efektif dan pengurangan interupsi, rencana untuk transisi antar topik, mengatur distribusi materi dan hasil, serta menyadari teknik yang efisien untuk mengatur arus partisipasi siswa. Pembelajaran ilmu pengetahuan sosial merupakan bagian dari pembelajaran aktif dan feedback.

Pekerjaan Siswa. Ruang kelas yang efektif menciptakan dan menyokong sebuah lingkungan pembelajaran yang mendukung dan tidak mengancam dimana siswa fokus pada kegiatan pembelajaran dengan jumlah interupsi dan gangguan yang lebih sedikit. Jika 40 menit telah dialokasikan untuk ilmu pengetahuan sosial tapi siswa terpaksa hanya belajar selama separuh dari waktu yang telah ditentukan, sebuah program ilmu pengetahuan sosial tersebut tidak akan berhasil. Semakin siswa konsisten dan dengan sepenuhnya terikat pada kegiatan pembelajaran, maka semakin tinggi hasil yang bisa diraih. Sementara siswa terikat pada kegiatan pembelajaran, guru yang efektif akan mengawasi pekerjaan siswanya secara terus-menerus.

 

Strategi Mengajar yang Mendukung Pembelajaran Bermakna

Beberapa strategi mengajar biasanya digunakan untuk mendukung pembelajaran bermakna. Dua diantaranya adalah bertanya dan pembelajaran secara kooperatif. Anda akan melihat banyak manfaat dari strategi ini sehubungan dengan kegiatan pembelajaran dalam buku ini.

 

Bertanya. Semua pembelajaran diawali dengan memunculkan pertanyaan. Jenis pertanyaan yang diajukan guru berguna untuk memandu siswa dalam pembelajaran (King & Rosenshine, 1993). Kuantitas waktu menunggu seorang guru antara menyebutkan sebuah pertanyaan dan meminta respon dari siswanya akan berdampak pada respon yang diberikan siswa (Rowe, 1996). Penelitian ruang kelas telah menemukan bahwa guru, biasanya, menunggu kurang dari sedetik sebelum meminta seorang siswa memberikan respon atau memberikan komentarnya. Menunggu 3 detik atau lebih sebelum meminta seorang siswa menjawab pertanyaan atau memberikan respon bisa meningkatkan lamanya respon siswa, jumlah respon yang ada, dan tingkat kognitif respon tersebut.

Pertanyaan direncakanan untuk sesuatu, berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, dan tertulis dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kegiatan pembelajaran diawali dengan pertanyaan yang memungkinkan semua siswanya untuk menjawab, seperti “Apa yang harus kalian lakukan untuk memilih presiden?” dan “Kenapa tidak banyak orang yang berdiam di Florida sampai pertengahan abad kedua puluh?”. Ini merupakan pertanyaan yang terbuka atau umum, dan memiliki banyak jawaban. Guru menerima semua jawaban meskipun beberapa jawaban mungkin lebih jelas daripada yang lain. Seperti sebuah pertanyaan yang mampu meraih seluruh siswa yang berada di kelas. Sebuah pertanyaan kunci telah direncanakan untuk menciptakan hubungan dengan setiap kegiatan pembelajaran. Dalam sebuah pembelajaran mengenai konsep pemilihan presiden, contohnya, guru bisa saja menanyakan pertanyaan kunci, “Apa yang harus kamu lakukan untuk memilih presiden?” Itu merupakan pertanyaan terbuka yang melibatkan setiap siswa untuk berpikir mengenai tujuan utama pembelajaran tersebut.

Selama masa pengembangan pembelajaran, pertanyaan berpusat pada pengetahuan siswa terhadap konsep utama, kemampuan, dan sikapnya terhadap pembelajaran. Setelah menonton sebuah film tentang kampanye pemilihan dari dua kandidat terpilih untuk pemilihan presiden, guru bisa saja mengajukan pertanyaan “Dari mana kedua kandidat tersebut mendapatkan dana untuk menggelar kampanyenya?” dan “Berapa banyak uang yang telah dikeluarkan untuk iklan televisi dari setiap kandidat tersebut?” Pertanyaan ini bersifat tertutup, atau sempit. Semua pertanyaan tersebut bersifat sempit karena hanya akan ada satu atau beberapa jawaban yang tepat atau benar. Terdapat banyak pertanyaan yang bersifat sempit atau tertutup diajukan selama kegiatan pengembangan pembelajaran.

Selama fase pengembangan pembelajaran, pertanyaan digunakan untuk membantu siswa menerapkan konsep tersebut dalam konteks yang baru. Lagi, penekanan pada pertanyaan terbuka lebih berpengaruh meskipun beberapa pertanyaan tertutup juga diajukan. Contohnya, dalam pembelajaran kasus kampanye pemilihan presiden yang sedang didiskusikan, guru memulainya dengan sebuah pertanyaan terbuka, seperti “Apa saja yang akan kamu masukkan kedalamnya jika kamu ingin menciptakan sebuah kampanye pemilihan presiden yang berhasil memenangkan calonnya?” Selanjutnya, guru bisa saja mengajukan pertanyaan tertutup “Apa yang hilang dari perencanaan kita untuk sebuah kampanye pemilihan presiden yang menjanjikan?”

 

Pembelajaran secara kooperatif. Kerja sama dibutuhkan dalam setiap pembelajaran yang dilaksanakan di ruang kelas seperti siswa bersama-sama berbagi pengetahuan dengan guru dan berbagai sumber pembelajarannya. Pembelajaran secara kooperatif adalah sebuah pendekatan dan sebuah kumpulan strategi yang secara khusus didesain untuk mendorong siswa bekerja sama selama proses pembelajaran. Dalam beberapa penelitian penggunaan pembelajaran secara kooperatif digunakan hampir dalam semua bentuk pembelajaran akademik dan dalam berbagai variasi seting di Amerika Serikat dan di negara-negara lain, Slavin (1989) mengatakan bahwa siswa dapat belajar dengan baik, bahkan lebih baik ketika menggunakan pembelajaran secara kooperatif seperti mereka menggunakan strategi pembelajaran yang bersifat bersaing dan individu. Johnson and Johnson (1986) menekankan bahwa siswa mengembangkan sebuah penggambaran diri yang positif dan sebuah peningkatan sikap dan dukungan terhadap teman sekelasnya.

Karena ilmu pengatahuan sosial diciptakan untuk mengembangkan tingkah laku manusia dan berkaitan dengan orang banyak, tanggung jawab keikutsertaan dalam masyarakat dimana orang-orang hidup dan bekerja, pembelajaran secara kooperatif harus digabungkan dengan pembelajaran dan keikutsertaannya dalam pembelajaran ilmu pengatahuan sosial (Stahl, 1994). Pembelajaran secara kooperatif secara khusus cocok untuk ilmu pengatahuan sosial karena kemampuan sosial itu sendiri mengajarkan dasar sikap demokratis dan kepercayaan (Johnson & Johnson, 1991). Ketika berbagai siswa disatukan dan secara berulang-ulang dipertemukan dalam sebuah interaksi dimana mereka harus melakukan prosedur dalam pembelajaran secara kooperatif, mereka akan semakin suportif satu sama lain (Johnson &Johnson, 1991). Penelitian yang dilakukan oleh Johnson, Johnson, dan Holubec (1990a) menyebutkan bahwa siswa yang berada dalam kelompok yang kooperatif menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi dan peningkatan motivasi. Kelompok kooperatif kecil meningkatkan kesempatan untuk bantuan positif dan mengurangi dampak reaksi negatif dan tertawaan karena memberikan jawaban yang salah.

Strategi kelompok tradisional menciptakan rintangan dalam pembelajaran (Johnson, Johnson, & Holubec, 1990a). Dua rintangan paling besar termasuk dominasi kepemimpinan seseorang dan perkerjaan yang hanya diperlihatkan oleh sebagian kecil dalam kelompok. Siswa tidak meningkatkan kemampuan pengolahan kelompok kecuali kalau mereka diajari secara langsung dan melatih mereka (Roy, 1994). Hanya melalui refleksi terhadap upaya kerja sama mereka, siswa mengetahui nilai pembelajaran secara kooperatif yang dilakukannya. Demi keberhasilan, kemampuan interpersonal kelompok secara hati-hati direncanakan untuk, diajari dan diperkuat oleh guru. Tabel 6.1 membandingkan tingkah laku siswa dan guru dalam kelompok kerja sama dengan tingkah laku mereka dalam ruang kelas tradisional.

Pembelajaran secara kooperatif membantu perkembangan empat tujuan utama (Johnson & Johnson, 1986). Pertama, keadaan saling tergantung yang positif antar siswa yang tercipta melalui pembagian beban kerja, tanggung jawab, dan keuntungan yang diraih bersama. Kelompok meningkatkan keadaan saling tergantung yang positif ketika mereka belajar untuk bekerja bersama untuk mengumpulkan penghargaan, tingkat, keuntungan dan indikator-indikator keberhasilan kelompok lainnya (Slavin, 1989). Mereka belajar untuk bekerja bersama demi kebaikan bersama. Diskusi, penjelasan, bertanya, dan pertukaran verbal lainnya sangat penting dalam bertukar pendapat, mencari tahu, menemukan, menerapkan, meninjau ulang dan melatih kembali kandungan-kandungan tersebut.

Kedua, interaksi positif siswa dan keadaan untuk dipertanggung jawabkan menahan siswa untuk secara individu bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka dan terhadap pembelajaran siswa lain dalam kelompok. Tugas secara sering dibagikan, dengan setiap siswa menguasai sebagian dan selanjutnya melatih siswa lain untuk menguasainya. Setiap siswa mengetahui bahwa siswa lain bergantung padanya. Jika seorang siswa melakukan pekerjaan yang salah atau membuat masalah dalam kelompok, anggota kelompok yang lain pasti akan terkena dampaknya dan menggunakan tekanan kawan sebaya untuk mengubah tingkah laku siswa tersebut. Tingkatan biasanya ditugaskan secara parsial oleh penggabungan nilai individual dan nilai rata-rata kelompok. Guru dan siswa mengevaluasi dan mengurutkan tingkatan proses kerja kelompok sebagaimana hasil akhir atau presentasi kelompok tersebut. Mereka mendiskusikan proses dalam kelompok dan seberapa baik kelompok tersebut berhasil meraih tujuannya, dan mengevaluasi peran individual setiap anggota kelompok tersebut. Topik diskusi tambahan termasuk ke dalam bagian tugas-tugas, prosedur digunakan untuk memecahkan tugas-tugas tersebut, dan siswa memiliki tanggung jawab terhadap tugas tersebut.

Ketiga, siswa bekerja untuk mengembangkan interpersonal yang memadai dan kemampuan kelompok kecil. Siswa juga diajarkan komunikasi yang efektif, kesediaan untuk menerima dan saling mendukung, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, dan penghargaan terhadap pembelajaran antara satu dan lainnya. Siswa mengevaluasi kemampuan kelompok mereka dan penampilannya dalam merencanakan dan bekerja bersama. Perintah dalam pembelajaran secara kooperatif dimulai dengan pelajaran singkat atau aktivitas yang terstruktur secara hati-hati yang dipimpin oleh guru. Ketika siswa mulai familiar dengan kerja kelompok, aktivitas yang disajikan bisa lebih panjang dan melibatkan siswa dalam memilih topik dan menugaskan tanggung jawab keanggotaannya.

Keempat, siswa meningkatkan kesadaran atas kebutuhan kerja kelompok. Dalam pertemuan tatap muka siswa mendiskusikan kerja kelompok, menentukan seberapa baik kelompok berhasil meraih tujuannya, dan mengevaluasi peran individual dalam kelompok. Beberapa topik diskusi termasuk rangkaian tugas, prosedur untuk menyelesaikan tugas, dan tanggung jawab siswa terhadap tugas. Fungsi kelompok diawasi oleh siswa dan guru. Guru memimpin siswanya melakukan kerja kelompok, menciptakan dan memfasilitasi sebuah lingkungan kerja yang tidak sesuai, dan mencegah munculnya kesulitan yang bisa saja dialami selama kerja kelompok berlangsung. Kerja kelompok yang dimaksud termasuk juga kemapuan informasi kelompok, kemapuan prestasi kelompok, dan kemampuan berinteraksi kelompok.

Metode yang dilakukan dalam mengelompokkan siswa sangat penting untuk keberhasilan kelompok yang kooperatif. Rencana guru yang beragam, kelompok kecil yang kooperatif. Sebuah kelompok biasanya terdiri dari empat siswa: satu orang siswa berprestasi, dua orang yang memiliki prestasi rata-rata, dan seorang siswa yang kurang berprestasi. Tanggung jawab kepemimpinan untuk setiap isi pelajaran dan keberhasilan kelompok tergantung pada semua anggota kelompok. Seorang siswa bisa menjadi perekam, mencatat semua keputusan yang dibuat dan menulis catatan. Seorang siswa bisa menjadi pengatur materi, mengumpulkan materi yang dibutuhkan dan mengorganisirnya. Siswa yang lain bisa menjadi juru bicara dalam kelompok untuk menginformasikan hasil belajar kepada yang lain. Seorang siswa lainnya bisa menjadi organisator dalam kelompok, memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam diskusi dan setiap orang memiliki tugas yang jelas untuk dilaksanakan. Peran tersebut biasanya dilakukan oleh anggota secara bergantian di waktu yang berlainan.

Ketika sekelompok besar data diperoleh untuk sebuah topik, tugas-tugas dibagi kedalam beberapa bagian. Contohnya, dalam topik Great Depression in the United States in the 1930, setiap anggota kelompok memusatkan diri pada satu kemungkinan pertanyaan:

  • Apa penyebab utama Depresi tersebut?
  • Apa dampak yang ditimbulkan dari Depresi tersebut bagi masyarakat?
  • Apa solusi utama yang telah diuji coba untuk meredakan Depresi tersebut?
  • Apa peran presiden, Franklin D. Roosevelt dalam menangani masalah tersebut?

Setiap anggota bisa bekerja dengan siswa lain yang berasal dari kelompok berbeda yang mendapatkan pertanyaan yang sama untuk dijawab. Pembagian ke dalam kelompok khusus seperti ini disebut sebuah susunan puzzle. Sebuah metode berbagi yang membutuhkan setiap anggota kelompok untuk mengembangkan sebuah respon secara individu, kemudian untuk membagikannya dengan kelompok kerja samanya.

Dalam kegiatan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial dengan menggunakan pembelajaran secara kooperatif, diharapkan guru mendapatkan sedikit kesulitan dalam mengatur kelas. Sementara siswa diharapkan memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap materi dan membantu satu sama lain dengan cara menjawab pertanyaan dan membantu menyelesaikan tugas-tugas. Karena siswa menyadari bahwa mereka berkontribusi, mereka jadi semakin berkeinginan untuk berpartisipasi dalam kerja kelompok kecil (Hannigan, 1990). Siswa menggunakan kreatifitas mereka untuk memecahkan masalah yang lebih sulit dan kompleks daripada mereka harus mengerjakannya sendirian. Guru ilmu pengetahuan sosial membantu siswa belajar untuk hidup dalam dunia sosial mereka: pengelompokan secara kooperatif memfasilitasi upaya ini.

 

Sebuah Wawancara dengan Mike Yell Mengenai Pembelajaran secara Kooperatif

Pewawancara: Mike, saya mengetahui bahwa anda pernah mengajar ilmu pengetahuan sosial baik di SMA maupun SMP selama dua puluh delapan tahun. Kebanyakan guru ilmu pengetahuan sosial mulai mengajarkannya di SMP dan dilanjutkan di SMA. Hal ini membuat saya bertanya-tanya—apa yang membuat anda kembali ke mengajar di SMP setelah memiliki karir seperti ini?

Mike Yell: Saya telah mengajar sejarah dan semua ilmu-ilmu sosial di setiap tingkat SMP dan menikmatinya, tapi saya sangat merasa sepertinya siswa kelas 7 adalah yang paling sulit ditangani. Siswa SMP memiliki antusiasme yang tinggi. ketika anda mengikatnya dalam kelompok dan membiarkan mereka tetap aktif, mereka akan merasa nyaman. Maka ketika sebuah posisi di SMP tersedia dalam sistem kami, saya mengambil kesempatan itu.

Pewawancara: Anda telah menjelaskan pembelajaran secara kooperatif sebagai inti dari cara mengajar anda. Apa yang ingin anda sampaikan untuk guru yang tertarik untuk menggunakan pembelajaran secara kooperatif agar bisa menerapkannya secara efektif?

Mike Yell: Oh, ya, pembelajaran secara kooperatif merupakan salah satu strategi yang memfasilitasi siwa untuk memberikan respon secara antusias. Saran saya untuk para guru yang baru saja mulai menggunakan pembelajaran secara efektif, mereka harus terbuka terhadap strategi baru dan lakukanlah secara terus menerus. Seperti strategi-strategi yang lain, anda harus rela mencobanya, menggunakannya, mengurutkannya, menerapkannya dan membuatnya menjadi strategi anda.

Pewawancara: Apakah anda mengingat kapan anda pertama kali menemukan pembelajaran secara kooperatif?

Mike Yell: Salah satu kolega saya, yang mengajarkan bahasa Inggris, menghadiri sebuah workshop mengenai pembelajaran secara kooperatif yang diselenggarakan oleh David dan Robert Johnson di University of Minesota. Dia sangat antusias akan hal itu dan membagi beberapa cetakan materi workshop tersebut dan gagasan-gagasannya kepada saya. Saya menjadi semakin tertarik dan mulai mencobanya. Kemudian saya juga menghadiri workshop yang diselengggarakan oleh Johnson. Setahun kemudian saya menghadiri berbagai workshop dan membaca materi yang dibuat oleh ahli advokasi dan peneliti pembelajaran secara kooperatif. Hal tersebut menyita waktu untuk menguasai strateginya dan anda harus membuat modifikasi dari gagasan orang lain untuk menerapkannya agar sesuai dengan keadaan anda.

Pewawancara: Bagaimana cara anda untuk menciptakan pembelajaran secara kooperatif versi anda dalam kelas?

Mike Yell: Meskipun saya sering menciptakan interaksi siswa dan proses belajar mengajar dalam bentuk berpasangan atau kelompok kecil, saya secara umum menggunakan empat strategi spesifik dalam pembelajaran secara koopreatif yang telah berhasil saya buktikan keampuhannya. Saya memusatkan pada mendesain atau menemukan aktivitas yang menarik dan mengikat melalui apa yang diterapkan oleh siswa dalam upaya kerja sama mereka.

Pewawancara: Strategi khusus apa yang anda gunakan?

Mike Yell: Itu tergantung pada sasaran pembelajaran umum kegiatan tersebut. Empat strategi pembelajaran secara kooperatif yang sering saya pakai diantaranya Kelompok Respon, untuk bekerja dengan sumber utama dan asli; Tim Permainan Turnamen, untuk meninjau ulang; Kelompok Pemecah Masalah, untuk meneliti dan memadukan gagasan dalam proyek; dan Pusat Perputaran Pembelajaran ketika saya menginginkan siswa saya untuk mempelajari tentang aspek-aspek lain dari sebuah budaya masa lalu.

Pewawancara: Bagaimana cara anda mengelompokan siswa untuk kegiatan pembalajaran secara kooperatif?

Mike Yell: Saya memiliki metode yang berbeda untuk membentuk kelompok, dan meskipun saya biasanya menugaskan mereka, tapi saya juga kadang-kadang memberikan pilihan pada mereka. Suatu waktu, saya akan mengijinkan siswa untuk memilih kelompok mereka sendiri, tapi saya menyertakan rangkaian peraturan untuk memilih kelompok tersebut. contohnya, semua kelompok harus terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan tidak boleh ada satu orang pun yang tidak termasuk kedalam sebuah kelompok. Saya tidak setuju dengan pembagian berdasarkan jumlah siswa karena kemudian akan ada beberapa siswa yang selalu tertinggal dan tidak terpilih. Saya tidak akan menggunakan metode itu untuk semua siswa saya.

Pewawancara: Dengan perhatian yang besar terhadap penilaian dan prestasi siswa, saya harus menanyakan bagaimana anda menyelesaikan masalah mengenai penilaian siswa dan apakah anda yakin semua siswa berkontribusi dalam pekerjaannya dan mempelajari topik tersebut.

Mike Yell: Untuk proyek pembelajaran secara kooperatif yang dinilai, saya tidak memberikan tingkatan kelompok. Untuk pengelompokan berdasarkan tingkatan yang bisa dilakukan dalam sistem sekolah, penilaian kelompok merupakan hal yang paling dikecam oleh siswa dan orang tua berkaitan dengan pembelajaran secara kooperatif. Saya setuju dengan perhatian mereka. Mereka diharapkan untuk menilai isu tersebut sebagai sebuah kewajaran. Mereka yang familiar dengan prinsip-prinsip pembelajaran secara kooperatif pasti mengerti bahwa pertanggung jawaban individu merupakan suatu hal dasar dalam kerja kelompok yang baik; jika guru mempercayai bahwa semua siswa berpartisipasi dalam kerja kelompok tersebut, maka siswa tersebut memiliki tanggung jawab sendiri. Saya tidak percaya bahwa anda bisa menjamin tanggung jawab individu dengan menggunakan pengelompokan berdasarkan tingkatan kelompok. Pengelompokan tersebut tidak hanya mengabaikan prinsip pertanggung jawaban, menurut saya hal tersebut juga tidak adil untuk siswa. Saya membiarkan siswa mengetahui bahwa meskipun mereka belajar bersama, mereka harus memainkan perannya sendiri. Saya menemukan bahwa kebanyakan siswa sangat lega saat mendengar ini, begitu juga dengan para orang tua.

Pewawancara: Ini terdengar baik, tapi bagaimana anda mengetahuinya?

Mike Yell: Jika saya memberikan nilai tingkatan pada beberapa tugas dalam pembelajaran secara kooperatif, tingkatan tersebut untuk setiap siswa berdasarkan kerja individual mereka dalam kelompok. Dengan kata lain, siswa dalam sebuah kelompok memiliki peran yang telah didesain dan berbeda untuk dinilai, dan sebuah pengujian tertulis/diucapkan yang mengikuti tugas-tugas seperti kuis, makalah, atau presentasi. Saya juga menggunakan rubrik dalam evaluasi yang saya lakukan; akan tetapi, informasi kategori dan kriteria spesifik untuk penampilan harus tidak universal tapi spesifik untuk, dan menunjukkan  isi dari  topik yang tengah dipelajari.

Pewawancara: Dari apa yang anda sampaikan, saya menduga bahwa anda cenderung untuk menggunakan pembelajaran secara kooperatif yang dapat membantu siswa untuk menampilkan tugasnya untuk memperoleh, melaksanakan, dan mengevaluasi informasi ilmu sosial dan gagasan.

Mike Yell: Ya, saya memiliki berbagai strategi pengajaran dalam daftar saya—beberapa diantaranya kooperatif dan beberapa lainnya individual dan beberapa melibatkan seluruh kelas. Contohnya, saya menggunakan strategi menulis harian, dan juga strategi menulis, diskusi dan strategi memberi kuliah, strategi proyek, dan strategi hasil karya konsep. Saya percaya bahwa dalam tambahan pengetahuan mengenai isi yang lebih mendalam, memiliki sebuah daftar strategi mengajar yang mengikat dan aktif yang merupakan komponen penting dalam instruksi yang baik.

Pewawancara: Jika saya tidak salah, saya membaca sebuah artikel yang menjelaskan cara mengajar anda di Pompeii mengenai Ilmu Sosial beberapa tahun yang lalu. Semua orang harus membaca artikel itu dan mempelajari bagaimana anda menggunakan dan menggabungkan strategi ganda.

Mike Yell: Ya, seperti semua pelajaran saya, Uncovering Pompeii menggunakan strategi instruksi beragam untuk membantu siswa saya memepelajarinya. Saya harus memberitahu anda bahwa sekarang saya tidak mengajarkan materi tersebut dengan cara yang sama seperti yang saya tulis dalam artikel tersebut; saya sedikit mengubahnya. Saya percaya bahwa materi dan unitnya harus dinamis, dilengkapi oleh materi-materi baru dan mengembangkannya berdasarkan hasil yang diperoleh dari siswa sebelumnya.

Pewawancara: Mike, diskusi ini semakin menarik, dan saya bisa melihat kenapa anda memilih Outstanding Middle School Social Studies Teacher pada tahun 1998 karangan NCSS. Terima kasih telah meluangkan waktu dan gagasannya. Apa ada hal lain yang ingin anda sampaikan kepada guru-guru lain tapi belum saya tanyakan?

Mike Yell: terima kasih, saya sangat menikmatinya. Hal terakhir yang ingin saya sampaikan adalah mengenai pentingnya perkembangan tenaga guru profesional dalam hal pengetahuan yang mereka miliki dan pengetahuan tentang kependidikan. Saya menemukan bahwa satu dari sekian banyak metode yang digunakan untuk meningkatkan perkembangan kita sebagai guru adalah dengan mengikuti dan tergabung dalam lembaga profesional kita baik dalam tingkat daerah maupun tingkat nasional. Lembaga profesional pusat adalah Wisconsin Council for the Social Studies and National Council for Social Studies. Koneksi, sumber daya, gagasan-gagasan, dan banyak kesempatan kerja tersedia bagi para guru melalui lembaga mereka! Mengajar merupakan sebuah proses berkembang yang berlangsung secara terus menerus, dalam proses bertanya, dan belajar.

 

TIME FOR REFLECTION: WHAT DO YOU THINK?

  1. Mike Yell mengindikasikan bahwa para guru harus terus belajar dengan cara yang berbeda. Bukti apa yang bisa kalian temukan di dalam wawancara yang menunjukkan bahwa dia belajar melalui proses mengajari murid-muridnya?
  2. Mike Yell mengatakan bahwa ia menggunakan pembelajaran kooperatif dalam empat strategi pengajaran yang berbeda. Manakah diantara keempat strategi tersebut yang bisa mewakili pengalaman atau pengamatan anda?
  3. Bagaimana anda menjelaskan partisipasi siswa dalam kelas Mike Yell?

 

KAITAN PENGETAHUAN DAN PENGAJARAN

Para guru memiliki konsep yang berbeda-beda dalam berlangsungnya pengajaran ilmu pengetahuan sosial. Konsep pertama adalah fokus pada fact acquisition atau penerimaan fakta oleh siswa. Materi yang akan dipelajari adalah serangkaian data fakta dan pengertian istilah-istilah. Siswa menerima dan mengingat informasi yang diberikan. Pengulangan merupakan kunci dalam proses pembelajaran. Siswa dinilai melalui pengulangan fakta dan pengertian istilah yang disajikan oleh guru dan buku pelajaran. Guru mendorong siswanya pada fakta-fakta, mengadakan sesi latihan dan sesi hapalan, serta memberikan motivasi kepada siswa melalui variasi media pembelajaran dan penghargaan eksternal lainnya.

            Konsep kedua dari sistem pengajaran ilmu pengetahuan sosial yaitu fokus pada konsep atau pencapaian gagasan. Pencapaian ini memaksa siswa untuk memahami kelengkapan dan nilai kelengkapan dari sebuah konsep dengan membandingkan contoh-contoh yang bukan jadi contoh dari konsep. Dalam hal ini, siswa mempelajari konsep yang dibuat orang lain. Pembelajaran berlangsung saat siswa mencari konsep dengan pola yang berhubungan dengan contoh dan bukan contoh untuk mengembangkan pemahaman mereka tentang konsep. Guru akan menunjukkan dan menjelaskan konsep dengan jelas dan menarik dengan melibatkan siswa saat memberikan contoh, menggunakan anekdot, dan menggunakan kegiatan yang menggambarkan konsep itu sendiri.

            Konsep yang ketiga pembelajaran ilmu pengetahuan sosial adalah dengan aktif mengikutsertakan siswa dalam pentingnya mengembangkan gagasan kemampuan belajar sosial mereka, mengenali dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Penekanan dalam bentuk ide atau gagasan merupakan aktivitas yang melibatkan siswa dalam memahami dan membangun gambaran dari apa yang telah mereka baca, amati, dan temukan. Siswa menentukan apa yang akan mereka teliti dan menggunakan metode seperti apa yang akan digunakan. Siswa dimotivasi, dengan cara yang tepat, untuk menelaah ide pembelajaran sebelumnya. Siswa menggabungkan informasi ini dengan pengetahuan mereka sebelumnya, membuat perubahan atau menggantikan ide-ide lama menjadi kebutuhan dan kesesuaiannya. Para guru membimbing siswanya belajar dan memonitori kebiasaan-kebiasaan siswanya, ide-idenya, serta pemahamannya. Ide alternatif yang baru dijalankan dengan menerapkannya dan dengan menyediakan petunjuk-petunjuk dan situasi yang baru, membiarkan siswa bebas memilih ide baru yang sesuai (National Council for the Social Studies).

            Keefektifan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial melalui pencapaian gagasan atau formasi gagasan mengubah peran siswa dan guru. Kini guru hanya berperan sebagai pemberi informasi, yang memberi motivasi kepada siswa untuk mengingat konsep seperti yang dijelaskan oleh guru atau buku. Siswa secara aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan eksplorasi, menguji pengetahuan mereka sebelumnya, dan menerapkan ide-ide mereka dalam berbagai situasi. Guru membantu siswa belajar, mengurangi peran mereka sebagai pihak yang memegang pengetahuan. Kegiatan pembelajaran dan proses membantu orang lain belajar timbul bersamaan dengan rangkaian pengajaran. Salah satu tujuan akhirnya adalah memberikan dan penerimaan terhadap informasi yang akan dipelajari; tujuan lainnya adalah penelitian pembelajaran dan menggabungkan data secara bersamaan sehingga membentuk pengertian yang baru. Setiap orang terlibat dalam berbagai jenis pembelajaran.

            Dalam merencanakan sistem pembelajaran yang maksimal, guru perlu mengidentifikasi apa saja materi penting mengenai pembelajaran sosial yang akan diajarkan dan banyaknya alokasi waktu serta tenaga yang mungkin diperlukan selama tugas pembelajaran. Hal yang lebih effektif dalam perencanaan guru, kemungkinan besar adalah jumlah siswa yang akan belajar. Di akhir bab ini, anda akan mempelajari beberapa strategi mengajar yang bisa digunakan dalam pengajaran sosial yang membantu siswa mencapai sasaran yang lebih spesifik. Masing-masing dikelompokkan dan disajikan sesuai dengan jumlah guru dan siswa yangre mengontrol pelajaran dan dihubungkan dengan tahapan-tahapan dalam siklus pembelajaran yang sewajarnya digunakan. Anda mungkin mengambil kembali beberapa tahapan dalam siklus pembelajaran yang menekankan siswa memiliki kontrol pada pembelajaran mereka dibandingkan dengan tahapan-tahapan lainnya. Ingat bahwa guru, dalam membuat perencanaan dan pemilihan materi yang akan digunakan dalam pembelajaran, bertugas mengontrol seberapa jauh kegiatan siswa dan mengontrol seberapa banyak informasi yang mereka dapatkan. Keputusan yang dibuat guru merupakan hal yang sangat penting dalam mensukseskan kegiatan pembelajaran sosial yang bermakna dan berpengaruh kuat terhadap siswanya. Tabel 6.1 dan 6.2 menggambarkan hubungan antara jenis-jenis kegiatan dengan kebiasaan guru dan siswa.

 

MENYESUAIKAN STRATEGI PENGAJARAN DENGAN KEBUTUHAN SISWA

Salah satu tujuan pendidikan adalah membantu siswa memimpin dirinya sendiri (National Council for Social Studies, 1994a, pp. 11-12). Faktor kunci yang kemudian bervariasi dengan kegiatan pembelajaran yang berbeda adalah jumlah siswa yang dikontrol selama proses pembelajaran. Jumlah siswa yang dikontrol dalam kegiatan pembelajaran sosial merupakan hal penting dalam menetukan strategi pengajarannya. Kegiatan pembelajaran untuk mengajarkan ilmu pengetahuan sosial bisa dikelompokkan ke dalam tiga kategori metode pembelajaran yang didasarkan pada jumlah siswa yang dikontrol. Berdasarkan urutan dari yang terendah sampai yang tertinggi prestasi siswanya, kategori kegiatan pembelajarannya antara lain expository (pemberian penjelasan), guided discovery (bimbingan dalam penerimaan informasi), serta pemeriksaan dan penyelesaian masalah atau keputusan (lihat Tabel 6.2). Kategori-kategori tersebut dijelaskan lebih rinci di bagian selanjutnya untuk menunjukkan tingkat metode pengajaran ilmu pengetahuan sosial. Guru memilih strategi pengajaran yang tepat yang sesuai dengan tingkat pemahaman ilmu sosial siswa, kemampuan, opini objektif, dan kebutuhan perkembangan siswa. Sebenarnya setiap metode pengajaran efektif dan sesuai untuk membantu siswa mencapai level tertentu dalam tujuan pembelajaran.

Strategi atau Metode Pembelajaran

Expository

Guided discovery

Inquiry/problem solving and decision making

Kontrol Pembelajaran

 

 

Kendali dipegang oleh guru

Kendali berada di keduanya

Kendali berada di siswa

Kegiatan Siswa

 

 

Menerima

Gabungan menerima dan memberikan informasi

Melakukan sesi pemeriksaan

Tugas Intelektual

 

 

Mengingat

Melakukan test dan penentuan penegasan atau penolakan

Menemukan makna dan melakukannya.

TABEL 6.1 Kaitan pengajaran dan materi pembelajaran secara pararel

 

Metode Pengajaran

 

Expository

Guided Discovery

Inquiry/problem solving and decision making

Hasil pembelajaran

 

 

 

Tujuan pembelajaran

Fakta —————>

Konsep ————>

Pengumuman

Pengamatan kemampuan siswa

Tingkat rendah —-> (menggunakan) ukuran untuk menge tahuinya)

Tingkat menengah > (memperkirakan)

Tingkat tinggi

(menyelidiki sendiri)

Penilaian hasil pem-belajaran

Kehadiran ———->

Respon ————–>

Penilaian

TABEL 6.2 Kesesuaian Hasil pembelajaran dengan Metode Pembelajaran

 

 

Expository atau Metode Pengajaran Langsung

Metode pengajaran penjelasan atau pengajaran langsung, memberikan siswa sedikit lebih banyak pengendalian langsung atau keterlibatan dalam proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode expository memiliki karakteristik sebagai berikut:

–          Guru mengontrol situasi, memberikan petunjuk yang memadai dan memotivasi.

–          Guru memberikan banyak kesempatan untuk melatih kemampuan siswa dalam menghadapi situasi yang lebih beragam.

–          Guru memberikan tanggapan (feedback) secara langsung dan berlanjut yang berfokus pada jawaban yang benar.

–          Guru menggunakan penjelasan dan pendekatan, hanya seputar pertanyaan yang diajukan untuk mengontrol situasi pembelajaran namun harus menunjukkan pengarahan yang luas dan cukup memadai bagi siswanya.

            Metode expository membutuhkan motivasi dari luar dan pengelolaan ruang kelas yang baik. Metode ini hanya digunakan untuk pembelajaran tingkat rendah: mengulang dan mengingat. Hasil dari penjelasan atau dengan melihat video atau melalui pengajaran berbasis komputer biasanya berupa pengetahuan yang mengandung fakta yang hapal diluar kepala. Metode expository memfasilitasi pengembangan kecenderungan siswa yang ingin dan bersedia untuk menerima informasi. Adakalanya metode ini berguna dalam tahap pengembangan pengajaran dan siklus pembelajaran dimana guru menjelaskan gagasan inti dari pembelajaran dan fokus pembelajaran termasuk yang membutuhkan pengulangan. Informasi tentang petunjuk pengajaran atau presentasi yang efektif bisa diakses di the companion website.

 

Metode Pengajaran Bimbingan

Saat menggunakan metode pembelajaran bimbingan, siswa terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan sebuah konsep dan membentuk pemahaman materi pembelajaran sebelum materi tersebut diberikan atau dijelaskan oleh guru (Stefanich, 1992). Guru membuat contoh kasus untuk menyelidiki dan menentukan prosedur dan materi apa yang dibutuhkan, tapi siswa mengumpulkakn dan menganalisis data dan menilai hasilnya seperti kaitannya terhadap kasus yang ada. The companion website memberikan penjelasan lebih jauh tentang bimbingan pengajaran. Dalam bimbingan pengajaran terdapat lima karakteristik.

  1. Siswa diberi waktu dan kesempatan untuk mempelajari hubungan yang ada dalam data dan membentuk gagasan baru.
  2. Siswa menggunakan kegiatan yang berfokus pada satu konsep, penyamarataaan data, nilai, atau kemampuan.
  3. Siswa dilibatkan dalam kegiatan yang bersifat multiple yang menggambarkan konsep, penyamarataaan data, nilai, atau kemampuan.
  4. Tugas utama siswa adalah menyelidiki dan menemukan jawaban dari pertanyaan yang diajukan, mendiskusikannya dan menampilkan data yang berkaitan.
  5. Guru memberikan pengarahan dan memberikan pertanyaan yang membantu siswa memulai kegiatan dengan memilih sumber pembelajaran.

            Salah satu contoh metode pembelajaran bimbingan adalah kegiatan yang membentuk siswa mengembangkan konsep hukum dengan menguji dua hukum kota yang berbeda: tidak boleh meludah di trotoar dan tidak boleh berjudi di depan publik, seperti yang terjadi di salah satu peraturan kota pada tahun 1902, 1932, dan 1962. Siswa mencari polanya, kemudian mendiskusikan apa yang mereka temukan. Contohnya, siswa mungkin menemukan hukum yang melarang meludah pada tahun 1902 kemudian direvisi jadi memperbolehkan meludah “di trotoar beton di tengah kota” pada tahun 1932 dan menghilang dari peraturan kota pada tahun 1962. Banyaknya kegiatan penemuan termasuk dalam konsep pembelajaran: mewawancarai petugas kota, petugas di departemen kesehatan kota, dan orang-orang dari perkumpulan sejarah dan penelitian dengan mengunakan perekaman untuk menentukan trotoar mana saja yang akan diteliti. Siswa bisa mempelajari kemampuan menyelidiki, seperti membuat dugaan, memprediksi, mengelola, menafsirkan, dan menggambarkan kesimpulan datanya.

 

PEMERIKSAAN DAN PENYELESAIAN MASALAH/KEPUTUSAN DALAM MEMBUAT METODE PENGAJARAN

Metode pengajaran ilmu sosial yang ketiga, pemeriksaan, termasuk pentingnya pengendalian siswa melalui pengarahan dan penjelasan. Siswa menciptakan masalah untuk diselesaikan, menetukan prosedur dan materi yang dibutuhkan, mengumpulkan dan menganalisa data, kemudian mengevaluasi hasilnya. Penjelasan lebih lanjut mengenai inquiry bisa di temukan di the companion website. Metode pengajaran ini memiliki lima karakteristik:

  1. Siswa memiliki kemampuan memeriksa dasar ilmu sosial.
  2. Siswa memilih area kasus yang akan diteliti.
  3. Siswa bekerja dalam kelompok, melaporkan hasil penelitian secara lisan.
  4. Guru membimbing siswa dalam mengambarkan kasus yang diteliti dan membantu mengidentifikasi sumbernya.
  5. Pengelolaan lingkungan ruang kelas yang terjaga dan suportif.

            Kegiatan dalam metode pemeriksaan pada dasarnya memotivasi siswa karena siswa secara langsung belajar sendiri. Bahkan siswa kelas satu kemungkinan besar menggunakan pemikiran yang lebih tinggi selama penyelidikan dibandingkan metode lainnya. Proyeksi siswa kecil dalam ilmu sosial, contohnya, bisa terlibat dalam membuat gambaran yang menunjukkan dimana benda-benda dalam keranjang barang pribadinya (seperti gunting, lem, krayon, dan lain-lain) harus ditempatkan. Penggambaran dibuat setelah siswa tersebut membuat daftar tiga atau lebih masalah yang sering muncul, seperti misalnya lem yang selalu jatuh. Siswa itu menanyakan pertanyaan, memberitahukan informasi, membuat kesimpulan, dan membentuk prediksi. Dalam membuat tulisan yang mengisahkan pengalaman, fakta mungkin membentuk dasar isi dari teks naratif, tapi sering kali siswa membuat kesimpulan dam membentuk generalisasinya.

            Siswa terlibat dalam pemeriksaan dam penyelesaian masalah-membuat metode kegiatan melatih kemampuan menyelidiki sepenuhnya. Hati-hati dalam memilih gagasan ilmu sosial yang digunakan dan kemampuan yang dibutuhkan karena metode penyelidikan menyebabkan jumlah cakupan materi menjadi lebih luas dibandingkan metode pengajaran lainnya. Namun, kegiatan pembelajaran yang lebih bermakna dan melatih kemampuan menyelidiki, juga meningkatkan kemampuan mengingat jangka panjang dan penyampaian pengajaran. Penyelidikan fokus pada penyelesaian masalah dan pembuatan keputusan. Penting untuk membuat siswa bersentuhan dengan cara pandang orang lain yang beragam dan menemukan nilai yang bertentangan. Oleh karena itu, penyelidikan masalah sering kali ditemukan di sekolah dan lingkungan sekitar. Siswa merencanakan bagaimana mereka akan berpartisipasi dan bekerja sama (Dunfee, 1977; Dunfee & Sagl,1967; Heacock, 1990).

            Guru juga menggunakan metode pengajaran yang antara expository dan metode bimbingan untuk menguji pengetahuan siswanya dan kemampuan komunikasinya. Di waktu lain, guru menggunakan metode yang berada diantara metode bimbingan dan penyelidikan untuk menemukan kedekatan murid-muridnya. Penjelasan lebih jauh tentang pengujian dan penemuan metode terdapat di the companion website.

 

MENYESUAIKAN TIPE-TIPE KEGIATAN PENGAJARAN TERHADAP TAHAP-TAHAP PEMBELAJARAN

Guru yang ahli dalam pengajaran ilmu pengetahuan sosial memilih strategi pengajaran yang sesuai dengan hasil tujuan pembelajaran dan kebutuhan dari tiap tahapan pembelajaran. Siklus pembelajaran menunjukkan kerangka untuk penggunaan strategi pengajaran multiple. Seperti contoh situasi dalam kelas di bawah ini, identifikasi setiap tahapan dari kegiatan pembelajarannya dan buatlah catatan tentang strategi pengajaran apa saja yang digunakan.

A Classroom Scene: Rancangan Pembelajaran Guru

Bu Cooper menyadari adanya kekurangan, konsep dasar tentang ekonomi, yang teridentifikasi untuk kelas satu dalam standar pelajaran sosial sekolah di daerahnya. Karena kekurangan ini bisa mempengaruhi semua orang, termasuk yang paling muda sekalipun, maka Bu Cooper ingin pelajarannya bisa membantu siswa memahami konsep dan menemukan solusi untuk kekurangan tersebut.

            Kelas satu yang dipegang oleh Bu Cooper tidak terlalu bagus dalam hal membaca, tapi ia ingin memasukkan kemampuan pembelajaran penyelesaian masalah, maka Bu Cooper memilih model metode bimbingan. Dalam penyusunan kegiatan ekplorasinya, dia mendampingi muridnya dalam membuat kartu ucapan terima kasih untuk pekerja kantin sekolah mereka. Dia menyarankan supaya kartu ucapannya terlihat menyenangkan. Sebelumnya para siswa mengatakan bahwa warna kuning adalah warna yang menyenangkan. Ia mengingatkan muridnya tentang ide warna kuning adalah warna yang menyenangkan, kemudian meminta setiap grup memberi warna kuning pada setiap kartu mereka. Namun, Bu Cooper hanya memiliki selembar kerta kuning terang. Dia mulai menyampaikan kekurangan itu dengan mengatakan, “Bagaimana setiap kelompok memiliki beberapa kertas kuning untuk menghiasi kartunya?” Para murid mengajukan beberapa pendapat selama berdiskusi yang kemudian mereka menyetujui ide yang menurut mereka paling tepat menyelesaikan masalah mereka. Setelah membuat keputusan, anak-anak mulai membuat kartu mereka dengan menggunakan kartu kuning dan satu set peralatan yang termasuk di dalamnya berbagai kertas dengan warna berbeda tapi tidak banyak gunting dan botol lem yang bisa dipakai semua kelompok.

            Saat kartunya sudah selesai, setiap kelomnpok menampilkan kartu buatan mereka, dan mereka menyampaikan bagaimana mereka menggunakan kata terima kasih dan menggunakan kertas kuningnya. Kemudian Bu Cooper menanyakan apakah ada masalah yang mereka temukan saat mengerjakannya, khususnya dalam penggunaan gunting dan lem. Selama berdiskusi, para murid menemukan adanya kekurangan gunting dan lem. Bu Cooper bertanya bagaimana mereka menyelesaikan masalah kekurangan itu, ia kemudian menuliskan solusinya dalam tabel. Kemudian ia menanyakan apakah para murid pernah menemukan masalah kekurangan sesuatu baik di kelas atau di rumah.

            Anak-anak memberikan banyak contoh, dan Bu Cooper menyampaikan bahwa setiap orang menghadapi masalah kekurangan dari waktu ke waktu. Dia mengatakan, “Saat ada sesuatu yang tidak cukup kalian gunakan pada waktu dan tempat tertentu, itulah yang disebut kekurangan.” Anak-anak mengulangi kata kekurangan dan menelaah lagi kekurangan yang mereka temukan saat membuat kartu. Bu Cooper membacakan dengan keras saran untuk menyelesaikan masalah kekurangan itu dari tabel dan bertanya, “Harus kita beri judul apa tabelnya?” dan “dimana kita harus menyimpan tabel ini supaya setiap orang melihatnya?” ia menganjurkan muridnya untuk menuliskan kata kekurangan pada judul tabelnya. Tabelnya akan ditampilkan sehingga digunakan lagi saat situasi kekurangan lain ditemukan.

            Kemudian, saat para murid menggunakan manipulasi dalam ilmu pasti, mereka menemukan kembali situasi lain tentang kekurangan. Mereka mengulangi, bersama Bu Cooper, bagaimana mereka menyelesaikan masalah sebelumnya. Bu Cooper membaca listnya dan bertanya kepada para murid apakah mereka bisa menggunakan ide ini untuk menyelesaikan masalah atau apakah ada ide lain yang bisa dimasukkan ke dalam list. Para murid memilih dan menggunakan satu dari ide-ide untuk menyelesaikan masalahnya. Penggunaan kembali tabel selama pelajaran matematika dan itu sudah lewat satu minggu menunjukkan kegiatan pengembangan. Setelah seminggu berlalu, anak-anak mulai bisa mengidentifikasi situasi tentang kekurangan. Mereka menyarankan untuk memasukkan cara lain untuk menyelesaikan masalah kekurangan, memasukkannya ke dalam tabel. Bu Cooper menemukan bahwa yang keinginannya untuk ikut dalam masalah sosial termasuk mengurangi kekurangan yang ada dan, jika ia mengingatkan muridnya bahwa situasi itu merupakan salah satu bentuk kekurangan, para murid ingin menyelesaikan masalahnya sendiri dibandingkan membiarkannya memberikan solusi.

 

TIME FOR REFLECTION: WHAT DO YOU THINK?

  1. Dari contoh yang disajikan dalam cara pengajaran kekurangan yang dilakukan Bu Cooper, apakah Bu Cooper berhasil atau tidak dalam mengajarkan konsep kekurangan pada murid-muridnya?
  2. Dalam pembelajaran konsep kekurangan, faktor kognitif dan kecenderungan objek apakah yang digunakan Bu Cooper?
  3. Dengan cara apa Bu Cooper mengendalikan pelajaran?
  4. Bagaimana siswa mengendalikan apa yang terjadi selama pelajaran berlangsung?
  5. Menurut anda bagaimana respon Bu Cooper terhadap kemungkinan tindakan murid-muridnya?

            Siklus pembelajaran dalam buku ini menggambarkan cakupan yang luas dari strategi pembelajaran, menunjukkan contoh bagaimana mengkombinasikan berbagai strategi yang dibahas dalam bab ini.

Kegiatan Pembelajaran yang Berguna dalam Tahap Pengenalan Penelitian

Contoh berhasilnya metode pengajaran untuk mengenalkan tahap penelitian dari pembelajaran dijelaskan kemudian. Berikut adalah pengendalian siswa dari level rendah ke tinggi.

Review. Selama me-review atau meninjau ulang siswa mengingat kembali konsep yang berhubungan dan mengumpulkan pembelajaran sebelumnya dan menghubungkannya menjadi ide baru pada pemebelajaran yang sedang berlangsung. Strategi ini sering digunakan dalam pengenalan tahap penelitian pembelajaran, walaupun ini mungkin digunakan di tahapan lain sebagai persiapan kegiatan berikutnya.

Penelitian yang Terstruktur. Konsep penelitian yang terstruktur, sikap, atau generalisasi untuk dikembangkan bisa terjadi di awal pembelajaran. Pertanyaan pembuka memulai pelajaran dan membantu pengelolaan pengalaman siswa. Dalam kelas di atas Bu Cooper mungkin mengatakan “Apa yang akan terjadi jika peralatannya tidak cukup untuk semua kelompok saat mengerjakan tugas?” Dia mungkin sudah memprediksikan apa yang mereka pikirkan akan terjadi dan mencobanya. Kemudian, siswa mampu memprediksi apa yang harus mereka lakukan saat ada orang ketiga yang menambahkannya dan mempraktekkannya. Siswa mampu menjelaskan apa yang terjadi pada setiap kegiatan.

Tantangan Kerja Berkelompok. Dalam tantangan kerja berkelompok, guru menjelaskan apa yang harus ia lakukan dan meminta siswa memprediksi apa yang harus mereka lakukan. Misalnya, dua siswa memperagakan awal sebuah peristiwa tapi berhenti sebelum itu selesai. Siswa lain kemudian memikirkan apa yang akan terjadi kemudian. Membagi siswa ke dalam kelompok kerja berdasarkan jawaban mereka dan meminta setiap kelompok menunjukkan alasan jawaban mereka.  Kemudian berikan informasi kepada setiap kelompok tentang kejadian tersebut dan meminta para siswa menguji prediksi mereka.

Tantangan Konfrontasi atau Perdebatan. Tantangan konfrontasi, atau perdebatan, konfrontasi  pemahaman siswa tentang cara bekerja yang umum. Karakteristik dari tantangan ini adalah sebagai berikut:

  1. Siswa menemukan pengalaman yang sama seperti yang mereka duga akan terjadi selanjutnya tapi kemudian menemukan pengalaman itu berbeda dengan apa yang mereka duga sebelumnya.
  2. Ketidakteraturan ditunjukkan dalam beberapa cara: melalui presentasi sunyi dimana dua orang memperagakan kejadian itu tanpa berbicara, membiarkan kejadiannya dijelaskan saat siswa memasuki kelas (misalnya, siswa masuk untuk menemukan dua teman dekatnya yang bisa memberi tahunya), memberikan petunjuk secara verbal, atau menggunakan film atau gambar yang menunjukkan situasi tidak terduga.
  3. Siswa berdampingan dalam berdiskusi atau memanipulasi materi yang berhubungan dengan pengalaman yang tidak teratur dalam rangka untuk menjelaskan gagasan mereka.
  4. Siswa menanyakan ketidaksesuaian, bahkan hal yang tidak mereka duga.
  5. Guru menunjukkan informasi jika diminta saja, dan hanya informasi yang tidak bisa diperoleh dari penelitian siswa.

Misalnya, siswa diperlihatkan gambar pria dan wanita. Mereka mendengar penjelasan tentang prestasi yang dimiliki salah seorang diantaranya, termasuk penjelasan bahwa orang tersebut adalah petinju dan sukarelawan pemadam kebakaran. Kebanyakan akan memilih gambar pria berbadan besar, kemudian mereka mengetahui bahwa petinju dan sukarelawan pemadam kebakaran itu adalah seorang wanita.

Eksplorasi Masalah. Dalam mengeksplorasi maslah, seorang guru memberikan masalah yang tak terselesaikan kepada para siswa dan meminta mereka menemukan solusinya. Siswa mungkin menerima peta gambar kebun binatang yang memperlihatkan gambar binatang, pohon, toilet umum, bangku taman, meja piknik, kaleng bekas, dan mesin penjual jajanan. Mereka mengatakan bahwa kota itu telah menerima hadiah tanah di sebelah taman yang ukurannya dua kali lipat. Ada uang untuk menambah sepasang rusa, kanguru, gajah, segel, dan penguin. Jumlah tabel di daerah piknik akan berlipat ganda. Kebun binatang membutuhkan peta baru, dan siswa telah diminta untuk membuat peta. Tapi kota menginginkan ukuran peta untuk tetap 8,5 sama dengan 11 inci sebagai peta ini. Kelompok siswa bekerja untuk membuat peta baru untuk kebun binatang.

Membuka eksplorasi. Siswa mengeksplorasi lingkungan tidak terstruktur dalam menanggapi sebuah pertanyaan kunci terbuka. Pada kunjungan lapangan ke sebuah gedung tinggi, misalnya, asiswa mengobservasi pergerakan orang dan barang di masyarakat, kemudian menjelaskan apa yang mereka lihat dan mengapa ini terjadi.

 

Kegunaan Kegiatan Pembelajaran

Pelajaran untuk Tahap Pengembangan

Fase kedua dalam siklus belajar, perkembangan pelajaran, menjelaskan konsep baru atau keterampilan, yang mengarah siswa untuk melakukan dan mempraktekkan ketrampilan baru dan konten. Strategi pembelajaran mulai di sebuah kontinum dari ekspositori melalui penyelidikan berbasis pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang dapat digunakan.

Karyawisata. Kunjungan lapangan durasi pendek atau panjang harus peristiwa yang umum. Kegiatan ini meliputi segala sesuatu dari perjalanan ke taman bermain sekolah untuk membuat pengamatan tentang bagaimana peralatan keselamatan orang digunakan dalam taman bermain untuk perjalanan ke sebuah peternakan bersejarah. Kunjungan lapangan memerlukan perencanaan lebih matang daripada kegiatan kelas. Guru mengunjungi situs untuk menentukan potensi untuk situasi masalah belajar dan kemungkinan. Perencanaan lengkap untuk perjalanan lapangan, khususnya ketika membutuhkan transportasi di tempat lain, sepenuhnya dijelaskan dalam website pendamping buku ini.

Kunjungan lapangan memiliki tujuan yang sama dengan kelas berbasis kegiatan. Tergantung pada tujuan pembelajaran, tingkat kontrol mahasiswa kegiatan di situs bervariasi. Praktek atau pencapaian keterampilan yang terlibat ketika tujuannya adalah fakta akuisisi dari sebuah konsep atau keterampilan melalui kegiatan. Permintaan yang terlibat ketika tujuannya adalah siswa menemukan konsep, generalisasi, atau keterampilan melalui penyelidikan struktur  siswa.

Pembicara tamu. Seorang pembicara tamu biasanya disambut dengan minat yang besar. Apapun fokus pembicara, guru dengan hati-hati mempersiapkan dengan baik speaker dan siswa untuk kunjungan. Siswa sering menghabiskan waktu mempelajari topik pembicara sebelum kunjungan. Pedoman untuk menggunakan pembicara tamu di ruangan kelas yang ditemukan di situs pendamping buku ini.

Tujuan dari kunjungan pembicara, bagaimana siswa dipersiapkan untuk kunjungan tersebut, apa yang terjadi selama kunjungan, bagaimana kunjungan ini diperluas, dan bagaimana hal itu dievaluasi harus diidentifikasi dalam rencana pelajaran. Tanpa rencana pelajaran, kunjungan ini mungkin menarik, tapi mungkin tidak berhubungan baik dengan isi IPS secara spesifik.

Demonstrasi. Sebuah demonstrasi melibatkan penggunaan benda nyata, analogi fisik, atau model untuk menggambarkan konsep, generalisasi, keterampilan, sikap, atau perilaku. Siswa mencari acara tertentu atau satu siswa melakukan kegiatan bagi orang lain. Seorang guru dapat menggunakan demonstrasi untuk mengajar siswa bagaimana menemukan arah dengan kompas atau bagaimana memperkenalkan diri kepada orang sekitar untuk diwawancarai. Sebuah klip film pendek mungkin sesuai untuk menunjukkan keterampilan. Beberapa demonstrasi memberikan siswa dengan informasi yang mereka gunakan dalam kegiatan tindak lanjut. Siswa yang lebih muda perlu melakukan dasar demonstrasi. Salah satu atau semua kriteria berikut dapat menjadi faktor penentu untuk menggunakan demonstrasi:

• Terbatasnya ketersediaan peralatan

•Peristiwa  jangka panjang

• Sulit atau kompleksnya tugas

• Tingkat perkembangan Campuran dari siswa

Guru dapat memberikan siswa dengan memvariasikan derajat keterlibatan dengan menggunakan metode yang berbeda dari presentasi untuk demonstrasi. Ketika guru melakukan demonstrasi, siswa memiliki kontrol atas setidaknya belajar. Seorang guru mungkin melakukan tugas sebagai guru mengarahkan mereka. Memungkinkan siswa untuk melakukan demonstrasi untuk diri mereka sendiri memberikan kontrol kepada siswa yang lain.

Presentasi kuliah atau guru. Beberapa kuliah atau presentasi guru adalah mungkin di sekolah dasar dan menengah. Pertama-siswa kelas harus terkena presentasi tidak lebih dari 10 menit jika itu adalah relevan dengan sesuatu yang mereka sedang pelajari dan menghasilkan antusiasme. Siswa sekolah menengah dapat hadir untuk presentasi lagi. Presentasi PowerPoint sering diilustrasikan ceramah atau presentasi yang mungkin menarik perhatian siswa.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s