Pentingnya Mendengarkan


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  LATAR BELAKANG

            Komunikasi memang merupakan kunci terpenting dalam membangun suatu hubungan baik antar setiap individu. Hubungan antar personal didasari oleh bagaimana anda sendiri juga melakukan usaha untuk membuka diri bagi orang lain. Tidak jarang terjadi salah paham yang berujung pada perselisihan karena buruknya proses komunikasi. Masalah yang paling sederhana dan sering muncul adalah kurang keterampilan mendengarkan dalam berkomunikasi.

Mendengarkan merupakan sebuah keterampilan yang membutuhkan latihan dalam penguasaannya. Keterampilan ini dalam dunia Psikologi menjadi syarat penting jika ingin menjadi seorang konselor. Karena dengan mendengarkan kita dapat menyerap informasi dengan baik, bahkan hanya dengan mendengarkan sudah dapat meringankan beban seseorang.

1.2.  RUMUSAN MASALAH.

1. Menjelaskan pengertian dari mendengarkan.

2. Bagaimana cara mendengarkan yang baik.

3. Apa saja yang harus dilakukan ketika sedang berkomunikasi.

4. Apa yang harus dilakukan sebagai pendengar.

1.3.  TUJUAN DAN MANFAAT.

1. Mengetahui pengertian dari mendengarkan.

2. Mengetahui tentang cara mendengarkan yang baik.

3. Memahami cara berkomunikasi yang baik.

4. Memahami posisi sebagai pendengar.

1.4.  METODE

Metode tang penulis gunakan adalah metode study literature yaitu membaca buku, media tulis maupun elektronik.

 

 

 

 

BAB II

ISI

2.1 PENTINGNYA MENDENGARKAN

Jika Anda berada di semua kelas, mendengarkan memakan lebih dari jam anda bangun dibandingkan dengan kegiatan lain. Sebuah studi tentang orang-orang dari latar belakang pekerjaan bervariasi menunjukkan bahwa 70 persen dari saat mereka bangun dihabiskan dalam komunikasi. Dan waktu itu, menulis mengambil 9 persen, 16 persen diserap membaca, berbicara menyumbang 30 persen, dan mendengarkan menduduki 45 persen. Survei lain membuktikan  sejumlah besar waktu orang-orang di berbagai lapisan masyarakat dihabiskan untuk mendengarkan.

Selain itu, banyak aspek yang paling penting dalam kehidupan anda sangat dipengaruhi oleh kemampuan anda (atau kurangnya keterampilan) dalam mendengarkan. Kualitas persahabatan Anda, kekompakan hubungan keluarga anda, efektivitas anda di tempat kerja, dalam ukuran besar pada kemampuan anda untuk mendengarkan.

Sayangnya, sedikit pendengar yang baik. Bahkan pada tingkat murni informasi, peneliti mengklaim bahwa 75 persen dari komunikasi lisan diabaikan, disalahpahami, atau dengan cepat dilupakan. Kemampuan untuk mendengarkan makna terdalam apa yang dikatakan orang. Bagaimana berbicara dengan seseorang tentang subyek yang menarik untuk diri sendiri hanya mengalami realisasi menyesakkan bahwa orang lain tidak benar-benar mendengarkan dan bahwa respon-Nya itu hanya otomatis dan mekanis. Mungkin itu setelah pengalaman seperti ini, Yesus mengatakan: “engkau mendengar di satu telinga-Mu tetapi yang lainnya telah ditutup.”

Dr Ralph C. Nichols, yang mengembangkan kelas inovatif di University of Minnesota, menulis:

 Hal ini dapat dinyatakan  hampir tidak ada kualifikasi bahwa orang-orang pada umumnya tidak tahu bagaimana untuk mendengarkan. Mereka memiliki telinga yang mendengar sangat baik, tapi mereka jarang peroleh yang mereka perlukan keterampilan yang memungkinkan untuk digunakan secara efektif disebut mendengarkan. Selama beberapa tahun, kami telah menguji kemampuan orang untuk memahami dan mengingat yang mereka dengar. Tes ini menyebabkan kesimpulan umum: rata-rata orang telah mendengarkan bicara seseorang, ia hanya ingat sekitar setengah dari apa yang telah di dengar, tak peduli betapa hati-hati ia mendengarkan. Apa yang terjadi dengan berjalannya waktu? pengujian kami menunjukkan sendiri itu kita cenderung untuk melupakan dari satu-setengah sampai sepertiga dalam waktu delapan jam. Semua pembicara terlalu sering pergi “di satu telinga dan keluar yang lain.” Alasan utama untuk mendengarkan  di masyarakat kita adalah bahwa sebagian besar dari kita menerima pelatihan awal yang sangat ketat dalam non-mendengarkan. Terapis Franklin Ernst mengatakan bahwa “dari tahun-tahun awal kehidupan, aktivitas seseorang mendengarkan adalah yang paling sangat terlatih semua kegiatan mendengarkan Orang itu lebih diperhatikan dari pelatihan usus nya, aktivitas kandung kemih, atau kegiatan kelamin nya.” Ernst menunjukkan bahwa anak yang khas, di tahun-tahun yang paling mudah dipengaruhi, menerima diet stabil dekrit semut-mendengarkan. Orang tua mengatakan hal-hal seperti: “Kami tidak mendengarkan hal-hal dalam keluarga kami.”

“Jangan membayar perhatian kepadanya.”

“Pura-pura Anda tidak melihat.”

“Jangan begitu serius.”

“Dia tidak berarti apa yang dikatakannya.”

“Jangan memberi mereka kepuasan bahwa anda mendengar

mereka” (dan bahwa hal itu mengganggu anda).

Dengan kata dan perbuatan, kita diajarkan untuk menjadi pendengar di masa kecil. Sekolah juga bekerjasama terhadap pengembangan keterampilan mendengarkan secara efektif. Sekitar enam tahun pelatihan diberikan untuk membaca dalam sistem sekolah yang peluang tambahan sering tersedia untuk membaca dan melatih kecepatan membaca. Pada kebanyakan sekolah, tidak ada program pelatihan yang efektif untuk mengembangkan keterampilan mendengarkan. Hal ini masuk akal dalam masyarakat dimana siswa lulus harus menghabiskan setidaknya tiga kali banyak waktu mendengarkan saat ia menghabiskan membaca

. Daripada menerima pelatihan dalam mendengarkan efektif, siswa di sekolah harus menerima pelatihan lanjutan mendengarkan. Seperti orang tuanya, kebanyakan dari guru tidak akan menjadi pendengar yang baik. Mereka juga, akan menunjukkan tidak perhatian, interupsi, dan penggunaan banyak hambatan sepanjang hari di sekolah. Selanjutnya, kelas yang disusun untuk rasio yang lebih besar dari mendengarkan waktu ke waktu berbicara daripada manusia mampu tercapai. Beberapa ahli mengatakan bahwa kita hanya bisa mendengarkan secara efektif dari satu sepertiga sampai dua pertiga dari keutuhannya. Apapun rasio tertentu, masing-masing dari kita dapat mengenali bahwa ketika kita mendengarkan untuk waktu yang lama tanpa melakukan berbicara atau menanggapi, efisiensi mendengarkannya mulai turun drastis dan akhirnya pikiran kita melayang ke pertimbangkan topik lain. Karena mahasiswa tidak mungkin mendengarkan secara efektif semua pembicaraan mata pelajaran sekolah, ia belajar untuk mematikan pikiran ketika orang lain berbicara. Masalah ini diperparah oleh pengulangan dan sifat membosankan guru bicara banyak. Sebagian besar dari kita telah dilatih untuk menjadi pendengar yang miskin.

Namun ironisnya, kita menghabiskan lebih banyak waktu mendengarkan daripada melakukan hal lain, dan kualitas mendengarkan kita sangat mempengaruhi baik pribadi dan kejuruan dimensi kehidupan kita. Sisa dari bab ini dikhususkan untuk mendefinisikan mendengarkan, menguraikan kelompok utama dari keterampilan mendengarkan, dan pengajaran yang lebih dasar keterampilan mendengarkan.

 

2.2 DEFINISI MENDENGARKAN

Hal ini membantu untuk dicatat perbedaan antara mendengar dan mendengarkan. “Mendengar,” kata Profesor John Drakeford, “adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan proses sensorik fisiologis oleh sensasi pendengaran yang diterima oleh telinga dan dikirim ke otak. Mendengarkan, di sisi lain, mengacu pada prosedur psikologis yang lebih kompleks yang melibatkan menafsirkan dan memahami pentingnya pengalaman sensorik “Dengan kata lain., Aku bisa mendengar apa yang dikatakan orang lain tanpa benar-benar mendengarkan dia. Seorang remaja begini: “Teman-temanku mendengarkan apa yang saya katakan, tapi orang tua saya hanya mendengar aku bicara.”

Saya ingat suatu waktu ketika saya sedang berbicara dengan seseorang yang tampaknya mengabaikan semua yang saya katakan. “Anda tidak mendengarkan aku!” Tuduh saya. “Oh, ya saya!” Katanya. Dia kemudian mengulangi kata demi kata apa yang saya telah mengatakan kepadanya. Dia mendengar persis. Tapi dia tidak mendengarkan. Dia tidak memahami arti saya mencoba untuk menyampaikan. Mungkin Anda telah memiliki pengalaman yang sama dan tahu bagaimana frustrasi dapat didengar secara akurat oleh seseorang yang tidak mendengarkan dengan pemahaman.

Perbedaan antara hanya mendengar dan benar-benar mendengarkan secara mendalam tertanam dalam bahasa kita. Kata mendengarkan berasal dari dua kata Anglo-Saxon. Satu kata yang hlystan, yang berarti Yang lainnya adalah hlosnian, yang berarti “mendengar.” “Menunggu dalam ketegangan.” Mendengarkan, kemudian, ‘adalah kombinasi dari mendengar apa yang orang lain mengatakan yang menunggu menegangkan, keterlibatan psikologis intens dengan yang lain.

 

2.3 KETERAMPILAN MENDENGARKAN

Belajar menjadi pendengar yang efektif adalah tugas yang sulit bagi banyak orang. Pendekatan kami menyederhanakan proses belajar dengan memfokuskan pada keterampilan tunggal atau kelompok kecil keterampilan sehingga orang dapat berkonsentrasi pada satu keterampilan atau satu cluster pada suatu waktu. “Berfokus pada keterampilan tunggal ketika diperlukan, dan pada kelompok kecil memungkinkan orang untuk belajar paling efisien. Pendekatan ini membantu pembaca menguasai satu kelompok keterampilan, melihat dirinya siap memperbaiki di daerah itu, dan kemudian pindah ke satu set lebih maju keterampilan. Ketika masing-masing dari kelompok keterampilan mendengarkan terpisah yang telah dipelajari, pembaca dapat mengintegrasikan berbagai keterampilan menjadi sebuah cara yang sensitif dan terpadu mendengarkan.
Keterampilan mendengarkan yang diajarkan dalam buku ini meliputi:

 

KETERAMPILAN CLUSTER                  KETRAMPILAN KHUSUS
Keterampilan Menghadiri                               • Sebuah Postur Keterlibat

• Motion tepat Tubuh

• Kontak Mata

• Tidak mengganggu Lingkungan

Setelah Keterampilan                                      • Door Openers

• Mendorong Minimal

• Tidak sering Pertanyaan

• Diam penuh perhatian

Mencerminkan Keterampilan                          • Merefleksikan Perasaan

• Merefleksikan Makna

• Sumatif Refleksi

Definisi dari masing-masing keterampilan khusus akan diberikan karena mereka diperlakukan dalam hal ini dan bab selanjutnya.

Hal-hal yang menyebabkan orang enggan mendengarkan:

1. Tak konsentrasi

Seseorang yang gemar mengobral kata atau cerita di luar topik pembicaraan cenderung memiliki kelemahan dalam berkonsentrasi pada fokus atau topik pembicaraan tertentu. Kelemahan ini secara psikologis dipicu oleh arogansi jabatan, sok pamer pengetahuan, atau tidak ingin terlihat bodoh di depan orang lain. Sikap seperti inilah yang membuat orang lain enggan, malas, bosan, bahkan jijik mendengar ucapan kita.

2. Terlalu percaya diri

Kepercayaan diri yang terlalu tinggi membuat seseorang cenderung terlalu sering memotong, mengomentari, atau mengkritik lawan bicara. Sejumlah wakil rakyat di DPR bisa menjadi contoh nyata sikap ini. Mereka seringkali melakukan interupsi yang berkesan tak nyambung dengan pokok persoalan, bahkan menjadikannya ajang pamer diri. Kalau sudah seperti ini, orang tersebut cenderung hanya bicara tanpa mau mendengar orang lain.
3. Sibuk

Kesibukan kadangkala membuat kehadiran seseorang sebagai gangguan. Akhirnya, saat terlibat dalam pembicaraan, orang yang sibuk ini hanya mengambil kata kunci dari lawan bicara dengan mendengarkan seadanya. Akhirnya informasi menjadi bias dan tak seimbang, karena perhatian tak sepenuhnya tercurah pada lawan bicara.

4. Tak cukup data

Sering kali pula, akibat ketidaklengkapan data, kita merasa tidak yakin dengan apa yang kita katakan. Akibatnya komunikasi yang kita bangun menjadi ingar alias tidak nyambung. Hal ini diakibatkan lawan bicara kita sama sekali tidak berpeluang untuk bertanya, apalagi membuat catatan dan mengevaluasinya. Kalau sudah seperti ini, jangan harap kata-kata yang Anda umbar memiliki nilai informatif bagi lawan bicara.

5. Pengaruh suasana hati

Lawan bicara bisa saja enggan mendengarkan ucapan Anda karena ia sedang stres, atau suasana hati tak senang. Ketidaksukaan lawan bicara bisa dilihat dari bahasa tubuhnya seperti memainkan jari berulang, mimik wajah yang kusut, atau pandangan mata yang mengarah ke sana ke mari.

 

2.4 KETERAMPILAN MEMPOSISIKAN DIRI

            Menanggapi memberikan perhatian fisik anda untuk orang lain. Aku kadang-kadang menyebutnya sebagai mendengarkan dengan seluruh tubuh. Menghadiri adalah komunikasi nonverbal yang menunjukkan bahwa Anda memperhatikan berhati-hati kepada orang yang sedang berbicara. Keterampilan  menanggapi termasuk sikap keterlibatan, gerak tubuh yang sesuai, kontak mata, dan lingkungan non-mengganggu.

Dampak dari menanggapi dan tidak menanggapi

            Efektif menanggapi keajaiban dalam hubungan manusia. Ini menunjukkan bahwa Anda tertarik padanya dan apa yang dia katakan. Ini memfasilitasi ekspresi yang paling penting dalam pikiran dan dalam hatinya. Tidak menanggapi, di sisi lain, cenderung untuk menggagalkan ekspresi pembicara. Allen Ivey dan John Hinkle menggambarkan hasil mengikuti kursus psikologi di perguruan tinggi. Kemudian sesi, diajarkan oleh profesor tamu, yang direkam. Para mahasiswa mulai keluar pada mahasiswa khas perilaku tidak menanggapi kelas. profesor kuliah, tidak menyadari rencana siswa sudah diatur sebelumnya. presentasi Nya berpusat pada catatannya. Dia tidak menggunakan gerak-gerik, berbicara dalam monoton, dan membayar sedikit perhatian kepada siswa. Pada sinyal sudah diatur sebelumnya, namun, para siswa mulai sengaja secara fisik hadir. Dalam waktu setengah menit, dosen memberi isyarat untuk pertama kalinya, tingkat verbal bertambah, dan sesi kelas yang hidup lahir. Pada sinyal lain, para siswa berhenti mengikuti, dan speaker, setelah canggung mencari respon lanjutan.

            Ini adalah pengalaman yang mengesankan untuk berbicara dengan orang yang secara langsung dan benar-benar ada untuk Anda. Norman Rockwell, artis terkenal karena nya Saturday Evening Post meliputi, menceritakan pengalamannya sementara lukisan potret Presiden Eisenhower: Umum dan saya tidak membahas politik atau kampanye. Biasanya kita berbicara tentang lukisan dan memancing. Tapi apa yang saya paling ingat tentang jam setengah aku habiskan dengan dia adalah cara dia memberiku semua perhatiannya. Dia mendengarkan saya dan berbicara kepada saya, sama seperti jika ia hadn’ta perawatan di dunia, belum melalui uji coba konvensi politik, tidak di ambang dari kampanye presiden. Menghadiri sering salah satu perilaku yang paling efektif kita dapat menawarkan ketika mendengarkan seseorang.

 

2.5 SEBUAH POSTER KEHIDUPAN

            Karena bahasa tubuh sering berbicara lebih keras daripada kata-kata, sebuah “sikap keterlibatan” sangat penting dalam mendengarkan. Dalam buku mereka: Bagaimana Kami Bersikap dalam Space-Time, Drs. Albert Scheflen dan Norman catatan Ashcroft, “Setiap wilayah tubuh dapat berorientasi sedemikian rupa sehingga mengundang, memfasilitasi, atau memegang hubungan interpersonal. Atau dapat berorientasi dalam rangka untuk memutuskan, mencegah, atau menghindari keterlibatan “Komunikasi cenderung menjadi dipupuk ketika pendengar menunjukkan sebuah kewaspadaan santai dengan tubuh bersandar sedikit ke depan, menghadap ke lain tepat, menjaga”. Terbuka “posisi dan menempatkan dirinya pada jarak yang tepat dari pembicara.
            Para pendengar yang baik berkomunikasi perhatian melalui kewaspadaan tubuh santai selama percakapan. Apa yang dicari adalah keseimbangan antara relaxedness bahwa berkomunikasi “Saya merasa di rumah dengan Anda dan menerima Anda” dan kewaspadaan atau ketegangan produktif yang menunjukkan “Saya merasakan pentingnya apa yang anda beritahu pada saya dan saya sangat niat pada pemahaman anda.” campuran dari kedua pesan-pesan tubuh menciptakan kehadiran mendengarkan secara efektif.

            Mencondongkan tubuh seseorang menuju komunikasi lebih banyak energi dan perhatian daripada bersandar atau luas di kursi. Ketika seorang pembicara publik telah pendengarnya terpesona, kita berkata, “Ia telah di tepi kursi mereka.” Orang-orang tidak hanya condong ke depan, tapi duduk di kursi mereka ke depan. Sebaliknya, beberapa bungkuk pendengar kembali di kursi mereka tampak seperti mayat disandarkan. Bagaimana postur mendemotivasi yaitu speaker!

Menghadapi lain tempat, bahu kanan ke bahu kiri lain, membantu berkomunikasi keterlibatan anda. Frase umum “Dia memberi saya bahu dingin” menunjukkan sikap acuh tak acuh atau penolakan yang dapat dikomunikasikan dengan tidak memposisikan diri untuk menghadapi orang lain. Karena rumah dan kantor-kantor jarang diatur untuk menghadiri baik, Anda mungkin harus mengatur kembali perabot untuk dapat memposisikan diri dengan benar.

Aspek lain menghadapi yang lain jujur harus di tingkat mata dengan pembicara. Hal ini terutama penting jika Anda adalah seorang sosok otoritas-orang tua, guru, atau atasan-dari pembicara. Duduk di tepi meja ketika yang lain adalah di kursi atau berdiri ketika dia sedang duduk dapat menjadi penghalang utama untuk menghubungi interpersonal. Orang tua dari anak-anak muda sering mengomentari betapa pentingnya aspek ini hadir dalam rumah mereka. Mempertahankan posisi terbuka dengan lengan dan kaki uncrossed merupakan bagian penting dari postur keterlibatan. ketat lengan atau kaki melintasi sering berkomunikasi closedness dan pembelaan diri. Baseball fans tahu apa yang diharapkan ketika wasit membuat panggilan yang disengketakan oleh manajer tim. Manajer berjalan ke arah wasit berteriak dan melambaikan tangannya. wasit ini biasanya salib lengannya dalam sikap defensif, berkomunikasi bahwa ia tidak akan beranjak dari posisi dan bahwa argumen apapun akan sia-sia. Sangat muda melakukan hal yang sama: mereka umumnya menyilangkan lengan mereka ketika menentang orang tua mereka, menunjukkan closedness psikologis untuk komentar orang tua mereka. Memposisikan diri pada jarak yang tepat dari pembicara merupakan aspek penting dari menghadiri. Terlalu banyak jarak antara komunikasi orang menghambat. CL Lassen mempelajari pengaruh kedekatan fisik dalam wawancara psikiatri awal. Para psikiater duduk baik tiga, enam, atau sembilan meter dari klien mereka. Klien tingkat kecemasan diukur, baik oleh perilaku diamati dan melalui klien ‘laporan diri. Lassen menemukan bahwa kecemasan klien meningkat sebagai jarak antara dirinya dan psikiater meningkat.

Di sisi lain, ketika pendengar mendapat terlalu dekat dengan orang lain, kecemasan juga meningkat. Beberapa psikolog telah menunjukkan bahwa khas Amerika merasa risih ketika seseorang dengan siapa ia tidak posisi intim dirinya lebih dekat dari tiga meter untuk perpanjangan waktu. periode panjang kedekatan fisik dekat selama percakapan bisa menyebabkan ketidaknyamanan bahkan ketika orang tersebut pasangan atau teman dekat. Perbedaan budaya mempengaruhi jarak optimal untuk berbicara, seperti halnya perbedaan individu dalam suatu budaya tertentu. Jarak antara diri Anda dan orang lain yang paling memfasilitasi komunikasi dapat ditemukan dengan memperhatikan tanda-tanda kecemasan dan ketidaknyamanan dalam pembicara dan memposisikan diri sesuai. Biasanya, sekitar tiga meter adalah jarak nyaman di masyarakat kita.

 

2.6 KETEPATAN TUBUH

            Gerakan tubuh yang tepat sangat penting untuk mendengar yang baik. ? Dalam bukunya Siapa Mendengarkan, psikiater Franklin Ernst, Jr, menulis:
Untuk mendengarkan adalah untuk bergerak. Untuk mendengarkan akan dipindahkan oleh pembicara-fisik dan psikologis orang, non-bergerak tak berkedip dapat diestimasi dengan andal menjadi pendengar. Ketika bergerak terlihat lain telah berhenti dan tingkat mata-blink telah jatuh menjadi kurang dari sekali dalam enam detik, mendengarkan, untuk tujuan praktis, telah berhenti.
            Satu studi perilaku pendengar nonverbal mencatat bahwa pendengar yang tetap masih dipandang sebagai dikendalikan, penyendiri dingin,, dan pendiam. Sebaliknya, pendengar yang lebih aktif-tapi tidak dalam gelisah atau gugup cara-dialami sebagai kasual ramah, hangat,, dan tidak bertindak dalam peran. Orang lebih suka berbicara dengan pendengar yang tubuhnya tidak kaku dan tak bergerak. Ketika menonton rekaman video dari pendengar yang efektif, saya menemukan bahwa mereka cenderung memiliki irama aktivitas kurang bila speaker berbicara dan aktivitas agak lebih ketika mereka merespon. Kadang-kadang, pendengar menjadi sangat selaras dengan speaker yang gerakan nya melakukan sinkronisasi dengan pembicara.

            Menghindari gerakan mengganggu dan gerak tubuh juga penting untuk menanggapi yang efektif. Para pendengar yang baik tubuhnya bergerak dalam menanggapi pembicara. pendengar yang tidak efektif memindahkan tubuh mereka sebagai tanggapan terhadap rangsangan yang tidak terkait dengan pembicara. gangguan mereka ditunjukkan dengan bahasa tubuh mereka: mengutak-atik pensil atau kunci, kesemutan uang, gelisah gugup, drum jari, cracking buku-buku jari, sering menggeser berat badan atau persilangan dan uncrossing kaki, mengayunkan kaki melintasi atas dan ke bawah, dan sikap saraf lainnya. Menonton program TV, pengeriting atau mengangguk kepala seseorang untuk orang yang lalu lalang, melanjutkan dengan kegiatan seseorang, seperti menyiapkan makan, atau membaca koran bisa sangat mengganggu ketika seseorang berbicara dengan Anda.

 

2.7 KONTAK MATA

            Kontak mata Efektif mengungkapkan minat dan keinginan untuk mendengarkan. Ini melibatkan memfokuskan mata seseorang lembut pada speaker dan kadang-kadang menggeser pandangan dari wajahnya ke bagian lain dari tubuh, isyarat tangan, misalnya, dan kemudian kembali ke wajah dan kemudian ke kontak mata sekali lagi. Kontak mata yang buruk terjadi ketika pendengar berulang kali terlihat jauh dari pembicara, menatap terus-menerus atau kosong, atau berpaling.

            Kontak mata pembicara memungkinkan untuk menilai kesiapan anda untuk dia dan pesannya. Ini membantu dia mengetahui bagaimana ia nyaman berbicara dengan Anda. Sama pentingnya, Anda bisa “mendengar” makna pembicara lebih dalam melalui kontak mata. Memang, jika mendengarkan secara efektif berarti mendapatkan dalam kulit lain dan memahami pengalaman seseorang dari sudut pandangnya, salah satu cara terbaik untuk memasuki dunia batin adalah melalui “jendela” mata. Ralph Waldo Emerson berkata, “mata pria berkomunikasi sebanyak lidah mereka, namun dengan keuntungan bahwa dialek okuler tidak memerlukan kamus, tetapi dipahami seluruh dunia.”

Banyak orang yang mengalami kesulitan dalam melakukan interaksi melalui kontak mata. Sama seperti beberapa orang yang susah dalam mengetahui apa yang harus dilakukan dengan tangan mereka dalam berinteraksi sosial. Terkadang terdapat pula beberapa orang yang tampak kesulitan pada saat ia akan menunjukkan ekspresi di wajahnya disaat berinteraksi dengan orang lain. (pendengar efektif mendengar perasaan serta isi dan mengerti apa yang orang lain bicarakan dengan bahasa tubuhnya serta melalui kata-kata.) dalam berinterksi, menatap mata pembicara adalah salah satu cara yang paling intim untuk berhubungan dengan seseorang. Terlepas dari kenyataan bahwa beberapa orang merasa sulit untuk menatap mata orang lain. Kurangnya kontak mata mungkin juga menandakan akan  ketidakpedulian atau permusuhan.

Keterampilan untuk melakukan kontak mata yang baik sangat penting untuk komunikasi interpersonal yang efektif dalam hubungan sosial. Kesadaran akan pentingnya kontak mata dapat membantu banyak orang untuk mengatasi hambatan dalam berkomunikasi. Selain itu, cara yang mungkin dapat dilakukan untuk mengahadapi masalah ini yaitu harus melihat wajah seseorang lebih sering sampai mereka menjadi lebih nyaman.

 

2.8 HAMBATAN LINGKUNGAN

Memberikan perhatian penuh pada satu orang sepertinya hampir tidak mungkin jika dalam lingkungannya terdapat gangguan. Lingkungan undistracting, merupakan hambatan fisik yang signifikan yang dapat mengganggu dalam proses percakapan.

Upaya pendengar untuk mengatasi gangguan lingkungan di rumah, bisa dengan mematikan TV atau stereo yang ada ruangan, hal tersebut dilakukan untuk menyediakan lingkungan yang bebas gangguan dalam melakukan interaksi. Bila perlu, penerima telepon dapat mematikan alat komunikasinya jika ada panggilan, dan bisa pula dengan memberikan tanda “Do Not Disturb” yang ditempatkan di pintu. Dan jika di dalam kantor, antara lain seperti mentutup pintu, mematikan musik, dan sekretaris juga dapat menolak panggilan telepon sampai percakapan selesai.

Menghilangkan hambatan fisik, dapat mendorong komunikasi untuk berjalan lebih baik. Penelitian yang dilakukan AC White, menemukan bahwa 55 persen dari pasien awalnya duduk tenang ketika tidak ada meja yang memisahkan antara pasien dan dokter, dan hanya 10 persen jalannya komunikasi bisa terganggu ketika meja memisahkan antara pasien dari dokter. Bagi sebagian orang, meja dikaitkan dengan posisi kekuasaan yang dapat memicu perasaan kelemahan atau permusuhan.

Untuk lebih mengetahui tentang bahasa tubuh yang sedang dipraktekan antara pendengar dan pembicara, sebaiknya kedua orang tersebut tidak dipisahkan oleh sebuah meja. Karena ketika dihalangi oleh sebuah meja atau penghalang fisik lainnya, akan sangat sulit untuk mengetahui bahasa tubuh yang sedang dikerjakan.

2.9 PSIKOLOGIS PERHATIAN

Yang paling penting diinginkan dari seorang pendengar adalah adanya suatu perhatian. Dia menginginkan seorang pendengar untuk benar-benar memperhatikan apa yang sedang dibicarakan. Ketika saya dalam suasana lingkungan yang kondusif, melakukan kontak mata yang nyaman, gerakan tubuh yang tepat, dan memelihara sikap saat berinteraksi, membuat psikologis perhatian saya menjadi meningkat.

Dan, jika saya berusaha untuk kurang peduli ketika mendengarkan perkataan orang lain, saya hanya membohongi diri sendiri. Pendengar yang benar-benar baik adalah ketika ia benar-benar memperhatikan apa yang sedang bicarakan oleh orang lain.

Orang yang kurang memperhatikan pembicaraan orang lain meskipun posisi tubuh orang tersebut seperti sedang memperhatikannya, namun tetap saja akan ketahuan bahwa sebenarnya dia kurang peduli terhadap apa yang sedang bicarakan.

2.10 KESADARAN MEMPERHATIKAN

Yang mengherankan, kita mengetahui bahwa sebagian besar orang telah memiliki pengetahuan formal yang cukup tepat untuk memperhatikan seseorang. Dalam seminar, pemimpin sering mengatakan, “Posisikan diri untuk menunjukkan bahwa Anda benar-benar tertarik dengan apa yang saya katakan.” Kebanyakan orang dalam kelompok tersebut memperhatikan pembicaraan dengan baik. Kemudian pemimpin berkata, Sebenarnya “Tunjukkan dengan postur tubuh Anda bahwa Anda tidak peduli tentang apa yang saya katakan.” semua orang menunjukkan ide yang jelas tentang apa nonattending perilaku. Jadi mengapa kita membuat semacam upaya untuk mengajarkan keterampilan dalam memperhatikan sesuatu? Pada dasarnya ada dua alasan.

Pertama-tama, karena pengajaran keterampilan ini tidak mempertajam pemahamannya. Orang membangkitkan ke tingkat kesadaran mereka beberapa pemahaman yang sebelumnya tidak jelas dan samar. Orang-orang selalu belajar sesuatu yang baru dan / atau mengembangkan dan memperdalam wawasan tentang apa yang telah mereka ketahui.

Kedua, dan yang lebih penting, kita mengakui bahwa fokus pada metode dan manfaat dari suatu perhatian, dapat memotivasi banyak orang untuk melakukan apa yang mereka sudah tahu bagaimana melakukan tapi sering mengabaikan untuk melakukannya. Fokus dalam perhatian berfungsi untuk menambah pengalaman kesadaran yang sering memotivasi orang untuk memanfaatkan keterampilan ini. Allan Ivey menempatkan seperti ini:

Beberapa orang mungkin mempertanyakan tentang kurangnya sikap perhatian atau keterampilan lainnya. Mereka secara sah objek untuk melihat kehidupan sebagai serangkaian latihan di mana individu dapat mengembangkan keterampilannya secara terus-menerus sampai mencapai sebuah kematangan keterampilan, sehingga dia bisa beradaptasi dengan lingkungannya dalam situasi apapun. Pengalaman kami telah membuktikan, bahwa kadang-kadang masih banyak orang yang membuat perhatian secara buatan/palsu, artinya dia tidak begitu serius untuk memperhatikannya. Dan dalam sikap perhatiannya terhadap orang lain, cenderung menjadi lebih animasi, dan akhirnya akan membuat suatu ingatan yang akan mudah lupa.

Orang cenderung menganggap komunikasi sebagai proses verbal. Mahasiswa yakin bahwa komunikasi yang paling sering digunakan adalah nonverbal. Perkiraan paling sering dikutip, berdasarkan penelitian, adalah bahwa 85 persen dari komunikasi kita adalah nonverbal.

2.11 KETERAMPILAN MENANGGAPI

Beatrice mobil Glass’s bertabrakan dengan mobil lain, setelah kecelakaan dia langsung menelepon suaminya, Charlie, dan melaporkan bahwa ia sedang mengalami kecelakaan. “Berapa banyak kerusakan yang terjadi pada mobil?” Adalah sebuah respons langsung. setelah ia mendapatkan informasi, Charlie bertanya, “kesalahan siapa itu?”. Kemudian ia berkata, “Jangan berbuat apa-apa. kamu telepon perusahaan asuransi dan aku akan menelepon pengacara. beberapa menit lagi saya akan melaporkannya.”

“Ada pertanyaan lagi?” Tanyanya.

“Ya” jawabnya,

“Oh, ya, apakah itu?” Ia menjerit. ” aku sedang dirawat di rumah sakit dengan empat tulang rusuk yang patah!”.

Tanggapan Charlie mungkin lebih berperasaan dan terang-terangan daripada suami-suami lain pada umumnya, tapi apa yang dia lakukan adalah sebuah kewajaran bagi banyak orang. Karena istri Charlie sedang mempunyai masalah (kecelakaan mobil yang mengakibatkan rawat inap di rumah sakit) peran Charlie dalam percakapan seharusnya hanya sebagai pendengar. Namun dia justru lebih banyak berbicara kepada istrinya.

Salah satu tugas utama dari pendengar adalah mendengarkan perkataan dengan penuh perhatian, sehingga pendengar dapat mengetahui bagaimana pandangan situasi dari pembicara. Sayangnya, “pendengar” rata-rata memotong dan mengalihkan pembicaraan dengan mengajukan banyak pertanyaan atau membuat banyak pernyataan. Para peneliti sering mengatakan bahwa itu sama sekali tidak diperbolehkan bagi “pendengar” dengan mengarahkan percakapan dan mengajukan banyak pertanyaan.

Berikut adalah empat cara menumbuhkan keterampilan mendengarkan secara efektif: Door Openers, dorongan minimal,frekuens pertanyaan, dan diam penuh perhatian.

  1. 1.      Door Openers

Orang sering menggunakan petunjuk nonverbal ketika mereka sedang berkomunikasi dengan orang lain. Tindakannya bisa berupa mengirimkan telegram dalam ekspresi wajah, nada suara, postur tubuh, dan tingkat energi. Misalnya, Jerry, yang biasanya riang, dan berubah menjadi jarang tertawa. Ketika ia sedang sendirian, istrinya, Darlene, berkata, “Kau tidak tampak biasanya, kamu tampak terbebani oleh sesuatu. Kepedulian itu adalah cara Darlene dalam menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap Jerry.

Sikap perhatian merupakan awal dari proses komunikasi. Namun ada kalanya Door Openers tidak diperlukan. Jadi  pembicara langsung membahas tema yang akan dibicarakannya. Namun Anda akan merasakan bahwa orang lainjuga ingin berbicara dan membutuhkan dorongan seperti yang terjadi pada kasusnya Jerry. Di lain waktu, pembicara akan berada di tengah-tengah percakapan dan akan menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tidak yakin untuk melanjutkan pembicaraan. Sebuah sikap perhatian seperti ini dapat membantu dia untuk melanjutkan: “Saya tertarik untuk mendengar lebih banyak tentang hal itu.”

Orang sering kurang peduli terhadap masalah yang sedang dialami oleh orang lain. Misalkan, ketika seorang anak pulang dari sekolah dengan wajah yang kurang bahagia dan orang tua sering menanggapinya dengan cara yang cenderung membuat anak merasa kurang diperhatikan oleh orang tuanya. Laporan menghakimi cenderung untuk menuangkan sebagainya.

“Apa yang Anda lakukan kali ini?”

“Jangan menimbulkan mood buruk anda pada saya.”

“Apa yang Anda lakukan, kehilangan sahabatmu?”

Kadang-kadang, mereka mencoba untuk meyakinkan:

“Cheer tip.”

“semua hal akan menjadi lebih baik. “

“Minggu depan Anda bahkan tidak akan ingat apa yang terjadi.”

Pada saat seperti itu, memberikan nasihat merupakan taktik favorit:

“Mengapa kau tidak melakukan sesuatu yang ingin kau lakukan?”

“Jangan bermuram sepanjang hari. Itu tidak akan membantu apa-apa. “

“Saya yakin bahwa apa pun yang terjadi tidak akan mampu merusak hari-harimu menjadi lebih buruk.”

Namun apabila dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kurang berhasil, orang tua bisa memberikan suatu Door Openers/perhatian:

“Sepertinya hari ini kamu sedang mengalami banyak masalah. Aku punya waktu untuk mendengarkan masalah yang terjadi jika kamu ingin membicarakannya. “

“Sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada Anda? Apakah anda ingin membicarakan tentang hal itu? “

Door Openers biasanya memiliki empat unsur:

1. Penjelasan tentang bahasa tubuh orang lain. “Wajahmu berseri-seri hari ini.”

2. Rayuan agar mau berbicara atau untuk terus berbicara. “Peduli membicarakannya?” “Silahkan lanjutkan.” “Saya tertarik dengan apa yang Anda katakan.”

3. Diam/memberikan waktu orang lain untuk memutuskan apakah akan bicara dan / atau apa yang ingin dikatakannya.

4. Memperhatikan lewat kontak mata dan sikap keterlibatan yang menunjukkan minat dan kepedulian terhadap orang lain.

Keempat bagian tidak selalu ada dalam setiap Door Openers. Suatu hari, seorang teman telah berbagi banyak cerita dan perasaan karena melihat bahwa saya sedang mengalami masalah. Dia mengajak untuk duduk di kursi dan berkata pelan, “Mari kita bicarakan tentang masalahmu.” Pada kesempatan lain, ia hanya berkata, “Tembak.” Kata pembuka singkat ini bekerja dengan baik karena memberikan suatu kepercayaan dan pengungkapan diri dalam hubungan. Jika orang lain telah mengatakan hal-hal kepada saya, saya mungkin akan tutup mulut. Kepribadian pendengar, sifat hubungan, dan faktor lainnya akan menentukan perhatian yang efektif dalam situasi tertentu.

Seorang ibu rumah tangga yang mengeluh bahwa suaminya jarang berbicara dengan dia, lalu memutuskan untuk mencoba menyapa dia ketika dia ingin berbicara. Dia merasa heran, tampaknya dia mulai jarang berkomunikasi ketika ia baru pulang kerja. Kejadian ini sudah bertahun-tahun terjadi, pendekatan baru-nya untuk melayani makan malam empat puluh lima menit kemudian, untuk membawa lima belas menit untuk bersantai sebelum suaminya pulang, dan menghabiskan setengah jam berbicara dengan dia sendirian. Untuk itu setengah jam, baik anak-anak dan tugas-tugas masakannya dikeluarkan. Dia bilang suaminya sekarang terlibat dalam percakapan yang signifikan dengan dia.

Lain ibu rumah tangga yang merasa nyaman untuk menunda jam makan malam direncanakan untuk memasak banyak makanan di awal hari pada tiga hari seminggu supaya dia bisa menghadiri pembicaraan suaminya ketika ia tiba di rumah. Dia bilang, ‘Apa perbedaan yang telah dibuat! Beberapa hari kita berbicara sepanjang waktu. Pada kesempatan lain, pembicaraan kami cukup singkat-tapi bahkan ini bukan pertukaran yang dipaksakan kami ketika saya digunakan untuk grill dia dengan pertanyaan-pertanyaan sementara aku menyiapkan makan malam. Beberapa hari, tentu saja, kami tidak lebih dari pertukaran salam. Namun suasana interpersonal seluruh rumah kami berubah karena ketersediaan saya tenang, penuh perhatian selama tiga periode setengah jam seminggu sebelum makan malam. “

Seseorang mengirimkan perhatian membutuhkan kesadaran dan rasa hormat untuk perasaan kemungkinan orang lain dari ambivalensi-dia mungkin ingin mengungkapkan diri, namun ragu-ragu untuk melakukannya.

Salah satu cara untuk mengatasi ambivalensi adalah dengan mengenali dan merefleksikan kembali kepada pembicara betapa sulitnya berbicara tentang pengalaman yang menyakitkan. Ketika pembicara tampaknya sulit untuk berbicara tentang hal-hal yang dikatakannya, pendengar dapat mencerminkan

“Ini cukup sulit untuk dibicarakan.”

Cara lain untuk berurusan dengan orang yang merasa sangat kebingungan adalah dengan cara memberikan sebuah rayuan agar dia mau berbicara. Perhatian harus selalu ada.

Sayangnya, beberapa orang tidak hanya membuka pintu, mereka mencoba untuk menyeret lain melalui:

Sam: Kau terlihat sedih, John. Merasa seperti berbicara?

John: Tidak juga.

Sam: saya dapat memberitahu Anda bermasalah. Anda tahu bahwa Anda dapat membicarakannya dengan saya.

John: Saya tidak merasa seperti sekarang.

Sam: Anda benar-benar harus mendapatkannya dari dalam dada Anda, Anda tahu.

John: Ya, aku tahu mungkin nanti.

Sam: Tapi waktu untuk berbicara adalah ketika Anda merasakan suatu hal.

            Orang yang empatik menghormati privasi orang lain dan berhati-hati untuk tidak mengganggu. Dia menghormati daripada mengganggu hak-hak dari individu lain. Saat yang tepat, pendengar empati memulai percakapan. Mereka tidak mencoba untuk memaksa itu.

            Sulit untuk menawarkan pembuka pintu, tidak dapat dipaksakan, dan masih membiarkannya. Namun, dalam hubungan ketika ada sedikit kepercayaan atau dimana komunikasi belum mengalir dengan baik selama beberapa waktu, pembuka pintu mungkin akan menemukan sedikit respon dari orang lain. Dibutuhkan waktu, keterampilan, dan goodwill untuk membangun kembali kepercayaan. Penggunaan keterampilan mendengarkan dapat membantu memupuk rasa kepercayaan. Jika dan ketika hubungannya dipulihkan, pembuka pintu mungkin akan menemukan sebuah respon yang baik.

  1. 2.      Dorongan  Minimal

            Kita telah menyatakan bahwa salah satu tanggung jawab pendengar adalah untuk memungkinkan ruang pembicara untuk berbicara tentang situasi ketika ia melihat dan merasa itu. Banyak orang, dalam upaya mereka untuk tetap keluar dari jalan pembicara, terjerumus dalam ketidak pedulian.  bahwa dorongan pembicara untuk menceritakan kisahnya di jalan namun kita pendengar aktif dalam proses disebut dorongan minimal. Dorongan minimal merupakan indikator singkat untuk orang lain yang Anda bersama mereka. Kata minimal mengacu pada jumlah pendengar mengatakan, yang sangat sedikit, dan jumlah arah yang diberikan kepada percakapan, yang juga sangat sedikit. Kata mendorong digunakan karena bantuan kata dan frase untuk terus berbicara. Hanya beberapa kata bisa membiarkan yang lain tahu bahwa Anda sedang mendengarkan aliran tanpa mengganggu bicara atau membuat tidak mood. Minimal, akan mendorong percakapan yang lebih mendalam. Pada tahap awal interaksi, mereka dapat digunakan lebih sering untuk mendapatkan momentum dalam percakapan.

            Sederhananya “mm-hmm” mungkin yang paling sering digunakan dorongan minimal. Bahwa ungkapan singkat dapat menyarankan, “lanjutkan. Saya Mendengarkan dan saya mengerti “Ada banyak tanggapan singkat yang pendengar dapat digunakan.:

Ceritakan lebih banyak. Anda batcha!

Oh? Ya.

Sebagai contoh. Benarkah?

Saya lihat. Gosh.

Benar. Dan?

Lalu? Pergilah.

Jadi? Tentu.

Aku mendengar Anda. Darn!

            Anda pasti punya favorit sendiri. Mengulangi satu atau dua kata kunci pembicara atau kata terakhir atau dua pernyataan pembicara juga merupakan dorongan minimal. Ketika pembicara mengatakan, “Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kurasa aku hanya bingung, “pendengar mungkin merespons” Bingung. “

            Seorang pendengar dapat terampil berkomunikasi dengan banyak empati melalui suara dan ekspresi wajah bahkan ketika hanya satu atau dua kata yang dikatakan. Saya menonton film salah satu terapis terkemuka Amerika mendengarkan seorang wanita menceritakan bagaimana dia marah pada hal-hal yang dilakukan ibunya kepadanya. empati-Nya “Anda betcha” tampaknya memberikan perasaan, “Dia mengerti bagaimana marah aku dan dia masih menerima saya.” Ketika salah satu dari anak-anak kita mengatakan kepada istri saya dari sebuah kekecewaan besar di sekolah, Dot hanya berkata, “Sialan!” tetapi nada suaranya, ekspresi wajah, dan nonverbal lain membuat tanggapan penuh perasaan-sangat.

            Dorongan minimal tidak berarti sedikit pun baik kesepakatan atau ketidaksepakatan apa yang dikatakan pembicara. Sebaliknya, mereka membiarkan yang lain tahu bahwa ia telah mendengar dan bahwa pendengar akan mencoba untuk mengikuti maknanya jika pembicara memilih untuk melanjutkan. Jadi, ketika saya respon ke pembicara dengan “Benar,” itu tidak berarti bahwa saya setuju dengan pembicara. Sebaliknya, itu berarti, “Ya, aku mendengar apa yang Anda katakan.”

            Tanggapan semacam ini telah sering diparodikan. Kami mendengar cerita tentang psikiater yang tidak mengatakan melainkan “mm-hmm” lima puluh menit pada akhir sesi dan berkata, Jelas “yang akan lima puluh dolar.”, Ekspresi ini bisa berlebihan atau digunakan secara mekanis. Namun, ketika sensitifitas diatur dengan berbagai tanggapan lain, mereka membantu eksplorasi diri pembicara.

  1. 3.      Frekuensi Pertanyaan

            Pertanyaan merupakan bagian integral interaksi verbal dalam masyarakat kita. Pertanyaan memiliki kekuatan dan keterbatasan. Relatif sedikit orang di budaya kita tahu bagaimana pertanyaan yang efektif. Kita sering mengandalkan pertanyaan berlebihan dan menggunakan tema buruk. Pertanyaan  biasanya berfokus pada perspektif, maksud dan kekhawatiran pendengar bukan pada orientasi pembicara

            Kami membedakan antara pertanyaan tertutup dan terbuka. Pertanyaan tertutup  pembicara langsung memberikan respon, spesifik pendek. Dijawab dengan satu kata seperti “Ya” atau “Tidak” Pertanyaan terbuka, di sisi lain, memberikan ruang bagi pembicara untuk menjelajahi pikirannya tanpa yang dikelilingi terlalu banyak kategori pendengarnya. Pertanyaan tertutup seperti benar / salah atau pertanyaan tes pilihan ganda, sedangkan pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti pertanyaan esai. Ketika seorang karyawan masuk ke kantor bosnya, yang terakhir ini bisa meminta baik pertayaan tertutup atau terbuka:

            Pertanyaan tertutup: “Apakah Anda ingin mengetahui tentang pekerjaan saya         Rumspord?”

Pertanyaan terbuka: “Apa yang ada di pikiran Anda, Ann?”

            Pertanyaan terbuka biasanya lebih disukai karena tidak menyarankan agenda kepada orang yang memulai interaksi.

            Bila digunakan terampil dan jarang, pertanyaan terbuka dapat membantu pendengar lebih memahami pembicara tanpa mengarahkan pembicaraan. Dalam laporan studi mereka pertanyaan terbuka dan tertutup, Moreland, Phillips, dan Lockhart menulis:

Yang terenting untuk pemberian pertanyaan-pertanyaan terbuka adalah konsep siapa yang memimpin wawancara. Sementara pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan saat menggunakan keterampilan ini, pertanyaannya adalah contered seputar permasalahan klien bukannya di sekitar kekhawatiran pewawancara untuk klien. Pertanyaan yang harus dirancang untuk membantu klien mengklarifikasi masalah sendiri, daripada menyediakan informasi bagi pewawancara. Jika pewawancara bergantung pada pertanyaan tertutup struktur wawancara, biasanya dia dipaksa untuk berkonsentrasi begitu keras memikirkan pertanyaan berikutnya yang ia gagal untuk mendengarkan dan menghadiri ke klien.

            Selain meminta terbuka daripada pertanyaan tertutup, penting untuk hanya menanyakan satu pertanyaan pada satu waktu. Ketika dua atau lebih pertanyaan diminta secara berurutan, pertanyaan terakhir biasanya tertutup pertanyaan. Kecenderungan untuk meminta lebih dari satu pertanyaan tampaknya terkait dengan ketidakpastian dalam kuesioner itu. Jarang memfasilitasi pembicaraan.

            Pengalaman saya dalam mengajar keterampilan komunikasi membuat saya menyimpulkan bahwa kebanyakan orang bertanya terlalu banyak. Menempatkan beberapa pertanyaan dalam percakapan untuk interaksi, sehingga cenderung menempatkan pendengar agak berlawanan dengan pembicara, mendikte arah pembicaraan mengambil daripada memberi pembicara kesempatan untuk menjelajahi situasinya dengan caranya sendiri. Hampir semua orang yang saya telah mengajar akan menjadi pendengar yang lebih baik jika ia mengajukan pertanyaan lebih sedikit. Selanjutnya, saya percaya bahwa pertanyaan yang paling bisa diekspresikan sebagai pernyataan dan yang melakukannya secara umum jauh lebih produktif dalam percakapan daripada pertanyaan berulang.

            Ketika orang  menyerah pada pertanyaan-pertanyaan, mereka biasanya merasa sangat tidak nyaman. Mereka mungkin merasa percakapan adalah menggelepar karena periode lebih dari keheningan. Keterampilan diajarkan dalam bagian buku ini akan membantu Anda menahan diri dari mengajukan pertanyaan terlalu banyak dan pada saat yang sama tidak merasa terlalu banyak kekosongan dalam percakapan.

  1. 4.      Diam Penuh Perhatian

            Pendengar perlu belajar nilai keheningan dalam membebaskan pembicara untuk berpikir, merasa, dan mengekspresikan dirinya. “Permulaan hikmat adalah diam,” kata seorang bijak Ibrani. “Tahap kedua dalam mendengarkan.”

            Kebanyakan pendengar berbicara terlalu banyak. Mereka mungkin berbicara sebanyak atau bahkan lebih dari orang yang mencoba untuk berbicara. Belajar seni tanggap diam sangat penting untuk mendengar yang baik. Setelah semua, orang lain tidak bisa menjelaskan masalah jika Anda melakukan semua berbicara.

            Diam pada bagian dari pendengar pembicara memberikan waktu untuk berpikir tentang apa yang akan dikatakan dan dengan demikian memungkinkan untuk pergi lebih dalam ke dirinya sendiri. Ini memberikan ruang untuk mengalami dan mengingat perasaanya. Diam juga memungkinkan pembicara untuk melanjutkan dengan kecepatan sendiri. Ia menyediakan waktu untuk berurusan dengan tentang berbagi kebingungannya. Dalam kesunyian, dia bisa memilih apakah atau tidak untuk terus berbicara dan berapa dalam.      Banyak diam berfungsi sebagai dorongan lembut untuk masuk ke dalam inti percakapan. Ketika suatu interaksi dipenuhi dengan hanya mendengarkan dan didukung dengan baik menghadiri, hasilnya bisa sangat mengesankan.

            Eugene Herrigel menjelaskan mengapa diam bisa menjadi seperti kekuatan poweful untuk orang yang emosi yang intens:

Arti sebenarnya dari penderitaan membuka diri hanya untuk Dia, yang telah belajar seni kasih sayang. Lambat laun, ia akan jatuh diam, dan pada akhirnya akan duduk di sana tanpa kata-kata, untuk waktu yang lama tenggelam jauh di dalam dirinya. Dan hal yang aneh adalah bahwa diam ini tidak dirasakan oleh orang lain sebagai sikap acuh tak acuh, sebagai kekosongan terpencil yang mengganggu daripada menenangkan. Seolah-olah kesunyian ini memiliki arti lebih dari kata-kata yang tak terhitung jumlahnya pernah ada. Seolah-olah ia sedang ditarik ke dalam suatu bidang kekuatan dari mana kekuatan segar mengalir ke dalam dirinya. Dia merasa diliputi dengan keyakinan yang aneh. penyelesaikan dengan berangkat dari pada kenyataa ternyata membuat keberadaan buruk menjadi kehidupan kebahagiaan.

            Diam dapat menjadi balsem bagi penderita, melainkan juga penting di saat-saat sukacita. Bagaimana indah adalah kesunyian keintiman. Thomas Carlyle dan Ralph Waldo Emerson duduk bersama-sama selama berjam-jam pada malam dalam diam mengucapkan sampai satu bangkit untuk pergi dan berkata, aku sudah banyak pengalaman seperti itu dengan istri saya, Dot, ketika kita duduk “Kami sudah malam grand!” tenang sebelum api atau diam-diam menatap mata masing-masing, berjemur dalam kasih sayang Esch lain. Sebagai Halford Luccock mengatakan:

            Keheningan ini cinta adalah tidak peduli, bukan hanya kemiskinan mengatakan sesuatu. Ini adalah bentuk positif dari diri-komunikasi. Sama seperti diam diperlukan untuk mendengar menonton berdetak, sehingga diam adalah media di mana suara hati didengar.

Lebih dari separuh masyarakatnya yang mengambil pelatihan keterampilan komunikasi dengan kami pada awalnya tidak nyaman dengan diam. Evan jeda beberapa detik dalam percakapan menyebabkan banyak dari mereka untuk squerm. Orang-orang ini merasa sangat tidak nyaman dengan diam bahwa mereka memiliki menghancurkan compulsionto kuat batin yang tenang dengan pertanyaan, advce, dan setiap suara lainnya yang akan berakhir di sana ketidaknyamanan dengan mengakhiri keheningan. Bagi orang-orang ini, fokus perhatian tidak pada speaker, tetapi lebih pada keresahan batin mereka sendiri. Mereka seperti karakter dalam Samuel Becket Menunggu Godot yang berkata, “Mari kita coba untuk berbicara dengan tenang karena kita tidak mampu diam.

            Fortunentely, kebanyakan orang dapat meningkatkan kenyamanan mereka dengan diam dalam waktu yang relatif singkat. Ketika orang mencari tahu apa yang harus dilakukan dalam diam, mereka menjadi jauh lebih sedikit tegang dalam bahasa verbal yang sangat penting untuk komunikasi. Selama jeda dalam interaksi, seorang pendengar yang baik melakukan hal berikut:

            Hadir untuk yang lain. postur tubuh-Nya menunjukkan bahwa dia benar-benar ada bagi orang lain.

            Mengamati yang lain. Dia melihat bahwa mata pembicara, ekspresi wajah, postur, dan       gerakan berkomunikasi semua. Bila Anda tidak terganggu oleh kata-kata lain, Anda            mungkin “Dengarlah” lenguage tubuhnya lebih jelas.

            Berpikir tentang apa yang lain berkomunikasi. Dia merenungkan apa yang lain mengatakan. Dia bertanya-tanya apa perasaan pembicara. Dia menganggap dia bisa membuat berbagai tanggapan. Lalu ia memilih salah satu yang ia berpikir akan paling fasilitatif.

Ketika dia sibuk melakukan hal-hal, pendengar tidak punya waktu untuk menjadi cemas tentang keheningan.

            Dome orang yang membantu dalam pencarian ada keheningan  pembawaaan dengan menyadari bahwa ketika orang lain berbicara tentang kebutuhan yang mendesak, fokus perhatian padanya-bukan pada pendengar. Jika ia tidak ingin berbicara lebih jauh, itu hak prerogatifnya. Banyak orang percaya bahwa satu masalah telah dinyatakan, itu bisa diselesaikan-dalam satu percakapan. Tingkah laku manusia tidak hanya rapi dan efisien.

Sebelum kelahiran Yesus, penulis Kitab Pengkhotbah berkata bahwa ada yang pendengar efektif dapat melakukan keduanya “Waktu untuk tetap diam dan waktu untuk berbicara.”. poeple Beberapa duduk diam selama percakapan keseluruha, mendorong yang lain ke dalam suatu keheningan monolog dapat sebagai hal yang tidak diinginkan seperti tidak diam. Untuk duduk bisu seperti “Bump di batang kayu” tidak mendengarkan hal yang efektif. Hal ini jarang memungkinkan untuk mendengarkan secara efektif untuk waktu yang lama tanpa membuat beberapa jenis respon verbal. Segera pikiran seperti itu tidak responsif menumpulkan “Pendengar”, matanya menjadi berkaca-kaca, dan menjadi obvious kepada pembicara bahwa “Listener” tidak dengan dia. Diam, ketika berlebihan, bukan emas, itu hanya kurangnya respon terhadap orang dengan kebutuhan.          

            Pendengar efektif belajar untuk berbicara ketika yang sesuai, dapat diam ketika itu adalah renpon pas, dan terasa aktivitas dengan rasa nyaman. Para pendengar yang baik menjadi mahir dalam tanggapan verbal sementara pada saat yang sama besar pentingnya mengatur waktu dalam keheningan sehingga mejadi percakapan kreatif. Dia sering mengemulasi Robert Benchley, yang pernah berkata, “Menggambar di commang bahasa halus saya, saya berkata apa-apa.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Mendengarkan adalah kombinasi dari mendengar apa yang orang lain katakan keterlibatan dengan orang yang sedang berbicara. Arti pentingnya dapat diukur oleh fakta bahwa kita menghabiskan waktu mendengarkan lebih dari apapun yang kita lakukan di jam kami bangun dan karena kemampuan kita untuk mendengarkan langsung mempengaruhi persahabatan kita, hubungan keluarga kami, dan efektivitas kami di tempat kerja. Untuk memudahkan learnig, buku ini memperlakukan mendengarkan dalam tiga kelompok keterampilan: menghadiri keterampilan, berikut keterampilan yang mencerminkan keterampilab. Mengikuti adalah menunjukkan dengan sikap keterlibatan, kontak mata, gerakan tubuh yang tepat, dan jaminan lingkungan yang tidak mendukung psikologi pendengar untuk kehadiran pembicara. Keterampilan menggunakan perhatian ( doors opener), minimal mendorong pertanyaan terbuka, dan keheningan penuh perhatian memungkinkan pendengar untuk tetap fokus pada komunikasi pembicara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s